Sunday, 12 March 2017

SIAPKAH MASUK PAUD?

Assalamu'alaikum,


PAUD yang saya maksud disini adalah Pendidikan Anak Usia Dini, yang biasanya ditujukan untuk anak-anak pra sekolah atau usia 0-7 tahun, sebelum anak masuk Sekolah Dasar.

Di bulan Maret seperti ini biasanya orang tua sudah mulai survey sekolah untuk anaknya. Karena sebentar lagi tahun ajaran baru dimulai. Termasuk mencari sekolah yang tepat untuk anak usia pra sekolah. Pasti inginnya orang tua mendapatkan  sekolah yang ideal menurut persepsinya. 

Tetapi yang tidak boleh dilupakan, selain tentang sekolahnya, sebenarnya orang tua juga harus mempersiapkan anak menghadapi sekolah untuk pertama kalinya.

Untuk pengalaman saya sendiri  yang telah memasukkan 3 anak di PAUD ketika usia 2 tahun, hal-hal umum yang biasanya dihadapi orang tua di awal masuk sekolah diantaranya adalah:

1. Anak tidak mau berangkat sekolah sejak dari rumah.
Anak benar-benar tidak mau berangkat sekolah, seberapa besarpun orang tua membujuk anak. 

Untuk yang seperti ini, mungkin orang tua belum pernah mengenalkan apa sih sekolah itu. Apa yang dilakukan saat sekolah. Dan lain sebagainya. Atau bisa jadi anak memang belum siap untuk sekolah.
2. Menangis ketika akan ditinggal orang tua di sekolah.
Ada juga yang ketika berangkat sekolah bersemangat. Tetapi ketika menghadapi kenyataan bahwa orang tua akan meninggalkannya, anakpun menangis sejadi-jadinya. Yang seperti ini biasanya membuat hati orang tua meleleh. Kadang jadi tidak tega meninggalkan anak.

3. Mogok sekolah karena tidak nyaman di sekolahnya.
Kadang ada anak yang awalnya suka sekolah, tiba-tiba mogok tidak mau sekolah. Kalau yang seperti ini, orang tua perlu mencari tahu apa yang terjadi pada anak. Mungkin anak bertengkar dengan temannya atau ada kejadian di sekolah yang membuatnya tidak nyaman?

Sepengalaman saya, 3 hal itulah yang paling sering terjadi dengan anak-anak saya saat awal sekolah. Karena itu, menyiapkan mental anak jauh-jauh hari itu sangat penting. Jangan sampai seperti yang diceritakan teman saya, tentang keponakannya yang hanya bisa bertahan seminggu di sekolah. Selanjutnya ia tidak mau sekolah, tidak mau ikut orang lain selain orang tuanya dan selalu mengamuk tiap melihat sepatu. Mungkin ia benar-benar trauma dengan sekolah ya... Kalau sudah seperti itu kasihan dengan anak juga kan?

Bahwa ketika menyekolahkan anak, orang tua pasti punya tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Tujuan itu pasti baik dari kacamata orang tua. Tetapi jangan sampai tujuan itu justru melukai jiwa anak. 

Pendekatan pada anak. Menjelaskan pada anak kenapa ia harus sekolah. Dan hal-hal menyenangkan apa saja yang akan ia dapatkan di sekolah, perlu juga disampaikan jauh-jauh hari sebelum anak sekolah. Antusiasme orang tua saat menjelaskan juga berpengaruh pada rasa ingin tahu anak. Harapannya, kalau orang tua menceritakan hal-hal yang menyenangkan, semoga anak juga jadi bersemangat untuk mendapatkan pengalaman menyenangkan saat sekolah.

Pengenalan sekolah juga perlu dilakukan. Mengajak anak untuk lebih mengenal sekolahnya sebelum ia resmi menjadi anak didik, penting lho... Untuk anak-anak saya, ketika ia merasa mengenal sekolahnya, iapun merasa nyaman ketika sudah masuk sekolah tersebut. Karena ia tidak merasa asing dengan sekolah itu.

Lalu orang tua juga harus mempersiapkan diri. Benar, bukan hanya anak yang perlu disiapkan. Kesiapan hati orang tua melepaskan anak untuk bersama orang lain (dalam hal ini gurunya) juga harus dipersiapkan. Ketika anak menangis saat  ditinggal, dan hati orang tua tidak tega dan terus kepikiran, sepengalaman saya itu mempengaruhi mood anak juga. Hati yang pasrah, percaya pada guru-gurunya, berdo'a pada Allah untuk kebaikan anak, akan lebih baik untuk anak. 

Bagaimana, Anda siap menyekolahkan anak Anda? Anak Anda siap masuk PAUD? Ada yang mau sharing pengalaman juga?

Wassalamu'alaikum
Ummi

Monday, 9 January 2017

MUHASABAH BLOG TAHUN 2016

Assalamu'alaikum, 

Ini tulisan pertama saya di tahun 2017. #elapkeringet. Sungguh tak bisa dibanggakan ya... Ceritanya saya ingin mereview perjalanan ngeblog saya di tahun 2016. Curhat lah pokoknya. :D

Tahun 2016 lalu sebenarnya target ngeblog saya tidak muluk-muluk. 

Pertama: Minimal satu postingan tiap minggunya. Tapi ternyata apa, saudara-saudara? Saya memang punya 59 blogpost di tahun 2016. Tetapi tidak konsisten tiap minggu ada postingan. Blogpost terbanyak ada di bulan Januari (11 post), Mei (9 post) dan Juli (8 post). Sedangkan di bulan Agustus (2 post), November (2 post), dan Desember (1 post saja), menduduki angka terendah. #hehe...

Kedua: Ikut Lomba Blog atau Giveaway, biar tambah luwes nulisnya. Inipun belum bisa. Cuma ada 5 postingan untuk lomba di tahun ini. Itupun terakhir saya mengikuti lomba adalah di bulan Mei 2016. :( Dan yang saya sesalkan, ada sebuah lomba di bulan Desember yang saya lewatkan. Padahal saya merasa menguasai temanya. Itu lho... Lomba Blog yang diadakan oleh Kementerian Keuangan, temanya APBN tahun 2017. Waktu itu saya berencana menulis tentang Dana Desa. Hal yang sebenarnya merupakan "makanan" sehari-hari saya. Kerjaan saya di Pemberdayaan Masyarakat Desa memang berhubungan dengan Dana Desa itu.

Ketiga: Rutin blogwalking, paling tidak seminggu 3 blog. Haha... Yang inipun saya belum bisa mencapainya. Apalagi di akhir tahun, ketika kerjaan saya membutuhkan perhatian. #ngeles. 

Ya sudahlah. Tahun 2016 sudah berlalu. Jadi mari membuat awal baru di tahun 2017 ini. :D

Target Ngeblog Tahun 2017 ini, apa ya? Sepertinya sama saja dengan tahun 2016. Minimal satu blogpost tiap minggu. Ikut lomba-lomba blog, satu bulan satu kali. :D Dan blogwalking dong... masih sama lah, minimal berkunjung di 3 blog tiap minggunya.

Meski target sama, capaian harus 100% dong kali ini. PR besar saya adalah konsistensi dan manajemen waktu. Jadi, sepertinya saya memang harus memberikan waktu khusus untuk menulis blog di sela-sela waktu saya. Di antara kerjaan rumah, kerjaan kantor, dan online shop. :D

Bismillah. Semoga saya bisa.

Wassalamu'alaikum.
Ummi





Wednesday, 21 December 2016

RANDOM

Assalamu'alaikum,

Apa kabar, Sahabat? Sebulan lebih tidak nulis di blog rasanya kok ada yang hilang. Seperti sayur tanpa garam. Seperti malam tanpa bintang. Seperti aku tanpa kamu. #apasih.

Dunia nyata saya akhir-akhir ini memang membutuhkan perhatian. Yang bekerja di bidang pemerintahan pasti tahu bagaimana kegiatan seakan terfokus di akhir tahun. Banyak deadline yang harus diselesaikan. Karena yah... Sudah akhir tahun. Tahun Anggaran hampir berakhir dan semua target kegiatan harus tercapai.

Diantara target-target yang harus tercapai itu, saya cukup menikmati ketika mendampingi desa melaksanakan musyawarah perencanaan pembangunan desa (musrenbangdes). Yang tujuannya untuk menyusun Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) Tahun 2017.
Musrenbangdes di Desa Bakalan, Kecamatan Dukuhseti
Perencanaan memang harus sudah dibuat saat ini. Agar nanti penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) juga bisa berjalan lancar. Kemudian program dan kegiatan di desapun ikut lancar. Sayapun ikut tenang dan ayem kalau kegiatan di desa-desa di wilayah kerja saya berjalan dengan baik.

Bersamaan dengan deadline, saya juga mengikuti beberapa berita yang cukup viral. Seperti tentang penistaan agama, dimana saya hanya bisa berdo'a:

 اللهم ارناالحق حقا وارزقناالتباعه وارناالباطل باطلا وارزقنااجتنابه
"Ya Allah tunjukkan kepada kami bahwa yang benar itu benar dan mampukan kami untuk mengikutinya. Dan tunjukkan bahwa yang bathil itu adalah bathil dan mampukan kami untuk menjauhinya."

Lalu juga beberapa waktu ini tentang duka yang datang dari tanah Syam, Aleppo. Ah... Perang selalu begitu bukan? Menyisakan keperihan, terutama untuk wanita dan anak-anak. Lagi-lagi hanya do'a yang bisa saya panjatkan, "Semoga mereka selalu diberi kekuatan. Semoga kedamaian segera kembali. Dan mereka yang didzalimi kembali kepada Robb-nya sebagai syahid."
Salah satu gambar tentang Aleppo yang beredar di sosmed
Seorang teman juga menggagas sebuah donasi untuk Aleppo dengan cara menjual barang-barang dagangan kita di satu "lapak" Facebook. Saya juga ikut berpartisipasi didalamnya. Semoga sedikit yang kami lakukan bisa bermanfaat untuk saudara-saudara kami. Baru ini yang kami bisa, Ya Allah...

Di sisi lain, ada juga "Om Telolet Om" yang sangat viral dua harian ini. Atau sebelumnya? Saya yang kudet mungkin, karena baru tahu. :D Selalu ada cara sederhana untuk bahagia bukan? Meski hanya dengan mendengar bunyi klakson bus yang lewat.
video

Entah apa inti tulisan ini. Random.

Kalau mau dipaksakan (haha, apa-apaan...), intinya adalah banyak hal terjadi di sekitar kita. Kita selalu punya pendapat pribadi dengan semua kejadian yang kita alami dan saksikan. Tetapi, tidak usahlah terlalu sibuk berdebat. Lebih baik energimu digunakan untuk melakukan hal yang bermanfaat, setidaknya untuk lingkunganmu.

Wassalamu'alaikum.
Ummi



Sunday, 11 December 2016

CATATAN DANA DESA DI KECAMATAN DUKUHSETI TAHUN 2016: DARI PENDAMPING DESA HINGGA SISKEUDES

Assalamu'alaikum,

Kami berada di Kecamatan Dukuhseti. Sebuah kecamatan di bagian utara Kabupaten Pati yang berada di wilayah Provinsi Jawa Tengah. Ada 12 desa di Kecamatan Dukuhsetti, yaitu: Desa Wedusan, Puncel, Tegalombo, Kembang, Dukuhseti, Banyutowo, Alasdowo, Ngagel, Kenanti, Grogolan, Dumpil, dan Bakalan. 8 dari 12 desa itu berada di wilayah pesisir Laut Jawa. 

Dana Desa tahun 2016, sebagaimana janji Pemerintah mengalami kenaikan dari tahun 2015 yang lalu. Jika tahun 2015 kisaran dana yang diterima desa di tempat kami adalah 300-an juta, pada tahun 2016 dana berkisar pada angka 600-an juta. Jumlah yang banyak? Bisa jadi. 

Tetapi bisa dipastikan, dana sebesar itu belum tentu menyelesaikan infrastruktur yang merupakan kebutuhan dasar yang ada di desa. Seperti jalan, jembatan, prasarana kesehatan, prasarana pendidikan, dan lain sebagainya. Desa-desa tertentu yang memiliki luas wilayah kecil, barangkali bisa. Tetapi untuk desa-desa yang wilayahnya lebih luas apalagi dengan kondisi wilayah sulit, akan diperlukan beberapa tahun lagi untuk menyelesaikan infrastrukturnya.

Memang fokus penggunaan dana desa di tahun 2016 ini masih di infrastruktur. Sebagian dialokasikan untuk pembiayaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa). Namun untuk BUMDesa masih cikal, yang masih harus dipupuk dan dirawat agar bisa berkembang. Kami masih lagi berusaha menemukenali potensi yang dapat kami kembangkan dan dapat dikelola melalui BUMDesa. 

Kami kadang memperhatikan desa-desa yang memiliki potensi wisata di wilayah kabupaten lain. Mereka yang sudah berkembang BUMDesa-nya lewat pariwisatanya, seperti di Desa Ponggok Klaten. Kami berharap suatu saat kami juga dapat mengembangkan potensi yang dimiliki di desa-desa yang ada di wilayah Kecamatan Dukuhseti.

Tentang Pendamping Desa.
Ketika pertama kali Pendamping Desa diturunkan ke desa-desa pada awal tahun 2016 ini, kami tentu berharap banyak. Tahun 2015, kami cukup keteteran ketika tak ada pendamping. Karena memang banyak yang harus disiapkan oleh desa untuk dapat mencairkan Dana Desa itu.

Pembangunan itu, bukankah harus dimulai dari perencanaan? Melaksanakan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes) yang menghasilkan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDesa). Lalu menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes). Juga penyusunan Rencana Anggaran dan Biaya (RAB). Apalah kami ini tanpa didampingi? 

Desa butuh pendampingan, bukan saja agar program-programnya berjalan lancar. Tetapi juga agar desa bisa berjalan sebagaimana aturan yang ditetapkan. Pendamping selayaknya bisa memberi masukan untuk desa dan menjadikan desa lebih mandiri sebagaimana tujuan dari pemberdayaan masyarakat desa itu.

Di Kecamatan Dukuhseti, kami mendapatkan 3 orang pendamping pada awalnya. Tetapi entah kenapa, satu orang pendamping tak pernah hadir untuk kami. Meski begitu kami enjoy dengan 2 orang pendamping desa. Satu orang berlatar belakang pemberdayaan. Seorang lagi seorang teknik sipil. Kami merasa beruntung, karena teman-teman kami di kecamatan lainnya ada yang tak mendapatkan pendamping berlatar belakang teknik sipil.

Kenapa Pendamping Desa seorang teknik sipil menjadi penting? Karena ketika perencanaan pembangunan infrastruktur, kami perlu seseorang yang menguasai ilmunya agar bangunan yang akan kami bangun aman secara mutu dan kekuatan. Dan itu bisa didapat dengan menyusun Rencana Anggaran dan Biaya (RAB) yang tepat.

Karena itu kami berharap untuk tahun-tahun kedepanpun, Pendamping Desa yang ada di wilayah kecamatan selalu ada yang berlatar belakang teknik sipil selain yang berlatar pemberdayaan.

Tentang Siskeudes.
Siskeudes atau Sistem Keuangan Desa adalah sebuah aplikasi yang dikembangkan oleh BPKP sebagai sistem keuangan di tingkat desa. Kadang Siskeudes ini juga disebut SIMDA Desa.

Anjuran penggunakan Siskeudes oleh BPKP ini sudah kami dengar sejak akhir tahun 2015. Dan rupanya Pemerintah Kabupaten Pati juga menyambut baik anjuran tersebut. 

Bulan Februari kami mulai mengikuti pelatihan Siskeudes yang difasilitasi oleh Bagian Pemerintahan Setda Kabupaten Pati. Setelah itu ada surat dari Bupati Pati agar semua desa menyusun penganggaran dan penatausahaan keuangan dengan menggunakan Siskeudes.

Di Kecamatan Dukuhseti, kami saling menyemangati untuk konsisten menggunakan aplikasi ini. Bagaimanapun sesuatu yang baru memang harus dipelajari terlebih dahulu agar dapat menggunakan dengan lancar. Hasilnya, ternyata memang dengan menggunakan aplikasi ini, kami lebih teratur dalam pengelolaan keuangan. Bonusnya adalah, dengan satu kali kerja, kami bisa mendapatkan pembukuan yang lengkap. Dari buku kas umum, buku bantu pajak, buku bantu kegiatan, hingga laporan bulanan, triwulan, dan semesteran. 

Masalah sebagai Pembelajaran.
Tak ada gading yang tak retak, begitu kata pepatah. Meski kami berusaha yang terbaik, masalah dalam pengelolaan kegiatan pasti selalu ada. Tetapi berkali-kali kami saling menyemangati, masalah itu akan mendewasakan dan akan membuat kita lebih baik.

Lakukan semua sesuai perencanaan. Selalu transparan kepada masyarakat. Itu yang selalu kami tekankan. Pengelolaan Dana Desa ke depan harus lebih baik lagi. Dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasannya. 

Semoga dengan Dana Desa, desa akan menjadi mandiri dan sejahtera. Mari Membangun Desa! Dari desa, kita bangun Indonesia.

Wassalamu'alaikum
Ummi

Saturday, 12 November 2016

MANAJEMEN WAKTU IBU RUMAH TANGGA

Assalamu'alaikum,

Manajemen, menurut kbbi adalah penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran. Jadi definisi bebas ala saya, manajemen waktu ibu rumah tangga adalah bagaimana seorang ibu rumah tangga menggunakan waktunya secara efektif demi menyelesaikan tugas-tugasnya. 

Ibu rumah tangga yang saya maksudkan disini adalah ibu rumah tangga secara umum ya... Baik ibu rumah tangga yang kata orang stay at home mom atau working mom. Dua-duanya menurut saya namanya ya ibu rumah tangga, dan yang pasti perlu mengatur waktunya dengan baik.

Semua orang mempunyai waktu yang sama, yaitu 24 jam. Spesialnya ibu rumah tangga ini, tugasnya juga bukan melulu kerumahtanggaan saja. Seperti menyapu, memasak, atau mencuci. Apalagi jika ibu seorang ibu bekerja. Ya kan?

Karena selain pekerjaan rumah tangga dan pekerjaan kantor, ibu juga harus bersosialisasi dengan lingkungan tempat tinggal. Atau istilahnya bermasyarakat. Misalnya saja mengikuti arisan RT atau acara pengajian. Dari acara itu, ibupun akan terlibat dengan acara-acara yang lain. Menjenguk tetangga sakit, takziyah orang meninggal, jadi panitia mantenan tetangga yang mantu, dan lain sebagainya. Pasti ada lah ya, ada hal-hal yang harus kita kerjakan sebagai bagian dari masyarakat.

Atau malah ibu terlibat dalam masyarakat yang lebih besar? Aktif di berbagai organisasi dan komunitas, misalnya. Pasti dengan berbagai kegiatan itu, ibu harus bisa mengefektifkan waktu agar semua tugas bisa tercapai. 

Kalau semua terselesaikan, ibu bahagia dan semuapun ikut bahagia. Karena itulah manajemen waktu sangat dibutuhkan. 

Setidaknya ada 3 manfaat jika ibu bisa mengatur waktu dengan baik, yaitu:

1. Agar hidup lebih teratur.
Ibu sering kelabakan karena belum melakukan pekerjaan yang sebenarnya penting? Atau sama seperti saya, suka sekali mengerjakan pekerjaan menjelang deadline? Hahah... Yuk, kita ubah sama-sama kebiasaan buruk itu. Kita fastabiqul khoirot, Bu. Berlomba-lomba menuju kebaikan. Yang menang, dapat pahala dari Allah saja. :)

2. Agar tidak ada waktu yang terbuang sia-sia.
Ibu suka mainan gagdet setelah subuh, terus kaget karena belum memasak buat sarapan? Padahal anak-anak sudah harus ke sekolah. Haha... Itu sih saya banget. Saya harap waktu-waktu seperti itu tidak ada lagi dalam hidup saya. #Aamiin

3. Agar mendapatkan goal lebih banyak.
Kalau habis subuh ibu tidak perlu main gadget dulu, tetapi langsung buat sarapan, memandikan si bungsu, menyapu, mencuci piring. Wah... Ternyata banyak ya, yang bisa dikerjakan kalau kita menghilangkan satu kebiasaan buruk saja. Sasaran yang tercapaipun lebih banyak lagi.

Kelihatannya asyik ya, kalau ibu bisa mengatur waktu. Tetapi tidak semua ibu bisa mengatur waktu dengan baik. Sering ada yang terlalu asyik main gadget sampai anak diabaikan. Kadang ada yang keenakan ngerumpi, sampai anak "ngowoh" menantikan ibu yang tak kunjung selesai ngobrol.  

Bu, ini ada beberapa cara agar kita bisa mengatur waktu dengan lebih baik. Mungkin bisa nyangkut di hati ibu. Kalau tidak, ya tidak apa-apa juga.

1. Membuat jadwal harian.
Jadwal ini adalah jadwal rutin yang ditulis detail dan harus dipatuhi. Misalnya ibu harus bangun jam berapa. Ibu menyiapkan sarapan jam berapa. Bahkan ibu boleh memegang HP dari jam berapa sampai jam berapa juga harus ditulis detail. Biar apa? Ya biar teratur. Soalnya kalau tidak dijadwal, bisa-bisa waktunya menyiapkan sarapan malah main gadget kan? :D

2. Menentukan prioritas pekerjaan.
Susun list pekerjaan yang harus ibu selesaikan. Lalu buat prioritas, mana yang mendesak dan harus didahulukan. Misalnya, untuk pagi hari membuat sarapan adalah prioritas. Kalau tidak, maka suami dan anak-anak tidak sarapan. Akibatnya mereka lemes saat di kantor dan di sekolah. 

3. Susun pekerjaan yang bisa dilakukan bersamaan.
Ada lho, pekerjaan yang bisa dilakukan bersama-sama. Misalnya di pagi hari kita bisa memasak sambil cuci baju (pakai mesin cuci). Sementara menggoreng ikan, sambil menunggu ikan matang kita bisa sambil mencuci piring yang kotor semalam. Tapi hati-hati, jangan sampai ikannya gosong, Bu.

4. Konsisten dan patuh pada jadwal serta prioritas.
Setelah membuat jadwal dan prioritas, tentunya tetap tidak akan efektif kalau ibu tidak konsisten menjalankannya. Catatan yang sudah ibu buat harus dipatuhi. Kalau perlu ditempel di tempat yang terlihat, dan minta suami untuk ikut mengingatkan.

Kalau kata orang Barat, time is money (waktu adalah uang). Kalau orang Arab mengatakan al-waqtu kash-shoif (waktu laksana pedang). Kalau kita tidak pandai memanfaatkannya, waktulah yang akan memotong kita. 

Kalau bagi ibu, waktu itu apa?

Wassalamu'alaikum
Ummi
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...