Tuesday, 15 May 2018

AKU INGIN BERTEMU RAMADHAN LAGI

Assalamu'alaikum,

Meninggalkan dan ditinggalkan adalah dua hal yang akrab dengan kehidupan kita. Entah kita menjadi orang yang meninggalkan atau ditinggalkan, rasanya sama-sama memberikan kesedihan. Karena sejatinya keduanya adalah sama, yaitu perpisahan. Lalu, bagaimana jika kita berpisah dengan sesuatu yang telah lama kita rindukan? Pasti dua kali lipat menyedihkannya. 

Mungkin kita bisa membayangkan rasanya seperti kita yang telah lama tidak bertemu dengan ibu, hingga kita sangat merindukan beliau. Kita sudah berandai-andai, "Jika bertemu ibu, aku akan berbakti dengan melakukan apapun yang diinginkan ibu." Tetapi belum lama kita mempersembahkan bakti kita, Allah sudah memanggilnya. Padahal kita belum merasa puas melepas rindu. Kita juga merasa belum berbakti dengan sebenar-benarnya. Tetapi ternyata takdir Allah mendahului rencana-rencana kita. 

Saat seperti itu, pasti rasanya hati kita penuh dengan penyesalan. Dan mungkin kita langsung berandai-andai. Seandainya aku datang lebih cepat. Seandainya aku selalu mendampingi ibu. Seandainya aku berbakti lebih banyak. Dan andai-andai lainnya lagi.

Dan... Bagaimana jika yang kita rindukan itu adalah Ramadhan? Bulan yang selalu kita nanti-nantikan kedatangannya karena begitu banyak keutamaan di dalamnya. Tetapi ternyata itu adalah Ramadhan terakhir kita.

Padahal kita selalu berdo'a agar berkesempatan mendapati Ramadhan. Allahumma bariklana fi rojaba wa sya'ban wa ballighna ramadhan. Kita berharap bisa bertemu dengan bulan dimana Al-Qur'an diturunkan. Kita ingin berjumpa dengan berkah Ramadhan, dimana pintu-pintu langit dibuka dan pintu neraka ditutup, dosa-dosa kita pun diampuni. Kita ingin berjumpa lailatul qodar, dan berharap pahala kita dilipatgandakan. Dan banyak lagi keutamaan Ramadhan yang ingin kita dapatkan. 

Namun, bagaimana jika kali ini adalah Ramadhan terakhir kita? Ya Robb... Membayangkannya saja terasa menggetarkan.

Jika itu aku... Barangkali aku akan menyesali bulan-bulan sebelum Ramadhan kali ini. Karena selama ini kenyataannya aku selalu sama. Ketika bulan Ramadhan tiba, seperti biasa aku berpuasa, memperbanyak bacaan Al-Qur’an, memperbanyak bersedekah, memperbanyak amal baik lainnya. Semua hanya selesai di bulan Ramadhan. Namun, setelah Ramadhan semua seolah tak berbekas. Aku menjadi orang yang sama lagi seperti sebelum ditempa di sekolah Ramadhan. Aku kembali menjadi manusia yang begitu-begitu saja. Malas sholat tepat waktu, malas bangun tahajjud, malas puasa sunnah, malas membaca Al-Qur'an, malas bersedekah, malas bersilaturahim. Malas dan malas...

Robbighfirly dzunubi... Ampuni dosaku, Ya Robb... 

Kemudian aku akan memperbanyak bacaan istighfar. Mungkin aku akan bergegas meminta maaf kepada orang-orang yang pernah aku temui. Karena seringkali bibir ini mengucapkan kalimat-kalimat yang menyakitkan hati. Mungkin aku akan bersegera membayar hutang-hutang yang pernah aku janjikan pembayarannya. Agar semua utang itu tak menjadi beban di "hari keputusan" kelak. Dan mungkin aku akan banyak memperbanyak amal sholih lainnya. Membaca Al-Qur'an, sholat sunnah, bersedekah, menolong sesama, memaafkan saudara, menyambung silaturahmi. Semuanya... Semua amal baik yang aku bisa, mungkin akan aku lakukan. Tak ada waktu yang sia-sia.

Ya, Rabb... Ampuni aku, ampuni aku... Memang seharusnya begitu bukan,  jika kita akan beribadah? Melakukannya seakan-akan kita akan mati besok. Jadi kita melakukan dengan sebaik-baiknya. Sesempurna yang kita bisa.

Sekali lagi, ampuni aku Ya Robb... Jika ini Ramadhan terakhirku, aku harap aku bisa beribadah dengan ihsan kepada-Mu. Aku harap aku bisa menyelesaikan urusanku dengan sesama manusia. Aku harap aku pergi dengan husnul khotimah. Aku harap aku kembali pada-Mu dalam keadaan Engkau ridho padaku.

Tetapi sungguh, aku masih ingin bertemu Ramadhan lagi.

#PostinganTematik
#PosTemSpesialRamadhan
#BloggerMuslimah


Wassalamu'alaikum
Ummi

Thursday, 8 March 2018

JANGAN SHARE, ITU HOAX!

Assalamu'alaikum,
Gambar dari pixabay

Kata hoax rasanya sudah sangat dikenal masyarakat luas. Tetapi kadang seseorang memperlakukan sebuah berita sebagai hoax atau fake news masih berdasarkan suka dan tidak suka. Jika ia menyukai berita tersebut dan menguntungkannya, maka baginya berita tersebut bukan hoax. Sebaliknya jika ia tidak menyukai berita tersebut, meskipun berita itu benar, maka ia menyebutnya hoax.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia online, ada beberapa arti hoax, yaitu; 1) kata yang berarti ketidakbenaran suatu informasi, 2) berita bohong, 3) berita bohong, tidak bersumber.

Sedangkan berita yang dikategorikan hoax ini bisa berupa hoax proper atau berita bohong yang dibuat dengan sengaja. Artinya orang yang membuatnya tahu bahwa itu adalah berita yang tidak benar dan ia memang bermaksud menipu orang lain dengan berita tersebut. Hoax juga bisa berupa pemberian judul berita yang bombastis, tetapi isinya tidak menggambarkan isinya. Atau bisa jadi berita tersebut benar, tetapi konteksnya untuk menyesatkan. Misalnya berita yang sebenarnya sudah lama, tetapi disebarkan lagi ke media sosial. Orang yang tidak teliti dalam melihat tanggal akan menganggap berita itu benar. Tujuan penyebar berita memang untuk menyesatkan pembacanya. Biasanya hal ini berhubungan dengan berita lain yang sedang booming. 

Sebenarnya berita hoax bukan hanya terjadi di era sekarang saja, dimana sosial media memang merajai penyebaran berita. Berabad lampau di jaman Rasulullah SAW juga pernah terjadi berita bohong yang menimpa Aisyah RA. 

Pada saat itu, seperti biasanya ketika Rasulullah akan berangkat berperang, beliau selalu mengundi istri yang ikut ke medan perang. Saat itu Aisyahlah yang mendapat giliran mendampingi Rasulullah. Selama dalam rombongan Rasulullah, Aisyah selalu naik ke dalam sekedup atau tandu yang di taruh di atas punggung unta. Tandu itu tertutup, sehingga orang yang di dalamnya tidak terlihat dari luar.

Ketika perang telah usai, rombongan Rasulullah melakukan perjalanan pulang dengan Aisyah masih di atas sekedup unta. Mendekati kota Madinah, rombongan beristirahat. Aisyah memanfaatkan waktu itu untuk menyelesaikan hajatnya. Ketika selesai, Aisyah kembali ke dalam rombongan, tetapi mendapati kalungnya yang berharga telah hilang. Aisyah kemudian kembali untuk mencari kalungnya yang hilang. Beliau menemukannya, tetapi hal itu menyebabkannya tertinggal rombongan. Orang-orang menyangka Aisyah telah masuk ke dalam sekedupnya.

Karena telah tertinggal, Aisyah berdiam diri, berharap rombongan kembali ketika menyadari dirinya tak ada dalam sekedupnya. Beliau pun duduk dan terkantuk-kantuk.

Saat itu lewatlah salah seorang sahabat yang tertinggal rombongan bernama Shafwan bin al-Mu’aththal as-Sullami adz-Dzakwani. Ketika mendapati Aisyah duduk sendirian, ia hanya mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.” Lalu menyuruh untanya duduk dan mempersilahkan Aisyah naik. Selama perjalanan pulang, tak ada kalimat yang terlontar dari keduanya.

Namun orang-orang munafik yang dimotori oleh Abdullah bin Ubay bin Salul memanfatkan kejadian itu untuk menyebarkan berita bohong. Mereka menyebarkan berita bahwa Aisyah telah berzina. Berita itu menyebar dengan cepat dan hebohlah Madinah. Tentu saja Aisyah, Rasulullah, beserta seluruh keluarganya bersedih atas berita itu.  

Rupanya Allah memang ingin memberikan hikmah untuk Rasulullah dan orang-orang yang beriman. Akhirnya Allah sendiri yang membela Aisyah RA dengan menurunkan ayat 11 sampai dengan ayat 21 dari surat An-Nur.

Sedang di era internet sekarang ini, semakin mudah berita hoax tersebar. Hal ini disebabkan makin banyaknya pengguna media sosial. Mereka yang mengakses media sosial, akan dengan mudah menyebarkan berita yang didapatnya. Mereka menyebarkan tanpa meneliti kebenaran berita tersebut.

Berdasarkan data yang dirilis Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada awal tahun 2017, hampir 55 persen penduduk Indonesia atau sekitar 132 juta jiwa, merupakan pengakses internet. Dari jumlah tersebut, 54 persen di antaranya pengguna Facebook dan 5,54 persen pengguna Twitter. Dan tahukan Anda, berita hoax apakah yang paling banyak tersebar? Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Pol Mohammad Fadil Imran mengatakan, hampir 91 persen berita hoax yang disebar memuat konten sosial dan politik.

Lalu bagaimana kita harus menyikapi berita hoax ini?

Di dalam Islam, menyebarkan berita bohong merupakan salah satu tanda orang munafik. Penyebarnya, jika tak bertaubat, sebagaimana yang telah difirmankan Allah dalam surat An-Nur ayat 11 sampai 21, akan mendapatkan azab yang besar. Menyebarkan berita kelihatannya memang hal yang sepele. Apalagi di era media sosial seperti sekarang ini. Kita tinggal tekan tombol share, maka tersebarlah berita ke seantero jagat raya. Tetapi pernahkah kita pikirkan apa yang akan terjadi setelah kita memencet tombol share? Sedangkan yang kita share itu berita bohong? Bagaimana kalau ada orang atau bahkan banyak orang yang dirugikan dengan berita yang kita sebarkan? Kita memang bukan pembuat berita bohong itu, tetapi dengan menyebarkannya berarti kita telah terlibat dalam kebohongan itu.

Sungguh, kita harus selalu berhati-hati saat menyebarkan berita. Teliti dahulu sebelum menyebarkan sebuah berita. Semudah menekan tombol share, semudah itu pula mungkin azab Allah menimpa kita. Tidakkah kita takut dengan janji Allah?
           
Wallahu a'lam

Wassalamu'alaikum,
Ummi

Thursday, 15 February 2018

JAGA GENERASI DARI PERILAKU MENYIMPANG DENGAN HAL INI

Assalamu'alaikum,




Mengutip dari wikipedia, perilaku menyimpang adalah perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan atau kepatutan, baik dalam sudut pandang kemanusiaan (agama), secara individu maupun pembenarannya sebagai bagian daripada makhluk sosial.

Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, perilaku menyimpang diartikan sebagai tingkah laku, perbuatan, atau tanggapan seseorang terhadap lingkungan yang bertentangan dengan norma-norma dan hukum yang ada di dalam masyarakat.

Sepertinya definisi perilaku menyimpang ini hampir sama ya... Bahwa setiap perbuatan yang bertentangan dengan norma yang berlaku adalah perilaku menyimpang. Namun, apakah norma itu bisa berubah? Hm... Saya ingin cerita tentang sesuatu yang saya perhatikan akhir-akhir ini. 

Saya termasuk orang yang aktif di facebook. Beberapa waktu ini, di linimasa facebook saya sering sekali melintas berita-berita tentang artis luar negeri yang mempunyai kecenderungan gay atau lesbian. Judul-judulnya menarik dan membuat penasaran. Jadi, setiap kali berita itu melintas, rasanya tangan gatal untuk ngeklik. Contohnya, Bahagianya Artis A dengan Kekasihnya. Setelah diklik, ternyata kekasihnya itu sesama jenis. Atau, Gaya Artis B Ngedate dengan Pasangan Lesbiannya. Kadang ada juga berita tentang artis-artis dalam negeri. Misalnya 7 Artis Cantik yang Aslinya Lelaki. Kurang lebih seperti itulah judulnya. Dan itu baru sebagian. Masih banyak berita-berita lainnya. Berita-berita tersebut sering melintas dari FP ataupun web berbayar. 

Kalau pas mendapati berita-berita tersebut, perasaan saya adalah... Miris. Sebenarnya bahasa yang digunakan dalam berita itu bersifat netral. Tidak ada ajakan untuk mendukung perilaku gay atau lesbian. Tetapi ada kegelisahan dalam diri saya. Bahwa sesuatu yang menyimpang, tetapi muncul terus-menerus akan menjadi biasa bagi kita. Lalu daya kritis kita hilang, hingga suatu saat kita akan menganggapnya sebagai hal yang tidak menyimpang lagi. Kemudian saya jadi berpikir lebih jauh. Berapa banyak orang yang melihat berita itu? Bagaimana jika yang membuka web tersebut adalah generasi muda? Apakah mereka akan menganggap hal tersebut merupakan perbuatan yang wajar? Dan bagaimana anak-anak saya nanti di masa depan?

Dan perasaan ibu itu memang selalu begitu. Pikiran akhirnya selalu tentang bagaimana mendidik dan mengasuh anak-anak agar selalu berada pada jalur yang lurus dan tidak menyimpang.  

Apakah mendidik anak jaman sekarang lebih sulit? Entahlah. Akan sangat subyektif jika kita membandingkan antara mendidik jaman dahulu dengan jaman sekarang. Karena setiap masa punya tantangannya sendiri-sendiri. Orang tua kita dahulu pasti juga mempunyai tantangannya sendiri, sebagaimana kita orang tua masa kini yang juga punya tantangan. Dan itu tidak bisa dibandingkan. Yang kita hadapi adalah masa kini. Dan sudah tugas kita sebagai orang tua adalah menyiapkan masa depan anak-anak kita. 

Bekal Agama adalah hal penting yang harus kita berikan pada anak-anak kita. Norma agama adalah sesuatu yang tidak berubah. Halal itu jelas, haram itu jelas. Dengan bekal ilmu agama, ibaratnya, ketika suatu saat anak kita berjalan di tempat yang belum dikenal sekalipun, ia sudah tahu apa yang akan dipilihnya. Karena ia sudah punya bekal bahwa jalan ini benar dan jalan yang di sana salah. 

Contohnya, dalam fiqih ada pelajaran tentang aurat. Seperti apa batasan aurat laki-laki dan bagaimana untuk perempuan. Bagaimana tanda akil baligh bagi anak laki-laki dan bagaimana untuk anak perempuan. Pelajaran-pelajaran sederhana semacam itu sebenarnya membantu anak mengenali dirinya. Oh, aku ini laki-laki, dan aku seperti ini. Dan aku perempuan, maka seperti itu. 

Setelah dibekali dengan ilmu agama, anak juga butuh teladan. Karena tak akan sempurna ilmu agama yang sudah diberikan jika orang tua tak memberikan teladan. Menutup aurat misalnya. Jangan sampai anak mendapati kita berpakaian minim di depan anak-anak. 

Memberikan lingkungan yang baik bagi anak-anak kita adalah kewajiban kita. Beruntung sekali kita yang sudah mempunyai lingkungan yang sudah cenderung baik. Karena hal itu akan meringankan dalam mendidik anak kita. Namun jika lingkungan kita termasuk lingkungan yang kurang baik, disinilah peran dakwah kita. Mengajak kepada kebaikan. Bagaimana kita bisa mengajak orang-orang di sekitar kita untuk ikut menjadi baik. Yang artinya, pendidikan anak kita juga akan lebih terjaga.

Dan itu dibutuhkan sikap peduli kita terhadap orang lain. Kita tidak bisa cuek begitu saja pada keadaan di sekitar kita. Jangan sampai kita berpikir bahwa yang penting diri kita sudah baik. Kalau orang lain mau buruk sekalipun itu bukan urusan kita. Karena sebenarnya lingkungan sekitar juga akan berpengaruh pada diri kita sendiri. Seperti dahulu sebagian kaum Nabi Luth juga ada yang bukan pelaku penyimpangan. Tetapi karena mereka cuek, bahkan membantu pelaku penyimpangan, sehingga merekapun ikut diazab oleh Allah SWT.

Dan jika berbagai usaha sudah dilakukan, namun belum ada perubahan, berdo'a juga merupakan sikap peduli. Semoga kita tidak enggan memberikan do'a terbaik untuk orang-orang di sekitar kita. 

Wallahu a'lam.

Wassalamu'alaikum
Ummi

#PostinganTematik
#BloggerMuslimahIndonesia


Saturday, 27 January 2018

FATIMAH AZ-ZAHRA, PUTRI KESAYANGAN RASULULLAH SAW

Assalamu'alaikum,

Dari Ibnu Abbas, ia berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam membuat empat garis di atas tanah, kemudian bersabda: “Tahukah kalian apa ini?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Penghuni surga yang paling utama dari kalangan wanita adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad dan Asiyah binti Muzahim istri fir'aun, serta Maryam putri Imran semoga Allah meridhai mereka semuanya."

Dan tulisan ini akan mengkhususkan pada shiroh Fatimah binti Muhammad SAW. Sebagai salah satu wanita paling utama, pasti ada banyak pelajaran yang bisa diambil darinya. Apalagi Fatimah adalah putri Nabi Muhammad SAW, yang mendapatkan pendidikan dan pengajaran langung dari sang pemegang risalah.

Masa Kecil dan Remaja Fatimah
Fatimah adalah putri bungsu Rasulullah SAW bersama Sayyidati Khadijah RA. Ia lahir di Makkah lima tahun sebelum Kerasulan. Yaitu pada tahun yang sama ketika Muhammad mendapat kepercayaan dari orang-orang Quraisy untuk membuat keputusan bagi mereka, terkait dengan perselisihan peletakan hajar aswad.

Ketika usia Fatimah 5 tahun, Muhammad mulai diutus oleh Allah untuk menyebarkan dakwah di Makkah. Kita tahu bagaimana awal dakwah Rasulullah dahulu. Berbagai ancaman, gangguan, hingga pemboikotan dialami oleh Rasulullah dan pengikutnya. Jadi, Fatimah tumbuh bersama dengan perjuangan ayah dan ibunya dalam menyebarkan dienul Islam. Ia menyaksikan sendiri bagaimana orang-orang kafir Quraisy mengganggu ayahnya.

Pernah suatu hari di masa kecilnya, Fatimah menyaksikan orang-orang kafir Quraisy meletakkan kotoran unta di punggung ayahnya ketika Rasulullah sholat di dekat Ka’bah. Menyaksikan itu Fatimah menangis sambil membersihkan punggung ayahnya.

“Apa yang mereka lakukan padamu?” kata Fatimah sambil terus menangis di sisi Rasulullah, hingga beliau menyelesaikan sholatnya.

Dan peristiwa itu bukan satu-satunya yang disaksikan oleh Fatimah. Demikian dahsyatnya makar yang sering dilakukan oleh orang kafir Quraisy terhadap Rasulullah, sehingga Fatimah sampai berharap suatu saat ketika ia dewasa, bisa menebus nyawa demi membela Rasulullah.

Di tahun kesepuluh dari kenabian, terjadi peristiwa paling berat yang disaksikan oleh Fatimah RA. Yaitu ketika terjadi pemboikotan yang dilakukan oleh kafir Quraisy kepada keluarga Bani Hasyim. Akibat pemboikotan tersebut, keluarga Rasulullah sampai menderita kelaparan karena tidak bisa membeli makanan. Akibat orang-orang Quraisy dilarang bertransaksi jual beli dengan keluarga Bani Hasyim. Di tahun itu pula, ibunda tercinta, Khadijah binti Khuwailid meninggal dunia.

Sepeninggal ibunda, Fatimah merasa bertanggung jawab untuk menggantikan tugas-tugas ibundanya dalam mendampingi Rasulullah dalam berdakwah. Karena sedemikian sayang Fatimah dalam merawat dan membela Rasulullah, hingga para sahabat memanggilnya, “Ummu Abiha” atau ibu bagi ayahnya.

Hubungan Ayah dan Anak
Kedekatan Fatimah dengan Rasulullah SAW di ceritakan oleh Aisyah dalam beberapa riwayat.

Aisyah RA pernah ditanya, “Siapakah wanita yang paling dicintai Rasulullah SAW?” Aisyah menjawab, “Fatimah.” Sedangkan kerika ditanya lagi, “Dari lelaki siapa yang paling dicintai rasulullah SAW?” Aisyah menjawab, “Suaminya Fatimah, yang aku ketahui ia ahli puasa (shawwaman) dan ahli qiyamul lail (qawwaman).”

Dalam riwayat yang lain, Aisyah RA berkata, “Rasulullah SAW jika melihat Fatimah datang, beliau menyambutnya dan berdiri menuju Fatimah dan menciumnya kemudian menggandeng tangannya, hingga beliau mendudukkannya pada tempat beliau.”

Aisyah RA melanjutkan, “Adapun Fatimah, jika Rasulullah SAW mendatanginya, ia segera menyambut beliau dan berdiri lalu mencium beliau. Dialah yang masuk ke kamar Rasulullah SAW pada saat beliau sakit sebelum wafat. Beliau menyambut dan mencium Fatimah. Kemudian beliau membisikkan sesuatu padanya dan membuat Fatimah menangis, kemudian membisikkan sesuatu lagi padanya dan Fatimah tersenyum.”

Namun, meski sedemikian sayangnya Rasulullah SAW kepada Fatimah, tidak membuat Rasulullah sungkan untuk menegur ketika Fatimah melakukan kelalaian.

Seperti ketika Rasulullah mendapati Fatimah mengenakan sebuah kalung emas yang didapatnya dari sang suami, Ali bin Abi Thalib. Rasulullah yang biasanya duduk dahulu ketika berkunjung ke rumah Fatimah, saat itu bersabda, “Wahai Fatimah, apakah engkau senang jika orang-orang berkata, ‘Inilah Fatimah binti Muhammad’, sedangkan di tangannya terdapat kalung dari neraka?”, lalu beliau pergi meninggalkan rumah Fatimah tanpa duduk terlebih dahulu.

Mengerti akan maksud Rasulullah, saat itu Fatimah langsung menjual kalung tersebut. Hasil penjualan kalung itu, ia belikan budak dan membebaskan budak tersebut. Ketika sampai kabar tersebut kepada Rasulullah, beliau berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan Fatimah dari api neraka.”

Demikianlah Rasulullah yang tidak menginginkan keluarganya hidup seperti kebanyakan manusia yang menyibukkan diri dengan dunia dan mengabaikan akhirat. Rasulullah berharap Fatimah fokus pada Allah dan hari akhir.

Pernikahan
Fatimah tumbuh menjadi gadis cantik dan berakhlak mulia. Ia seorang yang taat pada Allah dan orang tua, serta bersifat lembut dan pemalu. Karena itu, tak heran jika banyak yang berkeinginan melamar Fatimah untuk menjadi istri. Tetapi karena beliau adalah putri Rasulullah, banyak yang menahan diri.

Saat itu usianya sekitar 18 tahun. Ketika dua orang sahabat mulia, yaitu Abu Bakar as-Shidiq dan Umar bin Khattab melamar Fatimah RA. Tetapi Rasulullah menolak lamaran kedua sahabat mulia tersebut dengan halus. Sebagaimana orang tua lain, pastilah Rasulullah juga menginginkan pendamping terbaik untuk putri kesayangannya.

Dan laki-laki baik itu adalah Ali bin Abi Tahlib. Seorang pemuda sholih nan sederhana, yang masih sepupu Rasulullah. Ali bin Abi Thalib RA sebenarnya telah lama berkeinginan memperistri Fatimah. Tetapi beliau tidak mempunya keberanian karena merasa tidak punya sesuatu yang digunakan untuk melamar Fatimah. Hingga suatu hari budak perempuannya mengatakan, “Apakah kamu tahu bahwa Fatimah dilamar orang?” dan orang tersebut tersebut terus membujuk Ali agar bertemu Rasulullah dan melamar Fatimah. Karena yakin, bahwa Rasulullah akan menerima Ali.

Akhirnya Alipun menghadap Rasulullah. Tetapi ketika berada di hadapan Rasulullah, lidah Ali kelu dan terdiam seribu bahasa. Hingga Rasulullah yang memulai pembicaraan, “Agaknya kamu datang untuk meminang Fatimah.” Dan Alipun berkata, “Ya.”

Rasulullah SAW bertanya, “Apakah kamu memiliki sesuatu untuk diberikan pada Fatimah?” Ali menjawab, “Tidak, demi Allah wahai Rasulullah.”

Rasul bertanya lagi, “Apa yang kamu lakukan dengan baju besi yang aku berikan padamu?” Aku nikahkan kamu dengan Fatimah, maka kirimkanlah barang itu pada Fatimah dan pakaikan itu padanya, itulah mahar Fatimah binti Rasulullah.”

Masya Allah. Demikian pilihan Rasulullah untuk putri tercintanya. Bukan seorang yang berlimpah harta benda, tetapi pemuda sholih yang menjadi pembela Rasulullah. Yang bersedia menggantikan Rasulullah di tempat tidurnya ketika malam keberangkatan hijrah ke Madinah. Pemuda yang tak memiliki apa-apa. Yang hanya memiliki baju besi yang harganya tak sampai 4 dirham itu.

Kehidupan Rumah Tangga
Sebagai seorang putri pemuka agama dan pemimpin negara, apakah Fatimah mendapatkan fasilitas yang melebihi orang lain? Apalagi semua tahu bahwa Fatimah adalah putri kesayangan.

Fatimah dan Ali bin Abi Thalib nyatanya hidup dalam kesederhanaan. Fatimah mengerjakan sendiri semua tugas rumah tangganya, karena ia tak memiliki pembantu. Ia sendiri yang menarik penggiling beras hingga membekas di tangannya. Ia sendiri yang mengambil air dengan tempat air hingga membekas di pundaknya. Ia sendiri yang memasak dan menyapu, hingga pakaiannya kotor oleh asap dan jelaga. Sampai-sampai sang suami, Ali bin Abi Thalib tidak tega dan meminta Fastimah datang kepada Rasulullah untuk meminta seorang pembantu dari tawanan perang yang baru saja datang.

Fatimahpun mengiyakan. Tetapi ketika sudah berada di hadapan Rasulullah, Fatimah malu untuk mengatakan keinginannya. Hingga akhirnya Ali sendiri yang mengatakan kepada Rasulullah tentang keadaan Fatimah.

Saat itu Rasulullah SAW bersabda, “Bertakwalah kepada Allah, wahai Fatimah. Kerjakanlah kewajiban fardlu Rabbmu, dan kerjakanlah pekerjaan rumah tanggamu. Jika engkau hendak tidur, bertasbihlah tiga puluh tiga kali, bertahmidlah tiga puluh tiga kali, dan bertakbirlah tiga puluh empat kali. Itu semua seratus kali lebih baik dari seorang pembantu.”

Fatimahpun berkata, “Aku ridha kepada Allah dan Rasulnya.” Dan Rasulullahpun tidak memberinya pembantu.

Akhir Hidup
Setelah beberapa waktu Rasulullah wafat, Aisyah teringat peristiwa ketika Rasulullah sakit dan berbisik kepada Fatimah, hingga membuat Fatimah menangis dan tertawa. Saat itu Fatimah tidak bersedia menjawab kenapa Fatimah menangis kemudian tertawa.

Tetapi setelah kepergian Rasulullah, akhirnya Fatimah bersedia menjawabnya. Fatimah berkata, “Pada saat itu beliau membisikiku yang pertama, beliau mengatakan bahwa biasanya Jibril memeriksa bacaan Al-Qur’an sekali dalam satu tahun. Akan tetapi sekarang Jibril memeriksa bacaannya dua kali dalam satu tahun. Karena itu beliau merasa ajalnya sudah dekat. Beliau berpesan agar aku takut kepada Allah dan bersabar, sesungguhnya beliau adalah sebaik-baik penghulu bagiku. Maka akupun menangis seperti yang engkau lihat.”

Fatimah melanjutkan, “Tatkala beliau melihatku bersedih, beliau membisikiku untuk kedua kalinya. Beliau bersabda, ‘Wahai Fatimah, relakah engkau menjadi ratu bagi para wanita penghuni surga? Dan engkau adalah anggota keluargaku yang paling cepat menyusulku.’ Mendengar kabar tersebut, maka akupun tertawa.”

Akhirnya Fatimah benar-benar menjadi anggota keluarga Rasulullah yang pertama menyusul Rasulullah. Yaitu sekitar enam bulan sejak kepergian Rasulullah. Saat itu, malam selasa tanggal 3 Ramadhan tahun 11 Hijriyah, Fatimah wafat ketika usianya 27 atau 29 tahun.

Wassalamu'alaikum
Ummi 


Daftar Pustaka
Hawwa, Said. 2003. Ar-Rasul. Jakarta: Gema Insani.
Pramono, M.Pd.I, Teguh. 2015. 100 Muslim Paling Berpengaruh dan Terhebat Sepanjang Sejarah. Yogyakarta: DIVA Press.
Asmayani, Nurul. 2015. 45 Bidadari Surga. Jakarta: Al-Kautsar Kids


Friday, 29 December 2017

TIPS MENGELOLA WAKTU UNTUK MUSLIMAH AKTIF

Assalamu'alaikum,

Al-waqtu kassaif, waktu itu laksana pedang. Begitu pepatah arab mengatakan. Kalau kita tidak bisa mengelola waktu dengan baik, bersiap-siaplah terpotong hidup kita. Eh, maksudnya hidup kita jadi kurang berkualitas, kalau waktunya habis untuk hal-hal tidak penting.

Dewasa ini Muslimah aktif di berbagai bidang. Mereka tidak lagi berkutat untuk urusan dapur saja, tetapi sudah merambah ke banyak lini kehidupan. Selain sebagai ibu rumah tangga, Muslimah juga aktif di berbagai kegiatan. Bahkan untuk yang mempunyai label stay mom at home sekalipun, mereka juga bukannya hanya berdiam diri di dalam rumah. Saat ini banyak dari Muslimah yang yang memanfaatkan waktu dan gadgetnya untuk berdagang online atau kegiatan lainnya yang dilakukan dari rumah. Jadi, meski di rumah, tetap saja Muslimah harus membagi waktunya untuk berbagai kegiatannya kan?

Lebih-lebih untuk Muslimah yang dilabeli working mom, tentu harus pintar mengelola waktunya. Sehingga semua tanggung jawab bisa diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Sedang secara waktu, working mom ini tidak sefleksibel dengan Muslimah yang bekerja di rumah.

Kalau boleh membagi-bagi waktu Muslimah, secara umum waktunya terbagi dalam 4 kategori, yaitu:

1.        Waktu untuk Keluarga
Waktu untuk keluarga ini tidak lepas dari tugas Muslimah sebagai seorang istri dan ibu. Sebagaimana hadis dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang wanita melaksanakan sholat lima waktu, melaksanakan puasa pada bulannya, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka ia masuk surga dari pintu mana saja yang ia kehendaki.” (HR. Ibnu Hibban)

Juga ungkapan yang menyatakan bahwa Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Jadi, sebagai ibu pasti tidak bisa mengabaikan tentang pengasuhan anak. Makanya sebelum aktif dimanapun, keluarga adalah nomor satu untuk seorang Muslimah sholihah. Ridho suami adalah yang utama. Pendidikan anak menjadi prioritasnya.

Sehingga tak bisa dipungkiri bahwa bagi seorang Muslimah, dia akan lebih tenang ketika meninggalkan rumah untuk berbagai aktifitasnya jika pekerjaan rumah sudah beres.

2.        Waktu untuk Karier
Sekarang ini hampir semua Muslimah mempunyai apa yang disebut karir itu. Meskipun mereka mengejar karir itu dari rumah. Tidak percaya? Membuka toko offline maupun online, menjadi penulis, membuka catering, atau menjadi apapun sekarang banyak yang bisa dikerjakan dari rumah. Jadi sebenarnya tidak terlalu berbeda. Berkarir di rumah ataupun di luar rumah, sama saja. Semua membutuhkan alokasi waktu agar kegiatan bisa berjalan efektif.
3.        Waktu untuk Masyarakat
Aktifitas Muslimah di tempat umum, tentunya bukan sekedar aktif saja. Tetapi bagaimana kegiatannya tersebut bermanfaat untuk masyarakat. Sebagaimana hadis Rasulullah SAW, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”

Seorang Muslimah juga tidak bisa abai terhadap tugas yang diembankan kepada semua Muslim, yaitu menjadi seorang da’i, yaitu seorang yang mengajak kepada kebaikan dan menyuruh meninggalkan keburukan.

Jadi, peran Muslimah di masyarakat harus signifikan. Ketika menjadi bagian dari masyarakat adalah hal yang tak terelakkan bagi Muslimah, maka meski dalam lingkup kecil sekalipun (seperti arisan RT atau pengajian jam’iyyah musholla), seorang Muslimah selayaknya bisa mengambil peran.

4.        Waktu untuk Diri Sendiri
Nah, meskipun aktif dimana-mana, Muslimah kadang juga membutuhkan me time atau waktu untuk diri sendiri. Meskipun me time Muslimah ini tentunya bukan sekedar untuk menyenangkan diri sendiri saja.

Ada kalanya memang ada waktu untuk menyenangkan diri. Tetapi ada juga alokasi waktu untuk bermuhasabah atau mengevaluasi aktifitas-aktifitas yang telah dilaluinya. Termasuk me time ini adalah hubungan Muslimah dengan Rabb-nya. Bagaimana seorang Muslimah yang aktif tetap memiliki waktu menyendiri untuk bermunajat kepada Allah.

Selain itu, me time bagi Muslimah adalah memberi waktu untuk mengembangkan kemampuan dirinya. Mengikuti training tentang hal yang disukai, seperti pelatihan menulis, menjahit, craft, dan lain sebaginya. Harapannya agar Muslimah selalu menjadi pribadi yang baik, istri yang baik, ibu yang baik, dan tentu saja hamba Allah yang baik.

Intinya, selalu memperbaiki diri agar menjadi Muslimah yang lebih baik. Seperti dalam hadis Rasulullah SAW, “Barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Barangsiapa yang harinya sekarang lebih jelek daripada harinya kemarin maka dia terlaknat.”

Nah kan? Waktu Muslimah ternyata banyak terbagi-bagi. Dengan waktu yang sama-sama 24 jam, seorang Muslimah aktif tentu harus pandai mengelola waktunya. Jangan sampai Muslimah keteteren membagi waktu untuk aktifitasnya yang seabreg. Jangan sampai juga mempunyai karir yang bagus, tapi keluarga terabaikan. Atau bisa aktif di masyarakat, tapi kadang kelelahan untuk sekedar bermuhasabah dan memperbaiki diri.

Maka, dengan banyaknya kegiatan tersebut, akan sangat terbantu jika Muslimah mau menyempatkan diri untuk menjadwal kegiatannya dengan baik. Berikut adalah hal-hal yang bisa dilakukan Muslimah untuk keteraturan pengelolaan waktunya:

1.        Tuliskan seluruh kegiatan harian.
Tuliskan saja seluruh kegiatan rutin Muslimah dalam sehari di sebuah kertas. Tulis secara acak saja degan list ke bawah. Kegiatan yang ditulis adalah seluruh kegiatan dari bangun tidur sampai tidur lagi. Misalnya seperti ini:

No.
Nama Kegiatan
1
Sholat tahajjud
2
Baca Al-Qur’an
3
Menulis
4
Sholat subuh
5
Memasak
6
Mencuci baju
7
Mencuci piring
8
Memandikan anak
9
Menyuapi anak
10
Berangkat ke kantor
11
dst

2.    Susun pekerjaan yang bisa dilakukan bersamaan.
       Ada lho, pekerjaan yang bisa dilakukan bersama-sama. Misalnya kita bisa sholat tahajjud sambil cuci baju. Jadi ketika kita bangun tidur, kita bisa langsung mencuci baju dengan mesin cuci. Lalu meninggalkan cucian untuk sholat tahajjud dan baca Al-Qur’an. Selesai membaca Al-Qur’an, kita bisa langsung mengeringkan cucian di pengering. Sambil mengeringkan, kita bisa sambil menulis.
      
3.    Tentukan alokasi waktunya.
       Untuk mengefektifkan waktu Muslimah, akan baik jika ditentukan juga alokasi waktu yang dibutuhkan untuk tiap kegiatan. Tulis saja di sebelah list kegiatan yang sudah kita tuliskan sebelumnya. Untuk contoh di atas, kita bisa buat seperti ini:
      
No.
Nama Kegiatan
Alokasi Waktu
1
Sholat tahajjud, mencuci baju
03.00 – 03.20
2
Baca Al-Qur’an
03.20 – 03.40
3
Menulis, mengeringkan baju
03.35 – 04.15
4
Sholat subuh
04.15 – 04.30
5
Memasak, mencuci piring
04.30 – 05.30
6
Memandikan anak
Dst
7
Menyuapi anak
Dst
8
Berangkat ke kantor
Dst
9
dst

      
4.    Taruh jadwal di tempat yang mudah dilihat.
       Meletakkan jadwal yang telah disusun di tempat yang mudah dilihat, akan sangat membantu. Ini bisa menjadi pengingat jika kita lupa atau sedang malas.

5.    Konsisten dan patuh pada jadwal.
       Setelah membuat jadwal, tentunya tetap tidak akan efektif kalau Muslimah tidak konsisten menjalankannya. Catatan yang sudah dibuat harus dipatuhi. Memang butuh kesungguhan untuk melakukannya. Apalagi untuk yang bertipe easy going, yang terbiasa mengalir seperti air yang ikut arus. Namun jika kita bisa menjadikannya kebiasaan baik, kenapa tidak?
      
       Paling tidak, dengan mengatur jadwal dan mematuhinya, hidup Muslimah akan lebih teratur, tidak ada waktu yang terbuang sia-sia, dan akan bisa mencapai goal lebih banyak. Insya Allah.

Hasan Al-Banna menyebut, “Hendaklah Anda benar-benar dapat mengatur masa Anda karena waktu adalah kehidupan. Jadi jangan sekali-kali Anda mensia-siakan waktu walau hanya sedetik karena waktu adalah kehidupan. Hendaklah Anda menjauhi hal-hal yang syubhat agar tidak terperosok ke dalam perkara yang diharamkan.”


Bagaimana Muslimah, siap mengelola waktumu dengan baik?
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...