Thursday, 9 May 2013

SETELAH KESULITAN ITU, SELALU ADA KEMUDAHAN

Kadang ada peristiwa-peristiwa kecil tapi tak mudah terlupakan dalam hidup kita. Peristiwa-peristiwa kecil itu seringkali juga memberi kita sebuah pelajaran berharga. 

Ada sebuah kejadian kecil waktu aku masih di kantor lama. Peristiwa itu membekas dalam hati dan pikiranku, meski sebenarnya ini sama sekali tak melibatkan aku secara langsung.

Adalah Pak S. Orangnya sederhana, pemikirannya juga sederhana. Karena sangat sederhananya,sampai-sampai beliau harus dibimbing oleh orang lain dalam hal penyelesaian pekerjaannya. Mungkin karena ketergantungannya pada orang lain dalam hal pekerjaan, ada saja orang-orang yang menyepelekan beliau. Bisa dibilang beliau ini termasuk orang yang terpinggirkan di lingkungan kantor. Yah, inilah kelemahan manusia. Suka sekali meremehkan orang lain yang dianggap “tak bisa apa-apa”. Padahal, apakah untungnya bagi kita dengan meremehkan itu? Kita tak akan tahu, bagaimana derajat seseorang di sisi Tuhan. Bisa jadi seseorang “terlihat hebat” atau “terlihat buruk”. Tapi siapa yang tahu? Bisa jadi seseorang terlihat sangat alim, tapi ada dengki dalam hatinya. Bisa jadi seseorang terlihat biasa saja, tapi dia punya sesuatu yang lebih di Mata Tuhan.

Kembali ke Pak S. Ada salah satu kelemahan Pak S ini, yaitu sering menyelesaikan masalah keuangan keluarganya dengan cara berutang. Dan seringkali pula, ia menutup utang dengan utang lagi, hingga akhirnya utang-utang itu menumpuk. Ketika sudah menumpuk itulah, ia menjadi sangat-sangat bingung. Tetapi selalu ada hikmah di setiap peristiwa. Mungkin inilah cara Allah membuat seorang hamba yang berpaling, kembali pada-Nya. Dari peristiwa ini, Allah membuka pintu hati Pak S ini. Dalam kesulitannya itu, Pak S yang hampir tak pernah sholat, menjadi rajin sholat. Kadang ada juga orang-orang yang mencandainya, “tumben sholat.........” Tapi ia toh tak peduli. Begitu adzan Dzuhur, aku melihatnya sudah siap di Musholla kantor. Hal yang mulanya tak pernah dilakukannya.

Dan sungguh, Allah memang Maha Rohman, Maha Rahim............. Aku lupa kejadian itu di tahun berapa. Mungkin tahun 2008, mungkin tahun 2009. Yang pasti di tahun itu ada penerimaan CPNS. Dan kejadian itu terjadi tak lama setelah Pak S menjadi rajin sholat. Kejadian itu adalah diterimanya anak pertama pak S sebagai CPNS. Mengapa peristiwa itu begitu istimewa? Aku menganggapnya istimewa karena saat itu adalah saat-saat sulit Pak S. Ia terlilit utang, ia diremehkan orang-orang, dan orang-orang yang meremehkannya itu secara kebetulan, anak-anaknya tak diterima CPNS. Padahal sebelumnya orang-orang itu sudah yakin, dengan kekuasaannya, mereka bisa memasukkan anak-anaknya sebagai CPNS. Tak ada yang menyangka.

Saat itu, ada sesuatu yangmengharukan. Hampir semua orang kantor mengucapkan selamat pada Pak S atas diterimanya anaknya sebagai CPNS. Semua ikut berbahagia untuk Pak S. Aku yang bekerja satu ruang dengan Pak S, bisa melihat ketulusan dan kebahagiaan saat para pegawai kantor mengucapkan selamat pada Pak S. Sampai-sampai Pak S menangis haru di kantor, saking bahagianya. Akupun ikut berkaca-kaca saat itu. Ah, sebenarnya bukan hanya aku. Orang-orang yang memberi selamat, bahkan para bapak-bapak pun berkaca-kaca. Karena haru.

Di dalam Al-Qur’an ada sebuah ayat dalam surat Al-Insyiroh yang berbunyi, ”Inna ma’al ‘usri yusron.Fainna ma’al usri yusron” Artinya “sesungguhnya bersama kesulitan, terdapat kemudahan. Maka sungguh, bersama kesulitan, terdapat kemudahan”. Kenapa kalimat“bersama kesulitan, terdapat kemudahan” diulang sampai dua kali? Tafsir ulama’mengatakan bahwa, bila ada satu kesulitan, maka Allah akan memberi dua kemudahan bagi kita. Itu rumus dari Allah.

Dan bagi kita, siapapun kita, aku rasa, sudah seharusnya mengambil pelajaran dari setiap peristiwa disekitar kita. Agar kita menjadi lebih baik dan lebih baik lagi setiap harinya.

DEMI CINTA DAN SAYANGKU


Cintaku adalah panggilan kesayangan untuk putri pertamaku. Dan Sayangku adalah panggilan cinta untuk putri keduaku. Mereka akan senang sekali kalau aku sudah memanggil mereka berdua dengan panggilan itu, dan mereka selalu menambahi, “Bunda, kalau adik yang di perut lahir, nanti dipanggil Kasihku ya....”
Aku selalu tertawa kalau mereka sudah mengatakan itu. Karena sampai saat ini sebenarnya aku belum berniat hamil lagi. Tapi sepertinya mereka sudah ingin punya adik lagi. Ini karena sepupu mereka sudah punya adik bayi yang lucu. Mereka selalu ingin membawa pulang bayi lucu itu.

Mereka berdua itu tentu saja benar-benar kecintaan dan kesayanganku. Dulu, ada masa dimana aku merasa bersalah kepada mereka karena tidak bisa membersamai mereka setiap saat. Sebab aku seorang ibu yang bekerja.

Aku seorang PNS yang dari awal penerimaan CPNS ditempatkan di BAPPEDA sebuah Kabupaten. Jarak antara rumah dan kantor adalah satu jam perjalanan. Tetapi pada saat itu di tahun 2006, hal ini tidaklah menjadi masalah. Aku belum menikah saat itu. Dan aku menikmati setiap pengalaman baru sebagai PNS di BAPPEDA. Mengikuti rapat keluar kota. Atau monitoring ke desa-desa di wilayah Kabupaten, yang jalannya tidak semulus yang ada di kota. Semua itu memberi ilmu baru dan aku menyukai itu. Tetapi menikah dan menjadi ibu, membuatku menemukan sesuatu yang berbeda. Apalagi ketika aku sudah mempunyai dua orang anak.

Bekerja di BAPPEDA itu hampir selalu sibuk dari awal hingga akhir tahun (ini menurutku, bagi yang lain, mungkin beda). Di awal tahun kantor kami sudah mulai disibukkan dengan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), dimana kami membuat Rencana Kerja Perangkat Daerah (RKPD) untuk tahun berikutnya. Lalu tugas-tugas koordinasi juga menyibukkan kami. Di akhir tahun semua orang pun sibuk dengan monitoring dan evaluasi. Dan kami sering sekali bekerja melebihi batas waktu. Pulang menjelang malam sudah biasa (he he..... sebenarnya ini untuk orang-orang tertentu sih......) Dan semua itu menjadi lebih berat ketika kita sudah punya anak. Berat bukan dalam hal pekerjaannya, tapi berat dalam hal “hati dan perasaan”. Meskipun aku beruntung mempunyai suami dan anak-anak yang pengertian, yang hampir tak pernah rewel meskipun aku sering pulang melebihi batas waktu. Tetapi timbul rasa bersalah ketika aku sebagai seorang ibu tidak bisa mendampingi anak-anak lebih banyak ketika mereka sakit. Atau ketika putriku yang pertama ada kegiatan di sekolahnya yang membutuhkan pendampingan orang tua, tapi aku tak pernah bisa mendampinginya. Anakku yang pertama itu memang tak pernah protes secara langsung, tetapi dia sering mengatakan, “Bunda, tadi teman-temanku ditemani ibunya. Mbak Tia tadi sama Bu Guru. Nanti kapan-kapan Mbak Tia ditemani bunda juga ya.....” Kadang ia juga protes dengan cara yang lain, yaitu mogok tidak mau sekolah. Biasanya mogok sekolah ini dilakukan ketika aku sudah terlalu sibuk dan beberapa hari berturut-turut pulang ke rumah sangat telat, hingga ia merasa diabaikan. Yah........Itulah cara Fathiya protes.

Hal-hal seperti itu membuatku berfikir untuk mengajukan pindah kerja di tempat yang lebih dekat. Dan lebih dekat itu berarti di Kantor Kecamatan atau di Upt Dinas. Tapi aku masih maju mundur untuk benar-benar mengajukannya. Beberapa teman dan saudara yang aku mintai pertimbangan selalu mengatakan, “Eman-eman. Bagaimana nanti karirmu?” Selalu begitu. Memang sih, bekerja di BAPPEDA itu keren. Tapi pikirku, menjadi ibu yang baik juga keren. :)

Aku memikirkan pengajuan pindah itu selama hampir dua tahun. Tapi hatiku masih gamang, antara ya dan tidak. Tetapi kemudian ada hal yang membuatku yakin untuk melakukannya. Ketika itu bulan Ramadhan 1434 H, dan aku mulai memasukkan Fathiya, anakku yang pertama itu ke Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ). Sampai beberapa bulan Fathiya ngaji di TPQ yang masuk jam setengah 2 siang itu, Fathiya hanya mau diantar olehku. Ia tidak mau diantar Abi atau Mbak-nya. Padahal dalam keadaan normal (tidak lembur) aku keluar kantor jam setengah 2 siang, dan perjalananku dari kantor ke rumah adalah satu jam. Walhasil, dia hanya masuk di hari Ahad ketika aku libur (kebetulan di Pemda kami, kerjanya adalah 6 hari kerja).

Beberapa lama aku berdiskusi dengan suami. Bahkan pernah terpikir juga untuk keluar dari pekerjaan. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya kami memutuskan, mengajukan pindah mungkin adalah jalan terbaik. Beberapa hal menjadi pertimbangan kami. Tetapi faktor utama yang menyakinkanku sebenarnya adalah karena aku tidak bisa melihat ngajinya Fathiya terbengkelai.

Mungkin bagi sebagian orang, hal ini adalah sesuatu yang sepele. Tetapi bagi kami ini sesuatu yang serius. Karena aku dan suami dari keluarga yang cenderung agamis, ngaji merupakan hal penting bagi keluarga kami. Dulu waktu kecil, orang tuaku lebih mementingkan ngaji/sekolah agama daripada les di sore hari. Dan sepertinya ini menurun padaku. Bukan berarti mengabaikan pendidikan, tetapi memberi bekal anak itu, bagi kami, bukan sekedar bekal dunia tetapi juga bekal akhirat. Dan bekal itu, harus mulai diberikan sejak kecil. Karena itu demi cinta dan sayangku, aku meyakinkan hati, tak apa jika di tempat kerja yang lebih dekat rumah, karirku nantinya begitu-begitu saja. :) Tetapi semoga, meski belum maksimal aku bisa lebih banyak membersamai anak-anak.

Sebenarnya ada proses-proses dalam pengajuan pindah itu (yang tidak bisa diceritakan satu persatu), hingga akhirnya aku bisa pindah di tempat yang baru. Tetapi dalam proses itu, aku meyakini satu hal. Selalu husnudzon pada-Nya, maka Dia akan memberikan yang terbaik untukmu. Jangan pernah berfikir, jalan lurus itu tidak ada. Karena jika Dia sudah berkehendak, tak ada yang tak mungkin bagi-Nya.

Sekarang, aku sudah 4 bulan di kantor baru. Ya......setidaknya ada beberapa hal yang aku anggap lebih baik setelah aku bekerja di tempat yang lebih dekat, misalnya:
  1. Ada sekitar 2 jam yang dulu hilang dalam perjalanan (1 jam perjalanan berangkat dan 1 jam perjalanan pulang) yang bisa aku manfaatkan untuk anak-anak.
  2. Kalau dulu tugas memandikan, ngajak sarapan dan mengantar sekolah (Fathiya di TK, Hana di Taman Penitipan Anak (TPA)) adalah tugas suamiku, sekarang aku bisa sepenuhnya membersamai pagi mereka.
  3. Dulu menjemput sekolah selalu dilakukan suamiku, sekarang meskipun tidak tiap hari, aku bisa melakukannya.
  4. Yang pasti, sekarang Fathiya lebih sering berangkat TPQ daripada dulu, karena aku sudah bisa mengantar ngaji hampir tiap hari.
  5. Sepertinya anak-anak juga lebih senang sekarang, karena aku tidak pernah pulang menjelang malam lagi. Itu berarti waktu bermain bersamaku lebih banyak.
Al-Um Al-madrosatul ula. Seorang ibu adalah madrasah/sekolah pertama (bagi anak-anaknya). Semuanya memang tak bisa selalu berjalan sempurna, tetapi ini adalah ikhtiarku. Aku berharap semoga bisa menjadi ibu yang baik bagaimanapun keadaannya. Meski tidaklah sempurna.

PEREMPUAN-PEREMPUAN ITU, ATASANKU


Aku mulai bekerja di Bappeda di sebuah Kabupaten sejak tahun 2006 melalui Tes Penerimaan Tes CPNS Murni/Bukan Honor. Hingga akhirnya aku pindah kantor di awal tahun ini, berarti 7 tahun aku bekerja disana. Dan selama 7 tahun bekerja di Bappeda, entah ini kebetulan atau bukan, aku selalu mempunyai atasan langsung perempuan. Mereka itu aku menyebutnya................ Ibu Rapi, Ibu Cantik dan Modis, Ibu Cerdas dan Mandiri, dan yang terakhir..... Ibu Insinyur. He.... Ini hanya sebutanku untuk mereka, tentunya mereka punya nama-nama. Tapi tidak usahlah disebutkan disini. Dari 4 perempuan ini, tentu aku belajar banyak hal. Mereka masing-masing punya style yang berbeda, tetapi dari perbedaan-perbedaan itu, aku jadi belajar, dan merangkumnya untuk bekalku. Bukan hanya bekal dalam bekerja, tapi juga menjadi "ibroh" menjalani hidup.

1. Ibu Rapi.
Ini atasan langsungku yang pertama, saat aku baru diterima CPNS. Beliau ini rapi sekali. Mulai dari caranya berpakaian, hingga caranya memperlakukan file-file kami. Orangnya juga halus, tetapi jangan salah...... kalau ada sesuatu yang tidak berkenan di hatinya, ia bisa bertindak tegas juga.
Ia rapi sekali menyimpan file-file satu kegiatan dan kegiatan lain secara berurutan. Surat masuk, arsip surat keluar, SK-SK, hasil rapat, dan lain sebagainya, ia susun sangat rapi, berurutan menurut tanggalnya. Satu kegiatan dan kegiatan lain, tak ada yang tercampur-campur. Semua disusun dalam snelhecter yang berbeda dan rapi.
Dari sisi pekerjaan, beliau memberi kebebasan padaku saat memberi tugas. Terserah aku mau bagaimana, tapi setelah selesai, beliau akan meneliti hasil pekerjaanku, lalu mengoreksi bila ada kesalahan. Aku bekerja dengan beliau sekitar satu tahunan. Dengan kerapiannya, beliau ini yang memberikan dasar-dasar pengarsipan padaku.

2. Ibu Cantik dan Modis.
Ha.... yang kedua ini beda lagi. Ibu yang ini selalu terlihat cantik dan modis. Ia selalu terlihat memperhatikan penampilan. Ia juga baik padaku. He..... Beberapa kali aku numpang mobilnya kalau pas tidak bawa motor ke kantor. Aku bekerja dengan beliau tidak lama. Mungkin sekitar 4 bulanan, karena setelah itu beliau dimutasi.
Mungkin karena penampilannya, ia dianggap "tidak bisa bekerja" oleh beberapa orang. Jadi, ketika ada tugas yang diberikan padanya, beliau merasa senang. Karena itu berarti masih ada orang yang percaya bahwa beliau "bisa bekerja". Beberapa orang pernah menyudutkannya, tapi ia cuek saja. Ia mengatakan, "Gusti Allah mboten sare". Dan bekerja itu, aku rasa memang soal kepercayaan juga. Setelah dimutasi, ia dipercaya "bisa bekerja" dan bisa lebih berkembang ditempat yang baru. Sekarang, ia sudah menduduki Jabatan Eselon III di sebuah Dinas.

3. Ibu Cerdas dan Mandiri.
Aku sungguh mengagumi kecerdasan dan kemandirian beliau. Beliau seorang janda dengan 2 orang anak, laki-laki dan perempuan. Menghidupi 2 anak sendiri, dari anak-anak itu masih sangat kecil. Meski pontang-panting, beliau selalu berusaha memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Bersyukur, anak-anaknya adalah anak-anak yang berprestasi. Aku selalu terharu kalau mengingat beliau, karena teringat perjuangannya. Anak-anaknya kini sudah kuliah di Perguruan Tinggi Favorit. Meski perjuangannya belum usai, setidaknya hasil dari perjuangannya selama ini sedikit-sedikit mulai terlihat.
Ia hidup bersama ibunya. Di depan rumahnya berdiri sebuah Musholla yang ia kelola bersama ibu dan adiknya. Ia juga menjamu orang-orang ketika ada pengajian di Mushollanya. Entahlah, mungkin hal-hal baik inilah yang membuat Allah selalu menolong beliau.
Dalam hal pekerjaan, aku harus mengakui beliaulah yang tercerdas diantara atasan-atasanku. Cepat sekali ia menyikapi sebuah permasalahan. Ia juga pembimbing yang baik. Sejujurnya, aku mulai belajar "bekerja lebih baik" sejak bersama beliau. Tentang tata naskah yang baik, tentang membuat konsep suatu kegiatan, ah..... tentang banyak hal. Bahkan sebenarnya aku bukan hanya belajar tentang "bekerja" tetapi juga tentang "hidup" pada beliau.
Aku bekerja dengan beliau kurang lebih selama 1,5 tahun. Tapi itulah 1,5 tahun yang memberikan banyak pelajaran padaku.

4. Ibu Insinyur.
Sebagai atasan langsungku, aku bersama Ibu Insinyur ini selama kurang lebih 4 tahun. Tetapi sebenarnya, sebelumnya aku sudah bekerja dengan beliau dalam hal pengadaan barang jasa selama sekitar 2 tahunan. Beliau ini orang yang disiplin dan sistematis. Apa yang dikerjakannya sudah terprogram dengan baik. Pada malam hari sebelum bekerja, beliau sudah mencatat apa yang harus dikerjakannya besok. Beliau juga memberi urutan prioritas pada catatan-catatan itu. Pekerjaan ini penting dan mendesak, yang itu penting tapi tidak mendesak, yang lainnya bisa ditunda dan lain sebagainya. Mungkin teori-teori seperti itu, sudah sering kita dapatkan. Tapi untuk benar-benar mengaplikasikannya, untuk orang-orang yang aku kenal, aku rasa baru Bu Insinyur ini yang melakukannya. Beliau ini orang yang tekun dan teliti. Dan lagi, kau harus bekerja sesuai aturan bila bersama beliau. Ia tidak menoleransi orang yang tak mengikuti aturan. Karena itu banyak yang bilang beliau itu galak. Untuk aku yang sudah lama bersamanya, aku rasa beliau itu tidak galak. Tetapi hanya ingin orang-orang mengikuti aturan.
Dan aku rasa, kalau semua PNS seperti Bu Insinyur ini, tak akan ada lagi orang yang protes gara-gara ada PNS yang kerjanya "sak karepe dewe".

Beliau berempat tentu saja telah memberi warna pada diriku. Tentu ada pengaruh beliau-beliau itu dalam caraku bekerja ataupun bersikap. Ini bukan tentang membandingkan satu persatu dari mereka. Tetapi ini adalah tentang aku. Tanpa bimbingan dan pelajaran mereka saat itu, mungkin aku bukanlah aku sekarang ini.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...