Thursday, 9 May 2013

DEMI CINTA DAN SAYANGKU


Cintaku adalah panggilan kesayangan untuk putri pertamaku. Dan Sayangku adalah panggilan cinta untuk putri keduaku. Mereka akan senang sekali kalau aku sudah memanggil mereka berdua dengan panggilan itu, dan mereka selalu menambahi, “Bunda, kalau adik yang di perut lahir, nanti dipanggil Kasihku ya....”
Aku selalu tertawa kalau mereka sudah mengatakan itu. Karena sampai saat ini sebenarnya aku belum berniat hamil lagi. Tapi sepertinya mereka sudah ingin punya adik lagi. Ini karena sepupu mereka sudah punya adik bayi yang lucu. Mereka selalu ingin membawa pulang bayi lucu itu.

Mereka berdua itu tentu saja benar-benar kecintaan dan kesayanganku. Dulu, ada masa dimana aku merasa bersalah kepada mereka karena tidak bisa membersamai mereka setiap saat. Sebab aku seorang ibu yang bekerja.

Aku seorang PNS yang dari awal penerimaan CPNS ditempatkan di BAPPEDA sebuah Kabupaten. Jarak antara rumah dan kantor adalah satu jam perjalanan. Tetapi pada saat itu di tahun 2006, hal ini tidaklah menjadi masalah. Aku belum menikah saat itu. Dan aku menikmati setiap pengalaman baru sebagai PNS di BAPPEDA. Mengikuti rapat keluar kota. Atau monitoring ke desa-desa di wilayah Kabupaten, yang jalannya tidak semulus yang ada di kota. Semua itu memberi ilmu baru dan aku menyukai itu. Tetapi menikah dan menjadi ibu, membuatku menemukan sesuatu yang berbeda. Apalagi ketika aku sudah mempunyai dua orang anak.

Bekerja di BAPPEDA itu hampir selalu sibuk dari awal hingga akhir tahun (ini menurutku, bagi yang lain, mungkin beda). Di awal tahun kantor kami sudah mulai disibukkan dengan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), dimana kami membuat Rencana Kerja Perangkat Daerah (RKPD) untuk tahun berikutnya. Lalu tugas-tugas koordinasi juga menyibukkan kami. Di akhir tahun semua orang pun sibuk dengan monitoring dan evaluasi. Dan kami sering sekali bekerja melebihi batas waktu. Pulang menjelang malam sudah biasa (he he..... sebenarnya ini untuk orang-orang tertentu sih......) Dan semua itu menjadi lebih berat ketika kita sudah punya anak. Berat bukan dalam hal pekerjaannya, tapi berat dalam hal “hati dan perasaan”. Meskipun aku beruntung mempunyai suami dan anak-anak yang pengertian, yang hampir tak pernah rewel meskipun aku sering pulang melebihi batas waktu. Tetapi timbul rasa bersalah ketika aku sebagai seorang ibu tidak bisa mendampingi anak-anak lebih banyak ketika mereka sakit. Atau ketika putriku yang pertama ada kegiatan di sekolahnya yang membutuhkan pendampingan orang tua, tapi aku tak pernah bisa mendampinginya. Anakku yang pertama itu memang tak pernah protes secara langsung, tetapi dia sering mengatakan, “Bunda, tadi teman-temanku ditemani ibunya. Mbak Tia tadi sama Bu Guru. Nanti kapan-kapan Mbak Tia ditemani bunda juga ya.....” Kadang ia juga protes dengan cara yang lain, yaitu mogok tidak mau sekolah. Biasanya mogok sekolah ini dilakukan ketika aku sudah terlalu sibuk dan beberapa hari berturut-turut pulang ke rumah sangat telat, hingga ia merasa diabaikan. Yah........Itulah cara Fathiya protes.

Hal-hal seperti itu membuatku berfikir untuk mengajukan pindah kerja di tempat yang lebih dekat. Dan lebih dekat itu berarti di Kantor Kecamatan atau di Upt Dinas. Tapi aku masih maju mundur untuk benar-benar mengajukannya. Beberapa teman dan saudara yang aku mintai pertimbangan selalu mengatakan, “Eman-eman. Bagaimana nanti karirmu?” Selalu begitu. Memang sih, bekerja di BAPPEDA itu keren. Tapi pikirku, menjadi ibu yang baik juga keren. :)

Aku memikirkan pengajuan pindah itu selama hampir dua tahun. Tapi hatiku masih gamang, antara ya dan tidak. Tetapi kemudian ada hal yang membuatku yakin untuk melakukannya. Ketika itu bulan Ramadhan 1434 H, dan aku mulai memasukkan Fathiya, anakku yang pertama itu ke Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ). Sampai beberapa bulan Fathiya ngaji di TPQ yang masuk jam setengah 2 siang itu, Fathiya hanya mau diantar olehku. Ia tidak mau diantar Abi atau Mbak-nya. Padahal dalam keadaan normal (tidak lembur) aku keluar kantor jam setengah 2 siang, dan perjalananku dari kantor ke rumah adalah satu jam. Walhasil, dia hanya masuk di hari Ahad ketika aku libur (kebetulan di Pemda kami, kerjanya adalah 6 hari kerja).

Beberapa lama aku berdiskusi dengan suami. Bahkan pernah terpikir juga untuk keluar dari pekerjaan. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya kami memutuskan, mengajukan pindah mungkin adalah jalan terbaik. Beberapa hal menjadi pertimbangan kami. Tetapi faktor utama yang menyakinkanku sebenarnya adalah karena aku tidak bisa melihat ngajinya Fathiya terbengkelai.

Mungkin bagi sebagian orang, hal ini adalah sesuatu yang sepele. Tetapi bagi kami ini sesuatu yang serius. Karena aku dan suami dari keluarga yang cenderung agamis, ngaji merupakan hal penting bagi keluarga kami. Dulu waktu kecil, orang tuaku lebih mementingkan ngaji/sekolah agama daripada les di sore hari. Dan sepertinya ini menurun padaku. Bukan berarti mengabaikan pendidikan, tetapi memberi bekal anak itu, bagi kami, bukan sekedar bekal dunia tetapi juga bekal akhirat. Dan bekal itu, harus mulai diberikan sejak kecil. Karena itu demi cinta dan sayangku, aku meyakinkan hati, tak apa jika di tempat kerja yang lebih dekat rumah, karirku nantinya begitu-begitu saja. :) Tetapi semoga, meski belum maksimal aku bisa lebih banyak membersamai anak-anak.

Sebenarnya ada proses-proses dalam pengajuan pindah itu (yang tidak bisa diceritakan satu persatu), hingga akhirnya aku bisa pindah di tempat yang baru. Tetapi dalam proses itu, aku meyakini satu hal. Selalu husnudzon pada-Nya, maka Dia akan memberikan yang terbaik untukmu. Jangan pernah berfikir, jalan lurus itu tidak ada. Karena jika Dia sudah berkehendak, tak ada yang tak mungkin bagi-Nya.

Sekarang, aku sudah 4 bulan di kantor baru. Ya......setidaknya ada beberapa hal yang aku anggap lebih baik setelah aku bekerja di tempat yang lebih dekat, misalnya:
  1. Ada sekitar 2 jam yang dulu hilang dalam perjalanan (1 jam perjalanan berangkat dan 1 jam perjalanan pulang) yang bisa aku manfaatkan untuk anak-anak.
  2. Kalau dulu tugas memandikan, ngajak sarapan dan mengantar sekolah (Fathiya di TK, Hana di Taman Penitipan Anak (TPA)) adalah tugas suamiku, sekarang aku bisa sepenuhnya membersamai pagi mereka.
  3. Dulu menjemput sekolah selalu dilakukan suamiku, sekarang meskipun tidak tiap hari, aku bisa melakukannya.
  4. Yang pasti, sekarang Fathiya lebih sering berangkat TPQ daripada dulu, karena aku sudah bisa mengantar ngaji hampir tiap hari.
  5. Sepertinya anak-anak juga lebih senang sekarang, karena aku tidak pernah pulang menjelang malam lagi. Itu berarti waktu bermain bersamaku lebih banyak.
Al-Um Al-madrosatul ula. Seorang ibu adalah madrasah/sekolah pertama (bagi anak-anaknya). Semuanya memang tak bisa selalu berjalan sempurna, tetapi ini adalah ikhtiarku. Aku berharap semoga bisa menjadi ibu yang baik bagaimanapun keadaannya. Meski tidaklah sempurna.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah memberikan komentar di blog saya. Mohon untuk memberi komentar dengan kata yang santun. Terima kasih. :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...