Thursday, 9 May 2013

PEREMPUAN-PEREMPUAN ITU, ATASANKU


Aku mulai bekerja di Bappeda di sebuah Kabupaten sejak tahun 2006 melalui Tes Penerimaan Tes CPNS Murni/Bukan Honor. Hingga akhirnya aku pindah kantor di awal tahun ini, berarti 7 tahun aku bekerja disana. Dan selama 7 tahun bekerja di Bappeda, entah ini kebetulan atau bukan, aku selalu mempunyai atasan langsung perempuan. Mereka itu aku menyebutnya................ Ibu Rapi, Ibu Cantik dan Modis, Ibu Cerdas dan Mandiri, dan yang terakhir..... Ibu Insinyur. He.... Ini hanya sebutanku untuk mereka, tentunya mereka punya nama-nama. Tapi tidak usahlah disebutkan disini. Dari 4 perempuan ini, tentu aku belajar banyak hal. Mereka masing-masing punya style yang berbeda, tetapi dari perbedaan-perbedaan itu, aku jadi belajar, dan merangkumnya untuk bekalku. Bukan hanya bekal dalam bekerja, tapi juga menjadi "ibroh" menjalani hidup.

1. Ibu Rapi.
Ini atasan langsungku yang pertama, saat aku baru diterima CPNS. Beliau ini rapi sekali. Mulai dari caranya berpakaian, hingga caranya memperlakukan file-file kami. Orangnya juga halus, tetapi jangan salah...... kalau ada sesuatu yang tidak berkenan di hatinya, ia bisa bertindak tegas juga.
Ia rapi sekali menyimpan file-file satu kegiatan dan kegiatan lain secara berurutan. Surat masuk, arsip surat keluar, SK-SK, hasil rapat, dan lain sebagainya, ia susun sangat rapi, berurutan menurut tanggalnya. Satu kegiatan dan kegiatan lain, tak ada yang tercampur-campur. Semua disusun dalam snelhecter yang berbeda dan rapi.
Dari sisi pekerjaan, beliau memberi kebebasan padaku saat memberi tugas. Terserah aku mau bagaimana, tapi setelah selesai, beliau akan meneliti hasil pekerjaanku, lalu mengoreksi bila ada kesalahan. Aku bekerja dengan beliau sekitar satu tahunan. Dengan kerapiannya, beliau ini yang memberikan dasar-dasar pengarsipan padaku.

2. Ibu Cantik dan Modis.
Ha.... yang kedua ini beda lagi. Ibu yang ini selalu terlihat cantik dan modis. Ia selalu terlihat memperhatikan penampilan. Ia juga baik padaku. He..... Beberapa kali aku numpang mobilnya kalau pas tidak bawa motor ke kantor. Aku bekerja dengan beliau tidak lama. Mungkin sekitar 4 bulanan, karena setelah itu beliau dimutasi.
Mungkin karena penampilannya, ia dianggap "tidak bisa bekerja" oleh beberapa orang. Jadi, ketika ada tugas yang diberikan padanya, beliau merasa senang. Karena itu berarti masih ada orang yang percaya bahwa beliau "bisa bekerja". Beberapa orang pernah menyudutkannya, tapi ia cuek saja. Ia mengatakan, "Gusti Allah mboten sare". Dan bekerja itu, aku rasa memang soal kepercayaan juga. Setelah dimutasi, ia dipercaya "bisa bekerja" dan bisa lebih berkembang ditempat yang baru. Sekarang, ia sudah menduduki Jabatan Eselon III di sebuah Dinas.

3. Ibu Cerdas dan Mandiri.
Aku sungguh mengagumi kecerdasan dan kemandirian beliau. Beliau seorang janda dengan 2 orang anak, laki-laki dan perempuan. Menghidupi 2 anak sendiri, dari anak-anak itu masih sangat kecil. Meski pontang-panting, beliau selalu berusaha memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Bersyukur, anak-anaknya adalah anak-anak yang berprestasi. Aku selalu terharu kalau mengingat beliau, karena teringat perjuangannya. Anak-anaknya kini sudah kuliah di Perguruan Tinggi Favorit. Meski perjuangannya belum usai, setidaknya hasil dari perjuangannya selama ini sedikit-sedikit mulai terlihat.
Ia hidup bersama ibunya. Di depan rumahnya berdiri sebuah Musholla yang ia kelola bersama ibu dan adiknya. Ia juga menjamu orang-orang ketika ada pengajian di Mushollanya. Entahlah, mungkin hal-hal baik inilah yang membuat Allah selalu menolong beliau.
Dalam hal pekerjaan, aku harus mengakui beliaulah yang tercerdas diantara atasan-atasanku. Cepat sekali ia menyikapi sebuah permasalahan. Ia juga pembimbing yang baik. Sejujurnya, aku mulai belajar "bekerja lebih baik" sejak bersama beliau. Tentang tata naskah yang baik, tentang membuat konsep suatu kegiatan, ah..... tentang banyak hal. Bahkan sebenarnya aku bukan hanya belajar tentang "bekerja" tetapi juga tentang "hidup" pada beliau.
Aku bekerja dengan beliau kurang lebih selama 1,5 tahun. Tapi itulah 1,5 tahun yang memberikan banyak pelajaran padaku.

4. Ibu Insinyur.
Sebagai atasan langsungku, aku bersama Ibu Insinyur ini selama kurang lebih 4 tahun. Tetapi sebenarnya, sebelumnya aku sudah bekerja dengan beliau dalam hal pengadaan barang jasa selama sekitar 2 tahunan. Beliau ini orang yang disiplin dan sistematis. Apa yang dikerjakannya sudah terprogram dengan baik. Pada malam hari sebelum bekerja, beliau sudah mencatat apa yang harus dikerjakannya besok. Beliau juga memberi urutan prioritas pada catatan-catatan itu. Pekerjaan ini penting dan mendesak, yang itu penting tapi tidak mendesak, yang lainnya bisa ditunda dan lain sebagainya. Mungkin teori-teori seperti itu, sudah sering kita dapatkan. Tapi untuk benar-benar mengaplikasikannya, untuk orang-orang yang aku kenal, aku rasa baru Bu Insinyur ini yang melakukannya. Beliau ini orang yang tekun dan teliti. Dan lagi, kau harus bekerja sesuai aturan bila bersama beliau. Ia tidak menoleransi orang yang tak mengikuti aturan. Karena itu banyak yang bilang beliau itu galak. Untuk aku yang sudah lama bersamanya, aku rasa beliau itu tidak galak. Tetapi hanya ingin orang-orang mengikuti aturan.
Dan aku rasa, kalau semua PNS seperti Bu Insinyur ini, tak akan ada lagi orang yang protes gara-gara ada PNS yang kerjanya "sak karepe dewe".

Beliau berempat tentu saja telah memberi warna pada diriku. Tentu ada pengaruh beliau-beliau itu dalam caraku bekerja ataupun bersikap. Ini bukan tentang membandingkan satu persatu dari mereka. Tetapi ini adalah tentang aku. Tanpa bimbingan dan pelajaran mereka saat itu, mungkin aku bukanlah aku sekarang ini.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah memberikan komentar di blog saya. Mohon untuk memberi komentar dengan kata yang santun. Terima kasih. :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...