Tuesday, 24 December 2013

DIA YANG TELAH PERGI

Ilustrasi: Orang-orang mengantarkan jenazah ke kubur
            Beberapa hari ini hujan terus-menerus. Hujan rintik-rintik, lalu menderas, dan merintik lagi. Tetap tak mau berhenti. Hawa dingin menusuk hingga ke tulang. Bahkan didalam ruangan kantorpun aku tetap memakai jaket karena tak kuasa menahan dinginnya. Di tengah suasana itulah aku mendengar kabar kematiannya. Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un. Sesunguhnya kita ini milik Allah dan kepada-Nya kita kembali.
            Beberapa hari sebelumnya aku bertemu dengan adiknya yang bercerita kalau kakaknya sekarang di rumah sakit.
            “Infeksi kandungan, Mbak,” jawabnya ketika kutanyakan perihal sakit sang kakak.
            “Tetapi juga karena ia mengalami kekerasan oleh suaminya,” cerita adiknya lagi.
            “Untung ada tetangga disana yang baik hati, mau mengabarkan kemalangan kakakku. Ibu langsung menjemput kakak setelah mendengar cerita itu,” begitu kira-kira si adik bercerita padaku beberapa hari yang lalu.
            “Setelah itu ibu langsung membawa kakak ke rumah sakit. Kakak sudah tak bisa bangun saat itu. Sekarang, saya yang mengasuh anaknya,” si adik terus bercerita.
            Aku lebih banyak mendengar. Dalam hati aku berniat, kapan-kapan aku harus menjenguk sang kakak. Tapi tak juga sempat melaksanakan niat itu, kabar kematian  datang terlebih dahulu. Aku tak menyangka separah itu sakitnya. Dia masih sangat muda, usianya baru menginjak 20 tahun.
            Masya Allah! Aku langsung mengingat wajah itu. Wajah yang aku kenal saat masih kanak-kanak. Bersama teman-temannya yang ceria, setiap sore mengaji iqro’ di rumahku. Bahagia rasanya melihat senyum mereka saat keroyokan jajanan kecil setelah selesai mengaji. Pernah juga aku memarahi mereka karena ada laporan dari tetanggaku kalau mereka mengambil buah belimbing dari pohon tetanggaku itu. Aku juga ingat betapa cerianya mereka ketika berlatih rebana. Seperti itulah dia dan teman-temannya dahulu. Tak berbeda jauh dengan anak-anak pada umumnya. Begitu ceria, kadang sedikit nakal, kadang juga menangis. Tapi lebih banyak canda tawa.
Tapi  aku mulai kehilangan dia dan teman-temannya saat mereka beranjak remaja. Mengaji tak lagi menarik bagi remaja-remaja itu. Mereka lebih senang jalan, menghabiskan waktu bersama remaja-remaja yang lain di tempat-tempat nongkrong. Hingga suatu hari aku mendengar kabar pernikahannya di usianya yang masih belia. Entah dengan siapa aku juga tak pernah bertanya. Karena aku merasa itu bukan urusanku. Tapi, entahlah! Mungkin juga aku yang terlalu tak peduli pada orang lain, tak empati dengan orang-orang sekitarku.
Ketika aku takziyah ke rumahnya di sore hari, cerita-cerita yang mengalirpun masih sama. Tentang sakitnya, tentang suami yang melakukan KDRT, tentang anaknya yang belum lagi berusia satu tahun, tentang dia yang masih sangat muda untuk pergi. Beberapa orang geram dengan perbuatan suaminya. Bahkan kabarnya, saat di rumah sakitpun dia masih mendapat kekerasan dari suaminya meski bukan secara fisik, tapi secara psikis.
“Di rumah sakit, suaminya malah membicarakan tentang kekasihnya yang lain,” kata saudaranya.
Aku sendiri lebih banyak mendengarkan cerita-cerita itu. Tetapi meski dalam diam, tetap saja ada sesak dalam dadaku. Lalu ingatan-ingatan tentang masa kecilnya datang begitu saja di benakku. Silih berganti. Dia yang sedang mengeja huruf arab. Dia yang bermain rebana. Dia yang bercanda dengan teman-temannya. 
Bagaimana dia menjalani hidup setelah menikah? Hatiku masih juga bertanya. Pernikahannya di usia belia. Melahirkan anak di usia muda. KDRT oleh suaminya. Ah, hidup yang sungguh rumit untuk seorang semuda itu. 
Hanya do'aku, semoga dia yang telah dipanggil oleh-Nya hari ini, diampuni semua dosanya dan diterima semua amal baiknya. Keluarga yang ditinggalkan semoga diberikan ketabahan. Dan bagi kami semua yang mengenalnya, semoga kami bisa mengambil hikmah dari semua kejadian ini. Aamiin.

Monday, 23 December 2013

IBU YANG SELALU DALAM HATI KAMI

Menemukan foto-foto ibu di album lama, seperti menemukan harta karun. :) 

Bulan Shofar adalah bulan kepergian ibu tiga tahun yang lalu. Tetapi, dalam hati kami puteri-puterinya, ibu masih tetap ada dalam hati kami. Berharap bisa meneladani ibu dalam setiap kebaikannya. Dalam caranya mendidik anak-anak, dalam perannya sebagai istri, dalam militannya berdakwah, dalam menebar kebaikan untuk lingkungannya, dalam segala kebaikan darinya. 

Semoga Allah menerima segala amal baiknya dan mengampuni semua dosa dan khilafnya. Allahummaghfirlaha, warhamha wa 'afina wa'fu 'anha. Amin Ya Robbal 'Alamin.

Pernikahan Bapak dan Ibu sekitar tahun 1974
Wisuda D2 Ibu di IAIN Walisongo Semarang
Ibu di pernikahanku tahun 2007
Masih di pernikahanku tahun 2007
Ibu sedang menengok adik bungsu di Ponpes Modern Gontor di tahun 2009
Ibu di pernikahan adik keduaku

Saat Ibu terserang stroke di Rumah Sakit

Pasca stoke bersama adik bungsuku
Pasca stroke bersama anak pertamaku yang juga cucu pertamanya
Kami, para puteri dan menantu sungkem di Idul Fitri 2010
Ibu, Bapak dan anak-anakku di tahun 2010
Selamat Jalan, Ibu

Tayu, 22 Desember 2013 M/18 Shofar 1435 H
Untuk mengenang ibu kami, di hari ibu, setelah tiga tahun kepergiannya.

Saturday, 21 December 2013

PILKADES DI KECAMATAN DUKUHSETI


Bertugas di kecamatan selama satu tahun ini, aku menemukan banyak hal berbeda dari tugasku sebelumnya di Bappeda. Ada banyak hal baru yang menurutku sungguh-sungguh sangat menarik. Yang menarik perhatianku kali ini adalah Pemilihan Kepala Desa (Pilkades).

Beberapa hari kemarin, aku melihat kesibukan yang melebihi biasanya oleh Kasi Tata Pemerintahan (Tapem) Kecamatan. Ya, karena pada bulan desember ini ada enam desa dari dua belas desa di Kecamatan Dukuhseti yang melaksanakan Pilkades. Mulai tahap persiapan saja, sudah membuat sibuk Bapak Kasi Tapem. Melakukan pendampingan pembentukan panitia Pilkades di desa, memonitor pemilihan Pj. Kades, sampai melakukan koordinasi dengan Muspika dan Muspida.

Seperti pemilihan pemimpin lainnya, untuk Kades yang mencalonkan diri lagi, tentu harus mengundurkan diri dahulu dari jabatannya. Karena itulah diperlukan Pj. Kades. Pj. Kades boleh dipilih dari PNS Kecamatan, perangkat desa atau tokoh masyarakat yang dipandang mampu. Usulan Pj. Kades ini berdasarkan rapat pleno Badan Permusyawaratan Desa (BPD) yang kemudian dimintakan persetujuan Bupati melalui Surat Keputusan Bupati.

Kondusifitas pelaksanaan Pilkades tentu sangat diharapkan. Termasuk kondusif sebelum dan sesudah pelaksanaan Pilkades. Karena itulah diperlukan koordinasi yang baik dengan Muspika dan Muspida. Muspika adalah Musyawarah Pimpinan Kecamatan yang anggotanya antara Camat, Kapolsek, Danramil, dan lain-lain. Sedangkan Muspida adalah Musyawarah Pimpinan Daerah yang anggotanya antara lain Bupati, Kapolres, Komandan Korem, dan lain-lain. 

Sebenarnya kades di enam desa yang mengadakan Pilkades di bulan desember ini, habis masa jabatannya di tahun 2014. Tetapi karena tahun 2014 bersamaan dengan Pemilu Legislatif (Pileg) dan Pemilu Presiden (Pilpres), maka berdasarkan Surat Edaran Mendagri, pilkades tidak boleh diadakan di tahun 2014. Tetapi, Pilkades boleh diajukan tahun 2013 atau mundur tahun 2015.

Enam desa yang melaksanakan Pilkades di Tahun 2013 adalah Desa Ngagel, Grogolan, Puncel, Kembang, Dukuhseti dan Banyutowo. Untuk Desa Ngagel dan Grogolan melaksanakan pilkades pada hari Rabu, 18 Desember 2013. Sedangkan Desa Puncel, Kembang, Dukuhseti dan Banyutowo melaksanakannya pada hari Kamis 19 Desember 2013.

Desa-desa tersebut telah melaksanakan Pilkades dengan baik. Menang kalah dalam pemilihan pemimpin sudah biasa. Ada wajah-wajah baru di tiga desa, yaitu Desa Ngagel, Grogolan dan Puncel, dimana pemenang Pilkades bukan Kades incumbent.  Sedangkan Desa Banyutowo, Dukuhseti dan Kembang, Pilkades dimenangkan oleh Kades incumbent. Selamat saja untuk kades yang telah terpilih, semoga bisa menjadi pemimpin yang amanah.

**NB: Menyesal karena aku tidak sempat mengambil foto saat Pilkades. Aaaargh..........

Friday, 20 December 2013

IBUKU, INSPIRASIKU


Almarhumah Ibu Saat Sehat
Seorang ibu pastilah mempunyai satu tempat istimewa di hati anaknya. Begitupun aku. Didikan ibulah yang menginspirasiku ketika aku mempunyai anak yang sifatnya hampir sama denganku di masa kecil, yaitu pemalu dan penakut.
 
Aku dimasa kecil adalah anak paling pemalu dan penakut. Bayangkan saja, di kelas 1 SD saat diminta guru untuk mengerjakan soal di papan tulis atau ketika menyanyi di depan kelas ketika pelajaran kesenian, aku akan menggandeng seorang teman yang bernama Lina untuk ikut ke depan menemaniku. Akupun akan memegang tangan Lina erat sambil bernyanyi sangat pelan di depan kelas. Aku memang harus berterima kasih padanya. Tanpa Lina, entah bagaimana aku melewati masa kanak-kanakku. Bermainpun aku selalu ditemani olehnya. Sampai-sampai ketika aku kelas 3 SD, saat ibu memasukkanku ke madrasah diniyyah di sore hari, ibu meminta Lina secara khusus kepada simbahnya (Lina diasuh oleh simbahnya) untuk menemani aku sekolah diniyyah. Tentu saja ibu yang membayar biaya sekolahnya. Itulah yang dilakukan ibu, agar aku yang pemalu dan penakut tetap bisa belajar agama.

Tentu bukan hanya itu yang dilakukan ibuku. Kalau anak2 lain seringkala dilarang terlalu banyak bermain oleh orang tuanya, ibu justru mendorong aku untuk bermain dengan teman-temanku. Beruntung pada waktu itu (tahun 80-an sampai awal 90-an) keadaan tidaklah serawan sekarang. Orangtua tidak khawatir, meski anaknya seharian bermain di luar. Aku biasanya bermain di sawah, di tambak atau di rumah teman-temanku.

Ketika aku kelas 5 SD, ibu mulai menyuruhku menjadi pembawa acara di acara2 kecil, misalnya acara berjanjenan. Di desa kami, tiap malam jum’at memang ada pembacaan Sholawat Nabi atau istilahnya berjanjen (bacaan sholawat dari kitab al-barzanji). Meskipun untuk menjadi pembawa acara aku masih membawa catatan, alhamdulillah hal ini mulai menumbuhkan rasa beraniku. Selalu grogi ketika memulai, tapi lama-lama tidak lagi.

Selain itu, tiap kali aku diikutkan lomba oleh sekolah, ibu juga selalu memotivasi aku. Bukan untuk menang, tapi untuk menjadi berani. Karena pernah aku mengikuti lomba cerdas cermat, aku cerita pada ibu kalau sebenarnya aku bisa menjawab tapi aku terlalu takut untu memencet bel. Karena itulah ibu selalu memotivasiku untuk mengatasi rasa takutku. Mungkin karena ibuku seorang guru, makanya ibuku memahami benar bahwa proses itu lebih penting daripada hasil.

Tentu masih banyak proses lain yang aku lalui dengan bantuan ibu. Tapi itu adalah sebagian hal yang selalu memberikan aku semangat tiap kali menghadapi anak pertamaku yang hampir sama pemalu dan penakutnya sepertiku. Aku dulu juga lebih sulit dari anakku itu kok....... tapi ternyata ibu bisa mendidik aku menjadi seperti sekarang (memangnya sekarang seperti apa? He....)

Sebenarnya sampai saat inipun aku bukanlah seorang pemberani. Aku masih sering menjadi penakut. Namun, ibuku telah mengajarkan aku untuk mengatasi rasa takut itu. Bahwa rasa takut itu sebenarnya timbulnya karena perasaan-perasaan dari dalam diri. Perasaan takut salah, perasaan takut kalau ditertawakan orang lain, perasaan bahwa kita tidak bisa, dan perasaan-perasaan takut yang lain. Perasaan-perasaan itulah yang harus diatasi. Biasanya rasa takut terjadi ketika kita melangkah untuk pertama kali. Jika kita mampu menaklukkan ketakutan itu pada langkah pertama, untuk langkah selanjutnya insya Allah akan menjadi lebih mudah. Begitulah ibuku menginspirasiku.

Friday, 13 December 2013

SERIAL FARA BAGIAN 1: KETIKA MENJADI 29 TAHUN

Ilustrasi: Beginilan kira-kira rumah kost-kostan punya Anita
Sumber: www.interior-rumah-minimalis.blogspot.com

          Hari ini adalah hari minggu. Minggu yang cerah di pertengahan bulan April. Di sebuah kamar dalam sebuah rumah dengan arsitektur kuno, Fara bangun dengan malas, tapi ia tetap memaksakan diri. Sudah jam 5 pagi dan ia sudah terlambat sholat subuh. Semalam ia dan teman-teman kost-nya begadang untuk merayakan ulang tahunnya ke-29. 
          Sebenarnya, merayakan ulang tahun adalah sesuatu yang belum pernah ia lakukan. Tetapi karena teman-teman kost-nya sudah mempersiapkan banyak hal untuk merayakan ulang tahunnya, jadi ia ingin menghormati jerih payah teman-temannya itu.
          Disini, di rumah ini, Fara hidup dengan empat orang gadis. Jadi, ada lima orang gadis tinggal di rumah ini. Lima orang gadis dengan karakter berbeda, tetapi bersahabat baik. Dengan merekalah Fara tadi malam menghabiskan waktu, begadang hingga pukul 2 dini hari. Bercerita tentang masa kecil, juga harapan akan masa depan. Diselingi dengan candaan khas gadis lajang. 
          Dan inilah teman-teman Fara itu.
         Yang pertama bernama Anita, ia adalah sang pemilik rumah alias ibu kost. Meskipun tentu saja, Anita ini belum menjadi ibu-ibu. Ia anak pengusaha bahan bangunan di kota lain. Ketika Anita kuliah di kota ini, orang tuanya membelikannya rumah yang ditempatinya sekarang. Karena rumahnya cukup besar, jadilah Anita juga menerima anak kost di rumahnya. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui, begitu peribahasa mengatakan. Jadi, selain Anita punya teman di rumahnya yang besar, ia juga mendapat penghasilan dari pembayaran kost. Dan Fara adalah anak kost terlama di rumah ini. Dulu, Fara memang satu kampus dengan Anita, sama-sama di Jurusan Teknik Sipil. Waktu orientasi mahasiswa, mereka satu kelompok, saling berkenalan, dan akhirnya Anita menawari Fara untuk kost di rumahnya. Itulah awal persahabatan Fara dan Anita. Sekarang, Anita diminta ayahnya untuk mengurusi toko bahan bangunan di kota ini. Setelah Anita lulus kuliah, orang tuanya memang membuatkan toko untuk dikelola. Darah pengusaha benar-benar mengalir deras dalam darah Anita. Baru lima tahun toko itu sudah berkembang pesat sekarang.
          Orang kedua bernama Dewi. Ia Pegawai Negeri Sipil di Sekretariat Daerah Kabupaten. Orangnya cantik dan selalu chick dengan semua yang dipakainya. Dewi berusia 27 tahun, dan kabarnya ia sering gonta-ganti pacar sejak masa kuliahnya. Kalau di tanya kenapa ia melakukannya, jawabnya, “karena aku ingin mendapatkan yang terbaik.” Benarkah? Entah. Tapi itu keyakinan Dewi. Sekarang, ia sedang pacaran dengan seorang pegawai bank. 
          Orang ketiga bernama Rahma, seorang mahasiswa hukum tingkat dua. Ia kuliah disana karena ayahnya yang menginginkannya. Ayahnya adalah seorang hakim yang terkenal bijaksana. Tapi rupanya ia tak cukup bijaksana dengan memaksa anaknya untuk mengikuti jejaknya, padahal anaknya tak ingin. Sepertinya, Rahma seorang anak yang patuh pada orang tua. Lihatlah! Meski ia bercita-cita menjadi seorang penulis, ia tetap menuruti ayahnya kuliah di Fakultas Hukum. Tapi pada teman-temannya di kost, Rahma pernah berkata, bahwa ia akan mengambil keuntungan dari ayahnya. Karena itu ia menuruti ayahnya, agar ayahnya membiayai kuliah dan hidupnya, sedang ia tetap bisa melanjutkan hobinya. Jadi, meski menuruti ayahnya, ia tak pernah sekalipun mengubah cita-citanya. Ia hanya mencoba bersikap realistis.
          Yang terakhir adalah seorang gadis muda berusia 20 tahun, namanya Linda. Ia bekerja sebagai kasir di sebuah minimarket. Meski “hanya” lulusan SMK, ia seorang yang cerdas. Cita-citanya menjadi seorang akuntan. Tetapi di desa, ayahnya hanya seorang tukang becak dan ibunya seorang buruh cuci, jadi sekarang Linda ingin mengumpulkan uang dulu untuk mendaftar kuliah. Ia gadis yang ceria dan selalu memandang hidup dengan optimis. Semua anak kost menyayanginya, mereka menganggap Linda sebagai adik bungsu. Hanya Rahma yang sering berulah dan bertengkar dengan Linda. Mungkin karena mereka seumuran. Linda juga meminta Anita untuk mempekerjakannya dengan membersihkan rumah dan memasak, imbalannya ia bebas uang kost. Jadi, ia bisa menabung lebih banyak untuk kuliahnya nanti.
          Sedang Fara sendiri adalah seorang PNS di Dinas Pekerjaan Umum (DPU). Sudah enam tahun ia bekerja disana, sejak ia lulus kuliah di usia 23 tahun. Teman-teman Fara menilai, Fara adalah seorang yang kompeten di bidangnya. Mereka selalu melihat Fara mengerjakan tugas dengan sebaik-baiknya. Tapi bagi Fara sendiri, ia hanya tak suka menjadi orang yang gampang menyerah. Jadi, meski sulit ia tetap akan berusaha menyelesaikan pekerjaannya.
Ilustrasi: Inilah para penghuni kost Anita
Sumber: deloiz.blogspot.com

***---***

          Ponsel Fara terus berbunyi saat ia sholat. Selesai sholat, Fara segera menyambar ponselnya dan melihat ke layar yang menunjukkan kata “Ibu Tersayang”. Berarti itu panggilan dari  ibunya.
          “Assalamu’alaikum, ibu,” sapa Fara. 
          “Wa’alaikum salam,” jawab Ibu Fara yang kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan biasa seperti bagaimana kabarnya, Fara sudah sholat belum, bagaimana makannya, bagaimana pekerjaannya dan lain sebagainya. Tetapi sebenarnya pertanyaan terpenting adalah yang terakhir.
          “Kamu sudah 29 tahun, kapan menikah?,” itu pertanyaan terakhir dari ibunya.
          Fara segera menghela nafas mendengar pertanyaan ibunya. Pertanyaan itu sebenarnya bukan pertanyaan baru. Sejak Fara lulus kuliah, hingga sekarang usianya 29 tahun, itu adalah pertanyaan rutin dari ibunya. 
         “Ibu, bukankah Fara sudah menyerahkannya pada ibu?,” jawab Fara, yang artinya Fara bersedia kalau dijodohkan oleh ibunya. 
          “Menyerahkan apanya. Bahkan kamu sudah menolak lima orang yang ibu ajukan,” jawab ibu kesal.
          “Baru tiga, ibu,” ralat Fara. 
          “Lima,” kata Ibu.
          “Tiga,” kata Fara.
          Dan akhirnya mereka kembali berdebat. 
          “Pokoknya ibu tidak mau lagi repot-repot mencari kalau kamu terus menolaknya. Kamu harus segera mencari sendiri menantu untuk bapak dan ibumu yang sudah tua ini.”
          “Ah ibu......,” Fara mau membujuk ibunya. Tapi ibu sudah menutup teleponnya. 
          Fara meletakkan ponselnya dan berfikir. Menikah. Kata itu kembali mengganggunya. Kenapa tekanan itu semakin kuat ketika mendekati usia 30? Meski ia meyakini, bahwa seseorang yang tepat akan datang pada waktu yang tepat untuknya, tetap saja ia harus memikirkan bapak dan ibunya yang selalu memikirkan dirinya yang belum menikah di usia menjelang 30 tahun ini. 

***---***

              Setelah menerima telepon, Fara keluar ke halaman untuk berolah raga di hari minggu. Tapi tak seperti biasanya, halaman rumah Anita yang luas masih sepi. Teman-teman kost-nya rupanya benar-benar kelelahan akibat begadang tadi malam. Bagi Fara yang saat ini sedang galau, malah lebih menyukai ketenangan ini. Kemudian ia berlari mengelilingi halaman rumah, berharap bisa melepaskan segala kegalauannya, sampai ia kelelahan.
              Fara benar-benar kelelahan, hingga ia berbaring di rerumputan sambil memandang langit. Nafasnya agak tersengal akibat ia terlalu memaksakan diri untuk terus berlari tadi.
              “Tangkap!” suara Anita mengagetkan Fara.
              Sebuah botol air mineral melayang ke arah Fara. Meski kaget, Fara dengan sigap menangkapnya. Fara duduk dan meminum airnya.
              Anita duduk di samping Fara.
              “Kenapa kau? Berlari-lari seperti orang gila,” tanya Anita. Rupanya ia sudah lama memperhatikan kelakuan Fara.
              Tak menunggu jawaban, Anita bertanya lagi, “apa lagi-lagi ibumu menyuruhmu segera menikah?”
              “29 tahun. Kenapa pertanyaan itu menjadi semakin sering?,” tanya Fara lebih pada dirinya sendiri.
              “Apa orang tuamu tak pernah bertanya? Usia kita kan sama.” Fara menoleh pada Anita.
              “Tentu saja pernah. Tapi, jauh-jauh hari aku sudah memberi pengertian pada orang tuaku. Karena aku hanya akan menikah dengan caraku. Kalaupun jodoh itu belum datang, aku katakan pada mereka kalau jangan pernah memaksaku. Kalau tidak, aku akan lari dari mereka. Hehehe........” Anita mengakhiri kalimatnya dengan tertawa kecil, membuat Fara menoleh padanya dengan ekspresi aneh.
              “Yah......... sebenarnya aku sedikit mengancam mereka,” lanjut Anita.
              “Kau hebat bisa mengancam orang tuamu,” kata Fara sedikit sinis, tak setuju dengan cara Anita.
              “Kau tahu kan, mereka sangat menyayangiku karena aku putri mereka satu-satunya. Kalau kakak-kakakku yang lari, orang tuaku tak akan terlalu khawatir. Tapi, mereka benar-benar takut aku lari sungguhan kalau mereka memaksaku menikah. Itu saja, itu bukan benar-benar ancaman kan?,” kata Anita.
              “Dan kau sendiri, apa kau sudah punya calonnya?” tanya Fara curiga. Anita menggeleng. Tapi kemudian menjawab karena Fara terus memandanginya dengan pandangan menyelidik.
              “Ah, sebenarnya ada seseorang yang aku sukai,” jawab Anita masih penuh misteri, karena ia sama sekali tak mau mengatakan siapa orangnya. Kemudian ia melenggang meninggalkan Fara yang masih bertanya-tanya.
              “Hei, kau mau kemana? Kau belum menjawabnya,” teriak Fara.
              “Aku mau tidur lagi. Masih ngantuk,” teriak Anita pula.
              “Anak gadis tak baik tidur lagi setelah subuh,” teriak Fara lagi.
              Tapi Anita hanya menjawab dengan lambaian tangannya, seakan jawabannya, “ah, kau kuno sekali.”  
              Fara jadi kesal dan mengikuti Anita masuk rumah. Anita masuk kamar lagi, sedang Fara menuju dapur. Linda sudah memasak untuk sarapan mereka. Fara lalu sarapan ditemani Linda.
              “Sudahlah Mbak Fara, tidak usah terlalu difikirkan. Nanti kalau sudah saatnya, jodoh itu akan datang kok,” kata Linda tiba-tiba. Entah darimana ia tahu kegalauan Fara.
              “Eh, anak kecil jangan ikut-ikutan ya......,” elak Fara. Malu dinasehati seorang yang lebih muda darinya.
              “Begini lho Mbak, aku punya tetangga yang sampai umur 40 tahun belum menikah. Padahal orangnya baik banget, guru ngaji lagi. Wajahnya juga tidak jelek. Tapi dia sabar banget lho Mbak, triman........”
              “Ternyata jodohnya datang di usia itu. Sekarang dia sudah menikah dengan seorang pedagang sembako sukses. Sudah duda memang, punya anak dua, putri semua. Anak-anaknya juga sayang sama tetanggaku itu,” cerita Linda antusias. Sedang Fara mendengarkan sambil mempermainkan makanan di piringnya.
              “Menurutku yang paling penting, sabar dan berdo’a, Mbak. Aku juga pasti bisa!” kata Linda tiba-tiba penuh semangat, mengagetkan Fara yang setengah melamun.
              “Kau juga mau menikah?” tanya Fara kaget.
              Seperti tak mendengar pertanyaan Fara, Linda berkata, “Berapa lama lagi ya, tabunganku cukup untuk kuliah?” Mata Linda menerawang penuh harapan.
              Ah....... ternyata itu yang dipikirkan Linda, yang sama sekali tidak nyambung dengan tema pembicaraan mereka. 
              Tapi melihat semangat Linda, Fara jadi bersemangat pula. “Jodohku, aku akan sabar menantimu,” bisik hatinya.
Ilustrasi: Pernikahan impian Fara
Sumber: www.selamber.org

Thursday, 12 December 2013

GALAU


Dalam sebuah kehampaan
Ada rindu terselip didalamnya
Pada ilmu, pada belajar, pada kyai

Ketika melangkah dalam kelalaian
Teringat pelajaran-pelajaran itu
Tentang tawadlu’, tentang qona’ah
Tentang jujur, juga berani

Ada sakit menghentak
Kala terang benderang
Melakukan kedurhakaan
Pada Tuhan yang menciptakan
Seakan takkan ada balasan

Lemahnya aku
Dzolimnya aku
Saat maksiat di depan mata
Hanya bisa diam
Tanpa mampu berbuat apa-apa

Ya Robbi.........
Jika mengingkari maksiat dalam hati
Adalah selemah-lemahnya iman
Maka apa namanya jika tak merasakan apa-apa
Kala ada maksiat di depan mata?
Apakah iman itu sudah tercerabut dari diri?

Robbighfirli dzunubi................... Ya Allah.
Kangen ngaji seperti ini
Sumber: www.antarafoto.com

Sunday, 8 December 2013

YANG MASIH DALAM INGATAN

Bertahun lalu dimasa kecilku,
Aku ingat ketika kau membangunkanku di waktu subuh
Dengan tangan dingin sisa air wudlu, menyentuh wajahku
Bolak-balik ke kamar, entah 5 atau 10 kali
Tapi aku bandel, tak juga bangun untuk sholat subuh.
Bahkan tangan dingin itu masih kuingat rasanya
Hingga saat ini, tiap subuh hari.

Kuingat juga saat kelas 3 SD
Kau mendaftarkan aku di sebuah madrasah diniyyah
Membuatku harus belajar agama setiap hari tiap selesai sekolah
Karena bagimu agama adalah yang terpenting.
Meski pada saat yang sama,
Orang tua teman-temanku mendaftarkan anaknya untuk les
Supaya nilai mereka bertambah bagus.
Tapi katamu, “tak apa tak dapat rangking 1, yang penting kamu selalu belajar.”
Belajar bagimu, tak melulu soal nilai dan ranking,
Tapi pengetahuan dan kedewasaan.

Aku juga ingat saat lulus SD,
Kau memintaku sekolah di MTs,
Akupun setuju.
Meski ada teman mencandaimu,
“Masak PNS, anaknya sekolah di madrasah.”
Mereka tidak tahu, kau melakukannya karena kau seorang ibu yang visioner.
Kau ibu yang melihat jauh ke depan.
Karena sukses itu bukan hanya untuk dunia, tapi juga untuk akhirat.
Pun ketika aku lulus MTs.
Kau berkata, “kau sudah dewasa Nana, silahkan memilih sekolah yang kau inginkan”.
Aku memilih untuk nyantri dan sekolah di Aliyah Raudlatul Ulum
Kau mendukungku.
Mendukung lahir batinku, memberi biaya dan support untukku.

Juga tentang peristiwa itu, sesuatu yang membuatku sungguh bersyukur mempunyai ibu sepertimu.
Ketika aku memutuskan terlibat di partai tertentu di masa kuliahku.
Sebuah partai yang banyak ditentang di lingkungan tradisionalmu.
Ketika orang tua lain di sana mengatakan “jangan” pada anak-anaknya.
Tapi yang kau lakukan adalah menanyaiku,
“Apa yang ada disana, apa yang ada di dalamnya, hingga kau ingin berjuang bersama mereka?”
Kau bukan orang tua yang otoriter, kau menerima alasanku.
Dan ridhomu sungguh melebihi segalanya bagiku.

Juga yang terakhir ibu,
Aku ingat di masa sakitmu
Kau masih membimbingku, dengan ketidakjelasan kalimatmu
Memberiku semangat meneruskan perjuanganmu.
Dan aku mulai menyadari,
Kalau kau tiada saat itu,
Yang kau tinggalkan untuk kami adalah amanah dakwah itu.....

Ibu, bila Rasul Mulia berkata,
“Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya.”
Maka bagiku, kau telah sempurna melakukannya.

(Ditulis di FB hampir setahun lalu, 22 Desember 2012, pada hari ibu di 2 tahun kepergian ibu)

DIMANAKAH LANGKAH KITA BERAKHIR?


Membaca Hadis Arba'in An-Nawawiyah sampai hadis ke-4. Ada penggalan hadis yang artinya berbunyi, "Demi Allah yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain-Nya, sesungguhnya ada seseorang di antara kalian yang senantiasa beramal dengan amalan penghuni surga, hingga jarak antara keduanya tinggal sehasta, namun ketetapan (Allah) mendahuluinya, lalu ia melakukan amalan penghuni neraka hingga ia masuk ke dalamnya. Dan sesungguhnya ada seseorang diantara kalian yang senantiasa beramal dengan amalan penghuni neraka, hingga jarak antara keduanya tinggal sehasta, namun ketetapan (Allah) mendahuluinya, lalu ia melakukan amalan penghuni surga, hingga ia pun masuk ke dalamnya." (HR. Bukhori Muslim).

Aku menjadi teringat seseorang. Sebut saja namanya Pak SP. Dulunya ia bukanlah orang yang baik, setidaknya begitulah orang2 menganggapnya. Ia terbiasa mabuk dan judi, bahkan memfasilitasi teman2nya untuk mabuk dan judi. Ia juga bukan orang yang rajin sholat, meski bukannya tak pernah sama sekali. Intinya, ia bukanlah orang baik dalam kacamata orang.

Tapi Dia-lah yang berhak memberi hidayah. Hidayah Allah menyentuh Pak SP ini. Lalu ada perubahan besar pada Ramadhan, sekitar 3 atau 4 tahun yang lalu. Ia menjadi penghuni tetap musholla, dalam arti paling rajin jama'ah, bahkan minta diajari adzan dan membaca sholawat untuk pujian sesudah adzan. Pada saat pembangunan musholla, ia mungkin paling banyak menyumbang tenaga dan materi. Kalau ditanya, ia akan menjawab, "aku perlu bekal untuk menghadap-Nya." Yang pasti ia benar2 berubah 180°. Tak ada lagi maksiat dalam hari2nya. Selain rajin jama'ah, ia juga rajin mengaji dan mendatangi kyai.

Tentu saja selalu ada aral dalam perubahan besar. Sering ada yang tak mempercayainya. "Ah, pasti ia hanya sebentar seperti itu, nanti juga balik lagi," begitu pikiran sebagian orang di awal perubahannya. Ketika ia mengajak orang lain menuju kebaikan, pasti ada saja yang berkata, "alah, kamu rajin sholat kan baru kemarin," begitu perasaan orang yang tidak suka. Yah, sudah menjadi tabiat manusia merasa lebih baik daripada orang lain. Apalagi orang2 yang merasa sudah menjadi orang baik, seringkali mencemoohnya. Tapi sampai saat ini ia tak mempedulikan cemoohan dan ketidaksukaan orang2 padanya. Ia tetap menabung kebaikan untuk akhiratnya.

Dalam Al-Wafi, syarah kitab Arba'in An-Nawawiyah, dalam kandungan hadis ke-4 ini disebutkan juga sabda Rasulullah SAW, "Sesungguhnya segala perbuatan ditentukan bagian akhirnya." (HR. Bukhori). Karenanya jangan sekali-kali tertipu dengan sikap dan perilaku manusia yang bersifat lahiriyah. Jangan pula kita putus asa dengan sikap dan perilaku seseorang. Karena yang paling menentukan adalah akhir hayatnya.

Ibnu Hajar Al-Haitami berkata, "Sesungguhnya akhiran yang buruk diakibatkan oleh bibit keburukan yang terpendam dalam jiwa manusia, yang tidak diketahui orang lain. Kadang2, seseorang melakukan perbuatan2 ahli neraka, namun di dalam jiwanya terpendam bibit kebaikan. Maka menjelang ajalnya bibit kebaikan tersebut tumbuh dan mengalahkan kejahatannya. Sehingga ia mati dengan husnul khotimah." Begitupun sebaliknya.

Oleh karena itu, marilah kita sama2 berdo'a semoga Allah memberikan kepada kita keteguhan hati dalam kebenaran dan kebaikan serta memberikan kepada kita husnul khotimah, akhir hayat yang baik. Aamiin.

MENIKAH


Menikah. Ha.... Aku rasa setiap gadis pasti berpikir tentang pernikahan. Pun diriku saat itu. Apalagi ketika usia sudah melewati angka 25. Aku sendiri termasuk orang yang berprinsip, tak mau pacaran sebelum menikah. Apakah itu mungkin? Jika kau berpikir hal seperti itu tidak mungkin, maka kaupun tak akan bisa melakukannya. Tetapi aku sangat meyakini janji-Nya, bahwa laki-laki baik itu untuk perempuan baik, dan begitupun sebaliknya. Jadi, yang pasti yang harus kita lakukan adalah selalu memperbaiki diri. Aku rasa beberapa hal yang perlu kita lakukan dalam meng-ikhtiari jodoh adalah:
  1. Banyak2 mencari ilmu. Karena kuncinya adalah laki2 baik untuk perempuan baik, maka banyak2lah belajar, agar terus bisa memperbaiki diri.
  2. Berteman dengan banyak orang. Karena mungkin saja, jodohmu datang dengan washilah (perantara) teman. Ini omongan serius lho......benar2 serius.
  3. Lakukan banyak aktifitas positif (beramal sholih). Mungkin saja Allah memberi balasan amal baikmu dengan mendatangkan jodoh untukmu. Tapi ingat!!! Saat berbuat baik, lakukan lillahi ta'ala ya...... bukan untuk mendapat jodoh.
  4. Yang pasti adalah, banyaklah berdo'a. Mohon pada-Nya impianmu. Jangan terlalu banyak mengeluh kepada manusia.
Itu adalah pendapatku, mungkin kalianpun punya pendapat lain. Atau mungkin ada tambahan tips :)
Sekarang, Alhamdulillah, pernikahanku sudah melewati angka 6 tahun. Dan kami (aku dan suamiku), telah pacaran sepanjang 6 tahun pula. Kami saling belajar bersama, saling melengkapi kekurangan, saling berbeda pendapat dan bermusyawarah, dan banyak hal lain yang kami lakukan bersama. Dua orang putri melengkapi proses belajar kami. Harus selalu belajar, karena menjaga amanah-Nya memang tak semudah membalik telapak tangan.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...