Tuesday, 24 December 2013

DIA YANG TELAH PERGI

Ilustrasi: Orang-orang mengantarkan jenazah ke kubur
            Beberapa hari ini hujan terus-menerus. Hujan rintik-rintik, lalu menderas, dan merintik lagi. Tetap tak mau berhenti. Hawa dingin menusuk hingga ke tulang. Bahkan didalam ruangan kantorpun aku tetap memakai jaket karena tak kuasa menahan dinginnya. Di tengah suasana itulah aku mendengar kabar kematiannya. Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un. Sesunguhnya kita ini milik Allah dan kepada-Nya kita kembali.
            Beberapa hari sebelumnya aku bertemu dengan adiknya yang bercerita kalau kakaknya sekarang di rumah sakit.
            “Infeksi kandungan, Mbak,” jawabnya ketika kutanyakan perihal sakit sang kakak.
            “Tetapi juga karena ia mengalami kekerasan oleh suaminya,” cerita adiknya lagi.
            “Untung ada tetangga disana yang baik hati, mau mengabarkan kemalangan kakakku. Ibu langsung menjemput kakak setelah mendengar cerita itu,” begitu kira-kira si adik bercerita padaku beberapa hari yang lalu.
            “Setelah itu ibu langsung membawa kakak ke rumah sakit. Kakak sudah tak bisa bangun saat itu. Sekarang, saya yang mengasuh anaknya,” si adik terus bercerita.
            Aku lebih banyak mendengar. Dalam hati aku berniat, kapan-kapan aku harus menjenguk sang kakak. Tapi tak juga sempat melaksanakan niat itu, kabar kematian  datang terlebih dahulu. Aku tak menyangka separah itu sakitnya. Dia masih sangat muda, usianya baru menginjak 20 tahun.
            Masya Allah! Aku langsung mengingat wajah itu. Wajah yang aku kenal saat masih kanak-kanak. Bersama teman-temannya yang ceria, setiap sore mengaji iqro’ di rumahku. Bahagia rasanya melihat senyum mereka saat keroyokan jajanan kecil setelah selesai mengaji. Pernah juga aku memarahi mereka karena ada laporan dari tetanggaku kalau mereka mengambil buah belimbing dari pohon tetanggaku itu. Aku juga ingat betapa cerianya mereka ketika berlatih rebana. Seperti itulah dia dan teman-temannya dahulu. Tak berbeda jauh dengan anak-anak pada umumnya. Begitu ceria, kadang sedikit nakal, kadang juga menangis. Tapi lebih banyak canda tawa.
Tapi  aku mulai kehilangan dia dan teman-temannya saat mereka beranjak remaja. Mengaji tak lagi menarik bagi remaja-remaja itu. Mereka lebih senang jalan, menghabiskan waktu bersama remaja-remaja yang lain di tempat-tempat nongkrong. Hingga suatu hari aku mendengar kabar pernikahannya di usianya yang masih belia. Entah dengan siapa aku juga tak pernah bertanya. Karena aku merasa itu bukan urusanku. Tapi, entahlah! Mungkin juga aku yang terlalu tak peduli pada orang lain, tak empati dengan orang-orang sekitarku.
Ketika aku takziyah ke rumahnya di sore hari, cerita-cerita yang mengalirpun masih sama. Tentang sakitnya, tentang suami yang melakukan KDRT, tentang anaknya yang belum lagi berusia satu tahun, tentang dia yang masih sangat muda untuk pergi. Beberapa orang geram dengan perbuatan suaminya. Bahkan kabarnya, saat di rumah sakitpun dia masih mendapat kekerasan dari suaminya meski bukan secara fisik, tapi secara psikis.
“Di rumah sakit, suaminya malah membicarakan tentang kekasihnya yang lain,” kata saudaranya.
Aku sendiri lebih banyak mendengarkan cerita-cerita itu. Tetapi meski dalam diam, tetap saja ada sesak dalam dadaku. Lalu ingatan-ingatan tentang masa kecilnya datang begitu saja di benakku. Silih berganti. Dia yang sedang mengeja huruf arab. Dia yang bermain rebana. Dia yang bercanda dengan teman-temannya. 
Bagaimana dia menjalani hidup setelah menikah? Hatiku masih juga bertanya. Pernikahannya di usia belia. Melahirkan anak di usia muda. KDRT oleh suaminya. Ah, hidup yang sungguh rumit untuk seorang semuda itu. 
Hanya do'aku, semoga dia yang telah dipanggil oleh-Nya hari ini, diampuni semua dosanya dan diterima semua amal baiknya. Keluarga yang ditinggalkan semoga diberikan ketabahan. Dan bagi kami semua yang mengenalnya, semoga kami bisa mengambil hikmah dari semua kejadian ini. Aamiin.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah memberikan komentar di blog saya. Mohon untuk memberi komentar dengan kata yang santun. Terima kasih. :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...