Tuesday, 30 December 2014

YUK... RANCANG RESOLUSI KITA*

Kita sudah ada di penghujung tahun 2014. Sebentar lagi kita akan memasuki tahun 2015. Sudahkah target di tahun 2014 ini tercapai? Kita evaluasi pencapaian kita di tahun 2014. Dan mari buat resolusi untuk tahun 2015.

Beberapa Langkah Merancang Resolusi:
1. Tetapkan yang ingin dicapai atau ingin ditinggalkan.
Buat resolusi tentang apa yang betul-betul kita butuh untuk mencapainya atau yang ingin kita lepas dari diri kita. Jangan lupa menetapkan rencana jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjangnya.

2. Jangan ikut-ikutan.
Jangan ikut-ikutan resolusi orang lain, meski sepintas terkesan keren. 

3. Bernilai.
Pastikan ada nilai penting dalam resolusi yang kita canangkan.

4. Sedikit dan mampu dicapai.
Jangan terlalu banyak merancang resolusi. Satu saja mungkin lebih baik jika memang betul-betul terealisasi. Dalam istilah The Law of Diminishing Return disebutkan bahwa jika kita fokus pada 2-3 target, maka kemungkinan yang tercapai adalah 2-3. Bila targetnya 4-10, kemungkinan hanya tercapai 1-2 target. Jika target kita diatas 10, kemungkinan yang tercapai justru 0.

5. Tetapkan standar dan batasan waktu.
Tetapkan standar atau ukuran yang ingin diraih, juga batasan waktu untuk mencapainya.

6. Evaluasi berkala.
Evaluasi berkala ini penting, agar kita tidak melenceng jauh dari target yang buat sendiri.

7. Banyak berdo'a.
Banyak-banyaklah berdo'a dan beristighfar agar Allah menurunkan pertolongan-Nya.

Lalu apa saja yang menjadi penyebab resolusi kita gagal? Yuk, temukan jawabannya.
Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa 88% dari semua resolusi tahun baru berakhir dengan kegagalan. Mengapa demikian? Adithryarini Susilo, S.Psi dan Reza Syarief, MA, MBA menuturkan, ada beberapa faktor penyebab, antara lain:
a. Kurangnya tekad.
b. Terlalu sering mengubah resolusi karena mengikuti suasana hati, akhirnya tidak memiliki tujuan akhir yang tetap.
c. Tidak adanya variabel kontrol, pengingat atau pengendali, baik internal maupunn eksternal.
d. Tidak disiplin, terlalu santai dan tidak punya hasrat.
e. Tidak ada suasana kompetisi dalam kebaikan.
f. Faktor yang tidak terdefinisikan. Usaha sekeras apapun bisa saja tidak tercapai karena takdir Allah. Jika sudah berikhtiar, kita harus tawakkal dalam keadaan ini.

Nah, setiap resolusi berpulang kepada diri masing-masing. Kitalah orang yang kuat memacu tekad untuk mengejar target atau termasuk yang paling mudah memberi pemakluman diri?

*Tulisan ini diambil dari Majalah Ummi Edisi No. 12/XXVI/Desember 2014.

Friday, 26 December 2014

SECANGKIR TEH HANGAT

 Gb. teh hangat dari sini

Keluarga kami sangat menyukai teh. Setiap pagi, teh hangat menjadi teman sarapan kami. Begitupun malam hari. Makan malam kami hampir selalu ditemani teh hangat.

Sebenarnya bukan sejak dulu keluarga kami menjadi penggemar teh. Kami menjadi penyuka teh sejak salah satu keluarga kami, yaitu bulek menikah dengan orang Tegal.

Setiap lebaran, rumah kami menjadi tujuan kedatangan keluarga besar. Nah, bulek kami ini setiap lebaran membawa teh dari Tegal dengan merk tertentu, termasuk membawa pocinya. Suami bulek memang terbiasa minum teh, dan harus merk tersebut. Tentu saja saat membuatkan suaminya teh, ia juga membuatkan seluruh keluarga secangkir teh hangat pula. Dari sinilah kegemaran minum teh bermula. Karena semua keluarga kami suka, jadilah bulek rutin mengirimi kami teh dengan merk yang selalu diminum bulek. Bulek pun rutin menelpon kami, bertanya apakah tehnya masih ada atau sudah habis.

Dulu, bagi kami rasa teh itu sama saja. Tetapi sekarang, kami bisa merasakan perbedaan rasa setiap teh. Dan favorit kami tetap teh kiriman bulek.

Akupun menularkan kegemaran minum teh ini pada suamiku. Pada masa awal pernikahan kami, ia sama sekali tidak menyukai teh. Tapi karena setiap hari kami membuat teh, dan bersama-sama menikmatinya, jadilah ia penggemar teh juga. Sekarang, saat kami sudah tidak berkumpul lagi dengan bapak ibuku, ia malah yang bertanya kalau sarapan atau makan malam tanpa teh hangat.

Secangkir teh hangat memang telah memberi warna pada kebersamaan keluarga kami. Aku mengingat saat-saat bulek kami datang di malam hari dari Tegal dan langsung membuat teh hangat untuk kami. Lalu kami ngobrol banyak hal sampai lebih dari tengah malam. Aku mengingat ibu yang membuatkan teh hangat untuk bapak dan kami setiap pagi. Aku mengingat silaturahim yang senantiasa terjalin dalam kiriman-kiriman teh bulek untuk kami. Ada banyak cerita dari secangkir teh hangat kami. Cerita yang menghangatkan hati kami. Cerita itu tentang kebersamaan, silaturahim, perhatian, senda gurau, dan banyak hal lagi.

Bulek, kami masih selalu menanti kiriman teh darimu... :)

Thursday, 5 June 2014

KECAMATAN DUKUHSETI DALAM IMPIAN


Kecamatan Dukuhseti adalah 1 (satu) dari 21 (dua puluh satu) kecamatan yang ada di Kabupaten Pati. Kecamatan dengan luas wilayah 8.159 Ha ini berbatasan dengan Kabupaten Jepara di sebelah utara, sebelah timur berbatasan dengan Laut Jawa, di sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Tayu, dan di sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Cluwak.
Di Kecamatan Dukuhseti terdapat 12 (dua belas) desa, yaitu: Desa Wedusan, Puncel, Tegalombo, Kembang, Dukuhseti, Banyutowo, Alasdowo, Ngagel, Grogolan, Dumpil, Kenanti dan Bakalan, yang semuanya diklasifikasikan sebagai desa swasembada.
Dan saya beruntung karena di tugas pertama saya sebagai bagian dari Pemberdayaan Masyarakat Desa, saya mendapatkan kecamatan dengan jumlah desa yang tidak banyak. Dan kebetulan jarak antar desanya juga tidak berjauhan, jadi cukup memudahkan saat berkunjung ke desa-desa tersebut. 

HAL-HAL MENARIK DI KECAMATAN DUKUHSETI
Selama satu tahun saya bertugas di Kecamatan Dukuhseti, ada beberapa hal menarik yang saya temukan. Mungkin hal menarik ini bisa dikatakan sebagai potensi Kecamatan Dukuhseti. Dan bisa jadi hal menarik ini, bisa dikembangkan di kemudian hari. Apakah hal-hal menarik dalam pengamatan saya itu? Check it out.......
1.     Tempat Pelelangan Ikan (TPI)
Ada 3 (tiga) TPI di Kecamatan Dukuhseti, yaitu TPI Banyutowo, TPI Puncel dan TPI Alasdowo. Tetapi TPI Banyutowo merupakan TPI dengan produksi ikan segar terbesar tiap tahunnya di Kecamatan Dukuhseti. Pada tahun 2012, produksi ikan laut segar di TPI Banyutowo mencapai 662.951 kg atau Rp.3.984.701.000,- (Tiga milyar sembilan ratus delapan puluh empat juta tujuh ratus satu ribu rupiah). Masih jauh sebenarnya jika dibandingkan dengan produksi ikan segar di TPI Bajomulyo II Juwana (34.284.379 kg atau Rp. 189.264.745.000) dan TPI Bajomulyo I Juwana (12.442.020 kg atau Rp. 31.721.333.000). Tetapi, untuk skala Kabupaten Pati masih menempati urutan ketiga.
Menariknya dari TPI Banyutowo ini adalah, selain menjadi tempat pelelangan ikan, di TPI ini juga ramai dikunjungi orang-orang di sekitar Desa Banyutowo yang ingin berwisata murah. Lumayan untuk refreshing, sekedar melepas lelah sambil memandangi laut lepas.
Dan saya membayangkan, suatu saat di area TPI Banyutowo ini dibangun sebuah arena bermain. Yah, semacam Wisata Bahari Lamongan (WBL). Belajar dari WBL yang dulunya hanya berupa kawasan wisata Pantai Tanjung Kodok, yang ramainya hanya pada musim liburan sekolah dan libur akhir pekan. Sekarang, hampir tiap hari tempat ini ramai pengunjung. Dan ini berarti secara ekonomi juga memberi peluang kepada penduduk di sekitarnya.
2.     Kelapa Kopyor
Tingkat produksi kelapa kopyor di Kecamatan Dukuhseti berdasarkan data Pati Dalam Angka Tahun 2013 adalah tertinggi di Kabupaten Pati, yaitu 287.318 butir/tahun. Sebagai perbandingan, tertinggi kedua adalah Kecamatan Margoyoso dengan tingkat produksi 225.680 butir/tahun. Dan tempat ketiga adalah Kecamatan Tayu 201.497 butir/tahun.
Bapak Teguh Suwito, SH, MM, Camat Dukuhseti saat ini, pernah melontarkan gagasan untuk pengembangan kelapa kopyor ini. Gagasan ini dilontarkan waktu ada kunjungan dari Litbang Provinsi Jawa Tengah ke Dukuhseti, kaitannya dengan pengembangan kelapa kopyor. Gagasan ini disampaikan karena ternyata cukup banyak daerah lain yang tertarik untuk budidaya kelapa kopyor.
Waktu itu Pak Camat menyampaikan harapannya, sebaiknya ada sebidang tanah milik pemerintah di Kecamatan Dukuhseti yang digunakan khusus untuk pengelolaan kelapa kopyor ini. Di sana ada sebuah tempat sebagai balai penelitian kopyor, ada sebidang tanah untuk bibit kopyor, ada sebidang tanah lain untuk kopyor yang sudah tumbuh besar dan siap panen, pokoknya yang serba kopyor. Jadi, suatu saat jika ada penelitian atau studi banding dari daerah lain, dari pihak Kabupaten bisa langsung membawa ke lokasi tersebut. Dan saya menambahkan dalam hati, “dan bisa menjadi tempat wisata juga nantinya.” Haha.......
Saya pernah mendengar juga bahwa kondisi tanah juga mempengaruhi rasa kelapa kopyor yang ditanam. Katanya, kelapa kopyor di wilayah Kecamatan Dukuhseti yang paling enak. Hehe...... Masih perlu penelitian sebenarnya. Dulu pernah juga ada yang membawa bibit kopyor untuk ditanam di daerah lain. Ternyata rasanya tidak segurih yang ada di Dukuhseti, daging kelapanya juga tidak setebal yang ada di Dukuhseti. Apa ya kira-kira yang mempengaruhi? Itulah sebabnya balai penelitian penting juga untuk mengetahui sebabnya. Maunya............
Dari 12 desa di Kecamatan Dukuhseti, penghasil kelapa kopyor terbanyak adalah Desa Dukuhseti, Desa Alasdowo dan Desa Ngagel.
3.     Penjual Kain Kiloan
Namanya Desa Ngagel. Di desa inilah terdapat beberapa penjual kain kiloan. Toko-toko itu berlokasi dekat dengan pasar Ngagel. Pengunjungnya tiap hari sangat banyak, bahkan dari luar Dukuhseti. Mereka memang sengaja hunting kain bagus dan murah. Selain mencari untuk kepentingan pribadi, beberapa juga mencari kain untuk dijual lagi. Beberapa kain di padupadankan, lalu dijual. Para penjahit juga tidak ketinggalan mencarikan kain untuk pelanggannya disini. 
Pernah saya mencari kain juga, dan timbul niat iseng saya untuk menghitung banyaknya orang yang berkunjung untuk mencari kain kiloan ini dalam salah satu toko terlaris. Ternyata cukup banyak, dalam setengah jam kunjungan saya, bersama saya ada sekitar 15-an orang lain yang mencari kain. Kalau menjelang lebaran, jumlah pengunjung bisa berkali-kali lipat.

TUNAS-TUNAS YANG TUMBUH
Tunas apa ya yang tumbuh? Begini ceritanya..........
Ada sebuah program pemberdayaan masyarakat desa dari pemerintah, yaitu Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MPd). Disanalah tunas-tunas baru itu tumbuh.
Salah satu kegiatan PNPM-MPd adalah pelatihan keterampilan yang harapannya bisa memberikan nilai ekonomi bagi pesertanya. Di tahun 2013 lalu, ada beberapa pelatihan yang dilaksanakan. Pertama yaitu pelatihan pembuatan batik, dilaksanakan di Desa Wedusan, Tegalombo, Dukuhseti dan Bakalan. Kedua, pelatihan membuat tas. Pelatihan ini dilaksanakan di Desa Alasdowo, Ngagel, Grogolan dan Dumpil. Sedangkan Desa Banyutowo dan Desa Kenanti yang berlimpah ikannya, memilih pelatihan pengolahan ikan. Masyarakat Desa Kembang memilih pelatihan membuat songkok. Selain membatik, masyarakat desa Wedusan juga melaksanakan pelatihan pembuatan tepung mocaf. Sangat pas karena di Desa Wedusan banyak terdapat ladang ketela/singkong. Ada lagi Desa Bakalan yang juga melaksanakan pelatihan bordir, selain membatik. 
Peserta pelatihan itu di masing-masing desa adalah 20 (dua puluh) orang dengan masa pelatihan 15 (lima belas) hari. Dari pelatihan tersebut, tentu saya berharap dapat memberikan manfaat untuk pesertanya, dan nantinya memberikan tambahan penghasilan untuk mereka. Dan tiba-tiba terlintas sesuatu di pikiran saya. Ting............

MIMPI UNTUK MASA DEPAN
Judul macam apa itu? He....... Ini tentang mimpi saya. Di masa depan Dukuhseti menjadi salah satu kecamatan yang menjadi tujuan wisata. Ada paket wisata untuk mengunjungi TPI Banyutowo, Wisata Kelapa Kopyor dan Wisata Belanja. Tiga tempat itu menjadi satu paket dengan kereta wisata menjadi kendaraan penghubung antar tempatnya.
TPI Banyutowo yang sudah disulap menjadi Wisata Bahari Banyutowo atau WBB (ngarang.com) adalah tujuan pertama. Lalu menuju Balai Penelitian Kelapa Kopyor. Bisa belajar tentang perkopyoran sambil menikmati es kelapa kopyor yang lezat. Terakhir........ mari kita berbelanja........ Di Wisata Belanja, Anda bisa mencari kain kiloan yang murah meriah, kerajinan batok kelapa, batik khas Dukuhseti dan tas hasil pelatihan juga sudah berkembang saat itu. Wisata kulinernya? Berbagai olahan ikan sudah siap disantap. Sayur mrico sembilang, sayur kunci dilengkapi ikan pe, blanak, janjan, dan lain-lain.
Kalau ingin yang bisa dibawa pulang? Ada otak-otak bandeng, nugget bandeng, bakso bandeng, bandeng crispy, pokoknya serba bandeng. Olahan ikan lain juga banyak yang bisa dibawa pulang. Hm.......
Karena ini mimpi, boleh-boleh saja kan pikiran saya mengelana kemana-mana?

PENUTUP
Tulisan diatas adalah pemikiran liar saya. Sejujurnya, saya sendiri tidak tahu apakah impian semacam itu bisa diwujudkan. Dalam musrenbang kecamatan awal tahun ini, yang dibicarakan masyarakat masih tataran pembangunan jalan dan fisik lain yang bersifat lokal, artinya mereka berbicara tentang lokasi yang mereka tinggali. Jadi, mimpi saya untuk menjadi nyata memang masih harus menunggu waktu. Atau saya bangun saja? Tidak usah bermimpi lagi. Haha.....

Bahan bacaan:
1.    Kecamatan Dukuhseti dalam angka Tahun 2013
2.    Pati Dalam Angka Tahun 2013.

Wednesday, 7 May 2014

ANAKKU, BAGAIMANA AKU MENDIDIKMU?

Anak adalah amanah dari Allah. Karena itu, tentu kita akan selalu berusaha menjaga amanah itu, termasuk dalam hal pendidikan mereka. Aku bukan pakar pendidikan ataupun parenting, yang tahu banyak tentang teori-teori pendidikan anak. Aku juga bukan ahli agama yang tahu bagaimana cara mendidik anak yang baik dalam bingkai agama. Meski begitu, sebagai orang tua, aku dan suamiku tentu ingin memberikan pendidikan terbaik untuk anak. Tetapi, sebenarnya bagaimanakah pendidikan terbaik itu?

Beberapa waktu ini, berseliweran berita-berita yang membuat aku miris. Berita-berita itu membuatku berfikir, aku sebagai orang tua, apakah yang sudah aku lakukan untuk melindungi anak-anakku? Dunia yang akhir-akhir ini penuh dengan kekerasan, aku tentu berharap mereka tidak pernah menjadi pelaku ataupun korban dari tindak kekerasan itu.

Masih ingatkah dengan pembunuhan yang dilakukan sepasang kekasih Hafidz dan Asyifa? Pembunuhan yang diawaIi dari kisah cinta. Seperti itukah potret remaja kita saat ini? Membanyangkan apa yang ada dalam pikiran mereka ketika merencanakan pembunuhan, aku sungguh tak bisa. Apakah mereka tidak berfikir dampak dari perbuatannya bagi masa depan mereka?

Dan terkini, sunguh mengejutkan kasus kematian seorang anak SD bernama Renggo. Diawali dari ketidaksengajaan menyenggol kakak kelasnya, hingga menyebabkan makanan yang dipegang kakak kelas jatuh. Lalu Renggo dianiaya, hingga menjadi sebab kematiannya. Teman-temannya tak ada yang berani lapor pada guru karena diancam si kakak kelas. Anak SD gitu loh....... Sebegitu dekatkah anak-anak dengan kekerasan? Apa yang menyebabkan anak-anak itu tega melakukan kekerasan itu?

Lalu kasus sodomi di Jakarta International School (JIS) yang menyita perhatian akhir-akhir ini. Sebuah kejahatan yang seperti terstruktur? Kekerasan seksual yang dilakukan secara berkelompok. Meminjam istilah Cak Lontong di ILK, “Aku terhenyak!” Benar-benar ingin tidak percaya, tetapi itulah kenyataannya. Dilanjutkan dengan kasus sodomi oleh Emon, pemuda 24 tahun di Sukabumi. Ada sedikit kesamaan dari kasus sodomi JIS dan Emon, yaitu salah satu pelaku sodomi di JIS dan Emon di masa lalu adalah korban sodomi. Bagaimana kemudian mereka menjelma menjadi pelaku sodomi? Apa yang dialami mereka setelah menjadi korban sodomi?

Mencermati kejadian-kejadian itu, sebuah pertanyaan hadir begitu saja dalam pikiranku, “Dunia macam apa yang akan dihadapi anak-anakku di masa depan?” Pertanyaaanku selanjutnya adalah, “Apa yang harus aku persiapkan untuk masa depan mereka nanti, yang mungkin saja lebih keras dari keadaan saat ini?” Pertanyaan itu, membuatku mengingat beberapa kejadian di sekitarku.

Sebuah percakapan yang dilakukan oleh beberapa orang temanku. Mereka menggosipkan anak temanku yang lain, yang sekolah di sekolah biasa, bukan sekolah favorit. “Masak bapaknya sepintar itu, anaknya tidak mampu sekolah di sekolah favorit?”, begitu kurang lebih percakapan mereka. Kebetulan obyek pembicaraan mereka memang dikenal sebagai orang yang pintar, tetapi prestasi anaknya di sekolah biasa-biasa saja.

Sedangkan pada kasus yang lain, seorang teman justru berusaha agar anaknya bisa masuk ke sekolah favorit. Pada waktu itu, si anak lulus SD dengan nilai pas-pasan. Tetapi orangtuanya sangat berambisi agar anaknya bisa masuk SMP favorit. Sampai-sampai berbagai macam cara ditempuh. Akhirnya si anak memang bisa masuk di SMP favorit tujuan orangtuanya. Tetapi, aku jadi bertanya-tanya, apakah cara mencari sekolah terbaik seperti itu akan memberikan pendidikan terbaik juga untuk anak? Sekolah terbaik apakah sama dengan pendidikan terbaik? Haha..... satu pertanyaan di depan belum terjawab, dan muncul pertanyaan baru. 

Disisi lain, aku juga mengenal banyak orang di sekitarku yang istiqomah dari jaman orang tua mereka dahulu. Jika beberapa orang menyekolahkan anaknya dengan pertimbangan pekerjaan yang akan didapat anak mereka di masa depan, orang-orang ini memilih pendidikan agama  sebagai prioritas. Mereka banyak memasukkan anak mereka ke pesantren ataupun menghafal Al-Qur’an. Karena bagi mereka agamalah yang akan membuat anak-anak mereka sukses, bukan hanya di dunia tetapi juga di akhirat. Sedangkan rejeki, mereka percaya sepenuhnya bahwa Allah akan memberi rejeki pada setiap makhluk-Nya seperti burung yang pergi pagi untuk mencari makan, pulang petang dalam keadaan kenyang. Dan aku melihat orang-orang ini memang tak pernah mempermasalahkan ‘nilai’ dari rejeki yang mereka peroleh. Bagi mereka yang penting adalah barokah dari rejeki yang mereka dapat.
Jadi, apakah pendidikan terbaik untuk anak itu? Entahlah. Ha...... tulisan ini memang sama sekali tidak akan memberi solusi apapun. Tapi mungkin kita bisa berfikir bersama, apa tujuan kita dengan pendidikan anak-anak kita? Kesuksesan? Menjadi dokter, atau pekerjaan keren lain. Nantinya memiliki rumah mewah, mempunyai banyak mobil mahal, hidup yang serba berkecukupan. Mungkin itu bisa menjadi sebagian tujuan. Tetapi bagaimana dengan tujuan jangka panjang? Kadangkala aku memikirkannya juga. Bagaimana nanti aku menghadap Tuhan, sedang aku tak cukup membekali anak-anakku dengan iman? Bagaimana masa depan akhirat mereka nanti?

Bagaimanapun, aku yakin, keluarga memegang peranan penting dalam kesuksesan anak. Sekolah mungkin banyak mengajarkan teori, tetapi pembiasaan hal-hal baik, aku yakin orang tua tetap yang utama. Eh, tapi aku harap suatu saat aku menemukan tulisan atau apapun bentuknya tentang kriteria sukses. Kenapa seseorang disebut sukses. Dan aku jadi ingin tahu, anak-anak yang sekolah di sekolah unggulan, berapa persen yang menjadi orang sukses berdasarkan kriteria tersebut. Dan anak-anak yang sekolah di sekolah bukan unggulan, berapa persen juga yang sukses? Apakah sekolah di sekolah unggulan berbanding lurus dengan kesuksesan hidup? Abaikan saja........ haha..... bukan pertanyaan serius.

Dan kembali pada diriku sendiri. Entah usaha kami sudah cukup atau belum dalam mendidik anak-anak, tapi sebagaimana do'a kami di setiap waktu, Robbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah. Waqina 'adzabannar. Semoga kami bisa mendidik anak-anak kami, hingga sukses dunia dan akhirat. 

Monday, 27 January 2014

HARI-HARI BASAH DI AWAL 2014 DAN KENANGAN BANJIR 2006

Tulisan ini sebenarnya aku buat sebelum banjir di Kabupaten Pati terjadi. Melihat hujan yang terus menerus, aku ingin bercerita tentang pengalaman banjir di Kecamatan Tayu tahun 2006. Tetapi kemudian aku tak segera berkesempatan menyelesaikannya, jadilah cerita ini meloncat-loncat. Cerita tentang banjir di tempatku tahun 2006, lalu bercerita secara umum tentang banjir yang terjadi di Kabupaten Pati di tahun ini, di sekitar 112 desa di Kabupaten Pati. Ini ceritaku...........

Memasuki Tahun 2014, di tempat tinggalku di daerah Kecamatan Tayu Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah begitu sering turun hujan. Sudah sejak Desember sebenarnya hujan sering hadir ditengah aktifitas kami. Tetapi seperti kata orang tua dulu, kalau Januari maknanya adalah 'hujan sehari-hari', Januari kali ini hujan benar-benar datang setiap hari. Bahkan sudah hampir dua minggu ini, hujan seperti tak berjeda. Kadang diselingi guntur yang menggelegar menakutkan pula. Karena itulah orang-orang di sekitar tempat tinggalku pun was-was. Jangan-jangan banjir akan datang.

Kami punya sejarah banjir bandang di tahun 2006 dan beberapa tahun sebelumnya, yang siklusnya sekitar sepuluh tahunan. Wajar saja kami merasa khawatir. Banjir di tahun 2006 memang menyisakan banyak kesedihan bagi kami. Selain korban harta benda, di tahun itu juga ada korban jiwa. Di tahun itulah pertama kalinya kami mengalami banjir bandang di siang hari, biasanya banjir selalu terjadi di malam hari. Karena di siang hari orang-orang banyak yang bekerja, menjadikan mereka tidak sempat menyelamatkan harta benda. Dan orang-orang yang bekerja di jalanan tak sempat menyelamatkan diri, hingga menjadi korban terjangan banjir.

Banjir waktu itu memang datang tiba-tiba, tak ada yang menyangka. Hujan tak sesering saat ini, juga tak terlalu deras. Tetapi kami melupakan sesuatu. Daerah Gunungwungkal yang ada di atas daerah kami ternyata hujan terus-menerus, sehingga air kiriman itu membuat Sungai Tayu luber dan tanggul jebol. Jadilah banjir waktu itu sampai setinggi 2 m melewati desa-desa yang ada di selatan dan utara Sungai Tayu. Desa-desa yang ada di selatan Sungai Tayu yaitu Desa Keboromo, Tunggulsari, Jepat Lor, Jepat Kidul, Pakis, Kedungsari, dan beberapa desa lain. Sedangkan desa-desa di utara Sungai Tayu yang kebanjiran adalah Desa Sambiroto, Tayu Wetan, Dororejo, sebagian Tayu Kulon, Kalikalong, Luwang, hingga ke Kecamatan Dukuhseti.

Bahkan aku sendiri waktu itu masih berada di kantor saat banjir terjadi. Ketika itu aku masih bekerja di daerah Trangkil. Aku sama sekali tak tahu ada banjir yang melanda desaku bakda dluhur itu. Hanya ketika aku pulang dari kantor jam empat sore, menemukan banjir yang tak lagi tinggi serta lumpur di sepanjang jalan dari Kedungsari sampai rumahku di Desa Sambiroto. Motor aku titipkan di rumah saudara di Jepat Lor karena sudah tak sanggup melewati banjir itu. Aku berjalan menyusuri jalanan dari rumah saudaraku menuju rumah dengan menjinjing sepatu. Dalam keadaan biasa, mungkin tak sanggup aku berjalan dari Jepat Lor sampai Sambiroto.

Sampai rumah, di tempat tinggalku ternyata air sudah surut. Tetapi lumpur yang menempel di lantai sangat pekat, butuh beberapa kali siraman air agar lantai menjadi bersih. Tetangga yang mengungsi di rumahku mulai pulang ke rumahnya masing-masing. Alhamdulillah tempat tinggalku memiliki dua lantai yang ternyata bermanfaat untuk evakuasi korban banjir. Ah, semoga rumah itu bisa selalu menjadi rumah yang penuh berkah. Dan aku hanya bisa mendengar cerita tentang dahsyatnya banjir bandang yang baru saja terjadi.

Dan musim hujan kali ini, beberapa tetangga menjadi sering menengok keadaan di Sungai Tayu. Tiap kali air sungai penuh, para tetangga itu memperingatkan kami agar bersiap-siap. Kamipun menaikkan barang-barang yang perlu segera dinaikkan agar ketika banjir benar-benar terjadi, kami tak terlalu repot lagi. Bukankah lebih baik kami berikhtiar dahulu, sambil berdo'a semoga hujan yang turun itu menjadi rahmat bagi kami, bukan menjadi musibah untuk kami.

Sampai hari ini, alhamdulillah kami masih dalam lindungan-Nya. Beberapa tempat di wilayah Kecamatan Tayu memang ada yang mengalami banjir, tetapi bukan banjir besar seperti tahun 2006.

Sedangkan saudara-saudara kami di Pati Selatan mengalami musibah banjir terparah dalam sejarah. Akses jalan dari Rembang tak bisa dilewati karena banjir yang setinggi 2 meter-an. Jalanan menjadi seperti lautan. Begitupun akses dari Purwodadi dan Kudus yang juga banjir. Hal ini membuat Pati menjadi terisolasi, karena sulit diakses dari manapun. Aku mendengar kabar kalau ada bantuan dikirim dengan helikopter melalui wilayah Sukolilo. Semoga bantuan itu bisa memenuhi kebutuhan korban banjir.
Foto-foto banjir bisa dilihat FBnya Om Wahyu Nurbani disini, disini, dan disini.

Efek lain dari banjir sekarang ini adalah sulitnya mendapatkan bensin. Beberapa orang bahkan sudah mengantri di SPBU meski bensin belum datang. Begitu ada tangki bensin datang, antrian langsung membludak. Beberapa sudah mengantri berjam-jam, tetapi saat gilirannya bensin telah habis. Di SPBU Tayu, pembelian bensin dibatasi paling banyak Rp. 10.000,-. Melihat antrian yang demikian panjang, wajar saja pihak SPBU membuat kebijakan seperti itu.
Silahkan melihat foto-foto suasana di SPBU melalui FB Bu Tyas Pangesti, disini, disini juga, atau disini.

Dan aku salut kepada saudara-saudaraku yang menjadi relawan untuk para korban banjir. Mereka sendiri juga kebanjiran, tetapi mereka tetap melayani saudara-saudaranya yang lain dengan berbagai macam bantuan. Dari membuatkan nasi bungkus, pengobatan gratis, dan bantuan lainnya.
Di FBnya teman saya, Bu Fiy Nur Islami bisa dilihat aksi para relawan, disini, disini, disini juga.

Semua kejadian pastilah ada hikmahnya. Mengutip dari sebuah tulisan, “Ambillah hikmah dari siapa saja, sebab hikmah itu kadang-kadang diucapkan oleh seseorang yang bukan ahli hikmah. Bukankah ada lemparan yang mengenai sasaran tanpa disengaja?” (HR. Al-Askari dari Anas RA). Juga kalimat lainnya, "Hikmah laksana hak milik seorang mukmin yang hilang. Di manapun ia menjumpainya, di sana ia berhak mengambilnya” (HR. Al-Askari dari Anas RA). Semoga masing-masing kita bisa mengambil hikmah dari seluruh kejadian ini. Mungkin setiap orang akan mendapatkan hikmah yang berbeda. Yang satu mendapat hikmah tentang indahnya berbagi, yang lainnya mendapatkan hikmah bahwa kita harus berbuat baik pada alam agar alampun baik pada kita. Sedang yang lainnya lagi mendapatkan hikmah yang lain pula.

Mungkin karena aku berada di birokrasi, aku sendiri mendapat hikmah, bahwa kejadian bencana seperti ini selalu membutuhkan pemimpin yang bisa merespon dengan cepat apa yang dibutuhkan masyarakat. Jadi, kalau sedang ada pemilihan pemimpin dalam setiap levelnya, cari tahulah kualitas calon pemimpin itu. Lalu pilihlah pemimpin dengan kualitas terbaik. Wallahu a'lam bishowab.

Sunday, 5 January 2014

BEGINILAH KAMI MENGAJI

mengaji dan bersholawat
Ibu-ibu bersholawat di acara rutin Muslimat-an di kampung kami
Untuk kami yang tinggal di desa, acara berjanjenan merupakan acara ngaji pekanan kami. Berjanjen adalah pembacaan kitab Al-Barzanji yang memuat riwayat Nabi Muhammad SAW dengan cara dilagukan. Kata dari bahasa arab Al-Barzanji inilah yang kemudian menjadi kata berjanjen dalam pengucapan oleh orang jawa. Di tempat kami, acara berjanjen ini satu paket dengan tahlil dan mauidho hasanah atau tausiyah. Acaranya selalu berurutan seperti itu: Tahlil, bacaan sholawat Nabi (berjanjen) dan tausiyah. 

1. Tahlil
Secara bahasa tahlil diartikan sebagai ucapan kalimat “laailaha illalloh”. Sedangkan secara istilah adalah tradisi do’a bersama untuk mendo’akan orang yang telah meninggal, dengan membaca Al Qur’an, kalimat thayyibah, istighfar, takbir, tahmid, tasbih, sholawat dan pahalanya diberikan kepada orang yang sudah meninggal. 
Dalam Al-Qur'an Surat Muhammad ayat 19 Allah berfirman:
“Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan”. (Muhammad:19)


2. Bacaan sholawat
Inti dari berjanjen ini sebenarnya adalah memperbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad SAW. 
Seperti Firman Allah dalam Surah Al-Ahzâb ayat 56, dimana ayat ini juga tercantum di kitab Al-Barzanji, yaitu: 


Artinya: "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya".

3. Mauidho Hasanah/Tausiyah.
Kami adalah orang desa yang awam. Nasihat untuk kami, tak perlu nasihat yang muluk-muluk. Yang kami butuhkan adalah nasihat yang bisa langsung kami praktekkan. Bagaimana cara sholat yang benar, bagaimana berdo'a agar anak-anak kami menjadi anak sholih, dzikir apa yang bisa menjadi andalan kami, atau hal-hal yang bersifat praktis seperti itu.
Aku rasa, para kyai dan bu nyai disini mengerti benar akan makna: ”Tidak kami utus seorang rasul kecuali ia harus menjelaskan dengan bahasa kaumnya” (QS.Ibrahim:4) dan “Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar akal (intelektualitas) mereka” (H.R. Muslim).

Pada saat bulan Rabi'ul Awwal seperti ini, kampung kami lebih semarak lagi dengan lantunan sholawat. Setiap hari dari tanggal 1 hingga 12 Rabi'ul Awwal atau bulan maulud kami menyebutnya, kami selalu mengadakan berjanjenan dengan silaturahim dari satu rumah ke rumah lain. Bahkan di kampung tetangga, mereka mengadakannya hingga akhir bulan maulud. Selain tahlil, sholawatan, serta mauidho hasanah, di kampung kami ada satu acara tambahan lagi tiap bulan maulud seperti ini, yaitu pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW dalam bahasa jawa. Bahasa yang lebih bisa dipahami oleh orang kampung seperti kami.

Satu saat, kami pernah kesulitan juga mengajak remaja-remaja kami untuk ikut ngaji.  Mungkin cara kami harus lebih inovatif ya? Membeli satu paket rebana menjadi pilihan pada waktu itu, yang terdiri dari: 2 buah jidor,  4 buah rebana dan 3 buah ketipung. Oh ya, ditambah 1 buah kecrekan dan kecicer. Tentu saja kami membeli dengan uang kas jam'iyyah yang sudah kami kumpulkan sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun. Alhamdulillah, para remaja lebih bersemangat bersholawat sambil memainkan rebana.


mengaji dan bersholawat
Seperangkat rebana yang menjadi teman sholawatan jam'iyyah kami
mengaji dan bersholawat
Remaja di kampung kami yang sedang memainkan rebana
Kenyataannya adalah, dari para orang tua kita dahulu sampai sekarang, harus selalu ada inovasi baru dalam mengajak orang mengaji (berdakwah). Kreativitas dalam mengajak orang lain kepada kebaikan, ilmu yang cukup, juga niat yang ikhlas karena Allah tentu sangat diperlukan dalam dakwah. Di tempat lain, pastilah mempunyai cara dakwah yang berbeda, sesuai dengan karakteristik orang-orang yang menjadi obyek dakwah. Bagi kami, inilah cara dakwah kami. Semoga Allah merahmati orang-orang sebelum kami, yang telah memulai dakwah dengan cara ini. 
Wallahu a'lam bishowab.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...