Monday, 27 January 2014

HARI-HARI BASAH DI AWAL 2014 DAN KENANGAN BANJIR 2006

Tulisan ini sebenarnya aku buat sebelum banjir di Kabupaten Pati terjadi. Melihat hujan yang terus menerus, aku ingin bercerita tentang pengalaman banjir di Kecamatan Tayu tahun 2006. Tetapi kemudian aku tak segera berkesempatan menyelesaikannya, jadilah cerita ini meloncat-loncat. Cerita tentang banjir di tempatku tahun 2006, lalu bercerita secara umum tentang banjir yang terjadi di Kabupaten Pati di tahun ini, di sekitar 112 desa di Kabupaten Pati. Ini ceritaku...........

Memasuki Tahun 2014, di tempat tinggalku di daerah Kecamatan Tayu Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah begitu sering turun hujan. Sudah sejak Desember sebenarnya hujan sering hadir ditengah aktifitas kami. Tetapi seperti kata orang tua dulu, kalau Januari maknanya adalah 'hujan sehari-hari', Januari kali ini hujan benar-benar datang setiap hari. Bahkan sudah hampir dua minggu ini, hujan seperti tak berjeda. Kadang diselingi guntur yang menggelegar menakutkan pula. Karena itulah orang-orang di sekitar tempat tinggalku pun was-was. Jangan-jangan banjir akan datang.

Kami punya sejarah banjir bandang di tahun 2006 dan beberapa tahun sebelumnya, yang siklusnya sekitar sepuluh tahunan. Wajar saja kami merasa khawatir. Banjir di tahun 2006 memang menyisakan banyak kesedihan bagi kami. Selain korban harta benda, di tahun itu juga ada korban jiwa. Di tahun itulah pertama kalinya kami mengalami banjir bandang di siang hari, biasanya banjir selalu terjadi di malam hari. Karena di siang hari orang-orang banyak yang bekerja, menjadikan mereka tidak sempat menyelamatkan harta benda. Dan orang-orang yang bekerja di jalanan tak sempat menyelamatkan diri, hingga menjadi korban terjangan banjir.

Banjir waktu itu memang datang tiba-tiba, tak ada yang menyangka. Hujan tak sesering saat ini, juga tak terlalu deras. Tetapi kami melupakan sesuatu. Daerah Gunungwungkal yang ada di atas daerah kami ternyata hujan terus-menerus, sehingga air kiriman itu membuat Sungai Tayu luber dan tanggul jebol. Jadilah banjir waktu itu sampai setinggi 2 m melewati desa-desa yang ada di selatan dan utara Sungai Tayu. Desa-desa yang ada di selatan Sungai Tayu yaitu Desa Keboromo, Tunggulsari, Jepat Lor, Jepat Kidul, Pakis, Kedungsari, dan beberapa desa lain. Sedangkan desa-desa di utara Sungai Tayu yang kebanjiran adalah Desa Sambiroto, Tayu Wetan, Dororejo, sebagian Tayu Kulon, Kalikalong, Luwang, hingga ke Kecamatan Dukuhseti.

Bahkan aku sendiri waktu itu masih berada di kantor saat banjir terjadi. Ketika itu aku masih bekerja di daerah Trangkil. Aku sama sekali tak tahu ada banjir yang melanda desaku bakda dluhur itu. Hanya ketika aku pulang dari kantor jam empat sore, menemukan banjir yang tak lagi tinggi serta lumpur di sepanjang jalan dari Kedungsari sampai rumahku di Desa Sambiroto. Motor aku titipkan di rumah saudara di Jepat Lor karena sudah tak sanggup melewati banjir itu. Aku berjalan menyusuri jalanan dari rumah saudaraku menuju rumah dengan menjinjing sepatu. Dalam keadaan biasa, mungkin tak sanggup aku berjalan dari Jepat Lor sampai Sambiroto.

Sampai rumah, di tempat tinggalku ternyata air sudah surut. Tetapi lumpur yang menempel di lantai sangat pekat, butuh beberapa kali siraman air agar lantai menjadi bersih. Tetangga yang mengungsi di rumahku mulai pulang ke rumahnya masing-masing. Alhamdulillah tempat tinggalku memiliki dua lantai yang ternyata bermanfaat untuk evakuasi korban banjir. Ah, semoga rumah itu bisa selalu menjadi rumah yang penuh berkah. Dan aku hanya bisa mendengar cerita tentang dahsyatnya banjir bandang yang baru saja terjadi.

Dan musim hujan kali ini, beberapa tetangga menjadi sering menengok keadaan di Sungai Tayu. Tiap kali air sungai penuh, para tetangga itu memperingatkan kami agar bersiap-siap. Kamipun menaikkan barang-barang yang perlu segera dinaikkan agar ketika banjir benar-benar terjadi, kami tak terlalu repot lagi. Bukankah lebih baik kami berikhtiar dahulu, sambil berdo'a semoga hujan yang turun itu menjadi rahmat bagi kami, bukan menjadi musibah untuk kami.

Sampai hari ini, alhamdulillah kami masih dalam lindungan-Nya. Beberapa tempat di wilayah Kecamatan Tayu memang ada yang mengalami banjir, tetapi bukan banjir besar seperti tahun 2006.

Sedangkan saudara-saudara kami di Pati Selatan mengalami musibah banjir terparah dalam sejarah. Akses jalan dari Rembang tak bisa dilewati karena banjir yang setinggi 2 meter-an. Jalanan menjadi seperti lautan. Begitupun akses dari Purwodadi dan Kudus yang juga banjir. Hal ini membuat Pati menjadi terisolasi, karena sulit diakses dari manapun. Aku mendengar kabar kalau ada bantuan dikirim dengan helikopter melalui wilayah Sukolilo. Semoga bantuan itu bisa memenuhi kebutuhan korban banjir.
Foto-foto banjir bisa dilihat FBnya Om Wahyu Nurbani disini, disini, dan disini.

Efek lain dari banjir sekarang ini adalah sulitnya mendapatkan bensin. Beberapa orang bahkan sudah mengantri di SPBU meski bensin belum datang. Begitu ada tangki bensin datang, antrian langsung membludak. Beberapa sudah mengantri berjam-jam, tetapi saat gilirannya bensin telah habis. Di SPBU Tayu, pembelian bensin dibatasi paling banyak Rp. 10.000,-. Melihat antrian yang demikian panjang, wajar saja pihak SPBU membuat kebijakan seperti itu.
Silahkan melihat foto-foto suasana di SPBU melalui FB Bu Tyas Pangesti, disini, disini juga, atau disini.

Dan aku salut kepada saudara-saudaraku yang menjadi relawan untuk para korban banjir. Mereka sendiri juga kebanjiran, tetapi mereka tetap melayani saudara-saudaranya yang lain dengan berbagai macam bantuan. Dari membuatkan nasi bungkus, pengobatan gratis, dan bantuan lainnya.
Di FBnya teman saya, Bu Fiy Nur Islami bisa dilihat aksi para relawan, disini, disini, disini juga.

Semua kejadian pastilah ada hikmahnya. Mengutip dari sebuah tulisan, “Ambillah hikmah dari siapa saja, sebab hikmah itu kadang-kadang diucapkan oleh seseorang yang bukan ahli hikmah. Bukankah ada lemparan yang mengenai sasaran tanpa disengaja?” (HR. Al-Askari dari Anas RA). Juga kalimat lainnya, "Hikmah laksana hak milik seorang mukmin yang hilang. Di manapun ia menjumpainya, di sana ia berhak mengambilnya” (HR. Al-Askari dari Anas RA). Semoga masing-masing kita bisa mengambil hikmah dari seluruh kejadian ini. Mungkin setiap orang akan mendapatkan hikmah yang berbeda. Yang satu mendapat hikmah tentang indahnya berbagi, yang lainnya mendapatkan hikmah bahwa kita harus berbuat baik pada alam agar alampun baik pada kita. Sedang yang lainnya lagi mendapatkan hikmah yang lain pula.

Mungkin karena aku berada di birokrasi, aku sendiri mendapat hikmah, bahwa kejadian bencana seperti ini selalu membutuhkan pemimpin yang bisa merespon dengan cepat apa yang dibutuhkan masyarakat. Jadi, kalau sedang ada pemilihan pemimpin dalam setiap levelnya, cari tahulah kualitas calon pemimpin itu. Lalu pilihlah pemimpin dengan kualitas terbaik. Wallahu a'lam bishowab.

Sunday, 5 January 2014

BEGINILAH KAMI MENGAJI

mengaji dan bersholawat
Ibu-ibu bersholawat di acara rutin Muslimat-an di kampung kami
Untuk kami yang tinggal di desa, acara berjanjenan merupakan acara ngaji pekanan kami. Berjanjen adalah pembacaan kitab Al-Barzanji yang memuat riwayat Nabi Muhammad SAW dengan cara dilagukan. Kata dari bahasa arab Al-Barzanji inilah yang kemudian menjadi kata berjanjen dalam pengucapan oleh orang jawa. Di tempat kami, acara berjanjen ini satu paket dengan tahlil dan mauidho hasanah atau tausiyah. Acaranya selalu berurutan seperti itu: Tahlil, bacaan sholawat Nabi (berjanjen) dan tausiyah. 

1. Tahlil
Secara bahasa tahlil diartikan sebagai ucapan kalimat “laailaha illalloh”. Sedangkan secara istilah adalah tradisi do’a bersama untuk mendo’akan orang yang telah meninggal, dengan membaca Al Qur’an, kalimat thayyibah, istighfar, takbir, tahmid, tasbih, sholawat dan pahalanya diberikan kepada orang yang sudah meninggal. 
Dalam Al-Qur'an Surat Muhammad ayat 19 Allah berfirman:
“Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan”. (Muhammad:19)


2. Bacaan sholawat
Inti dari berjanjen ini sebenarnya adalah memperbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad SAW. 
Seperti Firman Allah dalam Surah Al-Ahzâb ayat 56, dimana ayat ini juga tercantum di kitab Al-Barzanji, yaitu: 


Artinya: "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya".

3. Mauidho Hasanah/Tausiyah.
Kami adalah orang desa yang awam. Nasihat untuk kami, tak perlu nasihat yang muluk-muluk. Yang kami butuhkan adalah nasihat yang bisa langsung kami praktekkan. Bagaimana cara sholat yang benar, bagaimana berdo'a agar anak-anak kami menjadi anak sholih, dzikir apa yang bisa menjadi andalan kami, atau hal-hal yang bersifat praktis seperti itu.
Aku rasa, para kyai dan bu nyai disini mengerti benar akan makna: ”Tidak kami utus seorang rasul kecuali ia harus menjelaskan dengan bahasa kaumnya” (QS.Ibrahim:4) dan “Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar akal (intelektualitas) mereka” (H.R. Muslim).

Pada saat bulan Rabi'ul Awwal seperti ini, kampung kami lebih semarak lagi dengan lantunan sholawat. Setiap hari dari tanggal 1 hingga 12 Rabi'ul Awwal atau bulan maulud kami menyebutnya, kami selalu mengadakan berjanjenan dengan silaturahim dari satu rumah ke rumah lain. Bahkan di kampung tetangga, mereka mengadakannya hingga akhir bulan maulud. Selain tahlil, sholawatan, serta mauidho hasanah, di kampung kami ada satu acara tambahan lagi tiap bulan maulud seperti ini, yaitu pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW dalam bahasa jawa. Bahasa yang lebih bisa dipahami oleh orang kampung seperti kami.

Satu saat, kami pernah kesulitan juga mengajak remaja-remaja kami untuk ikut ngaji.  Mungkin cara kami harus lebih inovatif ya? Membeli satu paket rebana menjadi pilihan pada waktu itu, yang terdiri dari: 2 buah jidor,  4 buah rebana dan 3 buah ketipung. Oh ya, ditambah 1 buah kecrekan dan kecicer. Tentu saja kami membeli dengan uang kas jam'iyyah yang sudah kami kumpulkan sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun. Alhamdulillah, para remaja lebih bersemangat bersholawat sambil memainkan rebana.


mengaji dan bersholawat
Seperangkat rebana yang menjadi teman sholawatan jam'iyyah kami
mengaji dan bersholawat
Remaja di kampung kami yang sedang memainkan rebana
Kenyataannya adalah, dari para orang tua kita dahulu sampai sekarang, harus selalu ada inovasi baru dalam mengajak orang mengaji (berdakwah). Kreativitas dalam mengajak orang lain kepada kebaikan, ilmu yang cukup, juga niat yang ikhlas karena Allah tentu sangat diperlukan dalam dakwah. Di tempat lain, pastilah mempunyai cara dakwah yang berbeda, sesuai dengan karakteristik orang-orang yang menjadi obyek dakwah. Bagi kami, inilah cara dakwah kami. Semoga Allah merahmati orang-orang sebelum kami, yang telah memulai dakwah dengan cara ini. 
Wallahu a'lam bishowab.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...