Sunday, 5 January 2014

BEGINILAH KAMI MENGAJI

mengaji dan bersholawat
Ibu-ibu bersholawat di acara rutin Muslimat-an di kampung kami
Untuk kami yang tinggal di desa, acara berjanjenan merupakan acara ngaji pekanan kami. Berjanjen adalah pembacaan kitab Al-Barzanji yang memuat riwayat Nabi Muhammad SAW dengan cara dilagukan. Kata dari bahasa arab Al-Barzanji inilah yang kemudian menjadi kata berjanjen dalam pengucapan oleh orang jawa. Di tempat kami, acara berjanjen ini satu paket dengan tahlil dan mauidho hasanah atau tausiyah. Acaranya selalu berurutan seperti itu: Tahlil, bacaan sholawat Nabi (berjanjen) dan tausiyah. 

1. Tahlil
Secara bahasa tahlil diartikan sebagai ucapan kalimat “laailaha illalloh”. Sedangkan secara istilah adalah tradisi do’a bersama untuk mendo’akan orang yang telah meninggal, dengan membaca Al Qur’an, kalimat thayyibah, istighfar, takbir, tahmid, tasbih, sholawat dan pahalanya diberikan kepada orang yang sudah meninggal. 
Dalam Al-Qur'an Surat Muhammad ayat 19 Allah berfirman:
“Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan”. (Muhammad:19)


2. Bacaan sholawat
Inti dari berjanjen ini sebenarnya adalah memperbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad SAW. 
Seperti Firman Allah dalam Surah Al-Ahzâb ayat 56, dimana ayat ini juga tercantum di kitab Al-Barzanji, yaitu: 


Artinya: "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya".

3. Mauidho Hasanah/Tausiyah.
Kami adalah orang desa yang awam. Nasihat untuk kami, tak perlu nasihat yang muluk-muluk. Yang kami butuhkan adalah nasihat yang bisa langsung kami praktekkan. Bagaimana cara sholat yang benar, bagaimana berdo'a agar anak-anak kami menjadi anak sholih, dzikir apa yang bisa menjadi andalan kami, atau hal-hal yang bersifat praktis seperti itu.
Aku rasa, para kyai dan bu nyai disini mengerti benar akan makna: ”Tidak kami utus seorang rasul kecuali ia harus menjelaskan dengan bahasa kaumnya” (QS.Ibrahim:4) dan “Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar akal (intelektualitas) mereka” (H.R. Muslim).

Pada saat bulan Rabi'ul Awwal seperti ini, kampung kami lebih semarak lagi dengan lantunan sholawat. Setiap hari dari tanggal 1 hingga 12 Rabi'ul Awwal atau bulan maulud kami menyebutnya, kami selalu mengadakan berjanjenan dengan silaturahim dari satu rumah ke rumah lain. Bahkan di kampung tetangga, mereka mengadakannya hingga akhir bulan maulud. Selain tahlil, sholawatan, serta mauidho hasanah, di kampung kami ada satu acara tambahan lagi tiap bulan maulud seperti ini, yaitu pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW dalam bahasa jawa. Bahasa yang lebih bisa dipahami oleh orang kampung seperti kami.

Satu saat, kami pernah kesulitan juga mengajak remaja-remaja kami untuk ikut ngaji.  Mungkin cara kami harus lebih inovatif ya? Membeli satu paket rebana menjadi pilihan pada waktu itu, yang terdiri dari: 2 buah jidor,  4 buah rebana dan 3 buah ketipung. Oh ya, ditambah 1 buah kecrekan dan kecicer. Tentu saja kami membeli dengan uang kas jam'iyyah yang sudah kami kumpulkan sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun. Alhamdulillah, para remaja lebih bersemangat bersholawat sambil memainkan rebana.


mengaji dan bersholawat
Seperangkat rebana yang menjadi teman sholawatan jam'iyyah kami
mengaji dan bersholawat
Remaja di kampung kami yang sedang memainkan rebana
Kenyataannya adalah, dari para orang tua kita dahulu sampai sekarang, harus selalu ada inovasi baru dalam mengajak orang mengaji (berdakwah). Kreativitas dalam mengajak orang lain kepada kebaikan, ilmu yang cukup, juga niat yang ikhlas karena Allah tentu sangat diperlukan dalam dakwah. Di tempat lain, pastilah mempunyai cara dakwah yang berbeda, sesuai dengan karakteristik orang-orang yang menjadi obyek dakwah. Bagi kami, inilah cara dakwah kami. Semoga Allah merahmati orang-orang sebelum kami, yang telah memulai dakwah dengan cara ini. 
Wallahu a'lam bishowab.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah memberikan komentar di blog saya. Mohon untuk memberi komentar dengan kata yang santun. Terima kasih. :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...