Thursday, 5 June 2014

KECAMATAN DUKUHSETI DALAM IMPIAN


Kecamatan Dukuhseti adalah 1 (satu) dari 21 (dua puluh satu) kecamatan yang ada di Kabupaten Pati. Kecamatan dengan luas wilayah 8.159 Ha ini berbatasan dengan Kabupaten Jepara di sebelah utara, sebelah timur berbatasan dengan Laut Jawa, di sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Tayu, dan di sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Cluwak.
Di Kecamatan Dukuhseti terdapat 12 (dua belas) desa, yaitu: Desa Wedusan, Puncel, Tegalombo, Kembang, Dukuhseti, Banyutowo, Alasdowo, Ngagel, Grogolan, Dumpil, Kenanti dan Bakalan, yang semuanya diklasifikasikan sebagai desa swasembada.
Dan saya beruntung karena di tugas pertama saya sebagai bagian dari Pemberdayaan Masyarakat Desa, saya mendapatkan kecamatan dengan jumlah desa yang tidak banyak. Dan kebetulan jarak antar desanya juga tidak berjauhan, jadi cukup memudahkan saat berkunjung ke desa-desa tersebut. 

HAL-HAL MENARIK DI KECAMATAN DUKUHSETI
Selama satu tahun saya bertugas di Kecamatan Dukuhseti, ada beberapa hal menarik yang saya temukan. Mungkin hal menarik ini bisa dikatakan sebagai potensi Kecamatan Dukuhseti. Dan bisa jadi hal menarik ini, bisa dikembangkan di kemudian hari. Apakah hal-hal menarik dalam pengamatan saya itu? Check it out.......
1.     Tempat Pelelangan Ikan (TPI)
Ada 3 (tiga) TPI di Kecamatan Dukuhseti, yaitu TPI Banyutowo, TPI Puncel dan TPI Alasdowo. Tetapi TPI Banyutowo merupakan TPI dengan produksi ikan segar terbesar tiap tahunnya di Kecamatan Dukuhseti. Pada tahun 2012, produksi ikan laut segar di TPI Banyutowo mencapai 662.951 kg atau Rp.3.984.701.000,- (Tiga milyar sembilan ratus delapan puluh empat juta tujuh ratus satu ribu rupiah). Masih jauh sebenarnya jika dibandingkan dengan produksi ikan segar di TPI Bajomulyo II Juwana (34.284.379 kg atau Rp. 189.264.745.000) dan TPI Bajomulyo I Juwana (12.442.020 kg atau Rp. 31.721.333.000). Tetapi, untuk skala Kabupaten Pati masih menempati urutan ketiga.
Menariknya dari TPI Banyutowo ini adalah, selain menjadi tempat pelelangan ikan, di TPI ini juga ramai dikunjungi orang-orang di sekitar Desa Banyutowo yang ingin berwisata murah. Lumayan untuk refreshing, sekedar melepas lelah sambil memandangi laut lepas.
Dan saya membayangkan, suatu saat di area TPI Banyutowo ini dibangun sebuah arena bermain. Yah, semacam Wisata Bahari Lamongan (WBL). Belajar dari WBL yang dulunya hanya berupa kawasan wisata Pantai Tanjung Kodok, yang ramainya hanya pada musim liburan sekolah dan libur akhir pekan. Sekarang, hampir tiap hari tempat ini ramai pengunjung. Dan ini berarti secara ekonomi juga memberi peluang kepada penduduk di sekitarnya.
2.     Kelapa Kopyor
Tingkat produksi kelapa kopyor di Kecamatan Dukuhseti berdasarkan data Pati Dalam Angka Tahun 2013 adalah tertinggi di Kabupaten Pati, yaitu 287.318 butir/tahun. Sebagai perbandingan, tertinggi kedua adalah Kecamatan Margoyoso dengan tingkat produksi 225.680 butir/tahun. Dan tempat ketiga adalah Kecamatan Tayu 201.497 butir/tahun.
Bapak Teguh Suwito, SH, MM, Camat Dukuhseti saat ini, pernah melontarkan gagasan untuk pengembangan kelapa kopyor ini. Gagasan ini dilontarkan waktu ada kunjungan dari Litbang Provinsi Jawa Tengah ke Dukuhseti, kaitannya dengan pengembangan kelapa kopyor. Gagasan ini disampaikan karena ternyata cukup banyak daerah lain yang tertarik untuk budidaya kelapa kopyor.
Waktu itu Pak Camat menyampaikan harapannya, sebaiknya ada sebidang tanah milik pemerintah di Kecamatan Dukuhseti yang digunakan khusus untuk pengelolaan kelapa kopyor ini. Di sana ada sebuah tempat sebagai balai penelitian kopyor, ada sebidang tanah untuk bibit kopyor, ada sebidang tanah lain untuk kopyor yang sudah tumbuh besar dan siap panen, pokoknya yang serba kopyor. Jadi, suatu saat jika ada penelitian atau studi banding dari daerah lain, dari pihak Kabupaten bisa langsung membawa ke lokasi tersebut. Dan saya menambahkan dalam hati, “dan bisa menjadi tempat wisata juga nantinya.” Haha.......
Saya pernah mendengar juga bahwa kondisi tanah juga mempengaruhi rasa kelapa kopyor yang ditanam. Katanya, kelapa kopyor di wilayah Kecamatan Dukuhseti yang paling enak. Hehe...... Masih perlu penelitian sebenarnya. Dulu pernah juga ada yang membawa bibit kopyor untuk ditanam di daerah lain. Ternyata rasanya tidak segurih yang ada di Dukuhseti, daging kelapanya juga tidak setebal yang ada di Dukuhseti. Apa ya kira-kira yang mempengaruhi? Itulah sebabnya balai penelitian penting juga untuk mengetahui sebabnya. Maunya............
Dari 12 desa di Kecamatan Dukuhseti, penghasil kelapa kopyor terbanyak adalah Desa Dukuhseti, Desa Alasdowo dan Desa Ngagel.
3.     Penjual Kain Kiloan
Namanya Desa Ngagel. Di desa inilah terdapat beberapa penjual kain kiloan. Toko-toko itu berlokasi dekat dengan pasar Ngagel. Pengunjungnya tiap hari sangat banyak, bahkan dari luar Dukuhseti. Mereka memang sengaja hunting kain bagus dan murah. Selain mencari untuk kepentingan pribadi, beberapa juga mencari kain untuk dijual lagi. Beberapa kain di padupadankan, lalu dijual. Para penjahit juga tidak ketinggalan mencarikan kain untuk pelanggannya disini. 
Pernah saya mencari kain juga, dan timbul niat iseng saya untuk menghitung banyaknya orang yang berkunjung untuk mencari kain kiloan ini dalam salah satu toko terlaris. Ternyata cukup banyak, dalam setengah jam kunjungan saya, bersama saya ada sekitar 15-an orang lain yang mencari kain. Kalau menjelang lebaran, jumlah pengunjung bisa berkali-kali lipat.

TUNAS-TUNAS YANG TUMBUH
Tunas apa ya yang tumbuh? Begini ceritanya..........
Ada sebuah program pemberdayaan masyarakat desa dari pemerintah, yaitu Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MPd). Disanalah tunas-tunas baru itu tumbuh.
Salah satu kegiatan PNPM-MPd adalah pelatihan keterampilan yang harapannya bisa memberikan nilai ekonomi bagi pesertanya. Di tahun 2013 lalu, ada beberapa pelatihan yang dilaksanakan. Pertama yaitu pelatihan pembuatan batik, dilaksanakan di Desa Wedusan, Tegalombo, Dukuhseti dan Bakalan. Kedua, pelatihan membuat tas. Pelatihan ini dilaksanakan di Desa Alasdowo, Ngagel, Grogolan dan Dumpil. Sedangkan Desa Banyutowo dan Desa Kenanti yang berlimpah ikannya, memilih pelatihan pengolahan ikan. Masyarakat Desa Kembang memilih pelatihan membuat songkok. Selain membatik, masyarakat desa Wedusan juga melaksanakan pelatihan pembuatan tepung mocaf. Sangat pas karena di Desa Wedusan banyak terdapat ladang ketela/singkong. Ada lagi Desa Bakalan yang juga melaksanakan pelatihan bordir, selain membatik. 
Peserta pelatihan itu di masing-masing desa adalah 20 (dua puluh) orang dengan masa pelatihan 15 (lima belas) hari. Dari pelatihan tersebut, tentu saya berharap dapat memberikan manfaat untuk pesertanya, dan nantinya memberikan tambahan penghasilan untuk mereka. Dan tiba-tiba terlintas sesuatu di pikiran saya. Ting............

MIMPI UNTUK MASA DEPAN
Judul macam apa itu? He....... Ini tentang mimpi saya. Di masa depan Dukuhseti menjadi salah satu kecamatan yang menjadi tujuan wisata. Ada paket wisata untuk mengunjungi TPI Banyutowo, Wisata Kelapa Kopyor dan Wisata Belanja. Tiga tempat itu menjadi satu paket dengan kereta wisata menjadi kendaraan penghubung antar tempatnya.
TPI Banyutowo yang sudah disulap menjadi Wisata Bahari Banyutowo atau WBB (ngarang.com) adalah tujuan pertama. Lalu menuju Balai Penelitian Kelapa Kopyor. Bisa belajar tentang perkopyoran sambil menikmati es kelapa kopyor yang lezat. Terakhir........ mari kita berbelanja........ Di Wisata Belanja, Anda bisa mencari kain kiloan yang murah meriah, kerajinan batok kelapa, batik khas Dukuhseti dan tas hasil pelatihan juga sudah berkembang saat itu. Wisata kulinernya? Berbagai olahan ikan sudah siap disantap. Sayur mrico sembilang, sayur kunci dilengkapi ikan pe, blanak, janjan, dan lain-lain.
Kalau ingin yang bisa dibawa pulang? Ada otak-otak bandeng, nugget bandeng, bakso bandeng, bandeng crispy, pokoknya serba bandeng. Olahan ikan lain juga banyak yang bisa dibawa pulang. Hm.......
Karena ini mimpi, boleh-boleh saja kan pikiran saya mengelana kemana-mana?

PENUTUP
Tulisan diatas adalah pemikiran liar saya. Sejujurnya, saya sendiri tidak tahu apakah impian semacam itu bisa diwujudkan. Dalam musrenbang kecamatan awal tahun ini, yang dibicarakan masyarakat masih tataran pembangunan jalan dan fisik lain yang bersifat lokal, artinya mereka berbicara tentang lokasi yang mereka tinggali. Jadi, mimpi saya untuk menjadi nyata memang masih harus menunggu waktu. Atau saya bangun saja? Tidak usah bermimpi lagi. Haha.....

Bahan bacaan:
1.    Kecamatan Dukuhseti dalam angka Tahun 2013
2.    Pati Dalam Angka Tahun 2013.

4 comments:

Terima kasih telah memberikan komentar di blog saya. Mohon untuk memberi komentar dengan kata yang santun. Terima kasih. :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...