Tuesday, 30 December 2014

YUK... RANCANG RESOLUSI KITA*

Kita sudah ada di penghujung tahun 2014. Sebentar lagi kita akan memasuki tahun 2015. Sudahkah target di tahun 2014 ini tercapai? Kita evaluasi pencapaian kita di tahun 2014. Dan mari buat resolusi untuk tahun 2015.

Beberapa Langkah Merancang Resolusi:
1. Tetapkan yang ingin dicapai atau ingin ditinggalkan.
Buat resolusi tentang apa yang betul-betul kita butuh untuk mencapainya atau yang ingin kita lepas dari diri kita. Jangan lupa menetapkan rencana jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjangnya.

2. Jangan ikut-ikutan.
Jangan ikut-ikutan resolusi orang lain, meski sepintas terkesan keren. 

3. Bernilai.
Pastikan ada nilai penting dalam resolusi yang kita canangkan.

4. Sedikit dan mampu dicapai.
Jangan terlalu banyak merancang resolusi. Satu saja mungkin lebih baik jika memang betul-betul terealisasi. Dalam istilah The Law of Diminishing Return disebutkan bahwa jika kita fokus pada 2-3 target, maka kemungkinan yang tercapai adalah 2-3. Bila targetnya 4-10, kemungkinan hanya tercapai 1-2 target. Jika target kita diatas 10, kemungkinan yang tercapai justru 0.

5. Tetapkan standar dan batasan waktu.
Tetapkan standar atau ukuran yang ingin diraih, juga batasan waktu untuk mencapainya.

6. Evaluasi berkala.
Evaluasi berkala ini penting, agar kita tidak melenceng jauh dari target yang buat sendiri.

7. Banyak berdo'a.
Banyak-banyaklah berdo'a dan beristighfar agar Allah menurunkan pertolongan-Nya.

Lalu apa saja yang menjadi penyebab resolusi kita gagal? Yuk, temukan jawabannya.
Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa 88% dari semua resolusi tahun baru berakhir dengan kegagalan. Mengapa demikian? Adithryarini Susilo, S.Psi dan Reza Syarief, MA, MBA menuturkan, ada beberapa faktor penyebab, antara lain:
a. Kurangnya tekad.
b. Terlalu sering mengubah resolusi karena mengikuti suasana hati, akhirnya tidak memiliki tujuan akhir yang tetap.
c. Tidak adanya variabel kontrol, pengingat atau pengendali, baik internal maupunn eksternal.
d. Tidak disiplin, terlalu santai dan tidak punya hasrat.
e. Tidak ada suasana kompetisi dalam kebaikan.
f. Faktor yang tidak terdefinisikan. Usaha sekeras apapun bisa saja tidak tercapai karena takdir Allah. Jika sudah berikhtiar, kita harus tawakkal dalam keadaan ini.

Nah, setiap resolusi berpulang kepada diri masing-masing. Kitalah orang yang kuat memacu tekad untuk mengejar target atau termasuk yang paling mudah memberi pemakluman diri?

*Tulisan ini diambil dari Majalah Ummi Edisi No. 12/XXVI/Desember 2014.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah memberikan komentar di blog saya. Mohon untuk memberi komentar dengan kata yang santun. Terima kasih. :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...