Wednesday, 30 December 2015

TENTANG WALI NIKAH



Beberapa waktu lalu, keluarga kami disibukkan dengan persiapan pernikahan adik bungsu. Salah satu yang kami persiapkan adalah urusan administrasi yang harus dipenuhi untuk mendaftarkan pernikahan. Nah, salah satu persyaratan yang harus dipenuhi adalah Surat Keterangan Wali Nikah dari desa/kelurahan tempat tinggal wali nikah.

Kebetulan wali nikah adik kami adalah putra dari pakdhe kami dari pihak ayah (sepupu). Pada waktu itu, perangkat dari desa setempat malah mengatakan kalau tidak mau memberikan surat keterangan itu dengan alasan jarak persaudaraan terlalu jauh. Dan menyarankan status sepupu kami itu ditulis paman saja, agar bisa jadi wali. Kami melongo. Sepupu menjadi paman? Ini kan tentang sahnya pernikahan. Kalau sekedar paman, lalu langsung bisa wali nikah, kami juga punya paman yang merupakan adik-adik ibu. Kami juga masih punya paman yang merupakan adik ayah seibu. Tetapi tentang wali nikah ini kan ada aturannya.

Dengan berbagai argumen, bahwa kami sudah menanyakan permasalahan wali nikah ini dengan kyai dan juga sudah konsultasi dengan KUA, akhirnya perangkat desa itu mau membuatkan Surat Keterangan Wali Nikah, meski dengan setengah hati. Tetapi dengan kejadian itu, kami jadi menyadari bahwa masih ada (mungkin banyak) orang yang tidak memahami perihal wali nikah ini.

Jadi, menurut Islam, dalam pernikahan ada yang disebut rukun nikah. Rukun nikah terdiri dari: 1) mempelai lelaki (calon suami), 2) mempelai perempuan (calon istri), 3) wali nikah, 4) dua orang saksi laki-laki (sebagai saksi nikah), 5) ijab qabul (akad nikah).

Kelima hal tersebut harus ada agar pernikahan menjadi sah. Masing-masing rukun nikah juga ada syarat sahnya. Kalau syarat sah wali nikah diantaranya: Islam, laki-laki, baligh, tidak dalam paksaan, tidak dalam ihrom haji/umroh, tidak gila, tidak terlalu tua, merdeka, dan tidak ditahan kuasanya dalam membelanjakan hartanya.

Dan berkaitan dengan siapa yang bisa menjadi wali nikah, karena kami sudah tidak mempunyai ayah, kamipun menelusuri siapa saja yang bisa menjadi wali nikah adik kami. Kebetulan salah satu paman kami (adik ibu) adalah pegawai KUA. Beliaulah yang pertama kali mengurutkan nasab untuk keperluan wali nikah adik kami.

Jadi, dalam hukum Islam memang ada urutan nasab yang bisa menjadi wali nikah. Jika urutan pertama tidak ada, wali turun ke urutan selanjutnya. Dalam hal yang kami alami, sesuai urutan wali nikah, kami mengurutkannya seperti dibawah ini:
  1. Ayah kandung ---> telah meninggal.
  2. Kakek (dari garis ayah dan seterusnya ke atas dalam garis laki-laki) ---> telah meninggal semua.
  3. Saudara laki-laki sekandung ---> kami 3 bersaudara perempuan (tidak bisa menjadi wali nikah).
  4. Saudara laki-laki seayah ---> tidak ada.
  5. Anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung ---> ingat, kami tidak punya saudara laki-laki.
  6. Anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah ---> tidak ada.
  7. Anak laki-laki dari anak laki-laki saudara laki-laki sekandung ---> tidak ada.
  8. Anak laki-laki dari anak laki-laki saudara laki-laki seayah ---> tidak ada.
  9. Saudara laki-laki ayah sekandung (paman sekandung dari ayah) ---> telah meninggal.
  10. Saudara laki-laki ayah seayah (paman seayah) ---> tidak ada.
  11. Anak laki-laki dari paman sekandung ayah ---> disini posisi sepupu kami itu.
Setelah itu kami juga konsultasi kepada orang yang lebih tahu atau mengerti hukum agama, agar kami tidak salah melangkah.

Karena menikah adalah mitsaqon gholidzo (perjanjian Allah yang berat), tentu tidak bisa sembarangan. Ada hukum dan aturan yang harus dipenuhi agar pernikahan sah. Karena jika pernikahan tidak sah, tentu akan berakibat pada hukum hubungan laki-laki dan perempuan. Wallahu a'lam bishowab.

Tuesday, 29 December 2015

MENJAGA KEWARASAN


Pertama kali aku melihat laki-laki itu di salah satu sudut pasar yang ada di Jalan Raya Tayu - Pati. Ia bertingkah sebagaimana binaraga yang berada di panggung memamerkan otot-otot kekarnya. Waktu itu aku hanya terpikir, "Ngapain orang itu?".

Tapi ternyata ketika aku lewat di jalan itu lagi, laki-laki itu masih bertingkah bak binaraga di sudut pasar yang sama. Selalu seperti itu setiap kali aku melewati jalan yang sama selama beberapa bulan terakhir ini.

Pun pagi tadi, aku melihatnya lagi, masih dengan tingkah yang sama. Hanya semakin hari, aku melihat laki-laki itu semakin hitam, semakin kotor, semakin lusuh. Dan orang-orang mulai menyebutnya (maaf) orang gila.

Pemandangan "orang gila" selama aku melakukan perjalanan, bukan tentang lelaki binaraga itu saja. Ada seorang lelaki lain yang suka sekali membuat bentuk lingkaran besar di jalan menggunakan kapur putih. Lingkaran-lingkaran itu selalu pas bundarnya yang aku sendiri pasti kesulitan membuatnya. Ada juga perempuan yang selalu marah-marah sepanjang jalan, memarahi orang-orang yang ditemuinya. Dan banyak yang lainnya.

Setiap kali aku bertemu dengan orang-orang yang disebut (maaf lagi) gila itu, aku berfikir, apa yang ada di masa lalu mereka, hingga membawa mereka pada kondisi semacam itu? Apakah impian yang tidak tercapai? Apakah beban permasalahan hidup yang begitu berat dipikul? Atau apa?

Barangkali, hidup di jaman ini terasa berat bagi sebagian orang. Bukan hanya karena hidup itu sendiri sudah berat, tetapi kadang cerita-cerita tingkat tinggi yang berseliweran menyebabkan bertambahnya beban mereka. Sehingga jika tidak kuat iman, akan berat untuk menjaga kewarasan itu.

Pemuda yang telah menyelesaikan sekolahnya, kesulitan mencari pekerjaan. Ketika pekerjaan didapat, ia bertemu teman lama yang mempunyai pekerjaan yang terlihat lebih keren. Mendengar cerita temannya, ia menjadi rendah diri, karena pekerjaannya biasa dengan gaji yang biasa.

Seorang perempuan bertemu dengan teman-temannya. Mereka saling membanggakan anaknya masing-masing. Anak si A selalu mendapat juara, anak si B sering memenangkan lomba, anak si C hafal Al-Qur'an 2 juz di usia belia. Sedangkan anak si perempuan, "biasa-biasa saja".

Laki-laki pegawai biasa bertemu teman lama yang bercerita tentang kesuksesannya. Rumah megah, berhektar-hektar tanah, mobil berbagai merk, dan segala kemewahan dipunyai oleh sang teman. Sedang ia, masih pegawai biasa, masih tinggal di rumah kontrakan, motornya motor kreditan.

Di media sosial kita melihat artis-artis dengan gaya hidup yang super mewah. Rumah dan mobil bernilai milyaran, berwisata ke luar negeri dengan pesawat pribadi, makan di restoran mewah, tas branded yang harganya jutaan, dan banyak lagi.

Dan ketika kita menjadi orang yang selalu melihat ke atas, bisa jadi kita menjadi silau. Kesuksesan yang kita lihat pada orang lain seakan menjadi segala-galanya. Lalu saat kita tak mampu meraih hal yang sama, kita menjadi tertekan. 

Sabar dan syukur, adalah pernyataan klise untuk tetap menjaga kewarasan kita. Tapi kenyataannya keduanya bisa menjadi bekal dalam hidup yang berat itu. Sabar jika tujuan kita belum tercapai. Karena untuk mencapai tujuan itu, kita harus melewati jalan berliku, mendaki, mungkin menurun, lalu naik lagi. Ada proses yang harus kita jalani. 

Bersyukur, karena meski kita belum mencapai puncak tertinggi, kita telah melalui proses itu setahap-demi setahap. Ada banyak orang lain yang ada di bawah kita juga berjuang menuju tujuannya masing-masing. Ada banyak hal yang masih bisa kita syukuri. Kita diberikan-Nya hidup, dikaruniakan mata untuk melihat, diberikan telinga untuk mendengar, diberi hati untuk merasa. 

Dan hidup terus berjalan. Meski rasanya berat, jika kita punya sandaran, insya Allah semua akan lebih terasa ringan. Mari kita senantiasa percaya (iman) kepada-Nya. Selalu punyai kesabaran dan rasa syukur, agar kita bisa tetap menjaga kewarasan kita. 

Wednesday, 23 December 2015

CHARGER

charge-dengan-charger-diri


Charger tampaknya sudah menjadi kebutuhan sehari-hari kita. Hampir semua orang punya ponsel. Dari yang berupa ponsel jadul sampai yang kekinian, semua butuh charger. Bahkan sekarang kita dimudahkan pula dengan powerbank yang bisa menyimpan daya, sehingga kita tetap bisa mencharge ponsel meski di tengah sawah sekalipun. :)

Tetapi... Saya sih tidak akan cerita tentang charger yang itu. Saya ingin membahas charger yang lain. Charger diri, mungkin bisa disebut seperti itu. Seperti ponsel yang butuh energi tambahan ketika batereinya habis, diri kitapun sering mengalami habis energi, sehingga membutuhkan charge untuk diri kita sendiri.

Secara umum, ada tiga tempat yang menjadi pusat kelelahan kita, hingga rasanya tak berenergi untuk melakukan berbagai kegiatan. Ini menurut saya sih... :D

1. Lelah Fisik
Banyaknya pekerjaan di kantor membuat kita kurang istirahat, hingga kita kelelahan. Pekerjaan seperti tak ada habisnya, yang satu belum selesai, datang lagi pekerjaan lain yang harus diselesaikan juga.

Yang bekerja di rumahpun sama. Mencuci pakaian, memasak, bersih-bersih, mengasuh anak, dan sebagainya.

Pasti semua menguras tenaga kita, dan bisa jadi membuat kita jatuh sakit, jika kita tak bisa mengatur tubuh kita.

2. Lelah Pikiran
Dalam hidup pastilah selalu ada permasalahan. Ada masalah yang berat, ada juga yang ringan. Ketika masalah berat yang datang, kadang kita sampai stress dibuatnya.

Hm... Lelah pikiranpun bisa membuat kita sakit, lho...

3. Lelah Hati
Berbagai rutinitas yang tak kunjung selesai, bisa jadi menimbulkan kekosongan dalam hati kita. Atau... Karena lelah pikiran, barangkali juga sampai membuat kita lelah hati.

Mengembalikan Energi yang Hilang
Mengenal sumber kelelahan kita, pasti akan membantu kita untuk mengembalikan energi yang hilang. Pilih charger yang tepat untuk mengembalikan daya kita. Jangan sampai charger laptop untuk hp, tidak cocok kan?

Kalau lelah fisik, pastinya kita butuh istirahat. Tubuh kita punya hak juga kan ya... Biar lelah tak berujung sakit. Istirahat sejenak, berolahraga, luluran, creambath, facial... Hihihi... Ya, intinya sih, beri waktu untuk memanjakan fisik kita. Tapi jangan keterusan manjanya ya... :D

Lelah pikiran? Barangkali kita butuh teman curhat. Tentunya yang bisa kita percaya. Kalau ada permasalahan tertentu yang membutuhkan pendapat orang yang ahli, coba sharing dengan ahlinya. Permasalahan agama ya tanyakan pada yang ahli agama. Tentang penyakit, minta pendapat pada yang ahli kesehatan. Jangan kebalik-balik, tambah lelah nanti. :)

Atau, membaca.... Membaca bisa membuka cakrawala berfikir kita. Barangkali, dengan ilmu yang kita baca, lalu kita praktekkan, akan membantu mengurai permasalahan yang kita hadapi.

Kalau lelah hati? Mungkin pekerjaan kita, permasalahan yang kita hadapi, membuat kita sibuk setiap hari. Lalu kita abai terhadap hal-hal yang bersifat ukhrowi, hingga menimbulkan kekosongan hati. Saat itulah ruhiyah kita mencapai titik yang rendah. Mendekat pada-Nya, memperbanyak dzikir, baca Al-Qur'an, insya Allah akan mengembalikan hati kita pada tempatnya (memang tempatnya dimana? :D). 

Jadi, intinya apa? Inti dari semuanya... Ketika kita lelah, ayo me time sejenak (maaf, bukan ngomporin :)). Termasuk me time berkhusyu' masyuk dengan-Nya di malam buta, bermunajat kepada-Nya. 

Setelah me time, ayo kita kembali beraktifitas dengan energi yang penuh.


Tuesday, 1 December 2015

BANYUTOWO, DESA KECIL DENGAN IMPIAN BESAR

Judulnya terasa bombastis yah... :D. Tapi seperti itulah yang saya tangkap dari setiap percakapan saya dengan Bapak Muktari, Kepala Desa Banyutowo saat ini.

Oh ya, sebelum cerita banyak, teman-teman tahu tentang Desa Banyutowo, atau setidaknya pernah mendengar nama desa itu? Kalau belum, teman-teman tahu Soimah? Pesinden yang juga dikenal sebagai pelawak itu. Nah, Soimah ini aslinya dari Desa Banyutowo lho... Informasi gak penting ya? Ya sudahlah. Mari lanjut ceritanya. :D

Banyutowo adalah salah satu desa di Kecamatan Dukuhseti Kabupaten Pati. Desanya termasuk kecil, luasnya sekitar 115,890 Ha, terdiri dari satu pedukuhan, 2 RW dan 11 RT. Jumlah penduduk berdasarkan Kecamatan Dukuhseti dalam Angka Tahun 2014 adalah 2.863 orang, terdiri dari 1.475 laki-laki dan 1.398 perempuan. Penduduknya sebagian besar berprofesi sebagai nelayan. Tidak heran sih, karena memang di Desa Banyutowo ini dekat dengan laut. Ada dermaga dan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) disana.
Saya narsis di TPI Banyutowo :D

Pak Inggi (sebutan untuk Kades di tempat kami) kalau sudah bercerita tentang desanya pasti menggebu-gebu, terlihat sangat bersemangat. Visi untuk tahun-tahun kedepan ia ceritakan dengan semangat.
Pak Inggi sedang melaksanakan pelayanan kepada masyarakat
"Desa Banyutowo, meskipun tidak punya bengkok (tanah kas desa), tapi tidak boleh kalah dengan desa lain. Desa kami harus bisa lebih maju, meski mempunyai keterbatasan." Seperti itu salah satu kalimat penuh semangatnya.

"Inilah yang akan saya tinggalkan untuk desa ini kalau nanti saya tidak jadi kades lagi," katanya sambil menunjuk kantor balai desa yang terhubung dengan perpustakaan desa dan gedung serba guna, yang memang dibangun pada masa kepemimpinannya. 

Lalu ia juga menunjuk tanah lain yang masih kosong. "Disana nanti kami akan membangun kantor bersama, Mbak. Kantor untuk BPD, PKK, LPMD, dan lainnya."

Menurutku sih, pemikiran Pak Inggi yang satu ini keren. Ia tidak hanya berfikir untuk saat ini saja, tapi juga untuk nanti ke depan apa yang ia bangun bisa ada manfaatnya.

Inilah beberapa nilai lebih Desa Banyutowo dibanding desa lainnya.

Gedung Serba Guna
Selain menjadi ruang pertemuan ketika ada rapat, di sore hari gedung itu menjadi lapangan badminton untuk masyarakat desa. Setiap jam 4 sore, tempat itu pasti ramai orang berolahraga. Disana juga ada semacam toko yang menyediakan minuman, agar setelah berolahraga, yang kehausan tidak perlu jauh-jauh mencari minum. Toko ini dikelola oleh koperasi desa, dan sudah berbadan hukum lho...

Selain itu, desa juga mempersilahkan jika ada warganya yang akan menggunakan gedung itu sebagai tempat resepsi pernikahan. Tempat itu memang cukup representatif untuk acara resepsi, karena selain tempatnya cukup luas (ada panggungnya juga), tempat parkir juga luas.
Kantor desa tampak depan dan gedung serba guna yang ada didalamnya

Perpustakaan Desa
Kemudian, berbicara tentang perpustakaan desa. Perpustakaan desa yang dekat dengan PAUD dan Sekolah Dasar (SD) sebenarnya cukup representatif. Tetapi diakui oleh Pak Inggi, bahwa menumbuhkan minat baca memang perlu waktu. 

Pada waktu penilaian perpustakaan desa oleh Kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Kabupaten Pati, disarankan agar pengelola perpustakaan desa bisa jemput bola untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Misalnya, untuk ibu-ibu yang menunggui anak-anaknya di sekolah PAUD, buku-buku yang sekiranya menarik minat mereka, bisa dibawa kesana. Menunggu sambil membaca, lebih bermanfaat kan?

Atau ketika ada pertemuan PKK, atau ketika bapak-bapak selesai berolahraga, bisa ditawari untuk membaca. Intinya, kata pihak Arpusda, "Untuk meningkatkan minat baca, kita harus mau mengalah dengan jemput bola. Jangan takut buku rusak atau hilang. Karena akan ada manfaat yang lebih dengan membaca."
Pembinaan perpustakaan desa dari Kantor Arpusda Kab. Pati

Pak Inggi pun mengiyakan dan dengan antusias menambahi, "Kami juga telah menghubungi warga kami yang sudah sukses, agar bisa memberi bantuan buku untuk perpustakaan desa kami."

Dan sayapun yakin, dengan pengelolaan yang baik, insya Allah perpustakaan desa yang saat ini masih kecil, suatu saat bisa berkembang lebih baik lagi. Semoga ya... Saya ikut berdo'a untuk Desa Banyutowo.

BUMDesa
Ada lagi yang saat ini akan dikembangkan oleh Desa Banyutowo, yaitu BUMDesa atau Badan Usaha Milik Desa. Dengan diawali pembentukan Usaha Ekonomi Desa Simpan Pinjam atau biasa disebut UED-SP pada tahun 2013, tahun ini mulai dirintis pembentukan Pasar Desa. Mungkin tahun-tahun berikutnya usaha-usaha lainpun akan berkembang melalui BUMDesa ini, tentunya juga dengan memperhatikan potensi lokal yang dimiliki Desa Banyutowo.

Tahun ini Kantor BUMDesa juga sudah dibangun dengan Bantuan Keungan dari Provinsi Jawa Tengah. Dengan dibangunnya kantor ini, berarti menunjukkan keseriusan Pemerintah Desa terhadap perkembangan BUMDesa.

BUMDesa yang saat ini baru dirintis, ibarat bayi yang baru lahir, semoga nantinya menjadi bayi yang sehat, yang akhirnya bisa memberikan manfaat untuk masyarakat desa Banyutowo. Semoga ya...
Kantor BUMDesa

Itulah sebagian impian Desa Banyutowo yang sedang mulai dirintis. Desa kecil itu, desa yang perangkatnya tidak memiliki bengkok itu, kini mulai berbenah. Bukan tidak mungkin, ketika manajemen pemerintahan desa berjalan baik, pendidikan menjadi perhatian, ekonomi masyarakat tumbuh bersama BUMDesa, suatu saat Desa Banyutowo menjadi desa yang maju dan mandiri.




Monday, 30 November 2015

NOVEMBER KALI INI

Hari ini hari terakhir di bulan november. Biasanya bulan november identik dengan hujan. Tapi November tahun ini berbeda di tempat kami. Air sulit sekali turun, meski kadang gemuruh petir terdengar bersahutan. Entah kenapa.

Sejak awal bulan ini, pompa air di rumahku terasa berat menyedot air dari dalam tanah sana. Waktu setengah jam biasanya sudah cukup untuk memenuhi tandonku dengan air. Tapi kali ini, bahkan dua jam belum juga tandon itu penuh terisi.

Tidak di rumahku saja. Beberapa tetangga bahkan memanggil tukang ledeng untuk memperpanjang pipa, agar air bisa tersedot lebih mudah. Ada juga yang bercerita, sejak jam 2 dini hari keluarganya menghidupkan pompa air, tapi hingga jam 6 pagi, hanya sedikit air yang terkumpul.

Tapi kami masih bersyukur. Di desa lain, bahkan orang-orang ngangsu air dari mata air yang ada di dekat areal persawahan. Meski cukup jauh dari rumah, mereka melakukannya demi air itu. Pastinya penggunaannya harus irit sekali.

Sedangkan di desa lain lagi, mereka sampai harus membeli air, saking sulitnya mendapatkan air.

Kasihan para petani. Banyak petani yang gagal panen. Seorang saudara yang menggarap sawah kami sampai datang ke tempat kami dan berkata, "Maaf, padinya tidak ada yang jadi. Terpaksa kami jual untuk makan sapi."  Jadi, padi yang tidak jadi itu dijual kepada peternak sapi untuk makanan sapi.

Beberapa petani menanami sawahnya dengan semangka

Bagi kami tidak terlalu risau. Karena kami masih mempunyai sandaran lain untuk hidup sehari-hari. Tetapi mereka benar-benar "hanya" bertani dan dari bertani itulah mereka menafkahi keluarga. Jika hujan tak segera turun, bagaimana mereka mencukupi hidup?

Ah... Robbighfirli... Ampuni aku. Engkau Maha Kaya. Tak ada makhluk hidup yang tak mendapat rizki-Mu.

Ya, semua itu menjadi cerita tersendiri di daerah kami. Karena biasanya kami berkelimpahan air.

Kamipun telah melaksanakan sholat istisqo' untuk memohon hujan. Alhamdulillah, sehari setelah sholat istisqo', hujan itu membasahi bumi kami meski hanya sebentar. Dan kami masih menunggu hujan-hujan selanjutnya.

Di November kali ini... Barangkali  kami masih harus introspeksi. Mungkin ada yang perlu kami perbaiki dari diri kami, agar kami memperoleh kembali kemurahan-Mu. 

Semoga hujan yang penuh berkah dan manfaat segera turun esok hari.

Wednesday, 25 November 2015

3 LANGKAH MUDAH MEMBUAT BLOG DENGAN BLOGSPOT UNTUK PEMULA

Teman saya suka menulis dan sangat bisa membuat tulisan yang bagus. Selama ini teman saya itu 'hanya' membuat tulisan di facebook, yang jika sudah ada tulisan baru, tulisan lama akan tertumpuk dengan yang baru. Tulisan 3 bulan lalu saja sudah susah carinya. Beda dengan blog, dimana tulisan kita bisa terarsip rapi di blog yang kita buat.

Jadi, terinspirasi hal itu, saya membuat tulisan sederhana ini. Dan... tulisan ini memang hanya untuk orang yang sama sekali belum pernah membuat blog dengan blogspot. Benar-benar untuk pemula.

Nah, apa saja yang harus dilakukan untuk membuat sebuah blog? 

1. Membuat akun email di gmail.

Pertama, kamu harus punya akun gmail. Kalau belum punya, kamu bisa masuk ke www.gmail.com. Lalu pilih "Akun baru". Mulailah mengisi form seperti dibawah ini:


Diisi lengkap ya...

2. Masuk ke www.blogger.com

Setelah kamu punya akun di gmail, kamu bisa langsung membuat blog pertamamu, dengan masuk ke www.blogger.com. Isi alamat gmail-mu tadi, dan juga passwordnya.

Kalau kamu mengisi dengan benar, akan ada tampilan seperti ini:


Pilih "lanjutkan ke blogger", dan akan ada tampilan seperti ini:


Isi "Judul" dengan sebuah nama yang kamu inginkan jadi judul blogmu. Kalau punya saya ini, judulnya adalah "Catatan Ummi".

Isi alamat untuk blogmu. Kadang nama yang kamu tulis tidak langsung disetujui, bisa jadi sudah ada yang menggunakannya. Jadi, isi alamatmu sampai nama alamat yang kamu tulis tersedia di blogspot ya... Kalau alamat saya, di www.umminadliroh.blogspot.com.

Lalu pilihlah tampilan yang kamu inginkan untuk blogmu. Coba-coba saja, nanti bisa diganti kok...

Kalau sudah, klik "Buat Blog". Nah, blog pertamamu sudah jadi. Tapi... blogmu masih kosong. Jadi, kamu perlu langkah selanjutnya.

3.Buat blogpost.

Langkah selanjutnya, buat tulisan pertamamu.
Kalau ketemu tampilan begini:

Lihat bagian warna orange yang tulisannya "Entri Baru". Klik disana dan akan muncul seperti ini:

Isi "Judul Pos" dengan judul postingan pertamamu. Lalu tulislah sebuah artikel di bawahnya. Kalau sudah selesai, klik "Publikasikan" (yang warna orange).

Sudah. Kamu akan punya blog di blogspot dengan sebuah blogpost. Selamat membuat blogpost-mu yang lain.

Mungkin seperti ini tampilan blogmu?




Friday, 20 November 2015

TENTANG KEMATIAN


Selama menjadi manusia jalanan (maksudnya, pergi pulang kerja menyusuri jalanan dengan bermotor), entah sudah berapa kali saya bertemu dengan kejadian kecelakaan. Mobil dan bis, mobil dan motor, motor dengan  sepeda, motor dengan becak, kecelakaan tunggal, dan yang lainnya lagi. Kadang sampai menimbulkan korban jiwa, kadang hanya luka-luka.

Beberapa kali saya juga melihat darah berceceran di jalanan akibat kecelakaan jalan raya. Pun melihat korban yang masih bersimbah darah di tengah jalan. Beruntungnya saya berada di daerah yang masih mempunyai rasa kepedulian tinggi. Selalu ada orang-orang yang bersedia menolong para korban.

Saya juga dua kali menyaksikan saat-saat sakaratil maut, yaitu ketika mendampingi ibu dan bapak pada saat-saat terakhir. Dan beliau berdua insya Allah "pergi" dengan indah, pergi dengan "mudah" untuk kembali kepada-Nya. Allahu yarhamhuma...

(Baca juga: Wangi Yang Hanya Aku Yang Tahu)

Pun... ketika di kampung, saat ada tetangga yang meninggal, biasanya kami mengikuti tahlilan yang dilaksanakan selama kurang lebih 7 hari. Saat-saat seperti itupun pasti mengingatkan saya akan keniscayaan mati. Jika saat ini orang lain yang kembali, satu saat saya yang akan kembali menghadap-Nya.

(Baca juga: Beginilah Kami Mengaji)

Hal-hal itu membuat saya berfikir, siapkah saya jika dijemput Malaikat Maut saat ini?

Ternyata, jauh didalam hati saya, jawabannya adalah belum. Terlalu banyak keburukan yang saya lakukan. Dan terlalu sedikit amal sholih yang saya kerjakan. Meskipun saya juga insya Allah tidak akan berputus asa atas rahmat Allah (QS. Yusuf : 87). Apa lagi yang saya harapkan selain rahmat-Nya? Karena amal saya tak seberapa, sedang dosa saya menggunung tinggi.

Barangkali yang saya rasakan seperti yang digambarkan oleh Abu Nawas dalam syair yang selalu kami baca saat acara berjanjen (pembacaan kitab al-barzanji). Artinya kurang lebih seperti ini:

Ilahi... Tidak layak hamba masuk ke surga-Mu
Tetapi hambapun tidak kuat menerima siksa neraka-Mu
Maka hambapun bertaubat, karena itu ampunilah dosa-dosaku
Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun atas dosa-dosa...

Dan...

Dengan berbagai peristiwa yang silih berganti, peristiwa yang berhubungan dengan kematian, selalu menjadi "nasehat" tersendiri. Bahwa hidup tak abadi, bahwa sayapun akan mati, bahwa saya harus mempersiapkan bekal menghadap-Nya, bahwa malaikat maut itu melaksanakan sebagaimana perintah Allah. Tak memilih usia, tak memilih kasta, tak memilih rupa, tak memilih....

Akan tetapi... ternyata saya masih sama seperti ini. Rabbighfirli dzunubi...


Thursday, 12 November 2015

PULANG



Pulang. Apa yang kau pikirkan dengan kata "pulang"? Hanya kata biasa saja? Sebiasa jika kau pulang dari main, pulang dari sekolah, atau pulang dari kerja?

Entahlah.

Aku sedang ingin beromantis-romantis, mungkin... Karena kata itu, entah kenapa pada saat ini seperti dekat dengan kata "rindu".
 
Dulu, ketika masih nyantri di Raudlatul Ulum Guyangan, aku selalu merindukan jadwal pulang. Aku senang di pondok. Belajar, mengaji, becanda bersama santri lain, merasakan iqob (hukuman) karena bandel, dan lain-lainnya. Meski aku senang, tetapi hangatnya rumah masih aku rindukan di tengah hangatnya suasana pondok.

Pun ketika aku kuliah di Jogja. Meski di Jogja ada banyak teman dan lebih banyak "tempat bermain" (misalnya mall :D), tetap saja pulang ke rumah selalu menjadi hal istimewa. Jauh dari rumah, kadang membuat aku jadi melankolis. Saat hujan, rindu bau tanah kampung halaman ketika hujan pertama. Saat makan, rindu makan bersama keluarga. Saat ada masalah, rindu pelukan ibu. Dan hal-hal melankolis lain.

Ternyata, ketika aku sudah bekerja, lalu harus dinas luar beberapa hari keluar kota, baru sampai di kota yang dituju, mendadak sudah rindu rumah. Rindu riuh rendah canda anak-anak, atau pertengkaran kecil ala mereka, atau pertanyaan-pertanyaan mereka. Ah... Mereka memang yang tercinta, yang tersayang dan yang terkasih yang aku miliki.

Pulang dan rindu menjadi dekat pada saat seperti itu. Aku rindu, karena itu aku ingin pulang. Barangkali begitu.

Ikatan yang kuat. Mungkin itu yang membuat hadirnya rindu. Kampung halaman tempat kelahiran. Rumah tempat kita dibesarkan. Keluarga yang biasanya menjadi tempat keluh kesah. Anak-anak yang menjadi penyejuk mata. Mereka semua ada dalam hati kita, mereka menjadi kecintaan kita. 

Ah... Tapi sebenarnya ingatanku tentang "pulang" itu, awalnya adalah karena ayat ini:

"Hai, jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku."
(QS. Al-Fajr: 27 - 30).

Jadi, pada siapa aku rindu? Siapa Tercintaku? Tempat pulangku yang abadi, dimanakah?
Sungguh, aku masih lagi mencari...

Friday, 30 October 2015

KETIKA DANA DESA (AKHIRNYA) TURUN

Dana-Desa
Pembangunan Desa

Tahun 2014 lalu, Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa telah disahkan. Paradigma yang ingin dibangun dari Undang-Undang Desa ini adalah dari "Membangun Desa" menjadi "Desa Membangun". Jadi, desa tidak lagi menjadi obyek pembangunan, melainkan subyek pembangunan. Jika sebelumnya desa hanya menunggu proyek-proyek dari pemerintah di atasnya untuk membangun desa, sekarang desa sendirilah yang merencanakan, mengelola, dan melaksanakan pembangunannya.

Undang-Undang ini sudah heboh di desa sejak disahkannya.
Karena seperti beberapa kali diberitakan, bahwa dengan adanya Undang-Undang tersebut, desa bahkan bisa mendapatkan kucuran dana dari APBN hingga 1,4 Milyar. Tetapi hingga sampai hampir di pertengahan tahun 2015 belum juga ada kabar tentang besaran dana yang akan diterima desa, desa mulai bertanya-tanya. Kapan Dana Desa akan terealisasi?

Oh ya, sebenarnya Dana Desa itu apa sih? 
 
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang Bersumber Dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, yang dimaksud Dana Desa adalah dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang diperuntukkan bagi desa yang ditransfer melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) kabupaten/kota dan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan dan pemberdayaan masyarakat.

Jadi, dana tersebut akan ditransfer ke rekening daerah kabupaten/kota terlebih dahulu. Dan kabupaten/kota kemudian akan mentransfer dana ke rekening desa setelah desa memenuhi persyaratan yang ditetapkan.

Besaran dana yang diperoleh desa tentu berbeda antara satu desa dengan desa lainnya. Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, pengalokasian dana desa dihitung secara berkeadilan berdasarkan: a) alokasi dasar; dan b) alokasi yang dihitung dengan memperhatikan jumlah penduduk, angka kemiskinan, luas wilayah dan tingkat kesulitan geografis desa. Kemudian penetapan alokasi dana desa tersebut dilakukan oleh Bupati/Walikota. 

Setelah melalui berbagai hal, akhirnya Dana Desa tersebut ditransfer ke rekening daerah pada bulan Juni tahun 2015. Dan hebohlah kami yang di desa. Heboh, bukan karena jumlah dananya, tetapi karena persyaratan yang harus dipenuhi untuk pencairan Dana Desa tersebut. Persyaratan-persyaratan semacam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDesa) dan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDesa) adalah yang paling sulit dipenuhi. Karena jujur saja, sebagian desa belum menyusun dokumen tersebut. 

Kamipun banyak berkoordinasi dan konsultasi dengan Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Bapermades) dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Pati, agar desa di wilayah Kecamatan Dukuhseti bisa menyusun dokumen RPJMDesa dan RKPDesa. Meskipun tidak sempurna, 12 desa di Kecamatan Dukuhseti telah menyusun dokumen tersebut. Ya, memang jauh dari sempurna. Selain waktu yang pendek, juga kemampuan perangkat desa tentunya berbeda-beda antara satu desa dan desa lainnya. Tetapi akhirnya... yes, Dana Desa Tahap I di Kecamatan Dukuhseti telah cair 100%, sedangkan Tahap II, masih ada 3 desa yang belum memenuhi persyaratannya.

Dengan pengalaman tahun ini, dimana alokasi Dana Desa masih 3% dari anggaran (APBN) transfer ke daerah, tentu desa harus berbenah. Karena tahun depan, jika kemampuan keuangan Negara bisa memenuhi, maka alokasi Dana Desa akan naik menjadi 6% dari anggaran transfer ke daerah, maka tentunya desa akan mendapatkan alokasi dana yang lebih besar. Artinya, pertanggungjawabannya pun lebih besar pula.

Jadi, meskipun dana desa menjadi angin segar bagi pemerintah desa, tetapi jika tidak diikuti dengan kemampuan pengelolaan keuangan yang baik, tentu akan menjadi masalah tersendiri bagi desa. Bisa jadi, setelah pemeriksaan oleh instansi pemeriksa, seperti Inspektorat, BPK atau pemeriksa lain, malah ditemukan banyak penyelewengan. Karena itu administrasi menempati posisi penting dalam hal ini (tentu saja pembangunan fisiknya juga penting).
 

Membangun drainase dengan Dana Desa

Karena desa mengelola dana sendiri, karena itu desa juga harus siap dengan segala hal yang berkaitan dengan administrasi pula. Tentu saja LPJ (Laporan Pertanggungjawaban) penggunaan dana desa tersebut, termasuk didalamnya. Administrasi menjadi penting karena obyek pemeriksaan pemeriksa, biasanya diawali dengan pemeriksaan administrasi. Jika administrasi beres, biasanya menjadi indikasi beresnya pekerjaan lain.

Namun, saat ini kemampuan SDM di desa belumlah mumpuni sebagaimana personil yang dimiliki dinas/instansi di kabupaten. Karena itu peningkatan kemampuan personil di tingkat desa sangat diperlukan. Apa saja yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas SDM di desa?

Pertama tentunya adalah pelatihan untuk kades dan perangkat desa lainnya. Pelatihan manajemen pemerintahan desa misalnya, perlu dilakukan agar kades dan perangkat desa lain mengetahui secara jelas tupoksi (tugas pokok dan fungsi) yang diembannya. Sehingga mereka bisa melaksanakan wewenang sesuai dengan tupoksi masing-masing. Atau pelatihan penatausahaan keuangan untuk bendahara desa. Sehingga dana besar yang diterima desa, bisa dipertanggungjawabkan, baik secara mutu maupun administrasi.

Kedua adalah monitoring yang lebih intensif dalam rangka pembinaan ke desa. Setelah pelatihan, pembinaan terus menerus ke desa perlu dilakukan, agar dari kecamatan maupun kabupaten atau instansi di tingkat lebih atas, bisa mengetahui sejauh mana pelatihan memberikan efek pada peningkatan kualitas SDM di desa. Selain itu, dengan monitoring intensif, jika ada hal yang belum sesuai jalurnya, bisa segera terdeteksi, kemudian bisa segera pula dilakukan pembinaan lanjutan.

Ketiga, peningkatan kapasitas kelembagaan lain di tingkat desa. Di desa biasanya ada lembaga desa lain seperti BPD, LPMD, Karang Taruna, PKK dan yang lainnya. Pelatihan untuk peningkatan kapasitas lembaga tersebut juga perlu dilakukan untuk keseimbangan pelaksanaan pemerintahan desa. Agar setiap lembaga bisa melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya. Lalu saling bersinergi untuk kepentingan desa.



Lalu... Semoga Dana Desa dapat memberi manfaat sebanyak-banyaknya bagi masyarakat desa sesuai kebutuhan masyarakat desa itu sendiri.

Tuesday, 27 October 2015

SELAMAT HARI BLOGGER NASIONAL




Sejujurnya, saya tahu kalau hari ini adalah hari blogger nasional dari status dan tweet yang berseliweran sedari pagi. Saya sih hanyalah seorang (ngaku-ngaku) blogger yang banyak tidak tahunya. Hehehe...

Tetapi dengan adanya hari blogger, sayapun jadi tersemangati untuk ngeblog. Buktinya, saya yang sudah 10 hari tidak buat blogpost langsung buat nih... :D

SELAMAT HARI BLOGGER NASIONAL.



Saturday, 17 October 2015

BERHIJAB DENGAN NYAMAN


Semua pastinya sudah mafhum tentang bagaimana berhijab yang syar'i bagi seorang muslimah. Seperti, menutup seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan, tidak membentuk tubuh, tidak menerawang, tidak menyerupai laki-laki, dan lain sebagainya.

Dan setiap orang punya style masing-masing dalam mempersepsikan hijab syar'i itu, yang pastinya membuat pemakai hijab menjadi nyaman dengan hijab yang dikenakannya.

Sedang bagi saya, hijab yang nyaman di hati adalah...

Sesuai kepribadian
Saya suka segala sesuatu yang simple atau sederhana, begitupun dalam berhijab. Jadi misalnya ada hijab dengan banyak manik-manik yang sangat bagus dipakai orang lain, tetapi hijab seperti itu tidak akan nyaman untuk saya. Atau ada yang memakai jilbab macam hijaber dengan aneka model yang kekinian, ah...rasanya saya justru tidak akan PD dengan tampilan seperti itu. Kenapa? Karena itu bukan saya.

Bagus untuk orang lain, belum tentu untuk saya. Begitupun sebaliknya. Kalau saya, cukup pakai gamis polos atau sedikit motif dan bergo saja. Untuk acara yang lebih formal, si bergo tinggal diberi hiasan bros. :)

Beda sikon, beda hijab
Dalam keseharian di rumah, saya menyukai daster dan jilbab bergo. Hijab seperti itu paling nyaman untuk pekerjaan rumah tangga. :D Tapi saya tidak mungkin memakai seperti itu saat ke kantor atau kondangan. Ya kan?
Penampakan saat bekerja di rumah. :)
Jadi, dimana kita berada, dalam keadaan seperti apa kita, pasti mempengaruhi bagaimana hijab yang kita pakai. Hijab yang dipakai saat kondangan tentu berbeda saat kita takziyah ke tempat orang meninggal. Dengan melihat sikon, harapannya kita tidak akan salah kostum. Kalau salah kostum, membuat kita tidak nyaman juga kan?
Hijab yang nyaman untuk ke kantor
Memakai celana panjang
Karena saya orang lapangan, jadi meskipun saya memakai rok, saya akan tetap memakai celana panjang sebagai dalamannya. Jadi saya tetap bebas bergerak, mau lompat, mau lari, mau naik, mau apa saja. Memakai celana panjang membuat saya tidak khawatir aurat saya akan terlihat ketika saya aktif bergerak.

Ada celana panjang dibalik rok. :D
Itu saja sih hijab yang nyaman di hati menurut saya. Ini hanya tentang pilihan. Karena sejatinya kewajiban muslimah adalah berhijab sesuai tuntunan agama, sedangkan model hijab pasti setiap orang mempunyai selera yang berbeda-beda. Jadi, bagaimana hijab nyaman di hati menurutmu?


Friday, 9 October 2015

TIPS TENANG MENINGGALKAN ANAK KELUAR KOTA

Sebagai PNS, kadang saya ditugaskan dari kantor untuk perjalanan dinas keluar kota berhari-hari. Misalnya untuk pelatihan, yang biasanya dilaksanakan di luar kota dan harus menginap di tempat pelatihan sampai beberapa hari.


Pelatihan Setrawan di Hotel Kesambi Semarang

Karena perjalanan dinas itu, saya harus meninggalkan anak-anak yang masih kecil. Si Sulung, saya tinggal keluar kota untuk pertama kali ketika berusia 5 bulan, yaitu ke Jawa Timur selama 3 hari. Si Tengah pertama kali saya tinggal saat 9 bulan, yaitu ke Semarang selama 4 hari. Sedangkan Si Bungsu saya tinggalkan baru-baru ini selama 4 hari ke Semarang saat usianya 1 tahun. Selama ini rekor terlama adalah ke Jogja selama 6 hari, ketika baru ada Si Sulung dan Si Tengah, ketika mereka 5 dan 3 tahun.


Sebagai ibu, pasti berat meninggalkan anak-anak yang masih kecil, apalagi ketika mereka masih minum asi. Mungkin ada kekhawatiran juga, bagaimana kalau mereka nanti rewel, apakah suami kita bisa mengatasi ketika mereka rewel, atau kekhawatiran yang lain.


Namun, saya bersyukur punya tim yang hebat, yaitu keluarga saya. #bighug untuk mereka. 


Dan ini tips ala-ala saya saat harus meninggalkan anak-anak keluar kota:


1. Ijin Suami

Saya selalu bercerita terlebih dahulu kepada suami sekaligus memberi gambaran kenapa saya harus berangkat. Misalnya jika pelatihan, apa pentingnya untuk tugas saya sehari-hari. Lalu kami bicarakan juga bagaimana nanti agar anak-anak tetap terperhatikan meski bundanya tidak ada. 

Nah, kalau semua sudah dibicarakan dan suami ridho, hati pasti tenang.


2. Minta Bantuan Keluarga

Selalu menjalin silaturahim dengan saudara pasti ada manfaatnya. Meskipun saat menjalin hubungan dengan saudara, niat kita tulus lillahi ta'ala. Tetapi berkahnya pasti terasa saat kita membutuhkan. 

Seperti saat saya harus dinas keluar kota, saya bisa minta bantuan saudara untuk ikut menjaga anak-anak. Jadi, saya juga bisa bertugas dengan tenang karena ada yang membantu suami mengawasi anak-anak. 


3. Komunikasi dengan Anak

Hari-hari sebelum pergi, biasanya saya sudah mengatakan kepada anak-anak. Bahwa saya akan pergi kesini, untuk urusan ini, selama berapa hari. Ditambah pesan-pesan untuk mereka juga. Agar mereka selalu sholihah (3 anak saya putri semua), tidak merepotkan abi, dsb. Bahkan ketika anak-anak saya belum bisa bicara dan entah paham dengan yang saya katakan atau tidak, saya selalu berbicara seperti itu kepada mereka. 

Biasanya ketika saya tinggalkan, mereka lebih kooperatif dengan abinya. Mungkin kalimat-kalimat itu benar-benar masuk di hati mereka ya... :) 


4. Siapkan Kebutuhan Harian

Biasanya saya sudah belanja untuk kebutuhan makan beberapa hari sebelum berangkat tugas. Tahu, tempe, telur, ikan, sayur semua ada di kulkas. Jadi, yang di rumah tidak perlu memikirkan belanjaan lagi. Mereka tinggal memasaknya. Sebenarnya bisa juga membeli masakan jadi sih... Tetapi keluarga saya lebih suka masakan sendiri, meski hanya tempe goreng dan sambal. :)

Termasuk kebutuhan susu untuk anak yang masih minum susu. Kalau yang masih asi, stok asinya juga jangan dilupakan. Ok?


5. Pasrahkan pada Allah

Saya selalu percaya pada suami dan keluarga, bahwa mereka pasti bisa menangani anak-anak. Lalu tawakkal kepada Allah, percaya bahwa semua akan baik-baik saja.

Jika hati kita tenang, insya Allah anak kitapun merasa tenang juga dan tidak rewel. Jika kita tidak tenang dan selalu merasa gelisah, mereka juga bisa merasakannya lho...



Tentu saja merekapun saya rindukan
Begitu tips ala-ala saya. Jangan lupa selalu berdo'a mohon kebaikan untuk semuanya. 

Saturday, 3 October 2015

KENANGAN PENUH WARNA DARI MASA KECIL

Saya generasi 80-an dan tinggal di desa. Masih merasakan asyiknya main petak umpet, sudah manda, gobak sodor, dan permainan tradisional lain.
Namun, selain tentang permainan tradisional, ada juga beberapa kenangan tentang masa kecil saya yang penuh warna.

Padang Rumput Tempat Bermain
Dulu di depan rumah saya ada padang rumput yang luas. Setiap hari ada sapi dan kambing yang dibawa pemiliknya untuk merumput disana. Sapi-sapi dan kambing-kambing itu cukup diikat dan dibiarkan makan rumput sampai kenyang. Pemiliknya bahkan tak perlu menjaga seharian. Dan semua baik-baik saja pada waktu itu. 

Kami juga suka bermain di sana saat sore hari. Berkejaran atau mencari sesuatu di antara rerumputan. Ketika musim angin, di padang rumput itu akan ramai anak lelaki bermain layang-layang. Ada yang sekedar bermain ada juga yang saling mengadu layang-layangnya.

Di seberang jalan itu dulu padang rumput berada
Sekarang di tanah itu, yang merupakan tanah milik PJKA sudah berdiri rumah-rumah. Padang rumput hijau itu hilang sudah. :(

Bermain di Sawah
Waktu kecil saya punya 'geng' yang sering bermain ke sawah. Kami berjalan menyusuri pematang sawah, berteduh di gubuk sawah atau bermain diantara lumpur. Tetapi kegiatan favorit kami adalah mencari buah ciplukan diantara sela-sela tanaman tebu, dan mengumpulkannya di kantung plastik.

Ciplukan yang ternyata banyak khasiatnya. Gambar dari sini


Pernah juga timbul kenakalan kami yaitu dengan 'mengambil' beberapa batang tebu dari sawah milik orang entah siapa. Beruntungnya, kami ketahuan. Jadi deh, kami berlarian dikejar bapak penjaga tebu. :D

Anak-anak lelaki biasanya mengupas kulit tebu dengan gigi mereka, lalu menyesap manisnya daging tebu sebelum membuang sepahnya. Kalau saya biasanya membawa tebu itu ke rumah untuk dikupas dengan pisau, lalu dagingnya diiris kecil-kecil, ditaruh di piring, baru deh disesap air manisnya.

Mungkin karena keseringan main di sawah, makanya waktu kecil kulit saya hitam. Dan sampai sekarangpun masih... :D
Dulu dan kini, tetap hitam :D

Mengaji Turutan dan Berpindah-pindah Tempat Mengaji
Karena dulu belum ada bermacam-macam metode mengaji, kami mengaji dengan menggunakan kitab yang kami sebut turutan.

Seperti inilah turutan. Gambar dari sini
Kami akan menyelesaikan mengaji turutan ini sebelum nantinya naik ke Al-Qur'an.

Nah, kalau sudah khatam mengaji Al-Qur'an pada satu guru, biasanya kami akan pindah mengaji pada guru lain sampai khatam lagi. Guru ngaji pertama saya bernama Mbah Aminah (semoga Allah merahmati beliau). Beliau mengajarkan turutan, kemudian berlanjut ke Al-Qur'an. Setelah khatam, saya mengaji kepada Bu Muflihah, Bu Halimah, dan yang terakhir dengan Mbah Budur (semoga Allah merahmati beliau semua).  Begitulah saat itu. Kami tidak cukup khatam sekali. Tetapi kami tetap akan mengajikan bacaan Al-Qur'an pada guru-guru ngaji kami.

Pada waktu itu busana muslim belumlah semarak seperti sekarang, dimana banyak gamis imut untuk anak-anak mengaji. Dulu, tidak masalah mengaji memakai baju pendek, yang penting memakai kerudung. Karena itulah, setelah mengaji kami bisa melepas kerudungnya dan langsung bermain. Paling seru bermain petak umpet di sore hari.

Seperti itulah sebagian warna-warni dari masa kecilku. Bagaimana warna di masa kecilmu?


Wednesday, 30 September 2015

JALAN KEBAIKAN


"Perjuangan meniti jalan kebaikan mungkin akan menjadi jalan panjang, yang ujungnya adalah saat kita kembali menghadap-Nya."
~Ummi Nadliroh~


Wednesday, 23 September 2015

ANTARA MANUSIA DAN SISTEM


Siti baru saja keluar dari sebuah kantor pemerintahan. Ia menuju motor yang ia parkir di halaman kantor itu. Ada yang mengguncang hatinya. Ingin rasanya ia menangis atau marah, tapi rasanya kok memalukan. 

Dulu, Siti selalu mempertanyakan, "Dalam sebuah pemerintahan, manusia atau sistem yang baik yang harus didahulukan." Lama ia berkutat dengan pertanyaan itu, tapi ia belum menemukan jawabannya.

Sebenarnya Siti hampir percaya bahwa sistem yang baik harus diutamakan. Jika semua sistem telah tertata dengan baik, regulasi dibuat, stakeholder penanggung jawab peraturan diberikan pembekalan yang memadai, ia yakin manusianya akan mengikuti.

Tapi kejadian hari ini justru membuatnya menemukan jawaban yang berbeda. Manusialah yang harus diperbaiki terlebih dahulu, baru sebuah sistem berjalan dengan baik.

Siti mulai menaiki motor plat merahnya. Ya, sejak beberapa bulan lalu ia memang menduduki jabatan sebagai kepala desa. Dan karena jabatan itulah, ia menemukan jawaban atas banyak pertanyaannya tentang bagaimana sebuah pemerintahan dijalankan.

Dalam perjalanan pulang menuju kantor desanya, Siti masih menggalau. Ia malah mengingat banyak fakta lain. Misalnya tentang bagaimana korupsi yang masih merajalela. Padahal kita punya polisi, kejaksaan, bahkan lembaga anti rasuah. Bukankah aturan itu sudah dibuat sedemikian ketat, dan banyak lembaga mengawal jalannya aturan itu. Tapi mengapa korupsi juga masih ada? Fakta itu makin meyakinkan Siti, bahwa mental manusia yang harus diperbaiki terlebih dahulu. 

Siti jadi ingat lagi dengan kejadian di kantor pemerintahan tadi. Seorang pegawai disana mengatakan padanya, "Bu, kalau dana itu sudah cair, tolong yang disini dipikirkan ya..."

Gubrak! Siti sesaat tak bisa berkata-kata. Ia terlalu takjub dengan permintaan itu. Ini pengalaman baru untuknya. Siti melirik pamflet yang dipasang di papan pengumuman kantor itu. Pamflet yang menggambarkan bagaimana tahapan bantuan itu hingga sampai ke penerimanya. Ada tulisan besar disana, "Bantuan dari pemerintah. Tanpa potongan apapun." Dan Siti hanya tersenyum, lalu berpamitan.

Pertanyaan lain tiba-tiba menyeruak di benaknya, seperti inikah berada dalam sistem? Rasanya guyonan yang mengatakan bahwa aturan itu dibuat untuk dilanggar kok ada benarnya, jika mental manusianya masih seperti itu.

Siti jadi ingat dulu pernah mengaji, "Allah melaknat orang yang menyuap, orang yang menerima suap, dan orang yang menjadi perantara keduanya." HR. Al-Hakim.

Sitipun menangis dalam diam, masih dalam perjalanan pulang menuju amanahnya di kantor desa.

Tuesday, 22 September 2015

MUHASABAH: MELIHAT DIRI LEBIH DALAM LAGI



Katanya "Al insanu mahalul khotho' wannisyan", manusia itu tempatnya salah dan lupa. Sedangkan orang di daerah saya mengatakan, manusia adalah menuso yang jika dibuat sanepo menjadi 'menus-menus kakehan dosa'. Yah... Intinya sama sih, manusia itu banyak salahnya. Meski pintu taubat masih terbuka, apa iya kita terus-terusan melakukan kesalahan yang sama, tanpa memperbaikinya?

Ada lagi masalah kita, kadang kita memperlakukan kesalahan seperti kata peribahasa, "Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak." Kesalahan orang lain yang keciiil sekali, tampak sangat besar di mata kita. Sedangkan kesalahan kita yang besaaar, kita sama sekali tak merasa. Itu sih saya...

Muhasabah sebagai sarana memperbaiki diri
Muhasabah berasal dari akar kata hasiba yahsabu hisaban, yang secara bahasa artinya melakukan perhitungan.

Umar bin Khottob pernah berkata, "Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang, karena lebih mudah bagi kalian menghisab diri kalian hari ini daripada besok (hari kiamat). Dan bersiaplah untuk menghadapi pertemuan besar, ketika itu kalian diperlihatkan dan tidak ada sesuatupun pada kalian yang tersembunyi."

Itulah yang disebut muhasabah, yaitu upaya evaluasi diri terhadap apa yang sudah kita kerjakan, baik atau buruk, menyangkut hablu minallah (hubungan dengan Allah) atau hablu minannas (hubungan antar manusia), tujuannya agar kita dapat selalu meningkatkan kualitas diri sebagai hamba Allah SWT.

Jujur pada diri sendiri
Menurut saya, bagian penting dari muhasabah adalah jujur pada diri sendiri. Jika kita salah, kita harus mengakuinya. Kalau kita selalu merasa benar (meski sebenarnya salah), bagaimana kita akan memulai perbaikan diri?

Saat kita mengalami konflik dengan orang lain, misalnya, seringkali rasa keakuan menyebabkan kita tak mau mengakui bahwa kita memang salah. Kita mempertahankan pendapat kita hanya karena ego kita. Nah, hal seperti itu mungkin saja terjadi, padahal kita sedang muhasabah.
"Ah, aku tidak salah kok..."
"Orang lain juga melakukannya. Berarti benar kan?"
"Hanya dosa kecil juga..."
Mungkin ada hati yang berbicara seperti itu.

Agar kita tak salah melangkah, ada baiknya kita...

Menyendiri, lihat lebih dalam lagi
Menyendiri di tempat sepi, mungkin akan membantu kita bisa jujur sejujur-jujurnya. Saat hanya ada diri sendiri (dan Allah yang selalu mengawasi), masak sih kita tetap akan membohongi hati? Mungkin saat malam setelah sholat lail? Atau seperti orang-orang dulu yang sengaja menyepi ke gunung untuk bertapa? :)

Mari jujur. Kalau perlu buat list amal baik apa yang sudah bisa rutin kita kerjakan. Agar kita bisa selalu menjaganya. Juga kesalahan dan dosa (meski kecil) apa saja yang telah kita lakukan. Agar kita bisa memperbaikinya.

Lalu apa?

Perbaiki
Kalau kita sudah membuat list dengan jujur, mari ditindaklanjuti. Amal baik, tentu kita pertahankan. Bagaimana dengan kesalahan dan dosa? Jika itu berhubungan dengan dosa kepada Allah, mari kita bertaubat. Jika itu menyangkut hak orang lain, tentunya kita harus meminta maaf terlebih dahulu kepada orang tersebut.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhori, dari Abu Hurairah RA, Rasullah SAW bersabda, "Barangsiapa pernah melakukan kedzaliman terhadap saudaranya, baik menyangkut kehormatannya atau sesuatu yang lain, maka hendaklah ia minta dihalalkan darinya hari ini, sebelum dinar dan dirham tidak berguna lagi (hari kiamat). Kelak jika ia memiliki amal shaleh, akan diambil darinya seukuran kedzalimannya. Dan jika ia tidak memiliki kebaikan (lagi), akan diambil keburukan dari saudara (yang didzalimi), kemudian dibebankan kepadanya."

Sejujurnya, bagi saya, yang terakhir ini terasa lebih sulit. Mengaku salah pada orang lain dan meminta maaf. Jika 'hanya' minta maaf ketika lebaran dengan mengatakan "Mohon maaf lahir batin ya...", mungkin lebih mudah ya... Tapi mengatakan kesalahan kita secara khusus (misalnya kita ngrasani teman kita), lalu meminta maaf, hm... Mungkin ada rasa malu ya... Tetapi seperti itulah seharusnya.

Penutup
Menjadi baik di 'mata' Allah, pasti butuh perjuangan tersendiri. Sayapun sedang berusaha. Meski telah jujur pada hati tentang salah dan dosa kita, terasa berat sekali ketika akan melangkah ke titik selanjutnya. Misalnya kita mengakui bahwa ngrasani orang lain itu dosa, tetapi ketika bertemu dengan teman-teman, menggosip menjadi acara yang tak terhindarkan.

Tapi hidup terus berjalan menuju kepada-Nya. Dan kita terus berproses untuk memperbaiki diri. Semoga Dia selalu membimbing kita menuju kebaikan. Sebagaimana yang senantiasa kita baca waktu sholat, "Ihdinash shirothol mustaqim, tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus."

Semoga saat kembali pada-Nya, kitapun dalam ridho-Nya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...