Friday, 30 January 2015

RESOLUSI BLOG 2015 - INGIN LEBIH BAIK

Aku memulai blog ini di akhir tahun 2013. Masih sangat baru ya... Sebelumnya pernah buat blog, tapi lama tidak nulis, lupa password, ya sudah buat blog baru dan menguatkan tekad untuk merawat blog dengan sebaik-baiknya. Tapi ternyata tekadku tak cukup kuat, hiks... Tahun 2013 aku punya 12 postingan, ternyata di tahun 2014, aku hanya punya 6 postingan saja... huahahaha (nangis guling-guling). Tahun 2015 bagaimana? Bismillah...

Beruntung aku menemukan Indonesian Hijab Blogger (IHB). Sudah lama sebenarnya aku ingin ikut komunitas blogger, tapi malu (tutup muka nih...). Lihat blog yang keren-keren, jadi tidak PD untuk gabung. Secara blogku masih lugu banget. Namun aku memutuskan untuk membuang jauh-jauh rasa maluku. Aku ingin belajar. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?

Pertama ketemu IHB langsung menemukan postingan "IHB January Blog Post Challenge". Jadi semakin memantapkan resolusi blog-ku di Tahun 2015 ini. Ada banyak hal yang ingin aku perbaiki dalam dunia per-blogging-anku, diantaranya:
1. Ingin memiliki komunitas blogger yang bisa memantik semangatku dalam menulis. Agar aku bisa memperbaiki cara menulis ataupun tampilan blogku. Juga ilmu blogging lainnya.
2.  Harus bisa posting tulisan paling tidak seminggu sekali.
3.  Memperbanyak blog walking, untuk belajar dari blogger lain, dan tak lupa meninggalkan jejak.
4.  Mengikuti ajang kompetisi menulis di blog, baik give away atau kompetisi lain.

Tak ingin membuat terlalu banyak resolusi, tapi tak mampu mencapainya. Semoga resolusiku tercapai di tahun 2015 ini. Aamiin.

Tulisan ini diikutkan dalam IBH Blog Post Challenge



Tuesday, 27 January 2015

AYAM-AYAM ABI

Sebagian Ayam kami

Di rumah, kami memelihara ayam. Eh, lebih tepatnya Abi yang memelihara ayam. Tiap pagi dan sore beliau yang selalu memberi makan ayam-ayam itu. Makanannya sederhana saja, bekatul dicampur dengan nasi sisa makan kami sekeluarga, lalu diuleni dengan air. Ayam-ayam itu akan lahap memakannya. 

Baiknya ayam kami itu, ayam kami tipe ayam yang mau diajak ngirit. Mereka lebih suka bekatul yang kasar daripada yang halus. Yang kasar kan lebih murah. ;) Pernah karena di pasar kami kehabisan bekatul kasar, jadi kami beli yang halus. Ayam-ayam kami tak berselera memakannya. Sejak itu, tidak lagi-lagi kami membeli bekatul halus. Ayam baik ya...

Tiap pagi, ayam-ayam itu kami lepas. Meski pekarangan belakang rumah kami tertutup, tetap saja ayam-ayam itu punya cara untuk keluar dari sana. Mereka suka jalan-jalan, ngobrol-ngobrol mungkin, dengan ayam tetangga. :) 
Kadang ada juga ayam tetangga yang main ke halaman belakang rumah kami. Bahkan menginap di kandang ayam kami. Eh, kelakuan seperti itu juga dilakukan ayam-ayam kami. Ada saja ayam kami yang tak pulang walau sudah menjelang maghrib. Esoknya, ada tetangga yang bilang, "Mbak, ayamnya semalam nginap di tempat kami." Beruntung kami hidup di desa yang lekat kepedulian dengan tetangga. Jadi ayam kami yang semalam tak kembali, selalu ada yang mengantar keesokan harinya.

Motivasi kami memelihara ayam bukan untuk profit. Kami belum pernah menjual ayam-ayam kami. Motivasi pertama kami memelihara ayam-ayam itu adalah agar sisa-sisa makanan kami tak terbuang percuma. Ayam-ayam itu sangat membantu dalam menghabiskan sisa-sisa makanan kami. Misalnya, anak-anakku tak menghabiskan makannya. Sisanya akan kami tempatkan di wadah khusus, lalu kami gunakan untuk campuran makanan ayam. Kadang juga kami berikan langsung kepada ayam-ayam itu sebagai cemilan. Hehe... Kan makannya sudah disiapkan khusus yang pakai bekatul...

Pernah ayam kami habis karena sakit. Satu persatu mati, tertular penyakit ayam lainnya. Kami kelabakan setiap ada makanan sisa. Sisa makanan itu 'hanya' berakhir di blumbang (lubang besar untuk membuang sampah). Eman ya... Alhamdulillah, kami diberi dua ekor ayam, jantan dan betina oleh mertuaku. Sangat membantu untuk menghabiskan sisa makanan tadi. Dua ekor ayam jantan dan betina itu sekarang sudah menjadi puluhan lho...

Motivasi lainnya, agar lebih hemat. Si Abi suka masakan ayam, baik digoreng atau dibumbui apapun. Tapi maunya ayam kampung. Kalau beli, berapa tuh... Apalagi kalau pas harga melambung tinggi. Jadi, kalau sedang ingin makan ayam, ayamnya tinggal disembelih sama Abi, dibersihkan juga oleh Abi, lalu dipotong-potong oleh Abi. Aku terima bersih saja, tinggal mengolah jadi masakan. Paling suka dibuat sop ayam. Kaldunya untuk sop, sedang ayamnya digoreng. Lalu dibuatkan sambel kecap. Semua suka, Abi juga anak-anak.

Ada juga cerita penghematan lainnya. Misalnya, kami pergi berlibur bersama keluarga. Agar tak menghabiskan banyak biaya untuk makan, kami sembelih saja ayam kami. Kami buatkan sambal terasi dan lalapan. Bersama nasi, ayam goreng, sambal dan lalapan sudah bisa jadi bekal untuk liburan kami. Benar-benar hemat kan?
Ayam, sambal dan lalapan. Gb dari sini
Ternyata memelihara ayam ada nilai silaturahimnya juga lho... Pernah mertuaku mengadakan pengajian yang membutuhkan beberapa ekor ayam. Kebetulan ayam kami sudah berkembang banyak, hampir 30-an waktu itu. Yang kami sendiri kewalahan memberi makan. Kami jadi sering membeli bekatul untuk ayam-ayam kami. Jadi, ketika mertuaku mengadakan pengajian, kesempatan kami memberikan beberapa ekor ayam untuk acara pengajian itu. Alhamdulillah, kami bisa membantu dengan ayam-ayam peliharaan kami itu. Dan semoga, bisa bernilai ibadah juga. :)

Senangnya memelihara ayam...

Saturday, 10 January 2015

SHARINGKU: MENGAJAK ANAK MENGERJAKAN SHOLAT

Pada suatu hari ketika kita sudah berada di Yaumul Mizan, semua orang berkumpul di Padang Mahsyar. Semua orang resah menunggu panggilan. Tiba-tiba Malaikat memanggil nama Fathiya.
"Fathiya," panggil Sang Malaikat.
Lalu Fathiyapun maju. Buku amal Fathiya dibuka. Pertama kali Malaikat membuka amal sholat Fathiya. Ternyata, sholat Fathiya bagus. Fathiya rajin sholat, khusyu' dan tertib.
"Fathiya, karena sholatmu bagus, kamu langsung masuk surga," kata Malaikat.
Fathiyapun bahagia. Dengan ridho Allah, Fathiya masuk ke dalam surga, karena sholat yang selalu dijaga waktu masih didunia. Tamat.

Itu adalah cerita rekaanku menjelang tidur untuk Fathiya (6,5 tahun) dan Hana (4 tahun). Kadang kugunakan nama Fathiya, kadang menggunakan nama Hana. Selalu ada pertanyaan dan pernyataan tiap kali aku menyelesaikan cerita.
"Di surga itu ada rumah yang seperti rumahnya barbie ya Bunda?" tanya Fathiya yang penggemar film barbie.
"Insya Allah, bahkan lebih bagus," jawabku.
"Kalau aku rajin sholat, nanti dibelikan jam ya bunda," begitu kadang-kadang Hana meminta. Kadang juga dengan permintaan yang lain.
"Insya Allah...," janjiku.
Entah mereka faham dengan maksud ceritaku atau belum. Tapi cerita itu hanya sebagian motivasi untuk mereka agar mereka rajin sholat.

Mengajak anak menjalankan sholat adalah perjuangan tersendiri menurutku. Sholat subuh dan ashar yang menurutku paling sulit. Pada saat sholat subuh mereka masih mengantuk, sedangkan waktu ashar adalah waktu mereka sedang asyik-asyiknya bermain. Tetapi cinta itu memang butuh perjuangan ya... :) Jika kita mencintai anak-anak kita, tak apalah bersusah-susah sekarang membimbing mereka dalam hal sholat ini. Dan buahnya, akan kita petik nanti. 


Dalam hal mengajak sholat ini, aku belajar dari banyak orang, sharing juga bersama teman-teman. Termasuk mengingat bagaimana dulu orang tuaku mengajarkan salah satu kewajiban paling penting bagi seorang Muslim ini. Menurutku, hal-hal di bawah ini yang bisa kita lakukan sebagai orang tua.

1. Niat
Luruskan niat hanya karena Allah. Niat ini penting, agar ketika kita menghadapi sedikit kesulitan mengajak anak-anak sholat, kita tak lantas jadi melempem. 

2.Konsisten
Setelah niat, konsistensi ini penting. Pengalamanku sendiri, ketika aku sudah capek dari kantor, kadang aku malas mengajak anak-anak sholat. Penolakan mereka penyebabnya. Kalau mereka sudah asyik bermain, biasanya akan lebih sulit mengajak mereka sholat. Tapi jika ingin merasakan buah yang manis, kita memang harus sabar menghadapi kesulitan itu. :)

3. Menanamkan pemahaman
Bahwa sholat itu adalah kewajiban bagi seorang Muslim. Bahwa yang membedakan muslim dan bukan muslim adalah sholatnya, dan lain sebagainya. Mungkin mereka belum paham saat ini dengan cerita-cerita yang kita sampaikan. Tapi menanamkan pemahaman sejak dini, membuat mereka terus ingat saat dewasa nanti.

4. Reward dan punishment
Karena pemahaman anak-anak masih terbatas, memberikan mereka motivasi dengan hadiah, bisa juga dilakukan. Begitu juga sebaliknya, hukuman yang tidak menyakiti anak juga bisa diberikan ketika mereka tidak mengerjakan sholat. Tetapi sebelum dilakukan reward and punishment, perlu dikomunikasikan dengan anak. Kenapa mereka harus sholat dan apa hadiah jika mereka mengerjakan sholat, lalu apa hukumannya jika mereka tidak mengerjakan.

5. Teladan
Tidak mungkin kan kita menyuruh mereka sholat yang baik, sedang kita tidak memberikan contoh? Karena keteladanan itu melebihi seribu kata-kata. :D

6. Kekompokan ayah dan bunda
Jangan sampai salah satu orang tua menyuruh sholat, sedang yang lainnya tidak memberikan contoh.

7. Do'a
Jangan lupa berdo'a. Seperti do'a Nabi Ibrahim di Surat Ibrahim ayat 40:
 14:40
Artinya: "Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan sholat; Ya Tuhan kami, perkenankanlah do'aku."

Yang aku sampaikan hanyalah sebagian usaha yang bisa dilakukan untuk mengajak anak mengerjakan sholat. Bagaimanapun setiap anak mempunyai karakter yang berbeda. Kita orang tua yang paling bisa memahami, metode apa yang akan kita pakai agar anak dengan suka hati mengerjakan kewajiban tersebut.

Kewajiban kitalah sebagai orangtua untuk mendampingi mereka agar mereka menjadi orang-orang yang taat pada Tuhannya. Saat ini mereka mungkin baru bisa "mengerjakan" sholat, suatu saat semoga mereka bisa "mendirikan" sholat. Sholat yang bisa mencegah mereka dari perbuatan keji dan munkar (QS. Al-Ankabut: 45). Sholat yang tidak membuat mereka celaka karena mereka lalai dan ria (QS. Al-Ma'un : 4-6). Semoga.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...