Tuesday, 27 January 2015

AYAM-AYAM ABI

Sebagian Ayam kami

Di rumah, kami memelihara ayam. Eh, lebih tepatnya Abi yang memelihara ayam. Tiap pagi dan sore beliau yang selalu memberi makan ayam-ayam itu. Makanannya sederhana saja, bekatul dicampur dengan nasi sisa makan kami sekeluarga, lalu diuleni dengan air. Ayam-ayam itu akan lahap memakannya. 

Baiknya ayam kami itu, ayam kami tipe ayam yang mau diajak ngirit. Mereka lebih suka bekatul yang kasar daripada yang halus. Yang kasar kan lebih murah. ;) Pernah karena di pasar kami kehabisan bekatul kasar, jadi kami beli yang halus. Ayam-ayam kami tak berselera memakannya. Sejak itu, tidak lagi-lagi kami membeli bekatul halus. Ayam baik ya...

Tiap pagi, ayam-ayam itu kami lepas. Meski pekarangan belakang rumah kami tertutup, tetap saja ayam-ayam itu punya cara untuk keluar dari sana. Mereka suka jalan-jalan, ngobrol-ngobrol mungkin, dengan ayam tetangga. :) 
Kadang ada juga ayam tetangga yang main ke halaman belakang rumah kami. Bahkan menginap di kandang ayam kami. Eh, kelakuan seperti itu juga dilakukan ayam-ayam kami. Ada saja ayam kami yang tak pulang walau sudah menjelang maghrib. Esoknya, ada tetangga yang bilang, "Mbak, ayamnya semalam nginap di tempat kami." Beruntung kami hidup di desa yang lekat kepedulian dengan tetangga. Jadi ayam kami yang semalam tak kembali, selalu ada yang mengantar keesokan harinya.

Motivasi kami memelihara ayam bukan untuk profit. Kami belum pernah menjual ayam-ayam kami. Motivasi pertama kami memelihara ayam-ayam itu adalah agar sisa-sisa makanan kami tak terbuang percuma. Ayam-ayam itu sangat membantu dalam menghabiskan sisa-sisa makanan kami. Misalnya, anak-anakku tak menghabiskan makannya. Sisanya akan kami tempatkan di wadah khusus, lalu kami gunakan untuk campuran makanan ayam. Kadang juga kami berikan langsung kepada ayam-ayam itu sebagai cemilan. Hehe... Kan makannya sudah disiapkan khusus yang pakai bekatul...

Pernah ayam kami habis karena sakit. Satu persatu mati, tertular penyakit ayam lainnya. Kami kelabakan setiap ada makanan sisa. Sisa makanan itu 'hanya' berakhir di blumbang (lubang besar untuk membuang sampah). Eman ya... Alhamdulillah, kami diberi dua ekor ayam, jantan dan betina oleh mertuaku. Sangat membantu untuk menghabiskan sisa makanan tadi. Dua ekor ayam jantan dan betina itu sekarang sudah menjadi puluhan lho...

Motivasi lainnya, agar lebih hemat. Si Abi suka masakan ayam, baik digoreng atau dibumbui apapun. Tapi maunya ayam kampung. Kalau beli, berapa tuh... Apalagi kalau pas harga melambung tinggi. Jadi, kalau sedang ingin makan ayam, ayamnya tinggal disembelih sama Abi, dibersihkan juga oleh Abi, lalu dipotong-potong oleh Abi. Aku terima bersih saja, tinggal mengolah jadi masakan. Paling suka dibuat sop ayam. Kaldunya untuk sop, sedang ayamnya digoreng. Lalu dibuatkan sambel kecap. Semua suka, Abi juga anak-anak.

Ada juga cerita penghematan lainnya. Misalnya, kami pergi berlibur bersama keluarga. Agar tak menghabiskan banyak biaya untuk makan, kami sembelih saja ayam kami. Kami buatkan sambal terasi dan lalapan. Bersama nasi, ayam goreng, sambal dan lalapan sudah bisa jadi bekal untuk liburan kami. Benar-benar hemat kan?
Ayam, sambal dan lalapan. Gb dari sini
Ternyata memelihara ayam ada nilai silaturahimnya juga lho... Pernah mertuaku mengadakan pengajian yang membutuhkan beberapa ekor ayam. Kebetulan ayam kami sudah berkembang banyak, hampir 30-an waktu itu. Yang kami sendiri kewalahan memberi makan. Kami jadi sering membeli bekatul untuk ayam-ayam kami. Jadi, ketika mertuaku mengadakan pengajian, kesempatan kami memberikan beberapa ekor ayam untuk acara pengajian itu. Alhamdulillah, kami bisa membantu dengan ayam-ayam peliharaan kami itu. Dan semoga, bisa bernilai ibadah juga. :)

Senangnya memelihara ayam...

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah memberikan komentar di blog saya. Mohon untuk memberi komentar dengan kata yang santun. Terima kasih. :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...