Wednesday, 4 March 2015

KETERGANTUNGAN LISTRIK

Satu ketika listrik di kantor mati. Kalau sudah seperti itu, kami menghentikan pekerjaan kami. Bagaimana lagi? Hampir semua peralatan kantor terhubung dengan listrik. Terutama komputer dan printer yang menjadi piranti utama pekerjaan kami. Ah... Sepertinya kita benar-benar punya ketergantungan yang besar dengan listrik (a.k.a PLN) ya...

Jadi ingat waktu kecil dulu, aku "ngumani" masa belum ada listrik. Jadi, tiap sore hari bapak menghidupkan lampu petromak yang sumber energinya adalah spiritus. Masih terkenang saat menunggui bapak menghidupkan lampu petromak, tanganku terkena spiritus yang berwarna biru dan rasanya dingin. Kemudian merasa senang saat petromak menyala setelah bapak cukup lelah memompanya.

Saat malam tiba, di halaman rumah tak sebenderang sekarang. Jadi kunang-kunang suka berdatangan, indah bercahaya diantara gelapnya malam. Sekarang, rasanya aku sudah tak pernah menemukan kunang-kunang lagi di halaman rumahku. Mungkin mereka tak suka dengan cahaya lampu yang sekarang memenuhi malam.

Waktu itu televisi belum banyak yang punya. Beruntungnya, salah satu yang punya televisi itu saudara sebelah rumah. Jadi, bisa nebeng nonton di sana. Tiap hari minggu di TVRI ada Ria Jenaka dan Safari, yang menjadi tontonan wajib. Kalau bapak-bapak suka nonton tinju yang kadang ditayangkan di TVRI. Aku mengenal nama Mike Tyson dari pembicaraan bapak-bapak. Wah... ramai sekali kalau mereka nonton tinju sama-sama. Eh, satu lagi petinju yang sering mereka bicarakan, yang ini petinju dari Indonesia, yaitu Ellyas Pical. Tapi kami yang perempuan, cukup tahu nama saja, tapi tidak terlalu tertarik nonton acara tinjunya.

Sekarang semua dimudahkan dengan adanya listrik. Selain untuk penerangan, televisi, kulkas, mesin cuci, penanak nasi, setrika, semuanya menggunakan arus listrik. Tapi ya itu tadi, kita jadi seperti benar-benar tergantung dengan alat-alat yang terhubung dengan listrik. Kalau tak ada listrik seperti susah mau melakukan apapun. Padahal, dulu kita merasa cukup dengan lampu petromak sebagai penerangan. Atau menyetrika dengan setrika arang. Dan menanak nasi dengan cara "adang".

Tentang adang ini, kami pernah kelabakan saat pagi-pagi listriknya padam. Karena kami biasa menanak nasi pagi hari setelah subuh, saat listrik mati kami harus sigap menanak nasi dengan cara manual. Cukup repot karena kami harus sesekali menengok nasi yang ditanak agar tidak gosong. Beda kalau dengan penanak listrik, sekali ditancapkan ke listrik, nunggu matang sendiri, dan kita bisa nyambi mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Eh... tapi kata orang tua, adang manual itu rasa nasinya lebih enak daripada menggunakan rice cooker.

Jaman memang terus berubah ya... makin kesini semua makin mudah. Dari dulu yang serba manual, sekarang serba listrik. Berharapnya sih... listrik tidak mati-mati lagi. :) Meskipun ada genset, tapi kan harus beli bensin dulu... :(

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah memberikan komentar di blog saya. Mohon untuk memberi komentar dengan kata yang santun. Terima kasih. :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...