Wednesday, 29 April 2015

MEMILIH SEKOLAH UNTUK ANAK

Anakku tersembunyi diantara mereka, Sumber: FB SDIT Salman Al-Farisi

Hari Sabtu, tanggal 25 April 2015 lalu aku mengikuti seminar parenting yang diadakan di sekolah Fathiya, yaitu SDIT Salman Al Farisi Tayu. Materi disampaikan oleh Nanang Kosim, S.HI yang juga Kepala Sekolah SMPIT Insan Mulia Pati. Dari seluruh materi yang disampaikan, yang paling nyantol di hatiku adalah bahwa ada 3 tempat yang berpengaruh dalam pendidikan anak hingga membentuk karakter, yaitu: rumah, sekolah dan lingkungan pergaulan.

Karena sekolah juga penting setelah pendidikan di rumah, tentunya kita harus memilih sekolah yang bagus dong... Meskipun kategori bagus ini relatif ya... mungkin berbeda antara satu keluarga dengan keluarga lain. Mungkin ada yang memilih karena sekolah itu merupakan sekolah favorit. Mungkin ada yang memilih karena sekolah tersebut eksta kurikulernya keren. Atau memilih sekolah karena basic agama yang kuat. Dan banyak alasan lainnya. Kalau kami yang desa, barangkali lebih mudah memilih. Karena pilihannya memang tak sebanyak yang ada di kota. #haha. Meski begitu tetap harus memilih kan ya?

Dulu, ketika Fathiya hampir menyelesaikan taman kanak-kanaknya, aku banyak berdiskusi dengan suami. Apa sih tujuan pendidikan, apa sih harapan kami terhadap anak, hingga akhirnya  diskusi kami sampai pada sekolah dasar mana yang akan kami pilih untuk sekolah Fathiya. Ada beberapa pilihan, seperti di Madrasah Ibtidaiyyah, SD Islam Terpadu atau SD Negeri. Semua tentu punya kelebihan dan kekurangan. Tetapi ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan kami dalam memilihkan sekolah waktu itu.

1. Apa yang kami harapkan dari anak.
Apa sih yang kami harapkan mampu dicapai anak. Mungkin bisa dibahasakan, apa visi misi kami sebagai orang tua ya... Visi besar kami terhadap anak mungkin terdengar klise, hampir sama dengan orang tua lainnya juga, yaitu "Mengantar Anak Sukses Dunia Akhirat."

Dengan visi tersebut, tentunya kami juga perlu menyusun misi untuk mencapainya #halah bahasanya seperti politikus saja :). Salah satu misi kami misalnya, anak sudah mau disuruh sholat di usia 7 tahun (pernah cerita tentang usahaku mengajak anak sholat disini). Misi yang lain ada juga, tapi tidak usahlah disebutkan semua. Intinya adalah visi misi kami sebagai orang tua, sangat berpengaruh dalam memilih sekolah anak.

2. Karakter anak.
Selain dipengaruhi visi misi, dalam memilih sekolah anak, kami juga melihat karakter anak. Kebetulan anak pertamaku sangat pemalu. Untuk membuatnya mau maju di depan kelas, butuh perjuangan tersendiri. Untuk membuatnya bisa menyampaikan pendapat, juga butuh trik yang panjang. Nah, karena itu kami ingin sekolah yang bisa melejitkan potensi anak, sembari membuat anak menjadi lebih berani tanpa merasa terbebani. #hehe, mintanya banyak ternyata.

3. Sekolah yang membuka lebar komunikasi dengan orang tua.
Karena rumah dan sekolah menempati ruang penting dalam pendidikan anak, maka komunikasi orang tua dan guru adalah keniscayaan. Rumah dan sekolah bisa saling melengkapi dalam kemajuan perkembangan anak. Ssst... Biasanya anak lebih manut sama guru lho. Jadi, kalau ada hal yang terasa sulit dalam pendidikan anak, kita kan bisa saling berkomunikasi dengan pihak sekolah, dan kita bisa mencari solusi bersama.

4. Guru yang komitmen dengan pendidikan.
Guru adalah bagian penting dari sekolah. Karena itu adanya guru yang komitmen terhadap pendidikan menjadi pertimbangan kami. Guru yang bisa membuat anak belajar karena mencintai ilmu, bukan guru yang membuat anak belajar 'hanya' dengan memberinya banyak soal. Kami berharapnya sih, anak-anak belajar seperti makan coklat, nikmat... tak ada beban...

Karena belajar adalah proses panjang, maka menjadi pecinta ilmu memang tidak bisa dicapai secara instan. Guru yang baik tentu memberikan penghargaan yang besar kepada proses dalam belajar, kejujuran, dan akhlakul karimah, bukan hanya nilai yang tinggi.

5. Jarak sekolah dari rumah.
Karena masih SD, kami memilih sekolah yang dekat saja. Anak tidak capek, kami juga tidak kejauhan kalau mengantar.

Dan... Setelah survey sana survey sini, tanya sana tanya sini, diskusi sana sini juga, akhirnya kami memutuskan untuk memasukkan Fathiya di SDIT Salman Al-Farisi. Padahal waktu itu SDIT Salman Al-Farisi baru memasuki tahun kedua. Tapi melihat komitmen mereka pada pendidikan untuk masa depan, kami optimis dan mempercayakan pendidikan Fathiya disana. Never stop growing, begitu motto mereka. :)

Waktu survey, kami mengajak Fathiya ikut juga. Dan ia kelihatan nyaman berada disana. Untuk ukuran anak pemalu seperti Fathiya, rasa nyaman adalah hal penting. Selanjutnya, kami juga memperhatikan praktek langsung sholat berjama'ah dan pembiasaan akhlak Islami. Hal-hal sederhana seperti do'a sebelum makan atau minum sambil duduk (tidak boleh berdiri) adalah sesuatu yang mudah dipelajari, tetapi tanpa pembiasaan akan menjadi sulit bagi anak.

Dan setelah Fathiya mulai sekolah di SDIT Salman Al-Farisi, rasanya belum pernah menemukan sesuatu yang mengecewakan. Kami sebagai orang tua bisa saling berkomunikasi dengan guru kelas dengan Buku Komunikasi yang diisi tiap hari. Selain itu kami juga diberi nomor HP Kepala Sekolah dan semua guru, dimana hal ini memudahkan komunikasi kami.
Penghubung sekolah dan orang tua

Alhamdulillah selama satu tahun ini, beberapa target jangka pendek kami untuk Fathiya bisa tercapai. Misalnya, di usianya yang tujuh tahun, ia mudah diajak sholat. Bacaan sholat juga sudah lancar. Meskipun dalam hal ketertiban masih harus diperbaiki. Keberaniannya juga mulai tumbuh. Kalau melihat Fathiya waktu kecil, aku sungguh bersyukur dengan pencapaiannya saat ini. Meski masih pemalu, tapi sudah lebih berani. Yang menggembirakan dan ini diluar targetku sebenarnya, Fathiya sudah hafal Surat An-Naba sampai Surat Al-Insyiqoq. Sepertinya kami harus membuat target baru untuk Fathiya, yaitu hafal juz 30 maksimal kelas 3 SD. Hehe...

Yah... Memilih sekolah anak memang gampang-gampang susah. Tapi bagi kami, kami tidak terlalu silau dengan label favorit. Tanggung jawab pendidikan anak tetaplah orang tua, sedang sekolah 'hanya' membantu dan melengkapi saja. Tapi meski begitu, memilih sekolah yang bisa bersama-sama mendidik anak (bukan sekedar mengajar ya...), adalah penting bagi kami. Dari lingkungan yang baik, insya Allah akan membantu pembentukan karakter anak yang baik juga. Wallahu a'lam bishowab...

Tuesday, 21 April 2015

#K3B KARTINIAN: IBU MERTUAKU YANG RAJIN


Aku menikah dengan tetangga sendiri. Nggopekwe istilah di tempat kami. Nggopekwe singkatan dari bahasa jawa tonggo dipek dewe, artinya kurang lebih tetangga dinikahi sendiri. Kami satu desa, meski beda RT :). Meskipun begitu, bukan berarti aku sangat mengenal calon ibu mertuaku waktu itu ya... Karena aku memang menikah tanpa proses pacaran. Jadi, aku hanya mendengar cerita orang-orang tentang ibu mertuaku. Dari cerita orang-orang itu, yang paling membuatku grogi adalah, katanya beliau itu orang yang rapi dan menyukai kebersihan. Secara aku ini orangnya tidak terlalu rapi dan tentang bersih-bersih, asal aku masih bisa tahan, aku belum akan bersih-bersih. Hehehe... jorok ya...

Setelah aku resmi menjadi menantu dan beberapa waktu tinggal di rumah mertua, ternyata beliau... memang begitu. Tapi malu dong, kalau menunjukkan ketidakrapian dan ketidakbersihanku. Menantu baru gitu loh... Jadi kalau ibu mertuaku menyapu, tentu aku menawarkan diri untuk menggantikannya. Masalahnya, ibu mertuaku ini sering tidak tahan kalau ada kotor sedikit saja. Baru lima menit yang lalu menyapu halaman, tiba-tiba ada daun mangga jatuh, nyapu lagi deh... Tapi tidak apa-apa. Kan mau jadi menantu yang berbakti. :) Atau kalau ada keponakan suami yang mainnya membuat rumah berantakan, aku ikut merapikan rumah juga. Intinya, berusaha mengikuti alur mertua.

Dan ternyata, rajinnya ibu mertua bukan cuma tentang bersih-bersih dan berbenah rumah. Beliau juga rajin mengaji. Jadi, setiap hari senin, selasa, dan sabtu beliau punya jadwal rutin mengaji. Rajinnya beliau sampai kadang saat sakit (yang masih sanggup berdiri), beliau tetap berangkat mengaji.

Tidak cukup dengan mengaji, beliau juga mengamalkan ilmu hasil mengajinya. Tiap hari ada anak-anak yang belajar mengaji Al-Qur'an kepada bapak dan ibu mertua. Tiap hari kamis sore ada pengajian ibu-ibu di musholla depan rumah mertua. Ibu mertua yang menjadi pemimpin pengajian rutin itu. Bersama bapak, ibu mertua juga mengadakan pengajian rutin bulanan untuk seluruh warga di sekitar musholla. Kalau yang bulanan ini, diperuntukkan bapak-bapak dan ibu-ibu.

Mengenai aktifitasnya tersebut, kata ibu yang sudah pensiun dari guru agama sejak sepuluh tahunan yang lalu, "Kanggo sangu mati, nduk..." yang artinya, "Untuk bekal saat sudah meninggal, Nduk..." Dan aku belajar banyak tentang ketelatenan dari ibu mertua dalam membina ibu-ibu di sekitar rumah, terutama dalam hal agama.

Sifat rajin beliau yang selalu ingin aku tiru, tetapi belum bisa melakukannya adalah beliau ini rajin bersilaturahmi, menjenguk orang sakit dan takziyah orang meninggal. Ketiga hal itu, dalam agamaku (Islam) memiliki banyak keutamaan. Tentang silaturahmi misalnya, terdapat hadis dari Anas bin Malik RA yang berbunyi, "Barang siapa yang ingin rizkinya diperluas dan umurnya ditambah, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi."

Juga hadis tentang menjenguk orang sakit, “Apabila seseorang menjenguk saudaranya muslim (yang sedang sakit), maka (seakan-akan) dia berjalan sambil memetik buah-buahan surga sehingga dia duduk, apabila sudah duduk maka diturunkan kepadanya rahmat dengan deras. Apabila menjenguknya di pagi hari maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar mendapat rahmat hingga waktu sore tiba. Apabila menjenguknya di sore hari, maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar diberi rahmat hingga waktu pagi tiba.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad dengan sanad shahih).

Begitupun dengan takziyah. Karena kematian adalah nasehat, maka dengan takziyah akan mengingatkan kita akan hidup yang tidak abadi.

Itulah ibu mertuaku yang rajin sekali. Banyak keteladanan yang bisa aku contoh dari beliau. Dan cerita diatas adalah sebagiannya. Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan dan kebaikan untuk beliau. Aamiin.

Sunday, 19 April 2015

PALOMA SHOPWAY: KETIKA MALL BERADA DI TANGAN

Saya tinggal di desa, dimana mall merupakan kemewahan. Bisa sebulan sekali pergi ke kota untuk belanja atau sekedar window shopping di mall tentu menjadi istimewa. Tetapi bagi seorang ibu seperti saya, terkadang kesibukan karena pekerjaan dan anak-anak, membuat tak sempat untuk melakukan hal seperti itu. Juga jarak yang jauh, tentu membutuhkan waktu luang dan biaya tersendiri.

Dan Anda, mungkin tinggal di kota. Mall bukan hal istimewa. Tetapi waktu bagi Anda sangat berharga. Menghabiskan waktu di mall untuk mencari barang yang Anda butuhkan, akan membuat Anda kehilangan banyak waktu. Lagipula, belum tentu barang yang Anda butuhkan bisa segera Anda dapatkan.

Ah, tetapi kita perempuan. Belanja merupakan 'kebutuhan' bagi kita. Bahkan mungkin menjadi rekreasi bagi kita untuk menghilangkan penat mengurus rumah dan pekerjaan. Lalu, adakah cara agar kira bisa belanja tanpa meninggalkan rumah dan tanpa kita kehilangan banyak waktu?

Ada banyak cara sebenarnya. Misalnya dengan belanja online. Bila memilih cara ini, tentu kita harus pintar-pintar mencari toko online terpercaya. Jangan sampai kita sudah membayar sebuah barang, tapi barangnya tidak pernah kita terima. Atau kita mendapat kualitas barang yang tidak sesuai seperti yang tertera di gambar.

Cover Katalog Paloma Edisi 37/Maret 2015
Beberapa waktu ini aku tertarik dengan Paloma Shopway. Kenapa? Karena kita cukup melihat-lihat katalog untuk mencari barang yang kita inginkan. Praktis, karena kita tidak meninggalkan rumah. Hemat waktu, karena kita bisa melakukannya kapan saja. Sambil menyelesaikan pekerjaan, disela-sela waktu kita bisa membuka katalog Paloma. Sibuk, katalog kita tutup kembali. Nanti kita bisa kembali membukanya ketika kita punya waktu luang.

Membuka katalog Paloma, kita benar-benar seperti window shopping di mall. Ada banyak pilihan didalamnya. Ada kategori Ladies, Men, Teen, Kids, Baby dan Home.

Ladies tentu saja untuk wanita ya... Ada tas, sepatu, sandal, baju, busana muslimah, bahkan kebutuhan wanita semacam pembalut.

Kategori Men untuk pria. Pilihannya banyak juga. Jadi, selain belanja untuk diri sendiri, bisa belanja juga untuk suami. Secara bapak-bapak biasanya tidak suka shopping. Tunjukkan saja gambar, barangkali ada yang disukai suami.

Untuk remaja, ada Teen. Kids, untuk anak-anak. Dan ada juga kategori Baby untuk bayi kita. Ada banyak barang unyu-unyu untuk anak-anak kita. Tinggal pilih yang paling unyu. :)

Sedangkan dalam kategori Home, kita bisa memilih banyak peralatan rumah tangga. Dari alat pembersih, kompor, blender, panci, tempat penyaji makanan, dan lainnya.

Yuk, bersih-bersih...

Kalau aku dan teman-temanku paling suka dengan Kaos Kaki Almira. Selain bisa menutup aurat, kaos kaki ini nyaman dipakai dan awet. Barang yang lainpun insya Allah memiliki kualitas yang bagus. Dan yang paling penting, aku belum pernah kecewa karena antara gambar dan barang yang aku terima selalu sama bagusnya.
Manset dan kaos kaki favoritku
Selain melalui buku katalog, ada e-catalog juga yang bisa download katalog di www.paloma-shopway.com. Yuk, window shopping, lalu pilih yang kita mau.

Kelemahan belanja lewat katalog, memang kita harus sabar menunggu barang datang ya... Kalau di DS Paloma tempatku belanja, biasanya paling lama satu minggu barang sudah datang. Dan seperti yang aku tulis diatas, aku belum pernah kecewa dengan kualitasnya.

Jadi, belanja yuk...

Kontak saya:
WA: 085290709971
BBM: 54776919

Sumber Gambar: Katalog Paloma Edisi 37/Maret 2015

Wednesday, 8 April 2015

MENULIS MIMPI

Pernah punya impian? Dan apakah impian itu selalu menjadi kenyataan? Pasti ada impian yang menjadi kenyataan setelah usaha yang maksimal. Tapi kadang jalan Tuhan menunjukkan sesuatu yang lain. Seperti ceritaku ini, tentang impian dari masa lalu.

Waktu masih mahasiswa tingkat akhir, aku punya impian menjadi seorang penulis. Pada waktu itu aku memang sedang bersemangat menulis cerpen. Cukup banyak cerpen yang aku buat dan aku kirimkan ke majalah. Tetapi saat itu, baru sebuah cerpen yang bisa menembus media lokal.

Cita-cita menjadi penulis ini, bukannya tanpa alasan. Ada cita-cita besar lain (cie...) dibalik cita-cita sebagai penulis, yaitu Ibu Rumah Tangga. Dalam pikiranku waktu itu, aku ingin menjadi ibu yang bisa membersamai anak di rumah. Jadi aku ingin menjadi Ibu Rumah Tangga yang Penulis. Agar aku bisa tetap bekerja di rumah.

Keinginan itu tentu bukan tanpa sebab. Jadi, di akhir masa kuliah, aku memang mulai sering membaca buku-buku pernikahan. Menurutku, setiap hal dalam hidup kan butuh ilmu, termasuk juga pernikahan. Jadi, sebelum memasuki bangunan pernikahan, aku butuh ilmu yang memadai untuk menghadapinya. Dan kesimpulanku saat itu (hingga sekarang), pendidikan anak akan lebih maksimal jika ibu sendiri yang mendidiknya. Dalam agama Islam, ada sabda Rasul yang artinya, “Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya.” Karena itulah aku bercita-cita menjadi Ibu yang Penulis.

Qodarullah, aku diterima CPNS di tahun 2006. Kok bisa? Cita-cita jadi penulis kok ngelamar CPNS? Semua adalah bentuk baktiku pada orangtua. Orangtua yang telah menyekolahkan sampai sarjana, tentu berharap anaknya mempunyai pekerjaan yang layak (dalam pandangan umum). Apalagi aku yang tinggal di desa. Sarjana yang tinggal di desa tanpa kegiatan, seringkali akan menjadi pergunjingan. Kalau jadi pergunjingan, bukan hanya kita yang sedih, orang tua pasti sedih juga. Begitulah... Ketika ada lowongan CPNS, aku mendaftar dan diterima.

Ternyata oh ternyata, menjadi PNS itu tidak sesantai yang dikatakan orang-orang. Ada banyak PNS yang benar-benar bekerja, bahkan ngelembur di luar jam kerja untuk menyelesaikan pekerjaan. Tetapi rajinnya PNS ini seolah tertutupi dengan pemberitaan PNS yang bersantai-santai saat jam kerja. Padahal kalau dihitung, prosentasenya lebih banyak PNS yang rajin lho... Ini pengalamanku sendiri. Dan nila setitik itu memang benar-benar merusak susu sebelanga. Semua jadi ikut jelek.

Dan kesibukan baruku itu membuatku tidak lagi menekuni dunia kepenulisan. Impian masih terpendam. Tapi rasanya aku tak punya waktu untuk kembali menulis (bilang saja malas, hehe...). Tujuh tahun aku berkutat dalam kesibukan sebagai abdi negara. Berangkat jam 6 pagi, pulang jam 3 sore. Itu kalau tidak lembur. Padahal sering aku pulang menjelang maghrib. Sampai rumah sudah capek.

Hingga kemudian, memasuki tahun kedelapan aku berkesempatan pindah dinas di kecamatan. Dulu, jarak rumahku ke dinas di kabupaten adalah satu jam perjalanan. Sedangkan di kecamatan, aku hanya membutuhkan waktu lima belas menit ke kantor. Dan lagi, di kecamatan aku sudah jarang lembur lagi. So... aku mempunyai mempunyai waktu longgar lebih banyak.

Tapi, menulis itu memang butuh latihan yang konsisten ya... Lama tidak menulis, membuatku cukup kesulitan membuat tulisan lagi. Hingga aku mencoba menulis lagi dengan membuat blog. Menulis dengan suka cita, menulis apa saja yang aku pikirkan.

Impian dan kenyataan memang seringkali tidak sejalan. Saat ini aku memang tak bisa 100% membersamai anak-anak seperti impianku dulu. Tetapi ada orang-orang yang aku percaya turut mendampingi mereka. Ada Abi yang antar jemput anak pertama sekolah SD. Ada Si Mbak yang antar jemput putri kedua sekolah TK. Ada Budhe yang momong adik kecil yang masih 6 bulan. Dan aku bisa bersama anak-anak sepulang kerja sampai dengan mereka tidur malam hari. Dan di malam hari ketika anak-anak sudah tidur, aku bisa menulis lagi. Dan yang pasti, meski tidak seharian bersama anak-anak, aku tetap sebagai penanggung jawab pengasuhan anak-anak.

Dari cerita itulah judul blogku pertama kali berasal. Impian menjadi penulis yang tertunda. Dan harapan untuk bisa menulis lagi. Awalnya ingin kuberi nama Impian Menulis, lalu Menulis Impian. Tapi sepertinya Menulis Mimpi lebih pas deh... :)
 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...