Tuesday, 21 April 2015

#K3B KARTINIAN: IBU MERTUAKU YANG RAJIN


Aku menikah dengan tetangga sendiri. Nggopekwe istilah di tempat kami. Nggopekwe singkatan dari bahasa jawa tonggo dipek dewe, artinya kurang lebih tetangga dinikahi sendiri. Kami satu desa, meski beda RT :). Meskipun begitu, bukan berarti aku sangat mengenal calon ibu mertuaku waktu itu ya... Karena aku memang menikah tanpa proses pacaran. Jadi, aku hanya mendengar cerita orang-orang tentang ibu mertuaku. Dari cerita orang-orang itu, yang paling membuatku grogi adalah, katanya beliau itu orang yang rapi dan menyukai kebersihan. Secara aku ini orangnya tidak terlalu rapi dan tentang bersih-bersih, asal aku masih bisa tahan, aku belum akan bersih-bersih. Hehehe... jorok ya...

Setelah aku resmi menjadi menantu dan beberapa waktu tinggal di rumah mertua, ternyata beliau... memang begitu. Tapi malu dong, kalau menunjukkan ketidakrapian dan ketidakbersihanku. Menantu baru gitu loh... Jadi kalau ibu mertuaku menyapu, tentu aku menawarkan diri untuk menggantikannya. Masalahnya, ibu mertuaku ini sering tidak tahan kalau ada kotor sedikit saja. Baru lima menit yang lalu menyapu halaman, tiba-tiba ada daun mangga jatuh, nyapu lagi deh... Tapi tidak apa-apa. Kan mau jadi menantu yang berbakti. :) Atau kalau ada keponakan suami yang mainnya membuat rumah berantakan, aku ikut merapikan rumah juga. Intinya, berusaha mengikuti alur mertua.

Dan ternyata, rajinnya ibu mertua bukan cuma tentang bersih-bersih dan berbenah rumah. Beliau juga rajin mengaji. Jadi, setiap hari senin, selasa, dan sabtu beliau punya jadwal rutin mengaji. Rajinnya beliau sampai kadang saat sakit (yang masih sanggup berdiri), beliau tetap berangkat mengaji.

Tidak cukup dengan mengaji, beliau juga mengamalkan ilmu hasil mengajinya. Tiap hari ada anak-anak yang belajar mengaji Al-Qur'an kepada bapak dan ibu mertua. Tiap hari kamis sore ada pengajian ibu-ibu di musholla depan rumah mertua. Ibu mertua yang menjadi pemimpin pengajian rutin itu. Bersama bapak, ibu mertua juga mengadakan pengajian rutin bulanan untuk seluruh warga di sekitar musholla. Kalau yang bulanan ini, diperuntukkan bapak-bapak dan ibu-ibu.

Mengenai aktifitasnya tersebut, kata ibu yang sudah pensiun dari guru agama sejak sepuluh tahunan yang lalu, "Kanggo sangu mati, nduk..." yang artinya, "Untuk bekal saat sudah meninggal, Nduk..." Dan aku belajar banyak tentang ketelatenan dari ibu mertua dalam membina ibu-ibu di sekitar rumah, terutama dalam hal agama.

Sifat rajin beliau yang selalu ingin aku tiru, tetapi belum bisa melakukannya adalah beliau ini rajin bersilaturahmi, menjenguk orang sakit dan takziyah orang meninggal. Ketiga hal itu, dalam agamaku (Islam) memiliki banyak keutamaan. Tentang silaturahmi misalnya, terdapat hadis dari Anas bin Malik RA yang berbunyi, "Barang siapa yang ingin rizkinya diperluas dan umurnya ditambah, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi."

Juga hadis tentang menjenguk orang sakit, “Apabila seseorang menjenguk saudaranya muslim (yang sedang sakit), maka (seakan-akan) dia berjalan sambil memetik buah-buahan surga sehingga dia duduk, apabila sudah duduk maka diturunkan kepadanya rahmat dengan deras. Apabila menjenguknya di pagi hari maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar mendapat rahmat hingga waktu sore tiba. Apabila menjenguknya di sore hari, maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar diberi rahmat hingga waktu pagi tiba.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad dengan sanad shahih).

Begitupun dengan takziyah. Karena kematian adalah nasehat, maka dengan takziyah akan mengingatkan kita akan hidup yang tidak abadi.

Itulah ibu mertuaku yang rajin sekali. Banyak keteladanan yang bisa aku contoh dari beliau. Dan cerita diatas adalah sebagiannya. Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan dan kebaikan untuk beliau. Aamiin.

9 comments:

  1. wah, benar2 teladan banget ya mbak ibu mertuanya. jadi banyak ilmu yang bisa diambil. salut.
    salam kenal mbak :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal jg mb... Ya, tp menantunya ini masih sak karepe dewe mb... :)

      Delete
  2. Iya bener komen Mba Syahdian, emang teladan banget Ibu mertuanya Mba :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin karena kami hidup di desa. Jadi, ketika kita punya ilmu "lebih", mgkn memang harus beramal lebih jg. Orang desa akan lebih manut dg cara 'dakwah' seperti itu.

      Delete
  3. Semoga ketularan rajin ya... Terimakasih banyak Participasinya

    ReplyDelete
  4. Semoga ketularan rajin ya... Terimakasih banyak Participasinya

    ReplyDelete
  5. Bagus sekali aktivitas Ibu Mertua itu ya, jadwal ngaji yang padat, kemudian ilmunya ditularkan kepada anak-anak. Hampir tiga tahun terakhir, Bunda belum bisa seperti itu. Salut sama Ibu Mertuanya Ummi, semoga Ummi bisa menganggapnya seperti ibu Ummi sendiri. Aamiin.

    ReplyDelete
  6. Terima kasih Bunda Yati Rachmat... Salut juga untuk Bunda yang selalu aktif, sy ketularan semangatnya Bunda.

    ReplyDelete

Terima kasih telah memberikan komentar di blog saya. Mohon untuk memberi komentar dengan kata yang santun. Terima kasih. :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...