Friday, 29 May 2015

Berbagi Bahagia Bersama TabloidNova.com

Bahagia itu apa? Apa yang membuat seseorang bahagia? Lalu, pernahkah dalam hati kita merasa iri dengan orang lain? Merasa orang lain lebih beruntung dan lebih bahagia? Mungkin pernah tersemat sedikit dalam hati pikiran seperti ini, "Coba aku bisa seperti dia..."

Memang tak terucap, tapi kadang ada di hati. Meski sedikiiit...sekali, ada rasa kurang syukur di hati kita. Katanya, rumput tetangga memang lebih hijau dari rumput di halaman sendiri. Meski rumputnya palsu? #ingatiklan

Daripada nyesek, lebih baik cari inspirasi kebahagiaan  di sekitar kita yuk... Sambil menyelami sabda Rasulullah dibawah ini:


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ
( أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lihatlah orang yang berada di bawah kamu, dan jangan lihat orang yang berada di atas kamu, karena dengan begitu kamu tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan-Nya kepada kamu” (HR. Bukhari-Muslim)

Buka mata buka telinga. Lihat banyak hal di sekitarmu. Bapak tukang becak yang menggenjot becaknya. Simbah tua yang masih mau repot berdagang sayuran di pasar. Ibu hamil yang berdiri bergelantungan di bis. Tidakkah ada yang membuatmu tersentuh? Pasti banyak hal yang bisa kita lakukan untuk berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Dan itu akan lebih membuat kita menjadi orang yang bersyukur.

Lalu, apa bahagia buatku? Ketika bangun pagi hari dan mendapati masih ada suami dan anak-anak bersamaku. Lalu ketiga anakku membuat kehebohan di dalam rumah. Yang satu berteriak, "Bunda, mana bukuku? Tadi malam dibuat mainan adik kok." Yang kedua bernyanyi sambil mengejar kucing. Sedang si adik menangis karena, kakak kedua sebelum mengejar kucing mencium adik dengan gemas. Yah, bahagia bersama keluarga meski dalam hal-hal sederhana seperti itu, selalu aku rindukan.
Dan kadang akupun butuh Me Time. Bertemu dengan teman-teman pengajian dan bisa berdiskusi bersama, seperti itupun bisa membuat bahagia. Bahagia bersama sahabat yang selalu aku rindukan. Karena dalam ikatan ukhuwah, persahabatan itu menjadi jalinan yang indah. Karena kami tidak sekedar ta'aruf (saling mengenal), tetapi kami juga mencoba tafahum (saling memahami), lalu ta'awun (saling tolong menolong), kemudian takaful (saling menanggung beban). Sehingga kami bisa saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. 
Bagaimana bahagia menurut kalian? Ayo, ceritakan kisah bahagia kalian. Dan kalian akan tambah bahagia kalau dapat hadiah yang totalnya sampai Rp. 7.700.000,- pasti. Gimana tuh? Yuk, ikutan Berbagi Bahagia Bersama TabloidNova.com.

Ikuti cara dan aturannya ya... Pertama, Like FP Nova dan Follow twitter dan G+ Nova. Kedua, Tulis kisah bahagiamu di blog pribadimu. Ketiga, share dan daftarkan URLmu ke microsite kontes SEO Berbagi Bahagia Bersama TabloidNova.com ini. Lalu, pasang banner di blog personalmu. Kemudian tunggu pengumuman deh...

Lihat semua syarat dan ketentuan ya...
http://default.tabloidnova.com/Kontes-SEO/home

Monday, 25 May 2015

olanatics.com 1st Giveaway: Steal The Look


33:59
Credit
Artinya: 'Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.' (QS. Al-Ahzab: 59)

Kita semua pasti sudah mafhum tentang kewajiban berjilbab bagi muslimah. Meskipun ada kalanya sebagian dari kita merasa belum siap untuk melaksanakan perintah Allah yang satu ini. Semua adalah pilihan. Tetapi, setiap aturan Allah pasti ada manfaatnya. Kenapa Allah memerintahkan sesuatu, pasti ada kebaikan untuk yang melaksanakannya. Begitupun sebaliknya. Ketika Allah melarang sesuatu, pasti ada efek buruk bagi pelakunya.

Lalu, apa jilbab itu? Jika kita membuka terjemahan Al-Qur'an pada ayat diatas (ayo kita buka sama-sama...), pada footnote ada keterangan, bahwa jilbab adalah sejenis baju kurung yang lapang yang menutupi seluruh aurat wanita.

Dan... aurat wanita itu mana saja? Sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Dawud menyebutkan, "Dari Aisyah r.a.: Sesungguhnya Asma’ binti Abu Bakar datang kepada Rasulullah SAW dan dipakainya pakaian yang tipis, maka Rasulullah SAW mencegahnya dan berkata:  Wahai Asma’, sesungguhnya wanita itu bila sudah datang masa haid tidak pantas terlihat tubuhnya kecuali ini dan ini. Beliau sambil menunjukkan muka dan kedua telapak tangannya."

Begitulah Al-Qur'an menjawab, kenapa pakaian muslimah diatur sedemikian rupa oleh Allah SWT? Dari ayat 59 Surat Al-Ahzab diatas kita tahu jawabannya, yaitu agar kita lebih mudah dikenal dan agar kita tidak diganggu.

Pakaian sebagai identitas
Dalam sebuah riwayat dikemukakan bahwa istri-istri Rasulullah pernah keluar malam untuk sebuah hajat. Pada waktu itu orang-orang munafiq mengganggu mereka. Kemudian hal ini diadukan kepada Rasulullah SAW, sehingga Rasulullah menegur orang-orang munafiq. Mereka menjawab: “Kami hanya mengganggu hamba sahaya.” Lalu, turunlah ayat 59 Surat Al-Ahzab sebagai perintah untuk berpakaian tertutup, agar berbeda dari hamba sahaya. 
Begitulah, jilbab merupakan pakaian terhormat yang menjadi identitas kemuslimahan kita.

Pakaian sebagai penjaga diri
Mencegah lebih baik dari mengobati, begitu kata pepatah. Bagi muslimah, tentu lebih baik menghindari sebab-sebab terjadinya pelecehan dengan memakai pakaian muslimah sebagaimana yang diperintahkan Allah. Seperti yang telah disebutkan diatas, yaitu: lapang/ lebar, tidak tipis/ tidak menerawang, serta menutupi seluruh tubuh kecuali muka dan telapan tangan.
Karena bagi seorang muslimah, pakaian bukan sekedar pelindung dari panas dan dingin. Lebih dari itu, dengan memakai jilbab, seorang muslimah akan aman dari gangguan orang-orang (laki-laki) yang suka mengganggu. Dan akan lebih lengkap, jika muslimah berjilbab juga berakhlak mulia.

Seperti itulah pendapatku tentang esensi pakaian muslimah, yaitu sebagai identitas kita sebagai muslimah dan sebagai penjaga diri dari gangguan laki-laki usil.

Tulisan ini diikut sertakan dalam olanatics.com 1st Giveaway: Steal The Look. ;)

Sesekali narsis demi ikut olanatics.com 1st giveaway: Steal The Look


Wednesday, 20 May 2015

Kenangan Ramadhan Masa Kuliah: IBA Yang Membuat Iba

Dulu aku kuliah di jurusan Teknik Sipil, dimana salah satu mata kuliahnya ada yang namanya Irigasi dan Bangunan Air. Dan kami di jurusan menyebutnya IBA. Menurutku IBA ini merupakan salah satu mata kuliah paling sulit. Teorinya saja sudah sulit, apalagi praktikumnya tambah mumet pokoknya. Maklum, otakku termasuk yang biasa saja. :)

Waktu itu bulan Ramadhan, ketika deadline penyelesaian praktikum IBA hampir tiba. Kami satu kelompok berlima masih sibuk dengan urusan masing-masing, sehingga praktikum IBA yang harus segera kami kerjakan menjadi terlantar. Entah, apa kami sungguh sibuk atau malas mengerjakannya. Yang pasti, tiba-tiba saja, tenggat waktu yang diberikan hampir habis.

Meski kami tahu kalau waktu yang diberikan untuk mengerjakan praktikum IBA sudah mendekati deadline, kami masih saja lengah. Kami mulai bertemu satu kelompok, tapi belum serius mengerjakannya. Hingga satu hari sebelum deadline, kami kelabakan. Dan begitulah mahasiswa... kami benar-benar menggunakan metode SKS (sistem kebut semalam) untuk mengerjakan praktikum IBA.

Saat itu adalah Ramadhan paling berkesan. Berkesan karena kami sama sekali tidak tidur semalaman demi mengerjakan praktikum IBA. Sampai mata terkantuk-kantuk, kami memaksakan diri untuk bisa menyelesaikannya. Hingga waktu sahur, kami sahur seadanya, lalu melajutkan pekerjaan kami lagi hingga pagi hari. Dan luar biasa, kami benar-benar bisa menyelesaikannya. Tapi kami belum bisa bernafas lega. Kami masih harus meminta persetujuan co-ass (pembimbing praktikum dari kakak kelas) sebelum maju ujian praktikum kepada dosen.

Pagi hari menjelang siang setelah mengeprint hasil kerja kami dan memberesi gambar-gambar, kami ke kampus untuk konsultasi pada co-ass. Segera setelah disetujui, kami segera maju kepada dosen. Lega rasanya ketika praktikum itu bisa kami kerjakan tepat pada waktunya. Bahkan benar-benar tepat waktu. Tetapi akhirnya IBA yang membuat iba itu bisa juga kami selesaikan.

Dan kelelahan kami terbayarkan, karena ketika nilai keluar, nilai praktikum kami mendapat nilai lumayan. Yah... meski bukan nilai maksimal, tapi memikirkan praktikum yang hanya dikerjakan dalam waktu semalam (seperti Bandung Bondowoso yang menyelesaikan Candi Prambanan saja ya...), itu adalah nilai yang hebat.

Ada hikmah dari pengalaman ini. Untukku, hikmah pertama, aku jadi belajar agar memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Jangan karena deadline masih lama, lalu kita bersantai-santai. Jadi ketika deadline sudah dekat, kita kelabakan deh... Kedua, apapun yang terjadi, tetaplah berusaha. Jika pernah salah di masa lalu, jadikan itu pelajaran agar kita tidak terperosok pada kesalahan yang sama. Ketiga, selalu berdo'a. Betapapun sulitnya, selalu ada Allah yang mengatakan, "Inna ma'al 'usri yusron. Sesungguhnya bersama kesulitan terdapat kemudahan."

Mungkin saat itu kami mendapatkan barokah bulan Ramadhan, sehingga mempunyai kekuatan untuk menyelesaikan praktikum yang seharusnya dikerjakan berminggu-minggu. Dan bersyukur kami berlima kuat hingga maju kepada dosen. Meski setelah semua selesai, aku yang kelelahan membayar utang tidur dengan tidur lebih lama lagi. ;) Entah teman sekelompokku yang lain.


AKU ADALAH IBU



Aku menatap matanya, dan membisikkan, "Insya Allah Bunda bekerja bukan sekedar mencari uang untuk membeli susumu, Nak. Ini adalah cara Bunda bisa memberi manfaat untuk orang lain. Semoga ini bisa menjadi ladang amal Bunda." Meski entah dia mengerti atau tidak, tapi si bungsu hampir tak pernah menangis setiap kali aku pamitan untuk berangkat kerja.

Tentu saja setiap ibu mempunyai ladang amalnya sendiri. Seharian mengurus rumah adalah ladang amal. Membantu perekonomian keluarga dengan berdagang sembari mengurus rumah, adalah ladang amal. Ketika kapasitas ilmu memadai, berdakwah di luar rumah adalah ladang amal. Dan banyak ladang amal lain juga. Yang terpenting adalah niatan kita, yaitu untuk mencapai ridho Allah. Jangan lupakan ridho suami atas semua aktifitas kita.

Bagiku yang biasa disebut ibu bekerja, semua tidaklah mudah. Aku telah melewati masa perasaan bersalah ketika pertama kali masuk kerja setelah cuti 3 bulan, dulu, di masa anak pertamaku. Apalagi ketika membaca postingan tentang keutamaan ibu yang mengasuh anaknya sendiri. Atau membaca status teman yang terlihat bahagia memasak dan mengasuh anak-anaknya di rumah.

Benar adanya bahwa seringkali kita sawang sinawang. Kita saling melihat kepada orang lain, menganggap orang lain mungkin lebih beruntung dari kita. Lalu ketika seorang teman mengatakan padaku, "Enak kamu yang sudah jadi pegawai", aku mulai menyadari semua lebih pada penerimaan diri. Karena menjadi ibu rumah tangga ataupun ibu bekerja, namanya tetaplah ibu. Hanya kita yang membuat perbedaan dengan menambah label di belakang kata ibu. Dan seperti yang pernah aku baca, bahwa "Surga itu di bawah telapak kaki ibu." Tanpa embel-embel ibu rumah tangga atau ibu bekerja. Hanya IBU.

Aku bersyukur, suamiku ridho dengan aktifitasku. Dan suamiku juga bisa bekerja sama dalam pekerjaan rumah tangga. Ia biasa mencuci baju (dengan mesin cuci), ia tak ragu memegang sapu ketika rumah mulai kotor, ia juga tak canggung menggoreng tempe untuk lauk ketika aku disibukkan dengan anak-anak yang meminta perhatian. Aku sendiri berusaha tahu diri, aku tidak akan membawa pekerjaan kantor ke rumah. Pekerjaan kantor aku kerjakan di kantor. Sedangkan di rumah, aku adalah istri dan ibu.

Sempurna hanyalah milik Allah. Karena itu kami selalu berdo'a, semoga Allah membimbing kami dalam membina keluarga yang sakinah (tenang, tentram), mawaddah (penuh cinta, harapan), wa rohmah (dan penuh kasih sayang). Insya Allah kami akan terus belajar.

Sunday, 17 May 2015

LIBURAN PILIHAN KAMI

Liburan. Kata itu menjadi istimewa bagi kami yang bekerja di luar rumah. Seperti aku dan suami yang sehari-hari sama-sama bekerja di luar rumah. Dan kebetulan pula hari libur kami berbeda. Aku libur di hari ahad, sedang suamiku libur di hari jum'at. Gak pernah klop jadinya. Karena itu begitu ada tanggal merah, dimana kami bisa libur bersama, kamipun memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.

Setiap keluarga pasti punya kriteria liburan yang diinginkan. Liburan ke pantai, ke gunung, ke tempat-tempat wisata terkenal, bahkan ke luar negeri. Dan banyak sedikitnya budget pasti mempengaruhi destinasi kita akan pilihan liburan kita ya...

Tapi liburan tak harus menghabiskan banyak biaya. Bagi kami, keinginan kami sederhana saja. Yaitu, liburan dimana kami bisa benar-benar refreshing. Jadi, ketika kembali ke rumah, kami tidak terlalu capek, dan ketika kembali bekerja kami bisa fresh. Dan lagi, harus hemat biaya. Ngirit gitu... hehehe... Eh, ada lagi, yang paling penting diantara semua itu adalah anak-anak harus merasa senang. 
Jadi, inilah liburan sederhana ala keluarga kami. Eng ing eng...

1. Main ke rumah Eyang.
Silaturahim ke rumah Eyangnya anak-anak adalah hal yang kami usahakan untuk bisa rutin melakukannya. Rumah kami dan Eyang sebenarnya tidaklah jauh. Jaraknya tidak sampai 20 km. Tapi kesibukan membuat kami tak bisa selalu mengunjungi Eyang. Jadi kunjungan itu selalu menjadi hal istimewa bagi kami dan anak-anak kami. 
Dan, dimana-mana yang namanya Eyang pasti menyayangi cucu-cucunya. Begitupun kejadiannya dengan Eyang dan anak-anak kami. Setiap kali kami berkunjung, pasti semua yang diinginkan anak-anakku dituruti. Jadi, anak-anak pasti senang kalau diajak liburan ke rumah Eyangnya.
Leyeh-leyeh di rumah Eyang
2. Ke kolam renang dekat rumah.
Yang penting dalam menghabiskan liburan adalah kebersamaan kami dengan anak-anak. Berjarak setengah jam dari rumah kami ada kolam renang yang juga menyediakan kolam pemancingan. Jadi, ketika anak-anak sudah capek bermain air, kami bisa makan siang bersama di tempat itu.
Main air bersama sepupu
3. Tempat wisata dekat rumah.
Jadi, apa yang penting dari liburan bagi kami? Anak-anak senang dan bahagia. Nah, untuk membuat mereka tertawa bahagia, cukuplah kami mengajak mereka ke tempat wisata yang tidak terlalu jauh dari rumah. Dan tentu saja, murah meriah.

Bermain pasir di Pantai Guamanik Jepara
4. Main di sekitar rumah.
Jadi, kalau pas liburan dan anak-anak hanya menghabiskan waktu di dalam rumah dengan gadget, kami akan segera mengusir mereka. Biasanya kami akan bilang, "Sana main sama teman-temannya. Lari-lari atau naik sepeda." Hehehe...
Kami sedih saja kalau mereka terlalu asyik main game dan tak hirau dengan sekitarnya. Kami lebih senang mereka berkeringat karena lari-larian, main sepeda, mengejar kucing tetangga atau mencari ikan di kali kecil. Lagipula mereka bisa berlatih bersosialisasi dengan orang lain.
Lah, Bunda sama abinya kemana? Bunda masak, abi momong adik kecil. Kalau mereka capek main, kami akan menawari anak-anak beserta teman-temannya untuk mencicipi masakan Bunda. ;)
Let's go girls, ayo cari lebih banyak teman
Seperti itulah liburan sederhana keluarga kami. Bagaimana dengan keluarga Bunda?

Monday, 4 May 2015

MENCINTAI DAN KEBAHAGIAN YANG DICINTAI

Dokpri
Buku Ar-Rasul karya Said Hawwa sudah memenuhi rak bukuku sejak 5 Januari 2007, terlihat dari tanggal yang aku tulis di halaman pertamanya (kebiasaanku memberi tulisan tanggal pembelian buku). Ternyata sudah 8 tahun yang lalu, dan aku belum mampu menyelesaikannya. Hiks... Rasanya buku tersebut berat sekali, bukan hanya tebalnya yang membuat berat, tapi muatannya juga berat menurutku. Lhah akunya memang lebih lahap memakan novel soalnya. Yang seperti ini, terasa beratnya. #curhat dulu.

Tapi kemarin aku mencoba membaca lagi dengan cara berbeda. Membaca tanpa urut halaman dan yang menarik bagiku saja. Dan... aku kok menemukan bagian ini, aku tulis kembali ya...

Kisah 1
At-Tirmidzi mengeluarkan dari Jami' bin Umair At-Taimi, ia berkata, "Aku masuk bersama bibiku menemui Aisyah RA. Aku tanyakan padanya, "Siapakah wanita yang paling dicintai Rasulullah SAW? Aisyah menjawab, "Fathimah." Ditanyakan lagi, "Dari lelaki siapa yang paling dicintai Rasulullah SAW?" Aisyah menjawab, "Suaminya Fathimah, yang aku ketahui dia ahli puasa (shawwaman) dan ahli qiyamul lail (qowwaman)."

Kisah 2
Dalam kitab Ad-Dalail, Baihaqi meriwayatkan bahwa Ali berkata, "Fathimah telah dilamar orang pada Rasulullah SAW. Budakku perempuan berkata kepadaku, 'Apakah kamu tahu bahwa Fathimah telah dilamar orang kepada Rasulullah SAW?' Aku menjawab. 'Tidak'. Ia berkata, 'Ia telah dilamar (tetapi tidak diterima), apa yang mencegahmu untuk datang kepada Rasulullah SAW dan beliau akan menikahkan Fathimah denganmu?' Kukatakan, 'Aku tidak memiliki sesuatu untuk menikah.' Ia berkata, 'Jika kamu datang pada Rasulullah SAW beliau akan menikahkan kamu.'

Ali berkata, 'Demi Allah, tak henti-hentinya ia membujukku sampai akhirnya aku menghadap Rasulullah SAW. Ketika aku duduk di hadapan Rasulullah SAW, lidahku kelu dan terdiam seribu bahasa. Demi Allah, aku tak bisa berkata apa-apa berhadapan dengan keagungan dan wibawa Rasulullah SAW. Rasulullah SAW yang membuka pembicaraan dan bertanya, 'Apa yang membuatmu datang kemari? Apakah kamu punya hajat?'

Ali diam saja tidak menjawab. Lalu Rasulullah SAW berkata, 'Agaknya kamu datang untuk meminang Fathimah?' Aku katakan, 'Ya.' Rasulullah SAW bertanya, 'Apakah kamu memiliki sesuatu untuk diberikan padanya sebagai perhiasan?' Aku menjawab, 'Tidak, demi Allah wahai Rasulullah.'

Beliau bertanya, 'Apa yang kamu lakukan dengan baju besi yang aku berikan padamu?' Demi Zat yang jiwa Ali ada di tangan-Nya, ia hanyalah rongsokan yang harganya tak lebih empat dirham. Aku lalu menjawab, 'Masih ada padaku.' Beliau lalu bersabda, 'Aku nikahkan kamu dengan Fathimah, maka kirimkanlah barang itu pada Fathimah dan pakaikan itu kepadanya, itulah mahar Fathimah binti Rasulullah SAW.'"

Kisah 3
Bukhari dan Muslim meriwayatkan, "Ali berkata pada Ibnu A'bad, 'Maukah aku ceritakan padamu tentang diriku dan Fathimah?' Aku menjawab, 'Ya, ceritakanlah.' Ali berkata, 'Fathimah menggiling dengan gilingan tangan sampai membekas tangannya, dan membawa air dengan gerimba air hingga membuat bekas di dadanya dan menyapu rumah sampai pakaiannya berdebu (dan terkena kotoran sampai pekat pakaiannya). Sementara itu, datanglah seorang khadim (pembantu) kepada Rasulullah SAW, maka aku katakan padanya, 'Kalau saja kamu temui ayahmu dan minta seorang pembantu kepadanya.' Ia lalu pergi kesana, tetapi ia menemukan Rasulullah SAW sedang ada pembicaraan, lalu ia kembali lagi.

Keesokan harinya Rasulullah SAW mendatanginya dan bertanya, 'Apa hajatmu?' Fathimah hanya diam saja. Aku katakan, 'Aku yang menjawabnya, wahai Rasulullah SAW. Ia menggiling dengan gilingan hingga membekas pada tangannya, membawa gerimba air hingga membekas pada dadanya. Maka ketika datang pembantu, aku suruh ia untuk mendatangi engkau, agar engkau memberikannya seorang khadim yang membebaskan ia dari kepayahannya.'

Rasulullah bersabda, "Bertakwalah kepada Allah, wahai Fathimah, kerjakanlah kewajiban fardhu Rabbmu, dan kerjakanlah pekerjaan rumah tanggamu. Jika engkau hendak tidur, bertasbihlah tiga puluh tiga kali, bertahmidlah tiga puluh tiga kali, dan bertakbirlah tiga puluh empat kali. Itu semua seratus kali lebih baik dari seorang pembantu."

Fathimah berkata, 'Aku ridho dari Allah dan Rasul-Nya.' Beliau tidak memberinya pembantu."

Jadi, apa benang merah dari tiga kisah diatas? Ini versiku... :D

Ketika membaca kisah diatas, aku jadi termenung. Tentang Rasulullah SAW yang sangat mencintai putrinya, dan cara Rasulullah mencintai. Orientasi beliau adalah akhirat, itu kesimpulanku.

Rasulullah bisa saja memilihkan suami dari kalangan orang kaya untuk Fathimah. Tetapi beliau memilih lelaki sederhana nan sholih, yang "hanya" bisa memberi mahar sebuah baju besi.

Lalu Rasulullahpun bisa memberi pembantu untuk Fathimah, tetapi beliau memberikan yang lebih baik dari sekedar pembantu. Dzikir-dzikir yang bahkan seratus kali lebih baik dari seorang pembantu. Dan sang putripun ridho dengan keputusan ayahnya. Subhanallah.

Jika itu aku, saat aku mencintai putra-putriku, mungkin aku akan memberikan apapun yang mereka butuhkan. Aku tak ingin tangan mereka tergores sedikitpun. Aku tak ingin mereka menderita. Aku ingin mereka bergelimang harta benda dan segala kemewahan. Aku ingin mereka bahagia. Hingga aku lupa, kebahagiaan abadi itu bukan di dunia.

Dan Rasulullah, pemimpin mulia itu, adalah uswah hasanah kita. Melihat pada diriku sendiri, sudahkan aku menjadikan beliau suri tauladanku? #merenung lagi.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...