Wednesday, 20 May 2015

AKU ADALAH IBU



Aku menatap matanya, dan membisikkan, "Insya Allah Bunda bekerja bukan sekedar mencari uang untuk membeli susumu, Nak. Ini adalah cara Bunda bisa memberi manfaat untuk orang lain. Semoga ini bisa menjadi ladang amal Bunda." Meski entah dia mengerti atau tidak, tapi si bungsu hampir tak pernah menangis setiap kali aku pamitan untuk berangkat kerja.

Tentu saja setiap ibu mempunyai ladang amalnya sendiri. Seharian mengurus rumah adalah ladang amal. Membantu perekonomian keluarga dengan berdagang sembari mengurus rumah, adalah ladang amal. Ketika kapasitas ilmu memadai, berdakwah di luar rumah adalah ladang amal. Dan banyak ladang amal lain juga. Yang terpenting adalah niatan kita, yaitu untuk mencapai ridho Allah. Jangan lupakan ridho suami atas semua aktifitas kita.

Bagiku yang biasa disebut ibu bekerja, semua tidaklah mudah. Aku telah melewati masa perasaan bersalah ketika pertama kali masuk kerja setelah cuti 3 bulan, dulu, di masa anak pertamaku. Apalagi ketika membaca postingan tentang keutamaan ibu yang mengasuh anaknya sendiri. Atau membaca status teman yang terlihat bahagia memasak dan mengasuh anak-anaknya di rumah.

Benar adanya bahwa seringkali kita sawang sinawang. Kita saling melihat kepada orang lain, menganggap orang lain mungkin lebih beruntung dari kita. Lalu ketika seorang teman mengatakan padaku, "Enak kamu yang sudah jadi pegawai", aku mulai menyadari semua lebih pada penerimaan diri. Karena menjadi ibu rumah tangga ataupun ibu bekerja, namanya tetaplah ibu. Hanya kita yang membuat perbedaan dengan menambah label di belakang kata ibu. Dan seperti yang pernah aku baca, bahwa "Surga itu di bawah telapak kaki ibu." Tanpa embel-embel ibu rumah tangga atau ibu bekerja. Hanya IBU.

Aku bersyukur, suamiku ridho dengan aktifitasku. Dan suamiku juga bisa bekerja sama dalam pekerjaan rumah tangga. Ia biasa mencuci baju (dengan mesin cuci), ia tak ragu memegang sapu ketika rumah mulai kotor, ia juga tak canggung menggoreng tempe untuk lauk ketika aku disibukkan dengan anak-anak yang meminta perhatian. Aku sendiri berusaha tahu diri, aku tidak akan membawa pekerjaan kantor ke rumah. Pekerjaan kantor aku kerjakan di kantor. Sedangkan di rumah, aku adalah istri dan ibu.

Sempurna hanyalah milik Allah. Karena itu kami selalu berdo'a, semoga Allah membimbing kami dalam membina keluarga yang sakinah (tenang, tentram), mawaddah (penuh cinta, harapan), wa rohmah (dan penuh kasih sayang). Insya Allah kami akan terus belajar.

1 comment:

  1. Terima kasih Mak... Aamiin jg utk keluarga Mak Nurul. :)

    ReplyDelete

Terima kasih telah memberikan komentar di blog saya. Mohon untuk memberi komentar dengan kata yang santun. Terima kasih. :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...