Wednesday, 20 May 2015

Kenangan Ramadhan Masa Kuliah: IBA Yang Membuat Iba

Dulu aku kuliah di jurusan Teknik Sipil, dimana salah satu mata kuliahnya ada yang namanya Irigasi dan Bangunan Air. Dan kami di jurusan menyebutnya IBA. Menurutku IBA ini merupakan salah satu mata kuliah paling sulit. Teorinya saja sudah sulit, apalagi praktikumnya tambah mumet pokoknya. Maklum, otakku termasuk yang biasa saja. :)

Waktu itu bulan Ramadhan, ketika deadline penyelesaian praktikum IBA hampir tiba. Kami satu kelompok berlima masih sibuk dengan urusan masing-masing, sehingga praktikum IBA yang harus segera kami kerjakan menjadi terlantar. Entah, apa kami sungguh sibuk atau malas mengerjakannya. Yang pasti, tiba-tiba saja, tenggat waktu yang diberikan hampir habis.

Meski kami tahu kalau waktu yang diberikan untuk mengerjakan praktikum IBA sudah mendekati deadline, kami masih saja lengah. Kami mulai bertemu satu kelompok, tapi belum serius mengerjakannya. Hingga satu hari sebelum deadline, kami kelabakan. Dan begitulah mahasiswa... kami benar-benar menggunakan metode SKS (sistem kebut semalam) untuk mengerjakan praktikum IBA.

Saat itu adalah Ramadhan paling berkesan. Berkesan karena kami sama sekali tidak tidur semalaman demi mengerjakan praktikum IBA. Sampai mata terkantuk-kantuk, kami memaksakan diri untuk bisa menyelesaikannya. Hingga waktu sahur, kami sahur seadanya, lalu melajutkan pekerjaan kami lagi hingga pagi hari. Dan luar biasa, kami benar-benar bisa menyelesaikannya. Tapi kami belum bisa bernafas lega. Kami masih harus meminta persetujuan co-ass (pembimbing praktikum dari kakak kelas) sebelum maju ujian praktikum kepada dosen.

Pagi hari menjelang siang setelah mengeprint hasil kerja kami dan memberesi gambar-gambar, kami ke kampus untuk konsultasi pada co-ass. Segera setelah disetujui, kami segera maju kepada dosen. Lega rasanya ketika praktikum itu bisa kami kerjakan tepat pada waktunya. Bahkan benar-benar tepat waktu. Tetapi akhirnya IBA yang membuat iba itu bisa juga kami selesaikan.

Dan kelelahan kami terbayarkan, karena ketika nilai keluar, nilai praktikum kami mendapat nilai lumayan. Yah... meski bukan nilai maksimal, tapi memikirkan praktikum yang hanya dikerjakan dalam waktu semalam (seperti Bandung Bondowoso yang menyelesaikan Candi Prambanan saja ya...), itu adalah nilai yang hebat.

Ada hikmah dari pengalaman ini. Untukku, hikmah pertama, aku jadi belajar agar memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Jangan karena deadline masih lama, lalu kita bersantai-santai. Jadi ketika deadline sudah dekat, kita kelabakan deh... Kedua, apapun yang terjadi, tetaplah berusaha. Jika pernah salah di masa lalu, jadikan itu pelajaran agar kita tidak terperosok pada kesalahan yang sama. Ketiga, selalu berdo'a. Betapapun sulitnya, selalu ada Allah yang mengatakan, "Inna ma'al 'usri yusron. Sesungguhnya bersama kesulitan terdapat kemudahan."

Mungkin saat itu kami mendapatkan barokah bulan Ramadhan, sehingga mempunyai kekuatan untuk menyelesaikan praktikum yang seharusnya dikerjakan berminggu-minggu. Dan bersyukur kami berlima kuat hingga maju kepada dosen. Meski setelah semua selesai, aku yang kelelahan membayar utang tidur dengan tidur lebih lama lagi. ;) Entah teman sekelompokku yang lain.


2 comments:

  1. Bener mak, jangan nunggu deadline. Kerjakan apa yang bisa dikerjakan sekarang, hehe.. Terima kasih sudah ikutan mak..:)

    ReplyDelete

Terima kasih telah memberikan komentar di blog saya. Mohon untuk memberi komentar dengan kata yang santun. Terima kasih. :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...