Monday, 4 May 2015

MENCINTAI DAN KEBAHAGIAN YANG DICINTAI

Dokpri
Buku Ar-Rasul karya Said Hawwa sudah memenuhi rak bukuku sejak 5 Januari 2007, terlihat dari tanggal yang aku tulis di halaman pertamanya (kebiasaanku memberi tulisan tanggal pembelian buku). Ternyata sudah 8 tahun yang lalu, dan aku belum mampu menyelesaikannya. Hiks... Rasanya buku tersebut berat sekali, bukan hanya tebalnya yang membuat berat, tapi muatannya juga berat menurutku. Lhah akunya memang lebih lahap memakan novel soalnya. Yang seperti ini, terasa beratnya. #curhat dulu.

Tapi kemarin aku mencoba membaca lagi dengan cara berbeda. Membaca tanpa urut halaman dan yang menarik bagiku saja. Dan... aku kok menemukan bagian ini, aku tulis kembali ya...

Kisah 1
At-Tirmidzi mengeluarkan dari Jami' bin Umair At-Taimi, ia berkata, "Aku masuk bersama bibiku menemui Aisyah RA. Aku tanyakan padanya, "Siapakah wanita yang paling dicintai Rasulullah SAW? Aisyah menjawab, "Fathimah." Ditanyakan lagi, "Dari lelaki siapa yang paling dicintai Rasulullah SAW?" Aisyah menjawab, "Suaminya Fathimah, yang aku ketahui dia ahli puasa (shawwaman) dan ahli qiyamul lail (qowwaman)."

Kisah 2
Dalam kitab Ad-Dalail, Baihaqi meriwayatkan bahwa Ali berkata, "Fathimah telah dilamar orang pada Rasulullah SAW. Budakku perempuan berkata kepadaku, 'Apakah kamu tahu bahwa Fathimah telah dilamar orang kepada Rasulullah SAW?' Aku menjawab. 'Tidak'. Ia berkata, 'Ia telah dilamar (tetapi tidak diterima), apa yang mencegahmu untuk datang kepada Rasulullah SAW dan beliau akan menikahkan Fathimah denganmu?' Kukatakan, 'Aku tidak memiliki sesuatu untuk menikah.' Ia berkata, 'Jika kamu datang pada Rasulullah SAW beliau akan menikahkan kamu.'

Ali berkata, 'Demi Allah, tak henti-hentinya ia membujukku sampai akhirnya aku menghadap Rasulullah SAW. Ketika aku duduk di hadapan Rasulullah SAW, lidahku kelu dan terdiam seribu bahasa. Demi Allah, aku tak bisa berkata apa-apa berhadapan dengan keagungan dan wibawa Rasulullah SAW. Rasulullah SAW yang membuka pembicaraan dan bertanya, 'Apa yang membuatmu datang kemari? Apakah kamu punya hajat?'

Ali diam saja tidak menjawab. Lalu Rasulullah SAW berkata, 'Agaknya kamu datang untuk meminang Fathimah?' Aku katakan, 'Ya.' Rasulullah SAW bertanya, 'Apakah kamu memiliki sesuatu untuk diberikan padanya sebagai perhiasan?' Aku menjawab, 'Tidak, demi Allah wahai Rasulullah.'

Beliau bertanya, 'Apa yang kamu lakukan dengan baju besi yang aku berikan padamu?' Demi Zat yang jiwa Ali ada di tangan-Nya, ia hanyalah rongsokan yang harganya tak lebih empat dirham. Aku lalu menjawab, 'Masih ada padaku.' Beliau lalu bersabda, 'Aku nikahkan kamu dengan Fathimah, maka kirimkanlah barang itu pada Fathimah dan pakaikan itu kepadanya, itulah mahar Fathimah binti Rasulullah SAW.'"

Kisah 3
Bukhari dan Muslim meriwayatkan, "Ali berkata pada Ibnu A'bad, 'Maukah aku ceritakan padamu tentang diriku dan Fathimah?' Aku menjawab, 'Ya, ceritakanlah.' Ali berkata, 'Fathimah menggiling dengan gilingan tangan sampai membekas tangannya, dan membawa air dengan gerimba air hingga membuat bekas di dadanya dan menyapu rumah sampai pakaiannya berdebu (dan terkena kotoran sampai pekat pakaiannya). Sementara itu, datanglah seorang khadim (pembantu) kepada Rasulullah SAW, maka aku katakan padanya, 'Kalau saja kamu temui ayahmu dan minta seorang pembantu kepadanya.' Ia lalu pergi kesana, tetapi ia menemukan Rasulullah SAW sedang ada pembicaraan, lalu ia kembali lagi.

Keesokan harinya Rasulullah SAW mendatanginya dan bertanya, 'Apa hajatmu?' Fathimah hanya diam saja. Aku katakan, 'Aku yang menjawabnya, wahai Rasulullah SAW. Ia menggiling dengan gilingan hingga membekas pada tangannya, membawa gerimba air hingga membekas pada dadanya. Maka ketika datang pembantu, aku suruh ia untuk mendatangi engkau, agar engkau memberikannya seorang khadim yang membebaskan ia dari kepayahannya.'

Rasulullah bersabda, "Bertakwalah kepada Allah, wahai Fathimah, kerjakanlah kewajiban fardhu Rabbmu, dan kerjakanlah pekerjaan rumah tanggamu. Jika engkau hendak tidur, bertasbihlah tiga puluh tiga kali, bertahmidlah tiga puluh tiga kali, dan bertakbirlah tiga puluh empat kali. Itu semua seratus kali lebih baik dari seorang pembantu."

Fathimah berkata, 'Aku ridho dari Allah dan Rasul-Nya.' Beliau tidak memberinya pembantu."

Jadi, apa benang merah dari tiga kisah diatas? Ini versiku... :D

Ketika membaca kisah diatas, aku jadi termenung. Tentang Rasulullah SAW yang sangat mencintai putrinya, dan cara Rasulullah mencintai. Orientasi beliau adalah akhirat, itu kesimpulanku.

Rasulullah bisa saja memilihkan suami dari kalangan orang kaya untuk Fathimah. Tetapi beliau memilih lelaki sederhana nan sholih, yang "hanya" bisa memberi mahar sebuah baju besi.

Lalu Rasulullahpun bisa memberi pembantu untuk Fathimah, tetapi beliau memberikan yang lebih baik dari sekedar pembantu. Dzikir-dzikir yang bahkan seratus kali lebih baik dari seorang pembantu. Dan sang putripun ridho dengan keputusan ayahnya. Subhanallah.

Jika itu aku, saat aku mencintai putra-putriku, mungkin aku akan memberikan apapun yang mereka butuhkan. Aku tak ingin tangan mereka tergores sedikitpun. Aku tak ingin mereka menderita. Aku ingin mereka bergelimang harta benda dan segala kemewahan. Aku ingin mereka bahagia. Hingga aku lupa, kebahagiaan abadi itu bukan di dunia.

Dan Rasulullah, pemimpin mulia itu, adalah uswah hasanah kita. Melihat pada diriku sendiri, sudahkan aku menjadikan beliau suri tauladanku? #merenung lagi.


4 comments:

  1. wah aku juag ikut merenung nih, tentunya kiat harus mengikuti suri teladan beliau

    ReplyDelete
  2. Ok Mak... Terima kasih sdh mampir, Mamah Tira... :)

    ReplyDelete
  3. Subhanallah, kebaikan kebaikan rosul memang tidak ada habisnya, uswatun khasanah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mb Noorma... Semoga kita bisa senantiasa menjadikan beliau idola. :)

      Delete

Terima kasih telah memberikan komentar di blog saya. Mohon untuk memberi komentar dengan kata yang santun. Terima kasih. :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...