Friday, 26 June 2015

MENGAKHIRI RAMADHAN BERSAMA KELUARGA BESAR


Rumah yang sekarang aku tinggali adalah rumah peninggalan orangtua. Sudah turun temurun, sejak masih berupa rumah dari papan kayu jati, hingga sekarang sudah berganti tembok, rumah yang aku tempati selalu menjadi rumah yang ramai. Mungkin sudah menjadi takdir rumah itu sejak belum direnovasi dulu, selalu ditinggali oleh anak tertua atau yang dituakan di keluarga. Sehingga rumah itu selalu menjadi tempat tujuan pulang untuk keluarga besar kami yang berdomisili di luar kota tiap Ramadhan menjelang Idul Fitri.

Aku ingat ketika simbahku masih hidup dulu, tiap akhir Ramadhan saudara-saudara yang berdomisili di luar kota mulai berdatangan dan menginap di rumah. Kebetulan, ibuku yang menempati rumah simbah dan membersamai simbah. Kamipun berusaha menjadi tuan rumah yang baik untuk saudara-saudara kami.

Om dan Bulek dari Kota Tegal biasanya datang terlebih dahulu. Seperti biasa mereka membawa oleh-oleh teh dari Tegal yang menjadi favorit keluarga kami. Kenapa harus membawa teh dari Tegal? Karena Om kami sudah terbiasa minum teh tersebut dan menurutnya tak ada yang seenak teh Tegal. Kami setuju saja, karena memang kenyataannya seperti itu. Lagipula di daerah kami tak ada yang menjual teh favorit Om kami itu. Akhirnya, sahur dan buka puasa kami bertambah hangat ditemani teh favorit dari Tegal itu.

Kemudian Pakdhe dan Budhe dari Blora datang, membawa bala tentara yang banyak. Hehe... Putra-putrinya memang paling banyak diantara saudara ibuku. Tambah ramailah rumah kami. Dan bagian rumah mana yang paling ramai? Haha... Ternyata, dapurlah yang paling ramai. Apa yang membuat ramai? Tentu acara memasaknya, terutama saat menyiapkan buka puasa.

Semua karena masing-masing keluarga punya selera yang berbeda. Om yang dari Tegal tidak suka masakan manis. Sedangkan kami kalau memasak pasti menggunakan gula sebagai pengganti penyedap rasa. Jadi, sebelum diberi gula, kami akan menyisihkan sayuran dan lauk lainnya terlebih dahulu. Setelah itu barulah gula pasir dimasukkan kedalam masakan. Lalu, Pakdhe dari Blora menyukai sambal yang banyak terasinya dan rasanya suka yang agak manis. Jadilah kami membuat beberapa macam sambal untuk memenuhi selera masing-masing tamu kami. Dapurpun menjadi heboh. Karena ibuku, bulek dan budhe, menyiapkan masakan yang menjadi selera keluarga masing-masing.

Eh tapi, meski selera masakan kami berbeda-beda, ternyata ada yang tak bisa ditolak semua saudara kami. Apakah itu? Jadi, sebagai tuan rumah yang baik, biasanya satu hari menjelang kedatangan saudara, ibu sudah belanja banyak keperluan dapur di pasar. Dan terfavorit adalah membeli udang windu yang ukurannya besar. Biasanya cukup digoreng dengan garam saja, semua orangpun sudah menyukainya. Tak ada yang menolak kelezatan udang windu yang digoreng. Di Tayu, tempat kami tinggal memang banyak tambak yang membudidayakan udang windu. Ditambah sambal terasi yang mantap rasa terasinya. Sempurnalah kelezatan udang windu tadi. Tentunya sambal terasinya disesuaikan dengan lidah masing-masing orang. :D

Setelah itu, menunggu waktu buka puasa juga tak kalah hebohnya. Ruangan di rumah akan disulap menjadi ruang makan semua. Maksudnya, semua tinggal memilih mau berbuka di ruangan mana saja. Di dapur yang langsung terhubung dengan ruang makan atau ruang tamu yang juga menjadi ruang keluarga. Biasanya para orangtua laki-laki akan makan di ruang makan. Ibu-ibu di dapur. Dan kami anak-anak memilih di ruang keluarga sambil menonton televisi.

Semoga menjadi rumah yang barokah

Seperti itulah keramaian di rumah kami tiap Ramadhan hampir berakhir ketika simbah masih hidup. Begitupun setelah simbah tiada, ibu masih melanjutkan tradisi "rumah yang selalu ramai". Kini, tongkat estafet itu berada di tanganku. Aku adalah anak tertua di keluargaku dan seperti pendahuluku, aku akan menjadi penjaga rumah yang menjadi tujuan pulang ini. Jika dulu ibu selalu menunggu kedatangan saudara-saudaranya, akupun sekarang menunggu adik-adikku beserta keluarganya untuk pulang ke rumah kami ini.

Sungguh, semoga Engkau memberikan ke-barokah-an untuk rumah kami ini Ya Allah...

Mau share tentang 'Ramadhan di Rumah' juga? Klik link ini...

Monday, 22 June 2015

MOBIL IMPIANKU, DULU DAN KINI

Melihat-lihat harga mobil impian di rajamobil.com

Sebenarnya aku tidak terlalu tahu tentang mobil. Jadi, kalau ada yang heboh tentang mobil baru atau mobil murah yang sedang tren, aku biasa-biasa saja. Gimana mau komen kalau tidak tahu apa-apa. Daripada komentar tanpa ilmu kan? Mending diam sambil menyimak. Dan juga ngitung, duit sudah cukup belum ya, untuk beli mobil impian. Hehe... Tetep punya mobil impian dong, meski pengetahuan tentang mobil bisa dibilang nol besar.

Jadi, seperti apa mobil impian bagi orang yang tak tahu mobil sepertiku? Ternyata impianku tentang mobil berkembang mengikuti kondisi. Ya, gitu deh... Dulu masih single, kemudian menikah, lalu lahir anak-anak.
Situasi mengubah seseorang kan? Impian menyesuaikan kebutuhan. :D

Waktu sedang kerja praktek masa kuliah dulu, di proyek yang aku ikuti, banyak orang di kantor kontraktor menggunakan mobil taft. Menurutku waktu itu sih keren. Jadi, mobil setipe taft itu yang dulu aku idam-idamkan. Kelihatan keren dan gagah gitu... #lugu banget pokoke.
Bukan Taft, gak pa-pa deh, yang penting mirip. Wkwk...

Tentang mobil impianku waktu itu, mungkin terpengaruh lingkungan juga kali ya... Sebagai mahasiswa teknik sipil, teman sekelas lebih banyak cowoknya, kalau sedang melihat-lihat proyek (bangunan, jalan atau jembatan), yang kulihat juga mobil-mobil setipe taft itu, jadi sepertinya semua itu cukup berpengaruh pada impianku tentang mobil.

Tapi ternyata setelah berkesempatan membeli mobil, kami (aku dan suami), sudah dua kali berganti mobil jenis sedan dan sekali memakai kijang. Jadi, sama sekali diluar impianku sebelumnya. Karena pada waktu itu, mobil seperti itulah yang ditawarkan kepada kami. Ya, tentunya juga sesuai budget yang kami miliki dong... It's ok. Mobil bekas dengan harga mobil murah meriah sudah cukup untuk keluarga kecil kami.

Lalu, anggota keluarga ternyata bertambah. Anak kedua, kemudian ketiga lahir. Dan kami juga biasa berkendara beramai-ramai dengan mertua atau saudara yang lain. Mobil impiannya ganti lagi deh... Sekarang, yang diimpikan adalah mobil yang bisa untuk seluruh keluarga. Paling tidak mobil itu nyaman jika ada banyak penumpang didalamnya. Hehe... Atau kalau kami pergi berlima (aku, suami dan anak-anak), anak-anak bisa bebas bergerak. Karena begitulah anak-anak, dimanapun tempatnya dunia anak adalah dunia bermain. Didalam mobil sekalipun, pokoknya ya main.

Mobil impianku saat ini bermula ketika satu kali kami sekeluarga pergi ke Jogja dengan menyewa mobil Grand Livina. Mampunya baru nyewa brow... Sepertinya mobil itu cukup nyaman untuk keluarga kami.  

Interior Nissan Grand Livina. Sumber: dari sini

Space ruang yang lebar membuat anak-anak merasa nyaman bermain. Saat capek mereka juga bisa tiduran enak. Kursi belakang tinggal dilipat dan bisa untuk tiduran. Apa lagi yang terpenting selain kenyamanan anak-anak? Saat ini, itu kan yang penting? Jadi, mari ngitung duit lagi... Bismillah, cukup... belum... cukup... belum... cukup... Atau ada yang mau ngasih gratis? :D #mimpi kali ye...



Saturday, 6 June 2015

WANGI YANG HANYA AKU YANG TAHU

Credit

Kamis, 20 Januari 2011. Hari itu adalah hari kelima (jika ingatanku benar) ibu berada di ruang ICU Rumah Sakit, karena serangan stroke yang kedua. Dibanding yang pertama, serangan stroke kedua ibu bisa dikatakan lebih parah. Kami menyimpulkan seperti itu dari kalimat dokter umum yang memeriksa ibu di rumah.

Saat serangan pertama di tahun sebelumnya, dokter umum itu menyarankan agar ibu segera dibawa ke rumah sakit supaya bisa segera ditangani dokter yang lebih kompeten. Sedang pada serangan kedua, dokter itu hanya mengatakan, "kalau mau dibawa ke rumah sakit, silahkan." Ada rasa yang berbeda dari kalimat itu. Entah, atau itu hanya perasaan kami.

Meski begitu, kami harus berikhtiar. Bagaimanapun hasilnya, semua kami serahkan pada Pemilik Hidup. Jadi, kami segera membawa ibu ke rumah sakit yang sama ketika mengalami stroke pertama. Pertimbangan kami, dokter disana sudah mengetahui riwayat stroke sebelumnya. Begitulah, sesampai di rumah sakit, ibu langsung dirujuk di ICU.

Bapak dan adik bungsuku menunggui ibu siang dan malam, tentu saja di luar ruang ICU. Menunggu jika sewaktu-waktu ada kabar tentang ibu. Adik keduaku dan suaminyapun menyempatkan diri menemani bapak pada waktu-waktu tertentu. Begitupun suamiku. 

Dan aku, pada waktu itu masih bekerja di Bappeda Kabupaten Pati. Kebetulan, jarak antara kantor dan rumah sakit cukup dekat. Jadi, di siang hari aku bisa bolak-balik kantor - rumah sakit dan bisa segera menengok ibu pada jam bezuk. Ya, seperti kita tahu bahwa pasien di ruang ICU memang hanya boleh dibezuk pada jam-jam tertentu dan orang-orang yang terbatas.


Jam masih menunjukkan pukul 10.00 WIB. Aku bekerja di kantor seperti biasa, ketika tiba-tiba aku membaui wangi bunga melati. Aku masih belum peduli, aku pikir itu adalah parfum seseorang yang ada di dekatku. Tapi lama-lama aku berpikir, "Eh, temanku tak ada yang pakai parfum melati."

Aku menanyai teman-teman disebelahku. Ah, ternyata benar. Tak ada yang memakai parfum melati. Aku keluar ruangan. Entah kenapa wangi itu seperti mengikutiku. Aku menuju depan kantor, wangi itu masih ada. Aku berjalan menuju kantor bagian belakang, wangi itupun masih ada. Aku mulai gelisah.

Aku menelepon suamiku, bertanya bagaimana keadaan ibu. Ibu masih seperti sebelumnya. Belum sadar dan tak ada reaksi terhadap apapun. Meski sudah menelepon suamiku, aku masih gelisah. Kemudian aku meminta ijin pada atasanku untuk keluar sebentar.

Sampai rumah sakit, aku langsung masuk ruangan ibu. Kebetulan saat itu adalah jam bezuk. Sejujurnya, aku bukan orang yang ekspresif. Sehancur apapun aku didalam, aku tidak bisa menangis di hadapan orang-orang. Akupun menemui ibu yang terbaring di ruang ICU dengan biasa. Melihat keadaan ibu yang masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Masih koma. Kupandangi ibu yang penuh selang ditubuhnya. Selang infus, oksigen, ventilator, dan entah apa lagi. Dan aku sungguh tak bisa menangis. Tapi rasa hatiku seperti diaduk-aduk.

Flash back
Beberapa hari sebelumnya, dokter spesialis syaraf sudah mengabarkan kepada kami, jika dalam waktu 2 x 24 jam (aku agak lupa dengan hitungan jamnya) tidak ada reaksi dari ibu, mungkin kami harus merelakan ibu pergi.

Sesudah waktu 2 x 24 jam terlampaui, dokter syaraf itu kembali mengabarkan bahwa secara medis ibu sudah meninggal. Kalaupun ibu masih bernafas, itu karena bantuan peralatan pernafasan. Jika alat itu dicabut, ibu tidak bernafas lagi. Dokter dan pihak rumah sakit menyerahkan kepada kami, tentang apa yang akan kami lakukan untuk ibu.

Kami berdiskusi. Bapak, aku, adik-adikku, suamiku. Meski dokter mengatakan hal-hal seperti yang sudah aku ceritakan tadi, kami tak ingin kehilangan harapan. Kami masih ingin bertahan. Jadi, kami mengatakan kepada pihak rumah sakit, kalau kami masih ingin menunggu. Mungkin saja ibu bangun dari koma.

Kami menunggu. Kami berdo'a. Mohon yang terbaik untuk ibu kami. Dan entah bagaimana, Allah mengirimkan seorang perempuan yang juga menunggui saudaranya di ruang ICU. Beliau bercerita, dulupun suaminya mengalami hal semacam itu. Secara medis sudah meninggal, tetapi bantuan peralatan membuat suaminya masih bernafas. Beliaupun awalnya ragu waktu memutuskan mencabut peralatan di tubuh suaminya. Ada rasa tak ingin kehilangan. Tetapi banyak orang yang menasehatinya, bahwa malah kasihan suaminya jika ia tak segera merelakan suaminya pergi. Setelah itu ia memantapkan hati untuk mencabut bantuan pernafasan untuk suaminya.

Mendengar cerita itu, kamipun pasrah. Tetapi kami memutuskan untuk menunggu lagi. Setidaknya satu malam lagi. Sambil tetap berdo'a, mohon yang terbaik untuk ibu dan kami.
Flash back end

Dan hari itulah waktunya. Kamis, 20 Januari 2011. Kami semua memutuskan untuk merelakan ibu. Pihak rumah sakit membimbing kami. Memberitahu nama-nama alat yang menempel di tubuh ibu. Dan pada akhirnya mengatakan kalimat yang kurang lebih seperti ini, "Ini adalah alat bantu pernafasan. Silahkan salah satu keluarga mencabutnya."

Kami sendiri yang harus mencabutnya. Dan itu terasa berat, tak ada yang sanggup diantara kami. Jadi, kami menunjuk suamiku untuk mencabut alat itu. Sedang kami (bapak, aku dan adik bungsuku) berdiri di sekeliling ibu. Pada akhirnya, suamiku mencabut selang O2 itu. Aku melihat jam ditanganku, 12.20 WIB. Perlahan-lahan ibu kehilangan nafasnya. Ibu pergi dengan tenang.

Entah ada hubungannya antara wangi melati dengan kepergian ibu atau tidak. Yang pasti, do'a kami waktu itu adalah semoga ibu pergi dengan husnul khotimah.

Monday, 1 June 2015

MIMPI-MIMPIKU


Credit
Selama ini, aku termasuk orang yang menjalani hidup seperti air mengalir. Ikuti arusnya dan tidak terlalu banyak berpikir atau merancang masa depan dengan detail. Tetapi, seiring berjalannya waktu, aku sadar bahwa...

"Kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin, dan impian hari ini adalah kenyataan di hari esok"
(Hasan Al-Banna)
  
Dan dengan menuliskannya, semoga ini juga menjadi do'a, agar mimpi yang terpendam bisa segera menjadi kenyataan. Aamiin. Inilah mimpi-mimpiku itu...

Pertama: Mendaftar Haji bersama Suami
"Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik la syarikalaka labbaik..." 
Tiap kali mendengar kalimat talbiyah, rasanya ingin segera berangkat ke Mekah saja. Semoga tabungan kami segera mencukupi untuk mendaftar haji. Meski antrian untuk keberangkatan haji sangat panjang, hingga berpuluh tahun, aku meyakini bahwa haji adalah tentang panggilan Allah. Apa yang terlihat tidak mungkin, sangat mungkin bagi Allah. Jika Dia berkehendak, cukup "Kun fa yakun", maka semua bisa saja terjadi.

Sudah banyak orang yang secara akal terbatas manusia tak mungkin bisa berangkat haji, tetapi ternyata mereka bisa berhaji. Misalnya tukang becak, tukang sampah dan profesi lain yang terlihat 'remeh', tapi ternyata Allah memuliakan mereka dengan memanggil mereka menjadi tamu-Nya. Dan mungkin saja keajaiban itu terjadi pada kami, mendapat panggilan Allah untuk bertamu di Rumah-Nya tanpa ngantri bertahun-tahun. #ngarep. Aamiin.

Kedua: Menulis Novel Fantasy
Tahun ini menjadi titik balik semangatku dalam menulis. Setelah bergabung dengan komunitas menulis yang keren-keren, alhamdulillah aku jadi ketiban semangat dari teman-teman. Tak apa terlambat daripada tidak pernah mencoba meraih mimpi sama sekali kan?

Menulis novel adalah mimpi dari bertahun yang lalu, sejak akhir masa kuliahku. Dan semoga menulis dan bisa menerbitkan novel fantasy juga bisa segera terwujud. Aamiin lagi...

Ketiga: Punya Usaha yang Bisa Memberdayakan Orang-Orang Sekitar.
Selama ini kalau ada hajatan di rumah (misalnya tahlilan, aqiqahan, pengajian), aku jarang sekali pesan. Karena banyak tetangga yang pintar memasak, aku lebih suka memakai jasa mereka untuk memasak. Dan ini sudah berlangsung sejak ibuku dulu. Jadi, berharapnya suatu saat aku bisa punya usaha catering dengan memanfaatkan keahlian mereka.

Atau jualan batik dan tas dari hasil pelatihan PNPM-MPd di kecamatan tempatku bekerja (pernah cerita disini). Ada beberapa desa yang hasil pembuatan batik dan tasnya keren. Bahkan sampai pernah mendapat pesanan batik dalam partai besar.

Ya Allah kabulkanlah. Aamiin...

Keempat: Silaturahim kepada teman-teman ibu
Saat ini sudah tahun keempat kepergian ibu. Selama hidupnya, beliau mempunyai banyak teman. Mungkin ini adalah buah dari kepiawaian ibu dalam berorganisasi. Dulu, rumah kami selalu ramai dengan teman-teman ibu yang datang berkunjung. Kini, setelah ibu tiada, ingin sekali menyambung tali silaturahim dengan teman-teman ibu dahulu. Ingin mengenang perjuangan ibu dan teman-teman dalam berdakwah lewat organisasi. Mungkin juga menuliskan cerita-cerita itu.

Kelima: Berkelana Bersama Keluarga.
Saat ini kesibukanku dan suami yang sama-sama bekerja, serta anak-anak yang masih kecil belum memungkinkan bepergian jauh bersama-sama. Tapi suatu saat ingin sekali pergi bersama suami dan anak-anak silaturahmi ke rumah keluarga yang jauh atau ke rumah teman akrab di masa lalu, mungkin juga mengunjungi tempat-tempat terkenal di berbagai daerah.

Sepertinya bakalan seru bersama anak-anak memahami ayat-ayat kauniyah-Nya ketika berada di hamparan alam yang indah. Atau belajar budaya lain dengan orang daerahnya langsung. Juga mengeratkan tali persaudaraan dengan saudara dan teman yang sudah jarang bertemu. Dan mungkin kami akan sekedar bercanda di perjalanan? #sambil membayangkan. Tunggu anak-anak agak besar ya... :)

Banyak juga mimpi lain yang ingin dicapai. Tapi kelima mimpi itulah yang ingin aku capai dalam waktu dekat. Semoga Allah meridhoi. Aamiin.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...