Saturday, 6 June 2015

WANGI YANG HANYA AKU YANG TAHU

Credit

Kamis, 20 Januari 2011. Hari itu adalah hari kelima (jika ingatanku benar) ibu berada di ruang ICU Rumah Sakit, karena serangan stroke yang kedua. Dibanding yang pertama, serangan stroke kedua ibu bisa dikatakan lebih parah. Kami menyimpulkan seperti itu dari kalimat dokter umum yang memeriksa ibu di rumah.

Saat serangan pertama di tahun sebelumnya, dokter umum itu menyarankan agar ibu segera dibawa ke rumah sakit supaya bisa segera ditangani dokter yang lebih kompeten. Sedang pada serangan kedua, dokter itu hanya mengatakan, "kalau mau dibawa ke rumah sakit, silahkan." Ada rasa yang berbeda dari kalimat itu. Entah, atau itu hanya perasaan kami.

Meski begitu, kami harus berikhtiar. Bagaimanapun hasilnya, semua kami serahkan pada Pemilik Hidup. Jadi, kami segera membawa ibu ke rumah sakit yang sama ketika mengalami stroke pertama. Pertimbangan kami, dokter disana sudah mengetahui riwayat stroke sebelumnya. Begitulah, sesampai di rumah sakit, ibu langsung dirujuk di ICU.

Bapak dan adik bungsuku menunggui ibu siang dan malam, tentu saja di luar ruang ICU. Menunggu jika sewaktu-waktu ada kabar tentang ibu. Adik keduaku dan suaminyapun menyempatkan diri menemani bapak pada waktu-waktu tertentu. Begitupun suamiku. 

Dan aku, pada waktu itu masih bekerja di Bappeda Kabupaten Pati. Kebetulan, jarak antara kantor dan rumah sakit cukup dekat. Jadi, di siang hari aku bisa bolak-balik kantor - rumah sakit dan bisa segera menengok ibu pada jam bezuk. Ya, seperti kita tahu bahwa pasien di ruang ICU memang hanya boleh dibezuk pada jam-jam tertentu dan orang-orang yang terbatas.


Jam masih menunjukkan pukul 10.00 WIB. Aku bekerja di kantor seperti biasa, ketika tiba-tiba aku membaui wangi bunga melati. Aku masih belum peduli, aku pikir itu adalah parfum seseorang yang ada di dekatku. Tapi lama-lama aku berpikir, "Eh, temanku tak ada yang pakai parfum melati."

Aku menanyai teman-teman disebelahku. Ah, ternyata benar. Tak ada yang memakai parfum melati. Aku keluar ruangan. Entah kenapa wangi itu seperti mengikutiku. Aku menuju depan kantor, wangi itu masih ada. Aku berjalan menuju kantor bagian belakang, wangi itupun masih ada. Aku mulai gelisah.

Aku menelepon suamiku, bertanya bagaimana keadaan ibu. Ibu masih seperti sebelumnya. Belum sadar dan tak ada reaksi terhadap apapun. Meski sudah menelepon suamiku, aku masih gelisah. Kemudian aku meminta ijin pada atasanku untuk keluar sebentar.

Sampai rumah sakit, aku langsung masuk ruangan ibu. Kebetulan saat itu adalah jam bezuk. Sejujurnya, aku bukan orang yang ekspresif. Sehancur apapun aku didalam, aku tidak bisa menangis di hadapan orang-orang. Akupun menemui ibu yang terbaring di ruang ICU dengan biasa. Melihat keadaan ibu yang masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Masih koma. Kupandangi ibu yang penuh selang ditubuhnya. Selang infus, oksigen, ventilator, dan entah apa lagi. Dan aku sungguh tak bisa menangis. Tapi rasa hatiku seperti diaduk-aduk.

Flash back
Beberapa hari sebelumnya, dokter spesialis syaraf sudah mengabarkan kepada kami, jika dalam waktu 2 x 24 jam (aku agak lupa dengan hitungan jamnya) tidak ada reaksi dari ibu, mungkin kami harus merelakan ibu pergi.

Sesudah waktu 2 x 24 jam terlampaui, dokter syaraf itu kembali mengabarkan bahwa secara medis ibu sudah meninggal. Kalaupun ibu masih bernafas, itu karena bantuan peralatan pernafasan. Jika alat itu dicabut, ibu tidak bernafas lagi. Dokter dan pihak rumah sakit menyerahkan kepada kami, tentang apa yang akan kami lakukan untuk ibu.

Kami berdiskusi. Bapak, aku, adik-adikku, suamiku. Meski dokter mengatakan hal-hal seperti yang sudah aku ceritakan tadi, kami tak ingin kehilangan harapan. Kami masih ingin bertahan. Jadi, kami mengatakan kepada pihak rumah sakit, kalau kami masih ingin menunggu. Mungkin saja ibu bangun dari koma.

Kami menunggu. Kami berdo'a. Mohon yang terbaik untuk ibu kami. Dan entah bagaimana, Allah mengirimkan seorang perempuan yang juga menunggui saudaranya di ruang ICU. Beliau bercerita, dulupun suaminya mengalami hal semacam itu. Secara medis sudah meninggal, tetapi bantuan peralatan membuat suaminya masih bernafas. Beliaupun awalnya ragu waktu memutuskan mencabut peralatan di tubuh suaminya. Ada rasa tak ingin kehilangan. Tetapi banyak orang yang menasehatinya, bahwa malah kasihan suaminya jika ia tak segera merelakan suaminya pergi. Setelah itu ia memantapkan hati untuk mencabut bantuan pernafasan untuk suaminya.

Mendengar cerita itu, kamipun pasrah. Tetapi kami memutuskan untuk menunggu lagi. Setidaknya satu malam lagi. Sambil tetap berdo'a, mohon yang terbaik untuk ibu dan kami.
Flash back end

Dan hari itulah waktunya. Kamis, 20 Januari 2011. Kami semua memutuskan untuk merelakan ibu. Pihak rumah sakit membimbing kami. Memberitahu nama-nama alat yang menempel di tubuh ibu. Dan pada akhirnya mengatakan kalimat yang kurang lebih seperti ini, "Ini adalah alat bantu pernafasan. Silahkan salah satu keluarga mencabutnya."

Kami sendiri yang harus mencabutnya. Dan itu terasa berat, tak ada yang sanggup diantara kami. Jadi, kami menunjuk suamiku untuk mencabut alat itu. Sedang kami (bapak, aku dan adik bungsuku) berdiri di sekeliling ibu. Pada akhirnya, suamiku mencabut selang O2 itu. Aku melihat jam ditanganku, 12.20 WIB. Perlahan-lahan ibu kehilangan nafasnya. Ibu pergi dengan tenang.

Entah ada hubungannya antara wangi melati dengan kepergian ibu atau tidak. Yang pasti, do'a kami waktu itu adalah semoga ibu pergi dengan husnul khotimah.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah memberikan komentar di blog saya. Mohon untuk memberi komentar dengan kata yang santun. Terima kasih. :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...