Saturday, 11 July 2015

RESOLUSI LEBARANKU: CERMAT MENGALOKASIKAN THR

Berbicara tentang lebaran berarti berbicara tentang pernak-pernik di dalamnya. Mudik, halal bihalal, makanan dan minuman yang berlimpah, baju baru dan lain sebagainya. Dan segala pernak-pernik lebaran itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sehingga sudah jamak terjadi, kantong kita terkuras habis untuk membiayai kebutuhan lebaran. Setelah lebaran, tinggal gigit jari.

Setelah berulang kali, tentu kita tidak ingin hal seperti itu terjadi lagi. Jadi, ayuk lah mulai cermat mengalokasikan keuangan kita. Memang biasanya ada Tunjangan Hari Raya (THR) yang dibagikan perusahaan atau instansi tempat kita bekerja. Tetapi kadang (atau sering?) THR habis, tabungan kitapun ikut terkikis. Pasca lebaran, nangis... :(

Terinspirasi artikel di cermati.com yang berjudul: Jangan Lakukan Hal ini, Jika Ingin Kaya!, maka aku ingin melakukan hal-hal sebagai berikut sebagai Resolusi Lebaran Tahun ini:

1. Membayarkan zakat dan bersedekah.
Untuk zakat fitrah, tentu kita sudah siap mengalokasikan untuk masing-masing keluarga kita sebesar 2,5 kg makanan pokok (kalau aku ya beras). Nantinya beras itu akan dibagikan untuk para mustahik zakat. Ini sudah tiap tahun dilaksanakan, jadi insya Allah tidak akan lupa.

Sedang untuk zakat profesi, aku menggunakan pendapat yang menyatakan nishab zakat profesi diqiyaskan dengan zakat pertanian. Yaitu tiap kali panen, minimal mendapat 653 kg gabah/ 520 kg beras, maka wajib mengeluarkan zakat. Jadi, jika dianggap harga beras Rp. 8.000/kg, maka kita wajib mengeluarkan zakat jika gaji kita minimal Rp. 4.160.000, sebesar 2,5%. Untuk zakat profesi seperti ini, tentu sudah dikeluarkan tiap bulannya, dengan perhitungan Rp. 4.160.000 x 2,5 %. Jika diasumsikan gaji kita Rp. 4.160.000,- tiap bulannya ternyata kita hanya mengeluarkan zakat Rp. 104.000 lho.

Nah, karena saat Ramadhan menjelang lebaran seperti ini biasanya ada Tunjangan Hari Raya (THR) juga, tidak ada salahnya jika kita mengeluarkan sedekah untuk diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Memang tidak wajib seperti zakat maal, tapi membantu orang lain apalagi yang sangat membutuhkan, kebaikannya pasti akan kembali pada diri kita sendiri. Apalagi sedekah di bulan Ramadham, panen pahala dong... Insya Allah. Sedekah ini bisa kita berikan langsung kepada orang-orang di sekitar tempat tinggal atau bisa kita amanahkan kepada Lembaga Amil Zakat yang kita percayai.

2. Menyisihkan THR untuk ditabung.
Biasanya selain THR, kita sudah punya gaji kan? Dan gaji itu pasti sudah ada pos-posnya. Untuk pos belanja lebaran, kita bisa menambahkan dari THR, tapi jangan dihabiskan. Yang separo ayo ditabungkan. Aku biasanya memasukkan sebagian THR itu di Tabungan Britama dari BRI. Kenapa BRI? Karena aku tinggal di kampung. Dan BRI itu ada dimana-mana. :) Sedangkan untuk bank lain, aku harus ke kota dulu. Sementara pilih yang praktis saja deh.

Kita bisa mencari informasi tabungan ini di cermati.com lho... Berbagi informasi tabungan dari berbagai bank bisa kita dapatkan. Ayo, kita bandingkan produk satu tabungan dengan tabungan lainnya. Lalu pilih yang paling sesuai dengan kita.

Nabung, yuk...
3. Membeli sesuai kebutuhan.
Seringkali kita berbelanja apa yang kita inginkan, bukan sesuatu yang benar-benar kita butuhkan. Aku juga sering seperti itu, tapi kali ini aku hanya ingin berbelanja sesuai kebutuhan saja. 

Beberapa hal yang bisa dihemat, misalnya makanan untuk suguhan tamu. Biasanya di setiap rumah sudah ada sajian makanan di meja tamu yang kebanyakan hampir sama jenisnya. Karena itu ketika berkunjung orang-orang jarang yang menyentuh makanan itu. Pengalaman tahun-tahun sebelumnya, karena terlalu banyak, ada sebagian makanan yang sampai melempem tidak ada yang memakan. Akhirnya dibuang. Lebih baik kita membeli sedikit makanan saja. Kalau memang habis, baru deh beli lagi.

Kalau habis, baru beli lagi ;)

Lalu baju. Buka lemari saja, ternyata masih banyak baju bagus. Bahkan ada yang baru dipakai sekali. Eman kan ya, kalau baju-baju itu tersimpan begitu saja di lemari. Untuk tahun ini, tidak beli baju tidak apa-apa kan? Anak-anak saja yang pakai baju baru, Emaknya baju lama... Alhamdulillah ya...
Meski waktu cuci mata mupeng, menahan diri dulu.

4. Mencatat pengeluaran lebaran.
Aku jarang mencatat pengeluaranku. Tapi sekarang aku sedang memulainya, termasuk mencatat pengeluaran untuk kebutuhan lebaran. Catatan itu akan menjadi bahan evaluasiku ke depan. Belanja-belanja yang tidak terlalu penting dan bisa dihapus, akan aku hapus saja. Siapa tahu sisa uangnya bisa untuk investasi. Tertarik dengan artikel-artikel tentang investasi di cermati.com.
Belajar telaten mencatat

#ResolusiLebaranku tahun ini semoga bisa terlaksana semua. Aamiin. Lalu, apa resolusi lebaranmu?

Tulisan ini diikutkan dalam Lomba Blog Resolusi Lebaranku.


Monday, 6 July 2015

RINDU

Di satu waktu, kadang aku mengenang masa lalu. Sebuah kebersamaan yang indah dalam keluarga kita. Bapak, ibu, aku, dan kalian, dua adikku. Dan itu selalu membuatku bersyukur, terlahir dari keluarga ini.

Ah, jadi ingat dulu Ibu pernah bercerita tentang Bapak yang pendiam tapi perhatian. Bapak memang tak pernah banyak kata, tapi jika ibu mengatakan sebuah keinginan, pasti bapak berusaha untuk mewujudkannya. Misalnya saat ibu berkata membutuhkan mesin cuci. Pada saat ibu mengatakannya, bapak memang diam saja. Tetapi, tidak berapa lama ada mesin cuci yang diantar ke rumah. Pun peralatan rumah tangga lain, ada magic jar, blender, mesin cuci, kulkas, dan lainnya yang menjadi kejutan-kejutan bapak untuk ibu.

Dan ingatkah kalian? Ketika stroke mulai menyerang ibu, bapaklah yang paling telaten merawat ibu. Mengurus segala keperluan ibu sebelum beliau berangkat ke kantor. Bapak bahkan tak pernah menyuruhku menggantikannya mengurus ibu. Ibupun seperti itu, nyaman dengan Bapak. Hanya bersedia aku layani ketika Bapak tidak ada.

Yang paling membuat aku terharu adalah ketika Bapak dan ibu sholat berjama'ah. Ibu yang saat itu hanya bisa sholat sambil duduk, sebelumnya bapak akan menyiapkan tasbih dan Al-Qur'an untuk ibu, agar ketika selesai sholat ibu bisa langsung berdzikir dan membaca Al-Qur'an.

Mengingat bapak, jadi ingat dirimu adik kecilku, waktu kamu katakan ingin belajar ke Negeri Tiongkok selama satu tahun. Bapak seperti tak mengijinkan. Tapi, pada akhirnya Bapak mengijinkan dirimu pergi juga kan? Meski sebelumnya mengatakan, "Biayanya dari mana?" 
"Kuliahmu nanti lebih lambat satu tahun." Dan alasan-alasan lain lagi. 
Kadang bapak seperti itu, seakan ingin menguji, seberapa besar keinginan kita.



Lalu tentang ibu kita yang sebelum sakitnya adalah seorang pegiat dakwah kampung. Sampai hari inipun, kadang teman-teman organisasi ibu masih merindukan sosoknya. Mereka kadang bercerita tentang ibu yang begini dan begitu. Dari cerita-cerita itu, aku mengerti harapan mereka terhadapku. Tapi maafkanlah aku ibu, kapabilitasku belum bisa menyamaimu.

Waktu kita kecil dulu, meski ibu sangat sibuk, beliau tidak pernah melupakan kewajibannya. Buktinya, sekalipun kita tak pernah merasa tersisih sebagai seorang anak. Kadang ibu mengajak kita dengan beragam aktifitasnya. Ketika aku lebih dewasa, aku baru mengerti ternyata itu menjadi pembelajaran bagi kita, bagaimana menghadapi masyarakat, bagaimana memberi solusi atas sebuah permasalahan dan lain sebagainya.

Ada aktifitas bersama ibu yang selalu aku ingat dan aku rindukan, yaitu bercerita menjelang tidur. Dimasa kecil, banyak cerita dikenalkan kepada kita, seperti Si Kancil, Kepel, Timun Mas dan cerita rakyat lainnya. Atau kisah-kisah Nabi, sahabat, dan cerita orang-orang sholih lainnya. Kisah-kisah itu masih melekat erat dalam ingatanku. Hingga saat ini.

Dan ketika kita beranjak dewasa, sesi bercerita itu berubah menjadi diskusi. Kita bercerita tentang aktifitas kita di sekolah atapun permasalahan yang ada di lingkungan pergaulan kita. Ibu kadang memberikan masukan, tanpa ada kesan menggurui. Padahal beliau adalah orang tua kita. Kadang ibupun bercerita tentang permasalahan yang ada di masyarakat sekitar, sehingga itu membuka mata kita bahwa kita tidak hidup sendiri, dan kitapun mempunyai tanggung jawab atas masyarakat di sekitar kita.

Ingatan-ingatan tentang bapak, ibu dan kita waktu dulu, saling berloncatan. Hingga sampai pada kecelakaan sepeda motor yang dialami ibu. Lalu serangan stroke pertama, kemudian serangan kedua. Kemudian tentang 'sedo'nya ibu. (Sedo = kromo inggil dalam bahasa jawa untuk meninggal dunia).

Ketika sampai pada sakitnya Bapak, yang sama seperti ibu, terserang stroke, rasanya ada yang 'entah apa' di dalam hatiku. Tak bisa aku deskripsikan. Bapak yang 9 hari di ICU hingga akhirnya menyusul ibu. Sakit yang sama, cara meninggal yang mirip (yaitu di ICU), hari yang sama (kamis), dan jam meninggal yang hampir sama (setelah sholat dluhur). Hanya tahun dan bulan yang berbeda. Entah, semua sudah menjadi ketentuan-Nya.

Dan hadis ini tiba-tiba terngiang, "Apabila seorang manusia meninggal, maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: shodaqoh jariyah, atau ilmu yang bermanfaat sesudahnya, atau anak sholih yang mendo'akannya." (HR. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa'i, dan Ahmad).

Tugas Bapak dan Ibupun usai sudah. Insya Allah, mereka telah menebar ilmu dan kebaikan. Semoga menjadi amal jariyah. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. Dan sekarang tugas kita untuk mengamalkan ilmu yang telah diajarkan Bapak dan Ibu. Semoga kita termasuk anak yang sholih.

Saturday, 4 July 2015

TIPS AMAN DAN NYAMAN BERKENDARA (MOTOR)

Aku punya pengalaman nglajo selama 7 tahun. Nglajo adalah istilah dalam bahasa jawa yang artinya kurang lebih perjalanan rutin tiap hari ke tempat kerja dengan jarak yang cukup jauh. Lumayan lah dulu tiap hari menempuh jarak sekitar 28 km atau sekitar satu jam perjalanan naik motor. Jadilah aku pengendara rutin sepeda motor.

Sebenarnya, bisa juga aku naik kendaraan umum. Tetapi waktu yang dibutuhkan menuju tempat kerja lebih lama. Selain karena kendaraan umum yang sering menaik turunkan penumpang, aku juga harus berganti moda kendaraan dua kali. Pertama naik bis dari depan rumah, lalu aku masih harus naik angkudes untuk mencapai kantor. 

Dan untuk angkudes ini, aku sering tidak sabar menunggu si angkudes berangkat. Aku sudah duduk didalamnya setengah jam, Pak Sopir tidak berangkat juga. Alasannya menunggu penuh dulu. Maklum juga sih, karena kalau hanya mengangkut sedikit orang, pasti akan rugi di BBM. Tapi, aku sungguh tak bisa menunggu. Karena kalau sudah terlalu lama menunggu angkudes penuh, wah... alamat aku tak bisa ikut apel pagi di kantor. Apel pagi dilaksanakan jam 07.15 WIB. So... aku harus bergegas dong, baru bisa disebut pegawai yang baik. :D

Begitulah. Karena alasan diatas aku lebih nyaman naik sepeda motor untuk berangkat ke kantor. Pokoknya motor selalu is the best bagiku. Bahkan saat hamil sekalipun, aku tetap nglajo menggunakan motor.

Nah, ini tips ala aku, agar kita tetap aman dan nyaman naik motor selama satu jam penuh. :)

1. Memakai slayer, sarung tangan dan helm standar.
Slayer atau kain penutup hidung dan mulut, bagiku adalah wajib. Ia bisa melindungi kita dari asap kendaraan yang makin lama tidak ramah lingkungan. Sedangkan sarung tangan akan melindungi tangan dari matahari. Kadang kalau pas malas pakai sarung tangan, langsung kelihatan belang di tanganku. Kulit pada punggung tangan akan lebih hitam daripada bagian lengan. Bagi pemerhati penampilan, tentu ini mengurangi penampilan. Karena itu, jangan pernah lupa sarung tangan. :D
Kalau helm standar, ya pasti wajib lah. Selain memang ada aturannya, pemakaian helm standar akan lebih melindungi kita ketika ada benturan di kepala.

2. Memakai jaket.
Berkendara jarak jauh tanpa jaket? Kasihan paru-paru. Bagi pengendara motor rutin sepertiku, penyakit yang sering datang adalah batuk. Dan jaket bisa membantu mengurangi kehadiran si batuk. Beberapa teman bahkan masih menambahkan penutup dada (ada yang menyebutnya otto) di dalam jaket. Ada juga yang cukup menaruh stopmap di dada sebagai pengganti penutup dada. Yang penting fungsinya sama. :D
Perlengkapanku

3. Jangan lupa selalu taruh jas hujan di jok motor.
Yang ini penting banget. Kita tidak tahu kapan hujan turun. Lebih baik sedia jas hujan sebelum hujan kan? Selama 7 tahun itu, aku sering mendapati hujan di tengah-tengah perjalanan. Waktu berangkat terang benderang, sampai setengah perjalanan hujan turun dengan derasnya. Kalau harus berteduh dulu, telat masuk kantor dong...
Jas hujan model rok andalanku

4. Jangan pernah lupa surat-surat kendaraan.
Standar sih... STNK dan SIM harus selalu di dompet. Dan dompetnya jangan lupa dibawa. :P Pengalamanku, pada waktu-waktu tertentu Pak Polisi biasanya melakukan razia kepada pengendara sepeda motor. Jangan sampai kena tilang ya...

5. Service motor secara rutin.
Yang ini jangan lupa, biar motor tidak macet di tengah jalan. Oli kalau sudah waktunya ganti, harus segera diganti. Begitu juga ban motor. Kalau ban motor sudah sampai halus, akan lebih licin di jalan raya.

6. Patuhi aturan dan rambu-rambu lalu-lintas.
Ini lebih demi keselamatan kita sendiri, kok. Jadi, tetap patuhi aturan ya... Selain itu, harus berhati-hati di jalan. Dalam perjalananku, kebetulan banyak dilewati truk dan bis. Jadi, ketika akan mendahului kendaraan di depanku, harus ekstra hati-hati. Jangan sampai karena buru-buru sampai di tempat kerja, kita mengabaikan keselamatan diri.

7. Terakhir, tapi penting: Berdo'a.
Jangan lupa do'a naik kendaraan ya... 
Artinya: "Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami."

Siap berangkat
Itu Tips Berkendara Aman dan Nyaman ala aku. Bagaimana tips ala kamu? Bisa ditambahkan lho... :)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...