Monday, 6 July 2015

RINDU

Di satu waktu, kadang aku mengenang masa lalu. Sebuah kebersamaan yang indah dalam keluarga kita. Bapak, ibu, aku, dan kalian, dua adikku. Dan itu selalu membuatku bersyukur, terlahir dari keluarga ini.

Ah, jadi ingat dulu Ibu pernah bercerita tentang Bapak yang pendiam tapi perhatian. Bapak memang tak pernah banyak kata, tapi jika ibu mengatakan sebuah keinginan, pasti bapak berusaha untuk mewujudkannya. Misalnya saat ibu berkata membutuhkan mesin cuci. Pada saat ibu mengatakannya, bapak memang diam saja. Tetapi, tidak berapa lama ada mesin cuci yang diantar ke rumah. Pun peralatan rumah tangga lain, ada magic jar, blender, mesin cuci, kulkas, dan lainnya yang menjadi kejutan-kejutan bapak untuk ibu.

Dan ingatkah kalian? Ketika stroke mulai menyerang ibu, bapaklah yang paling telaten merawat ibu. Mengurus segala keperluan ibu sebelum beliau berangkat ke kantor. Bapak bahkan tak pernah menyuruhku menggantikannya mengurus ibu. Ibupun seperti itu, nyaman dengan Bapak. Hanya bersedia aku layani ketika Bapak tidak ada.

Yang paling membuat aku terharu adalah ketika Bapak dan ibu sholat berjama'ah. Ibu yang saat itu hanya bisa sholat sambil duduk, sebelumnya bapak akan menyiapkan tasbih dan Al-Qur'an untuk ibu, agar ketika selesai sholat ibu bisa langsung berdzikir dan membaca Al-Qur'an.

Mengingat bapak, jadi ingat dirimu adik kecilku, waktu kamu katakan ingin belajar ke Negeri Tiongkok selama satu tahun. Bapak seperti tak mengijinkan. Tapi, pada akhirnya Bapak mengijinkan dirimu pergi juga kan? Meski sebelumnya mengatakan, "Biayanya dari mana?" 
"Kuliahmu nanti lebih lambat satu tahun." Dan alasan-alasan lain lagi. 
Kadang bapak seperti itu, seakan ingin menguji, seberapa besar keinginan kita.



Lalu tentang ibu kita yang sebelum sakitnya adalah seorang pegiat dakwah kampung. Sampai hari inipun, kadang teman-teman organisasi ibu masih merindukan sosoknya. Mereka kadang bercerita tentang ibu yang begini dan begitu. Dari cerita-cerita itu, aku mengerti harapan mereka terhadapku. Tapi maafkanlah aku ibu, kapabilitasku belum bisa menyamaimu.

Waktu kita kecil dulu, meski ibu sangat sibuk, beliau tidak pernah melupakan kewajibannya. Buktinya, sekalipun kita tak pernah merasa tersisih sebagai seorang anak. Kadang ibu mengajak kita dengan beragam aktifitasnya. Ketika aku lebih dewasa, aku baru mengerti ternyata itu menjadi pembelajaran bagi kita, bagaimana menghadapi masyarakat, bagaimana memberi solusi atas sebuah permasalahan dan lain sebagainya.

Ada aktifitas bersama ibu yang selalu aku ingat dan aku rindukan, yaitu bercerita menjelang tidur. Dimasa kecil, banyak cerita dikenalkan kepada kita, seperti Si Kancil, Kepel, Timun Mas dan cerita rakyat lainnya. Atau kisah-kisah Nabi, sahabat, dan cerita orang-orang sholih lainnya. Kisah-kisah itu masih melekat erat dalam ingatanku. Hingga saat ini.

Dan ketika kita beranjak dewasa, sesi bercerita itu berubah menjadi diskusi. Kita bercerita tentang aktifitas kita di sekolah atapun permasalahan yang ada di lingkungan pergaulan kita. Ibu kadang memberikan masukan, tanpa ada kesan menggurui. Padahal beliau adalah orang tua kita. Kadang ibupun bercerita tentang permasalahan yang ada di masyarakat sekitar, sehingga itu membuka mata kita bahwa kita tidak hidup sendiri, dan kitapun mempunyai tanggung jawab atas masyarakat di sekitar kita.

Ingatan-ingatan tentang bapak, ibu dan kita waktu dulu, saling berloncatan. Hingga sampai pada kecelakaan sepeda motor yang dialami ibu. Lalu serangan stroke pertama, kemudian serangan kedua. Kemudian tentang 'sedo'nya ibu. (Sedo = kromo inggil dalam bahasa jawa untuk meninggal dunia).

Ketika sampai pada sakitnya Bapak, yang sama seperti ibu, terserang stroke, rasanya ada yang 'entah apa' di dalam hatiku. Tak bisa aku deskripsikan. Bapak yang 9 hari di ICU hingga akhirnya menyusul ibu. Sakit yang sama, cara meninggal yang mirip (yaitu di ICU), hari yang sama (kamis), dan jam meninggal yang hampir sama (setelah sholat dluhur). Hanya tahun dan bulan yang berbeda. Entah, semua sudah menjadi ketentuan-Nya.

Dan hadis ini tiba-tiba terngiang, "Apabila seorang manusia meninggal, maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: shodaqoh jariyah, atau ilmu yang bermanfaat sesudahnya, atau anak sholih yang mendo'akannya." (HR. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa'i, dan Ahmad).

Tugas Bapak dan Ibupun usai sudah. Insya Allah, mereka telah menebar ilmu dan kebaikan. Semoga menjadi amal jariyah. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. Dan sekarang tugas kita untuk mengamalkan ilmu yang telah diajarkan Bapak dan Ibu. Semoga kita termasuk anak yang sholih.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah memberikan komentar di blog saya. Mohon untuk memberi komentar dengan kata yang santun. Terima kasih. :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...