Wednesday, 23 September 2015

ANTARA MANUSIA DAN SISTEM


Siti baru saja keluar dari sebuah kantor pemerintahan. Ia menuju motor yang ia parkir di halaman kantor itu. Ada yang mengguncang hatinya. Ingin rasanya ia menangis atau marah, tapi rasanya kok memalukan. 

Dulu, Siti selalu mempertanyakan, "Dalam sebuah pemerintahan, manusia atau sistem yang baik yang harus didahulukan." Lama ia berkutat dengan pertanyaan itu, tapi ia belum menemukan jawabannya.

Sebenarnya Siti hampir percaya bahwa sistem yang baik harus diutamakan. Jika semua sistem telah tertata dengan baik, regulasi dibuat, stakeholder penanggung jawab peraturan diberikan pembekalan yang memadai, ia yakin manusianya akan mengikuti.

Tapi kejadian hari ini justru membuatnya menemukan jawaban yang berbeda. Manusialah yang harus diperbaiki terlebih dahulu, baru sebuah sistem berjalan dengan baik.

Siti mulai menaiki motor plat merahnya. Ya, sejak beberapa bulan lalu ia memang menduduki jabatan sebagai kepala desa. Dan karena jabatan itulah, ia menemukan jawaban atas banyak pertanyaannya tentang bagaimana sebuah pemerintahan dijalankan.

Dalam perjalanan pulang menuju kantor desanya, Siti masih menggalau. Ia malah mengingat banyak fakta lain. Misalnya tentang bagaimana korupsi yang masih merajalela. Padahal kita punya polisi, kejaksaan, bahkan lembaga anti rasuah. Bukankah aturan itu sudah dibuat sedemikian ketat, dan banyak lembaga mengawal jalannya aturan itu. Tapi mengapa korupsi juga masih ada? Fakta itu makin meyakinkan Siti, bahwa mental manusia yang harus diperbaiki terlebih dahulu. 

Siti jadi ingat lagi dengan kejadian di kantor pemerintahan tadi. Seorang pegawai disana mengatakan padanya, "Bu, kalau dana itu sudah cair, tolong yang disini dipikirkan ya..."

Gubrak! Siti sesaat tak bisa berkata-kata. Ia terlalu takjub dengan permintaan itu. Ini pengalaman baru untuknya. Siti melirik pamflet yang dipasang di papan pengumuman kantor itu. Pamflet yang menggambarkan bagaimana tahapan bantuan itu hingga sampai ke penerimanya. Ada tulisan besar disana, "Bantuan dari pemerintah. Tanpa potongan apapun." Dan Siti hanya tersenyum, lalu berpamitan.

Pertanyaan lain tiba-tiba menyeruak di benaknya, seperti inikah berada dalam sistem? Rasanya guyonan yang mengatakan bahwa aturan itu dibuat untuk dilanggar kok ada benarnya, jika mental manusianya masih seperti itu.

Siti jadi ingat dulu pernah mengaji, "Allah melaknat orang yang menyuap, orang yang menerima suap, dan orang yang menjadi perantara keduanya." HR. Al-Hakim.

Sitipun menangis dalam diam, masih dalam perjalanan pulang menuju amanahnya di kantor desa.

2 comments:

  1. Judulnya kaya tugas kuliah saya mba, kirain mba mahasiswi hehe ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sdh mantan mahasiswi saya... Heheheh...

      Delete

Terima kasih telah memberikan komentar di blog saya. Mohon untuk memberi komentar dengan kata yang santun. Terima kasih. :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...