Tuesday, 22 September 2015

MUHASABAH: MELIHAT DIRI LEBIH DALAM LAGI



Katanya "Al insanu mahalul khotho' wannisyan", manusia itu tempatnya salah dan lupa. Sedangkan orang di daerah saya mengatakan, manusia adalah menuso yang jika dibuat sanepo menjadi 'menus-menus kakehan dosa'. Yah... Intinya sama sih, manusia itu banyak salahnya. Meski pintu taubat masih terbuka, apa iya kita terus-terusan melakukan kesalahan yang sama, tanpa memperbaikinya?

Ada lagi masalah kita, kadang kita memperlakukan kesalahan seperti kata peribahasa, "Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak." Kesalahan orang lain yang keciiil sekali, tampak sangat besar di mata kita. Sedangkan kesalahan kita yang besaaar, kita sama sekali tak merasa. Itu sih saya...

Muhasabah sebagai sarana memperbaiki diri
Muhasabah berasal dari akar kata hasiba yahsabu hisaban, yang secara bahasa artinya melakukan perhitungan.

Umar bin Khottob pernah berkata, "Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang, karena lebih mudah bagi kalian menghisab diri kalian hari ini daripada besok (hari kiamat). Dan bersiaplah untuk menghadapi pertemuan besar, ketika itu kalian diperlihatkan dan tidak ada sesuatupun pada kalian yang tersembunyi."

Itulah yang disebut muhasabah, yaitu upaya evaluasi diri terhadap apa yang sudah kita kerjakan, baik atau buruk, menyangkut hablu minallah (hubungan dengan Allah) atau hablu minannas (hubungan antar manusia), tujuannya agar kita dapat selalu meningkatkan kualitas diri sebagai hamba Allah SWT.

Jujur pada diri sendiri
Menurut saya, bagian penting dari muhasabah adalah jujur pada diri sendiri. Jika kita salah, kita harus mengakuinya. Kalau kita selalu merasa benar (meski sebenarnya salah), bagaimana kita akan memulai perbaikan diri?

Saat kita mengalami konflik dengan orang lain, misalnya, seringkali rasa keakuan menyebabkan kita tak mau mengakui bahwa kita memang salah. Kita mempertahankan pendapat kita hanya karena ego kita. Nah, hal seperti itu mungkin saja terjadi, padahal kita sedang muhasabah.
"Ah, aku tidak salah kok..."
"Orang lain juga melakukannya. Berarti benar kan?"
"Hanya dosa kecil juga..."
Mungkin ada hati yang berbicara seperti itu.

Agar kita tak salah melangkah, ada baiknya kita...

Menyendiri, lihat lebih dalam lagi
Menyendiri di tempat sepi, mungkin akan membantu kita bisa jujur sejujur-jujurnya. Saat hanya ada diri sendiri (dan Allah yang selalu mengawasi), masak sih kita tetap akan membohongi hati? Mungkin saat malam setelah sholat lail? Atau seperti orang-orang dulu yang sengaja menyepi ke gunung untuk bertapa? :)

Mari jujur. Kalau perlu buat list amal baik apa yang sudah bisa rutin kita kerjakan. Agar kita bisa selalu menjaganya. Juga kesalahan dan dosa (meski kecil) apa saja yang telah kita lakukan. Agar kita bisa memperbaikinya.

Lalu apa?

Perbaiki
Kalau kita sudah membuat list dengan jujur, mari ditindaklanjuti. Amal baik, tentu kita pertahankan. Bagaimana dengan kesalahan dan dosa? Jika itu berhubungan dengan dosa kepada Allah, mari kita bertaubat. Jika itu menyangkut hak orang lain, tentunya kita harus meminta maaf terlebih dahulu kepada orang tersebut.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhori, dari Abu Hurairah RA, Rasullah SAW bersabda, "Barangsiapa pernah melakukan kedzaliman terhadap saudaranya, baik menyangkut kehormatannya atau sesuatu yang lain, maka hendaklah ia minta dihalalkan darinya hari ini, sebelum dinar dan dirham tidak berguna lagi (hari kiamat). Kelak jika ia memiliki amal shaleh, akan diambil darinya seukuran kedzalimannya. Dan jika ia tidak memiliki kebaikan (lagi), akan diambil keburukan dari saudara (yang didzalimi), kemudian dibebankan kepadanya."

Sejujurnya, bagi saya, yang terakhir ini terasa lebih sulit. Mengaku salah pada orang lain dan meminta maaf. Jika 'hanya' minta maaf ketika lebaran dengan mengatakan "Mohon maaf lahir batin ya...", mungkin lebih mudah ya... Tapi mengatakan kesalahan kita secara khusus (misalnya kita ngrasani teman kita), lalu meminta maaf, hm... Mungkin ada rasa malu ya... Tetapi seperti itulah seharusnya.

Penutup
Menjadi baik di 'mata' Allah, pasti butuh perjuangan tersendiri. Sayapun sedang berusaha. Meski telah jujur pada hati tentang salah dan dosa kita, terasa berat sekali ketika akan melangkah ke titik selanjutnya. Misalnya kita mengakui bahwa ngrasani orang lain itu dosa, tetapi ketika bertemu dengan teman-teman, menggosip menjadi acara yang tak terhindarkan.

Tapi hidup terus berjalan menuju kepada-Nya. Dan kita terus berproses untuk memperbaiki diri. Semoga Dia selalu membimbing kita menuju kebaikan. Sebagaimana yang senantiasa kita baca waktu sholat, "Ihdinash shirothol mustaqim, tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus."

Semoga saat kembali pada-Nya, kitapun dalam ridho-Nya.

2 comments:

  1. Aamiin. Terus berusaha memperbaiki diri dan semoga istiqomah dalam kebaikan

    ReplyDelete

Terima kasih telah memberikan komentar di blog saya. Mohon untuk memberi komentar dengan kata yang santun. Terima kasih. :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...