Friday, 30 October 2015

KETIKA DANA DESA (AKHIRNYA) TURUN

Dana-Desa
Pembangunan Desa

Tahun 2014 lalu, Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa telah disahkan. Paradigma yang ingin dibangun dari Undang-Undang Desa ini adalah dari "Membangun Desa" menjadi "Desa Membangun". Jadi, desa tidak lagi menjadi obyek pembangunan, melainkan subyek pembangunan. Jika sebelumnya desa hanya menunggu proyek-proyek dari pemerintah di atasnya untuk membangun desa, sekarang desa sendirilah yang merencanakan, mengelola, dan melaksanakan pembangunannya.

Undang-Undang ini sudah heboh di desa sejak disahkannya.
Karena seperti beberapa kali diberitakan, bahwa dengan adanya Undang-Undang tersebut, desa bahkan bisa mendapatkan kucuran dana dari APBN hingga 1,4 Milyar. Tetapi hingga sampai hampir di pertengahan tahun 2015 belum juga ada kabar tentang besaran dana yang akan diterima desa, desa mulai bertanya-tanya. Kapan Dana Desa akan terealisasi?

Oh ya, sebenarnya Dana Desa itu apa sih? 
 
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang Bersumber Dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, yang dimaksud Dana Desa adalah dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang diperuntukkan bagi desa yang ditransfer melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) kabupaten/kota dan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan dan pemberdayaan masyarakat.

Jadi, dana tersebut akan ditransfer ke rekening daerah kabupaten/kota terlebih dahulu. Dan kabupaten/kota kemudian akan mentransfer dana ke rekening desa setelah desa memenuhi persyaratan yang ditetapkan.

Besaran dana yang diperoleh desa tentu berbeda antara satu desa dengan desa lainnya. Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, pengalokasian dana desa dihitung secara berkeadilan berdasarkan: a) alokasi dasar; dan b) alokasi yang dihitung dengan memperhatikan jumlah penduduk, angka kemiskinan, luas wilayah dan tingkat kesulitan geografis desa. Kemudian penetapan alokasi dana desa tersebut dilakukan oleh Bupati/Walikota. 

Setelah melalui berbagai hal, akhirnya Dana Desa tersebut ditransfer ke rekening daerah pada bulan Juni tahun 2015. Dan hebohlah kami yang di desa. Heboh, bukan karena jumlah dananya, tetapi karena persyaratan yang harus dipenuhi untuk pencairan Dana Desa tersebut. Persyaratan-persyaratan semacam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDesa) dan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDesa) adalah yang paling sulit dipenuhi. Karena jujur saja, sebagian desa belum menyusun dokumen tersebut. 

Kamipun banyak berkoordinasi dan konsultasi dengan Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Bapermades) dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Pati, agar desa di wilayah Kecamatan Dukuhseti bisa menyusun dokumen RPJMDesa dan RKPDesa. Meskipun tidak sempurna, 12 desa di Kecamatan Dukuhseti telah menyusun dokumen tersebut. Ya, memang jauh dari sempurna. Selain waktu yang pendek, juga kemampuan perangkat desa tentunya berbeda-beda antara satu desa dan desa lainnya. Tetapi akhirnya... yes, Dana Desa Tahap I di Kecamatan Dukuhseti telah cair 100%, sedangkan Tahap II, masih ada 3 desa yang belum memenuhi persyaratannya.

Dengan pengalaman tahun ini, dimana alokasi Dana Desa masih 3% dari anggaran (APBN) transfer ke daerah, tentu desa harus berbenah. Karena tahun depan, jika kemampuan keuangan Negara bisa memenuhi, maka alokasi Dana Desa akan naik menjadi 6% dari anggaran transfer ke daerah, maka tentunya desa akan mendapatkan alokasi dana yang lebih besar. Artinya, pertanggungjawabannya pun lebih besar pula.

Jadi, meskipun dana desa menjadi angin segar bagi pemerintah desa, tetapi jika tidak diikuti dengan kemampuan pengelolaan keuangan yang baik, tentu akan menjadi masalah tersendiri bagi desa. Bisa jadi, setelah pemeriksaan oleh instansi pemeriksa, seperti Inspektorat, BPK atau pemeriksa lain, malah ditemukan banyak penyelewengan. Karena itu administrasi menempati posisi penting dalam hal ini (tentu saja pembangunan fisiknya juga penting).
 

Membangun drainase dengan Dana Desa

Karena desa mengelola dana sendiri, karena itu desa juga harus siap dengan segala hal yang berkaitan dengan administrasi pula. Tentu saja LPJ (Laporan Pertanggungjawaban) penggunaan dana desa tersebut, termasuk didalamnya. Administrasi menjadi penting karena obyek pemeriksaan pemeriksa, biasanya diawali dengan pemeriksaan administrasi. Jika administrasi beres, biasanya menjadi indikasi beresnya pekerjaan lain.

Namun, saat ini kemampuan SDM di desa belumlah mumpuni sebagaimana personil yang dimiliki dinas/instansi di kabupaten. Karena itu peningkatan kemampuan personil di tingkat desa sangat diperlukan. Apa saja yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas SDM di desa?

Pertama tentunya adalah pelatihan untuk kades dan perangkat desa lainnya. Pelatihan manajemen pemerintahan desa misalnya, perlu dilakukan agar kades dan perangkat desa lain mengetahui secara jelas tupoksi (tugas pokok dan fungsi) yang diembannya. Sehingga mereka bisa melaksanakan wewenang sesuai dengan tupoksi masing-masing. Atau pelatihan penatausahaan keuangan untuk bendahara desa. Sehingga dana besar yang diterima desa, bisa dipertanggungjawabkan, baik secara mutu maupun administrasi.

Kedua adalah monitoring yang lebih intensif dalam rangka pembinaan ke desa. Setelah pelatihan, pembinaan terus menerus ke desa perlu dilakukan, agar dari kecamatan maupun kabupaten atau instansi di tingkat lebih atas, bisa mengetahui sejauh mana pelatihan memberikan efek pada peningkatan kualitas SDM di desa. Selain itu, dengan monitoring intensif, jika ada hal yang belum sesuai jalurnya, bisa segera terdeteksi, kemudian bisa segera pula dilakukan pembinaan lanjutan.

Ketiga, peningkatan kapasitas kelembagaan lain di tingkat desa. Di desa biasanya ada lembaga desa lain seperti BPD, LPMD, Karang Taruna, PKK dan yang lainnya. Pelatihan untuk peningkatan kapasitas lembaga tersebut juga perlu dilakukan untuk keseimbangan pelaksanaan pemerintahan desa. Agar setiap lembaga bisa melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya. Lalu saling bersinergi untuk kepentingan desa.



Lalu... Semoga Dana Desa dapat memberi manfaat sebanyak-banyaknya bagi masyarakat desa sesuai kebutuhan masyarakat desa itu sendiri.

Tuesday, 27 October 2015

SELAMAT HARI BLOGGER NASIONAL




Sejujurnya, saya tahu kalau hari ini adalah hari blogger nasional dari status dan tweet yang berseliweran sedari pagi. Saya sih hanyalah seorang (ngaku-ngaku) blogger yang banyak tidak tahunya. Hehehe...

Tetapi dengan adanya hari blogger, sayapun jadi tersemangati untuk ngeblog. Buktinya, saya yang sudah 10 hari tidak buat blogpost langsung buat nih... :D

SELAMAT HARI BLOGGER NASIONAL.



Saturday, 17 October 2015

BERHIJAB DENGAN NYAMAN


Semua pastinya sudah mafhum tentang bagaimana berhijab yang syar'i bagi seorang muslimah. Seperti, menutup seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan, tidak membentuk tubuh, tidak menerawang, tidak menyerupai laki-laki, dan lain sebagainya.

Dan setiap orang punya style masing-masing dalam mempersepsikan hijab syar'i itu, yang pastinya membuat pemakai hijab menjadi nyaman dengan hijab yang dikenakannya.

Sedang bagi saya, hijab yang nyaman di hati adalah...

Sesuai kepribadian
Saya suka segala sesuatu yang simple atau sederhana, begitupun dalam berhijab. Jadi misalnya ada hijab dengan banyak manik-manik yang sangat bagus dipakai orang lain, tetapi hijab seperti itu tidak akan nyaman untuk saya. Atau ada yang memakai jilbab macam hijaber dengan aneka model yang kekinian, ah...rasanya saya justru tidak akan PD dengan tampilan seperti itu. Kenapa? Karena itu bukan saya.

Bagus untuk orang lain, belum tentu untuk saya. Begitupun sebaliknya. Kalau saya, cukup pakai gamis polos atau sedikit motif dan bergo saja. Untuk acara yang lebih formal, si bergo tinggal diberi hiasan bros. :)

Beda sikon, beda hijab
Dalam keseharian di rumah, saya menyukai daster dan jilbab bergo. Hijab seperti itu paling nyaman untuk pekerjaan rumah tangga. :D Tapi saya tidak mungkin memakai seperti itu saat ke kantor atau kondangan. Ya kan?
Penampakan saat bekerja di rumah. :)
Jadi, dimana kita berada, dalam keadaan seperti apa kita, pasti mempengaruhi bagaimana hijab yang kita pakai. Hijab yang dipakai saat kondangan tentu berbeda saat kita takziyah ke tempat orang meninggal. Dengan melihat sikon, harapannya kita tidak akan salah kostum. Kalau salah kostum, membuat kita tidak nyaman juga kan?
Hijab yang nyaman untuk ke kantor
Memakai celana panjang
Karena saya orang lapangan, jadi meskipun saya memakai rok, saya akan tetap memakai celana panjang sebagai dalamannya. Jadi saya tetap bebas bergerak, mau lompat, mau lari, mau naik, mau apa saja. Memakai celana panjang membuat saya tidak khawatir aurat saya akan terlihat ketika saya aktif bergerak.

Ada celana panjang dibalik rok. :D
Itu saja sih hijab yang nyaman di hati menurut saya. Ini hanya tentang pilihan. Karena sejatinya kewajiban muslimah adalah berhijab sesuai tuntunan agama, sedangkan model hijab pasti setiap orang mempunyai selera yang berbeda-beda. Jadi, bagaimana hijab nyaman di hati menurutmu?


Friday, 9 October 2015

TIPS TENANG MENINGGALKAN ANAK KELUAR KOTA

Sebagai PNS, kadang saya ditugaskan dari kantor untuk perjalanan dinas keluar kota berhari-hari. Misalnya untuk pelatihan, yang biasanya dilaksanakan di luar kota dan harus menginap di tempat pelatihan sampai beberapa hari.


Pelatihan Setrawan di Hotel Kesambi Semarang

Karena perjalanan dinas itu, saya harus meninggalkan anak-anak yang masih kecil. Si Sulung, saya tinggal keluar kota untuk pertama kali ketika berusia 5 bulan, yaitu ke Jawa Timur selama 3 hari. Si Tengah pertama kali saya tinggal saat 9 bulan, yaitu ke Semarang selama 4 hari. Sedangkan Si Bungsu saya tinggalkan baru-baru ini selama 4 hari ke Semarang saat usianya 1 tahun. Selama ini rekor terlama adalah ke Jogja selama 6 hari, ketika baru ada Si Sulung dan Si Tengah, ketika mereka 5 dan 3 tahun.


Sebagai ibu, pasti berat meninggalkan anak-anak yang masih kecil, apalagi ketika mereka masih minum asi. Mungkin ada kekhawatiran juga, bagaimana kalau mereka nanti rewel, apakah suami kita bisa mengatasi ketika mereka rewel, atau kekhawatiran yang lain.


Namun, saya bersyukur punya tim yang hebat, yaitu keluarga saya. #bighug untuk mereka. 


Dan ini tips ala-ala saya saat harus meninggalkan anak-anak keluar kota:


1. Ijin Suami

Saya selalu bercerita terlebih dahulu kepada suami sekaligus memberi gambaran kenapa saya harus berangkat. Misalnya jika pelatihan, apa pentingnya untuk tugas saya sehari-hari. Lalu kami bicarakan juga bagaimana nanti agar anak-anak tetap terperhatikan meski bundanya tidak ada. 

Nah, kalau semua sudah dibicarakan dan suami ridho, hati pasti tenang.


2. Minta Bantuan Keluarga

Selalu menjalin silaturahim dengan saudara pasti ada manfaatnya. Meskipun saat menjalin hubungan dengan saudara, niat kita tulus lillahi ta'ala. Tetapi berkahnya pasti terasa saat kita membutuhkan. 

Seperti saat saya harus dinas keluar kota, saya bisa minta bantuan saudara untuk ikut menjaga anak-anak. Jadi, saya juga bisa bertugas dengan tenang karena ada yang membantu suami mengawasi anak-anak. 


3. Komunikasi dengan Anak

Hari-hari sebelum pergi, biasanya saya sudah mengatakan kepada anak-anak. Bahwa saya akan pergi kesini, untuk urusan ini, selama berapa hari. Ditambah pesan-pesan untuk mereka juga. Agar mereka selalu sholihah (3 anak saya putri semua), tidak merepotkan abi, dsb. Bahkan ketika anak-anak saya belum bisa bicara dan entah paham dengan yang saya katakan atau tidak, saya selalu berbicara seperti itu kepada mereka. 

Biasanya ketika saya tinggalkan, mereka lebih kooperatif dengan abinya. Mungkin kalimat-kalimat itu benar-benar masuk di hati mereka ya... :) 


4. Siapkan Kebutuhan Harian

Biasanya saya sudah belanja untuk kebutuhan makan beberapa hari sebelum berangkat tugas. Tahu, tempe, telur, ikan, sayur semua ada di kulkas. Jadi, yang di rumah tidak perlu memikirkan belanjaan lagi. Mereka tinggal memasaknya. Sebenarnya bisa juga membeli masakan jadi sih... Tetapi keluarga saya lebih suka masakan sendiri, meski hanya tempe goreng dan sambal. :)

Termasuk kebutuhan susu untuk anak yang masih minum susu. Kalau yang masih asi, stok asinya juga jangan dilupakan. Ok?


5. Pasrahkan pada Allah

Saya selalu percaya pada suami dan keluarga, bahwa mereka pasti bisa menangani anak-anak. Lalu tawakkal kepada Allah, percaya bahwa semua akan baik-baik saja.

Jika hati kita tenang, insya Allah anak kitapun merasa tenang juga dan tidak rewel. Jika kita tidak tenang dan selalu merasa gelisah, mereka juga bisa merasakannya lho...



Tentu saja merekapun saya rindukan
Begitu tips ala-ala saya. Jangan lupa selalu berdo'a mohon kebaikan untuk semuanya. 

Saturday, 3 October 2015

KENANGAN PENUH WARNA DARI MASA KECIL

Saya generasi 80-an dan tinggal di desa. Masih merasakan asyiknya main petak umpet, sudah manda, gobak sodor, dan permainan tradisional lain.
Namun, selain tentang permainan tradisional, ada juga beberapa kenangan tentang masa kecil saya yang penuh warna.

Padang Rumput Tempat Bermain
Dulu di depan rumah saya ada padang rumput yang luas. Setiap hari ada sapi dan kambing yang dibawa pemiliknya untuk merumput disana. Sapi-sapi dan kambing-kambing itu cukup diikat dan dibiarkan makan rumput sampai kenyang. Pemiliknya bahkan tak perlu menjaga seharian. Dan semua baik-baik saja pada waktu itu. 

Kami juga suka bermain di sana saat sore hari. Berkejaran atau mencari sesuatu di antara rerumputan. Ketika musim angin, di padang rumput itu akan ramai anak lelaki bermain layang-layang. Ada yang sekedar bermain ada juga yang saling mengadu layang-layangnya.

Di seberang jalan itu dulu padang rumput berada
Sekarang di tanah itu, yang merupakan tanah milik PJKA sudah berdiri rumah-rumah. Padang rumput hijau itu hilang sudah. :(

Bermain di Sawah
Waktu kecil saya punya 'geng' yang sering bermain ke sawah. Kami berjalan menyusuri pematang sawah, berteduh di gubuk sawah atau bermain diantara lumpur. Tetapi kegiatan favorit kami adalah mencari buah ciplukan diantara sela-sela tanaman tebu, dan mengumpulkannya di kantung plastik.

Ciplukan yang ternyata banyak khasiatnya. Gambar dari sini


Pernah juga timbul kenakalan kami yaitu dengan 'mengambil' beberapa batang tebu dari sawah milik orang entah siapa. Beruntungnya, kami ketahuan. Jadi deh, kami berlarian dikejar bapak penjaga tebu. :D

Anak-anak lelaki biasanya mengupas kulit tebu dengan gigi mereka, lalu menyesap manisnya daging tebu sebelum membuang sepahnya. Kalau saya biasanya membawa tebu itu ke rumah untuk dikupas dengan pisau, lalu dagingnya diiris kecil-kecil, ditaruh di piring, baru deh disesap air manisnya.

Mungkin karena keseringan main di sawah, makanya waktu kecil kulit saya hitam. Dan sampai sekarangpun masih... :D
Dulu dan kini, tetap hitam :D

Mengaji Turutan dan Berpindah-pindah Tempat Mengaji
Karena dulu belum ada bermacam-macam metode mengaji, kami mengaji dengan menggunakan kitab yang kami sebut turutan.

Seperti inilah turutan. Gambar dari sini
Kami akan menyelesaikan mengaji turutan ini sebelum nantinya naik ke Al-Qur'an.

Nah, kalau sudah khatam mengaji Al-Qur'an pada satu guru, biasanya kami akan pindah mengaji pada guru lain sampai khatam lagi. Guru ngaji pertama saya bernama Mbah Aminah (semoga Allah merahmati beliau). Beliau mengajarkan turutan, kemudian berlanjut ke Al-Qur'an. Setelah khatam, saya mengaji kepada Bu Muflihah, Bu Halimah, dan yang terakhir dengan Mbah Budur (semoga Allah merahmati beliau semua).  Begitulah saat itu. Kami tidak cukup khatam sekali. Tetapi kami tetap akan mengajikan bacaan Al-Qur'an pada guru-guru ngaji kami.

Pada waktu itu busana muslim belumlah semarak seperti sekarang, dimana banyak gamis imut untuk anak-anak mengaji. Dulu, tidak masalah mengaji memakai baju pendek, yang penting memakai kerudung. Karena itulah, setelah mengaji kami bisa melepas kerudungnya dan langsung bermain. Paling seru bermain petak umpet di sore hari.

Seperti itulah sebagian warna-warni dari masa kecilku. Bagaimana warna di masa kecilmu?


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...