Friday, 20 November 2015

TENTANG KEMATIAN


Selama menjadi manusia jalanan (maksudnya, pergi pulang kerja menyusuri jalanan dengan bermotor), entah sudah berapa kali saya bertemu dengan kejadian kecelakaan. Mobil dan bis, mobil dan motor, motor dengan  sepeda, motor dengan becak, kecelakaan tunggal, dan yang lainnya lagi. Kadang sampai menimbulkan korban jiwa, kadang hanya luka-luka.

Beberapa kali saya juga melihat darah berceceran di jalanan akibat kecelakaan jalan raya. Pun melihat korban yang masih bersimbah darah di tengah jalan. Beruntungnya saya berada di daerah yang masih mempunyai rasa kepedulian tinggi. Selalu ada orang-orang yang bersedia menolong para korban.

Saya juga dua kali menyaksikan saat-saat sakaratil maut, yaitu ketika mendampingi ibu dan bapak pada saat-saat terakhir. Dan beliau berdua insya Allah "pergi" dengan indah, pergi dengan "mudah" untuk kembali kepada-Nya. Allahu yarhamhuma...

(Baca juga: Wangi Yang Hanya Aku Yang Tahu)

Pun... ketika di kampung, saat ada tetangga yang meninggal, biasanya kami mengikuti tahlilan yang dilaksanakan selama kurang lebih 7 hari. Saat-saat seperti itupun pasti mengingatkan saya akan keniscayaan mati. Jika saat ini orang lain yang kembali, satu saat saya yang akan kembali menghadap-Nya.

(Baca juga: Beginilah Kami Mengaji)

Hal-hal itu membuat saya berfikir, siapkah saya jika dijemput Malaikat Maut saat ini?

Ternyata, jauh didalam hati saya, jawabannya adalah belum. Terlalu banyak keburukan yang saya lakukan. Dan terlalu sedikit amal sholih yang saya kerjakan. Meskipun saya juga insya Allah tidak akan berputus asa atas rahmat Allah (QS. Yusuf : 87). Apa lagi yang saya harapkan selain rahmat-Nya? Karena amal saya tak seberapa, sedang dosa saya menggunung tinggi.

Barangkali yang saya rasakan seperti yang digambarkan oleh Abu Nawas dalam syair yang selalu kami baca saat acara berjanjen (pembacaan kitab al-barzanji). Artinya kurang lebih seperti ini:

Ilahi... Tidak layak hamba masuk ke surga-Mu
Tetapi hambapun tidak kuat menerima siksa neraka-Mu
Maka hambapun bertaubat, karena itu ampunilah dosa-dosaku
Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun atas dosa-dosa...

Dan...

Dengan berbagai peristiwa yang silih berganti, peristiwa yang berhubungan dengan kematian, selalu menjadi "nasehat" tersendiri. Bahwa hidup tak abadi, bahwa sayapun akan mati, bahwa saya harus mempersiapkan bekal menghadap-Nya, bahwa malaikat maut itu melaksanakan sebagaimana perintah Allah. Tak memilih usia, tak memilih kasta, tak memilih rupa, tak memilih....

Akan tetapi... ternyata saya masih sama seperti ini. Rabbighfirli dzunubi...


2 comments:

  1. selau ingat kematian bagi saya terasa banget manfaatnya. kalau langkah bergeser dikit dari jalanNya, saya ingat list kematian yang pernah saya tuliskan, kemudian buru-buru memperbaiki diri. Takut pada saat khilaf itu Allah mengambil nyawa kita...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, Mbak. Ingat kematian, bisa membuat kita selalu memperbaiki diri. Terima kasih.

      Delete

Terima kasih telah memberikan komentar di blog saya. Mohon untuk memberi komentar dengan kata yang santun. Terima kasih. :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...