Wednesday, 30 December 2015

TENTANG WALI NIKAH



Beberapa waktu lalu, keluarga kami disibukkan dengan persiapan pernikahan adik bungsu. Salah satu yang kami persiapkan adalah urusan administrasi yang harus dipenuhi untuk mendaftarkan pernikahan. Nah, salah satu persyaratan yang harus dipenuhi adalah Surat Keterangan Wali Nikah dari desa/kelurahan tempat tinggal wali nikah.

Kebetulan wali nikah adik kami adalah putra dari pakdhe kami dari pihak ayah (sepupu). Pada waktu itu, perangkat dari desa setempat malah mengatakan kalau tidak mau memberikan surat keterangan itu dengan alasan jarak persaudaraan terlalu jauh. Dan menyarankan status sepupu kami itu ditulis paman saja, agar bisa jadi wali. Kami melongo. Sepupu menjadi paman? Ini kan tentang sahnya pernikahan. Kalau sekedar paman, lalu langsung bisa wali nikah, kami juga punya paman yang merupakan adik-adik ibu. Kami juga masih punya paman yang merupakan adik ayah seibu. Tetapi tentang wali nikah ini kan ada aturannya.

Dengan berbagai argumen, bahwa kami sudah menanyakan permasalahan wali nikah ini dengan kyai dan juga sudah konsultasi dengan KUA, akhirnya perangkat desa itu mau membuatkan Surat Keterangan Wali Nikah, meski dengan setengah hati. Tetapi dengan kejadian itu, kami jadi menyadari bahwa masih ada (mungkin banyak) orang yang tidak memahami perihal wali nikah ini.

Jadi, menurut Islam, dalam pernikahan ada yang disebut rukun nikah. Rukun nikah terdiri dari: 1) mempelai lelaki (calon suami), 2) mempelai perempuan (calon istri), 3) wali nikah, 4) dua orang saksi laki-laki (sebagai saksi nikah), 5) ijab qabul (akad nikah).

Kelima hal tersebut harus ada agar pernikahan menjadi sah. Masing-masing rukun nikah juga ada syarat sahnya. Kalau syarat sah wali nikah diantaranya: Islam, laki-laki, baligh, tidak dalam paksaan, tidak dalam ihrom haji/umroh, tidak gila, tidak terlalu tua, merdeka, dan tidak ditahan kuasanya dalam membelanjakan hartanya.

Dan berkaitan dengan siapa yang bisa menjadi wali nikah, karena kami sudah tidak mempunyai ayah, kamipun menelusuri siapa saja yang bisa menjadi wali nikah adik kami. Kebetulan salah satu paman kami (adik ibu) adalah pegawai KUA. Beliaulah yang pertama kali mengurutkan nasab untuk keperluan wali nikah adik kami.

Jadi, dalam hukum Islam memang ada urutan nasab yang bisa menjadi wali nikah. Jika urutan pertama tidak ada, wali turun ke urutan selanjutnya. Dalam hal yang kami alami, sesuai urutan wali nikah, kami mengurutkannya seperti dibawah ini:
  1. Ayah kandung ---> telah meninggal.
  2. Kakek (dari garis ayah dan seterusnya ke atas dalam garis laki-laki) ---> telah meninggal semua.
  3. Saudara laki-laki sekandung ---> kami 3 bersaudara perempuan (tidak bisa menjadi wali nikah).
  4. Saudara laki-laki seayah ---> tidak ada.
  5. Anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung ---> ingat, kami tidak punya saudara laki-laki.
  6. Anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah ---> tidak ada.
  7. Anak laki-laki dari anak laki-laki saudara laki-laki sekandung ---> tidak ada.
  8. Anak laki-laki dari anak laki-laki saudara laki-laki seayah ---> tidak ada.
  9. Saudara laki-laki ayah sekandung (paman sekandung dari ayah) ---> telah meninggal.
  10. Saudara laki-laki ayah seayah (paman seayah) ---> tidak ada.
  11. Anak laki-laki dari paman sekandung ayah ---> disini posisi sepupu kami itu.
Setelah itu kami juga konsultasi kepada orang yang lebih tahu atau mengerti hukum agama, agar kami tidak salah melangkah.

Karena menikah adalah mitsaqon gholidzo (perjanjian Allah yang berat), tentu tidak bisa sembarangan. Ada hukum dan aturan yang harus dipenuhi agar pernikahan sah. Karena jika pernikahan tidak sah, tentu akan berakibat pada hukum hubungan laki-laki dan perempuan. Wallahu a'lam bishowab.

Tuesday, 29 December 2015

MENJAGA KEWARASAN


Pertama kali aku melihat laki-laki itu di salah satu sudut pasar yang ada di Jalan Raya Tayu - Pati. Ia bertingkah sebagaimana binaraga yang berada di panggung memamerkan otot-otot kekarnya. Waktu itu aku hanya terpikir, "Ngapain orang itu?".

Tapi ternyata ketika aku lewat di jalan itu lagi, laki-laki itu masih bertingkah bak binaraga di sudut pasar yang sama. Selalu seperti itu setiap kali aku melewati jalan yang sama selama beberapa bulan terakhir ini.

Pun pagi tadi, aku melihatnya lagi, masih dengan tingkah yang sama. Hanya semakin hari, aku melihat laki-laki itu semakin hitam, semakin kotor, semakin lusuh. Dan orang-orang mulai menyebutnya (maaf) orang gila.

Pemandangan "orang gila" selama aku melakukan perjalanan, bukan tentang lelaki binaraga itu saja. Ada seorang lelaki lain yang suka sekali membuat bentuk lingkaran besar di jalan menggunakan kapur putih. Lingkaran-lingkaran itu selalu pas bundarnya yang aku sendiri pasti kesulitan membuatnya. Ada juga perempuan yang selalu marah-marah sepanjang jalan, memarahi orang-orang yang ditemuinya. Dan banyak yang lainnya.

Setiap kali aku bertemu dengan orang-orang yang disebut (maaf lagi) gila itu, aku berfikir, apa yang ada di masa lalu mereka, hingga membawa mereka pada kondisi semacam itu? Apakah impian yang tidak tercapai? Apakah beban permasalahan hidup yang begitu berat dipikul? Atau apa?

Barangkali, hidup di jaman ini terasa berat bagi sebagian orang. Bukan hanya karena hidup itu sendiri sudah berat, tetapi kadang cerita-cerita tingkat tinggi yang berseliweran menyebabkan bertambahnya beban mereka. Sehingga jika tidak kuat iman, akan berat untuk menjaga kewarasan itu.

Pemuda yang telah menyelesaikan sekolahnya, kesulitan mencari pekerjaan. Ketika pekerjaan didapat, ia bertemu teman lama yang mempunyai pekerjaan yang terlihat lebih keren. Mendengar cerita temannya, ia menjadi rendah diri, karena pekerjaannya biasa dengan gaji yang biasa.

Seorang perempuan bertemu dengan teman-temannya. Mereka saling membanggakan anaknya masing-masing. Anak si A selalu mendapat juara, anak si B sering memenangkan lomba, anak si C hafal Al-Qur'an 2 juz di usia belia. Sedangkan anak si perempuan, "biasa-biasa saja".

Laki-laki pegawai biasa bertemu teman lama yang bercerita tentang kesuksesannya. Rumah megah, berhektar-hektar tanah, mobil berbagai merk, dan segala kemewahan dipunyai oleh sang teman. Sedang ia, masih pegawai biasa, masih tinggal di rumah kontrakan, motornya motor kreditan.

Di media sosial kita melihat artis-artis dengan gaya hidup yang super mewah. Rumah dan mobil bernilai milyaran, berwisata ke luar negeri dengan pesawat pribadi, makan di restoran mewah, tas branded yang harganya jutaan, dan banyak lagi.

Dan ketika kita menjadi orang yang selalu melihat ke atas, bisa jadi kita menjadi silau. Kesuksesan yang kita lihat pada orang lain seakan menjadi segala-galanya. Lalu saat kita tak mampu meraih hal yang sama, kita menjadi tertekan. 

Sabar dan syukur, adalah pernyataan klise untuk tetap menjaga kewarasan kita. Tapi kenyataannya keduanya bisa menjadi bekal dalam hidup yang berat itu. Sabar jika tujuan kita belum tercapai. Karena untuk mencapai tujuan itu, kita harus melewati jalan berliku, mendaki, mungkin menurun, lalu naik lagi. Ada proses yang harus kita jalani. 

Bersyukur, karena meski kita belum mencapai puncak tertinggi, kita telah melalui proses itu setahap-demi setahap. Ada banyak orang lain yang ada di bawah kita juga berjuang menuju tujuannya masing-masing. Ada banyak hal yang masih bisa kita syukuri. Kita diberikan-Nya hidup, dikaruniakan mata untuk melihat, diberikan telinga untuk mendengar, diberi hati untuk merasa. 

Dan hidup terus berjalan. Meski rasanya berat, jika kita punya sandaran, insya Allah semua akan lebih terasa ringan. Mari kita senantiasa percaya (iman) kepada-Nya. Selalu punyai kesabaran dan rasa syukur, agar kita bisa tetap menjaga kewarasan kita. 

Wednesday, 23 December 2015

CHARGER

charge-dengan-charger-diri


Charger tampaknya sudah menjadi kebutuhan sehari-hari kita. Hampir semua orang punya ponsel. Dari yang berupa ponsel jadul sampai yang kekinian, semua butuh charger. Bahkan sekarang kita dimudahkan pula dengan powerbank yang bisa menyimpan daya, sehingga kita tetap bisa mencharge ponsel meski di tengah sawah sekalipun. :)

Tetapi... Saya sih tidak akan cerita tentang charger yang itu. Saya ingin membahas charger yang lain. Charger diri, mungkin bisa disebut seperti itu. Seperti ponsel yang butuh energi tambahan ketika batereinya habis, diri kitapun sering mengalami habis energi, sehingga membutuhkan charge untuk diri kita sendiri.

Secara umum, ada tiga tempat yang menjadi pusat kelelahan kita, hingga rasanya tak berenergi untuk melakukan berbagai kegiatan. Ini menurut saya sih... :D

1. Lelah Fisik
Banyaknya pekerjaan di kantor membuat kita kurang istirahat, hingga kita kelelahan. Pekerjaan seperti tak ada habisnya, yang satu belum selesai, datang lagi pekerjaan lain yang harus diselesaikan juga.

Yang bekerja di rumahpun sama. Mencuci pakaian, memasak, bersih-bersih, mengasuh anak, dan sebagainya.

Pasti semua menguras tenaga kita, dan bisa jadi membuat kita jatuh sakit, jika kita tak bisa mengatur tubuh kita.

2. Lelah Pikiran
Dalam hidup pastilah selalu ada permasalahan. Ada masalah yang berat, ada juga yang ringan. Ketika masalah berat yang datang, kadang kita sampai stress dibuatnya.

Hm... Lelah pikiranpun bisa membuat kita sakit, lho...

3. Lelah Hati
Berbagai rutinitas yang tak kunjung selesai, bisa jadi menimbulkan kekosongan dalam hati kita. Atau... Karena lelah pikiran, barangkali juga sampai membuat kita lelah hati.

Mengembalikan Energi yang Hilang
Mengenal sumber kelelahan kita, pasti akan membantu kita untuk mengembalikan energi yang hilang. Pilih charger yang tepat untuk mengembalikan daya kita. Jangan sampai charger laptop untuk hp, tidak cocok kan?

Kalau lelah fisik, pastinya kita butuh istirahat. Tubuh kita punya hak juga kan ya... Biar lelah tak berujung sakit. Istirahat sejenak, berolahraga, luluran, creambath, facial... Hihihi... Ya, intinya sih, beri waktu untuk memanjakan fisik kita. Tapi jangan keterusan manjanya ya... :D

Lelah pikiran? Barangkali kita butuh teman curhat. Tentunya yang bisa kita percaya. Kalau ada permasalahan tertentu yang membutuhkan pendapat orang yang ahli, coba sharing dengan ahlinya. Permasalahan agama ya tanyakan pada yang ahli agama. Tentang penyakit, minta pendapat pada yang ahli kesehatan. Jangan kebalik-balik, tambah lelah nanti. :)

Atau, membaca.... Membaca bisa membuka cakrawala berfikir kita. Barangkali, dengan ilmu yang kita baca, lalu kita praktekkan, akan membantu mengurai permasalahan yang kita hadapi.

Kalau lelah hati? Mungkin pekerjaan kita, permasalahan yang kita hadapi, membuat kita sibuk setiap hari. Lalu kita abai terhadap hal-hal yang bersifat ukhrowi, hingga menimbulkan kekosongan hati. Saat itulah ruhiyah kita mencapai titik yang rendah. Mendekat pada-Nya, memperbanyak dzikir, baca Al-Qur'an, insya Allah akan mengembalikan hati kita pada tempatnya (memang tempatnya dimana? :D). 

Jadi, intinya apa? Inti dari semuanya... Ketika kita lelah, ayo me time sejenak (maaf, bukan ngomporin :)). Termasuk me time berkhusyu' masyuk dengan-Nya di malam buta, bermunajat kepada-Nya. 

Setelah me time, ayo kita kembali beraktifitas dengan energi yang penuh.


Tuesday, 1 December 2015

BANYUTOWO, DESA KECIL DENGAN IMPIAN BESAR

Judulnya terasa bombastis yah... :D. Tapi seperti itulah yang saya tangkap dari setiap percakapan saya dengan Bapak Muktari, Kepala Desa Banyutowo saat ini.

Oh ya, sebelum cerita banyak, teman-teman tahu tentang Desa Banyutowo, atau setidaknya pernah mendengar nama desa itu? Kalau belum, teman-teman tahu Soimah? Pesinden yang juga dikenal sebagai pelawak itu. Nah, Soimah ini aslinya dari Desa Banyutowo lho... Informasi gak penting ya? Ya sudahlah. Mari lanjut ceritanya. :D

Banyutowo adalah salah satu desa di Kecamatan Dukuhseti Kabupaten Pati. Desanya termasuk kecil, luasnya sekitar 115,890 Ha, terdiri dari satu pedukuhan, 2 RW dan 11 RT. Jumlah penduduk berdasarkan Kecamatan Dukuhseti dalam Angka Tahun 2014 adalah 2.863 orang, terdiri dari 1.475 laki-laki dan 1.398 perempuan. Penduduknya sebagian besar berprofesi sebagai nelayan. Tidak heran sih, karena memang di Desa Banyutowo ini dekat dengan laut. Ada dermaga dan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) disana.
Saya narsis di TPI Banyutowo :D

Pak Inggi (sebutan untuk Kades di tempat kami) kalau sudah bercerita tentang desanya pasti menggebu-gebu, terlihat sangat bersemangat. Visi untuk tahun-tahun kedepan ia ceritakan dengan semangat.
Pak Inggi sedang melaksanakan pelayanan kepada masyarakat
"Desa Banyutowo, meskipun tidak punya bengkok (tanah kas desa), tapi tidak boleh kalah dengan desa lain. Desa kami harus bisa lebih maju, meski mempunyai keterbatasan." Seperti itu salah satu kalimat penuh semangatnya.

"Inilah yang akan saya tinggalkan untuk desa ini kalau nanti saya tidak jadi kades lagi," katanya sambil menunjuk kantor balai desa yang terhubung dengan perpustakaan desa dan gedung serba guna, yang memang dibangun pada masa kepemimpinannya. 

Lalu ia juga menunjuk tanah lain yang masih kosong. "Disana nanti kami akan membangun kantor bersama, Mbak. Kantor untuk BPD, PKK, LPMD, dan lainnya."

Menurutku sih, pemikiran Pak Inggi yang satu ini keren. Ia tidak hanya berfikir untuk saat ini saja, tapi juga untuk nanti ke depan apa yang ia bangun bisa ada manfaatnya.

Inilah beberapa nilai lebih Desa Banyutowo dibanding desa lainnya.

Gedung Serba Guna
Selain menjadi ruang pertemuan ketika ada rapat, di sore hari gedung itu menjadi lapangan badminton untuk masyarakat desa. Setiap jam 4 sore, tempat itu pasti ramai orang berolahraga. Disana juga ada semacam toko yang menyediakan minuman, agar setelah berolahraga, yang kehausan tidak perlu jauh-jauh mencari minum. Toko ini dikelola oleh koperasi desa, dan sudah berbadan hukum lho...

Selain itu, desa juga mempersilahkan jika ada warganya yang akan menggunakan gedung itu sebagai tempat resepsi pernikahan. Tempat itu memang cukup representatif untuk acara resepsi, karena selain tempatnya cukup luas (ada panggungnya juga), tempat parkir juga luas.
Kantor desa tampak depan dan gedung serba guna yang ada didalamnya

Perpustakaan Desa
Kemudian, berbicara tentang perpustakaan desa. Perpustakaan desa yang dekat dengan PAUD dan Sekolah Dasar (SD) sebenarnya cukup representatif. Tetapi diakui oleh Pak Inggi, bahwa menumbuhkan minat baca memang perlu waktu. 

Pada waktu penilaian perpustakaan desa oleh Kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Kabupaten Pati, disarankan agar pengelola perpustakaan desa bisa jemput bola untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Misalnya, untuk ibu-ibu yang menunggui anak-anaknya di sekolah PAUD, buku-buku yang sekiranya menarik minat mereka, bisa dibawa kesana. Menunggu sambil membaca, lebih bermanfaat kan?

Atau ketika ada pertemuan PKK, atau ketika bapak-bapak selesai berolahraga, bisa ditawari untuk membaca. Intinya, kata pihak Arpusda, "Untuk meningkatkan minat baca, kita harus mau mengalah dengan jemput bola. Jangan takut buku rusak atau hilang. Karena akan ada manfaat yang lebih dengan membaca."
Pembinaan perpustakaan desa dari Kantor Arpusda Kab. Pati

Pak Inggi pun mengiyakan dan dengan antusias menambahi, "Kami juga telah menghubungi warga kami yang sudah sukses, agar bisa memberi bantuan buku untuk perpustakaan desa kami."

Dan sayapun yakin, dengan pengelolaan yang baik, insya Allah perpustakaan desa yang saat ini masih kecil, suatu saat bisa berkembang lebih baik lagi. Semoga ya... Saya ikut berdo'a untuk Desa Banyutowo.

BUMDesa
Ada lagi yang saat ini akan dikembangkan oleh Desa Banyutowo, yaitu BUMDesa atau Badan Usaha Milik Desa. Dengan diawali pembentukan Usaha Ekonomi Desa Simpan Pinjam atau biasa disebut UED-SP pada tahun 2013, tahun ini mulai dirintis pembentukan Pasar Desa. Mungkin tahun-tahun berikutnya usaha-usaha lainpun akan berkembang melalui BUMDesa ini, tentunya juga dengan memperhatikan potensi lokal yang dimiliki Desa Banyutowo.

Tahun ini Kantor BUMDesa juga sudah dibangun dengan Bantuan Keungan dari Provinsi Jawa Tengah. Dengan dibangunnya kantor ini, berarti menunjukkan keseriusan Pemerintah Desa terhadap perkembangan BUMDesa.

BUMDesa yang saat ini baru dirintis, ibarat bayi yang baru lahir, semoga nantinya menjadi bayi yang sehat, yang akhirnya bisa memberikan manfaat untuk masyarakat desa Banyutowo. Semoga ya...
Kantor BUMDesa

Itulah sebagian impian Desa Banyutowo yang sedang mulai dirintis. Desa kecil itu, desa yang perangkatnya tidak memiliki bengkok itu, kini mulai berbenah. Bukan tidak mungkin, ketika manajemen pemerintahan desa berjalan baik, pendidikan menjadi perhatian, ekonomi masyarakat tumbuh bersama BUMDesa, suatu saat Desa Banyutowo menjadi desa yang maju dan mandiri.




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...