Wednesday, 21 December 2016

RANDOM

Assalamu'alaikum,

Apa kabar, Sahabat? Sebulan lebih tidak nulis di blog rasanya kok ada yang hilang. Seperti sayur tanpa garam. Seperti malam tanpa bintang. Seperti aku tanpa kamu. #apasih.

Dunia nyata saya akhir-akhir ini memang membutuhkan perhatian. Yang bekerja di bidang pemerintahan pasti tahu bagaimana kegiatan seakan terfokus di akhir tahun. Banyak deadline yang harus diselesaikan. Karena yah... Sudah akhir tahun. Tahun Anggaran hampir berakhir dan semua target kegiatan harus tercapai.

Diantara target-target yang harus tercapai itu, saya cukup menikmati ketika mendampingi desa melaksanakan musyawarah perencanaan pembangunan desa (musrenbangdes). Yang tujuannya untuk menyusun Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) Tahun 2017.
Musrenbangdes di Desa Bakalan, Kecamatan Dukuhseti
Perencanaan memang harus sudah dibuat saat ini. Agar nanti penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) juga bisa berjalan lancar. Kemudian program dan kegiatan di desapun ikut lancar. Sayapun ikut tenang dan ayem kalau kegiatan di desa-desa di wilayah kerja saya berjalan dengan baik.

Bersamaan dengan deadline, saya juga mengikuti beberapa berita yang cukup viral. Seperti tentang penistaan agama, dimana saya hanya bisa berdo'a:

 اللهم ارناالحق حقا وارزقناالتباعه وارناالباطل باطلا وارزقنااجتنابه
"Ya Allah tunjukkan kepada kami bahwa yang benar itu benar dan mampukan kami untuk mengikutinya. Dan tunjukkan bahwa yang bathil itu adalah bathil dan mampukan kami untuk menjauhinya."

Lalu juga beberapa waktu ini tentang duka yang datang dari tanah Syam, Aleppo. Ah... Perang selalu begitu bukan? Menyisakan keperihan, terutama untuk wanita dan anak-anak. Lagi-lagi hanya do'a yang bisa saya panjatkan, "Semoga mereka selalu diberi kekuatan. Semoga kedamaian segera kembali. Dan mereka yang didzalimi kembali kepada Robb-nya sebagai syahid."
Salah satu gambar tentang Aleppo yang beredar di sosmed
Seorang teman juga menggagas sebuah donasi untuk Aleppo dengan cara menjual barang-barang dagangan kita di satu "lapak" Facebook. Saya juga ikut berpartisipasi didalamnya. Semoga sedikit yang kami lakukan bisa bermanfaat untuk saudara-saudara kami. Baru ini yang kami bisa, Ya Allah...

Di sisi lain, ada juga "Om Telolet Om" yang sangat viral dua harian ini. Atau sebelumnya? Saya yang kudet mungkin, karena baru tahu. :D Selalu ada cara sederhana untuk bahagia bukan? Meski hanya dengan mendengar bunyi klakson bus yang lewat.

Entah apa inti tulisan ini. Random.

Kalau mau dipaksakan (haha, apa-apaan...), intinya adalah banyak hal terjadi di sekitar kita. Kita selalu punya pendapat pribadi dengan semua kejadian yang kita alami dan saksikan. Tetapi, tidak usahlah terlalu sibuk berdebat. Lebih baik energimu digunakan untuk melakukan hal yang bermanfaat, setidaknya untuk lingkunganmu.

Wassalamu'alaikum.
Ummi



Sunday, 11 December 2016

CATATAN DANA DESA DI KECAMATAN DUKUHSETI TAHUN 2016: DARI PENDAMPING DESA HINGGA SISKEUDES

Assalamu'alaikum,

Kami berada di Kecamatan Dukuhseti. Sebuah kecamatan di bagian utara Kabupaten Pati yang berada di wilayah Provinsi Jawa Tengah. Ada 12 desa di Kecamatan Dukuhsetti, yaitu: Desa Wedusan, Puncel, Tegalombo, Kembang, Dukuhseti, Banyutowo, Alasdowo, Ngagel, Kenanti, Grogolan, Dumpil, dan Bakalan. 8 dari 12 desa itu berada di wilayah pesisir Laut Jawa. 

Dana Desa tahun 2016, sebagaimana janji Pemerintah mengalami kenaikan dari tahun 2015 yang lalu. Jika tahun 2015 kisaran dana yang diterima desa di tempat kami adalah 300-an juta, pada tahun 2016 dana berkisar pada angka 600-an juta. Jumlah yang banyak? Bisa jadi. 

Tetapi bisa dipastikan, dana sebesar itu belum tentu menyelesaikan infrastruktur yang merupakan kebutuhan dasar yang ada di desa. Seperti jalan, jembatan, prasarana kesehatan, prasarana pendidikan, dan lain sebagainya. Desa-desa tertentu yang memiliki luas wilayah kecil, barangkali bisa. Tetapi untuk desa-desa yang wilayahnya lebih luas apalagi dengan kondisi wilayah sulit, akan diperlukan beberapa tahun lagi untuk menyelesaikan infrastrukturnya.

Memang fokus penggunaan dana desa di tahun 2016 ini masih di infrastruktur. Sebagian dialokasikan untuk pembiayaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa). Namun untuk BUMDesa masih cikal, yang masih harus dipupuk dan dirawat agar bisa berkembang. Kami masih lagi berusaha menemukenali potensi yang dapat kami kembangkan dan dapat dikelola melalui BUMDesa. 

Kami kadang memperhatikan desa-desa yang memiliki potensi wisata di wilayah kabupaten lain. Mereka yang sudah berkembang BUMDesa-nya lewat pariwisatanya, seperti di Desa Ponggok Klaten. Kami berharap suatu saat kami juga dapat mengembangkan potensi yang dimiliki di desa-desa yang ada di wilayah Kecamatan Dukuhseti.

Tentang Pendamping Desa.
Ketika pertama kali Pendamping Desa diturunkan ke desa-desa pada awal tahun 2016 ini, kami tentu berharap banyak. Tahun 2015, kami cukup keteteran ketika tak ada pendamping. Karena memang banyak yang harus disiapkan oleh desa untuk dapat mencairkan Dana Desa itu.

Pembangunan itu, bukankah harus dimulai dari perencanaan? Melaksanakan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes) yang menghasilkan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDesa). Lalu menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes). Juga penyusunan Rencana Anggaran dan Biaya (RAB). Apalah kami ini tanpa didampingi? 

Desa butuh pendampingan, bukan saja agar program-programnya berjalan lancar. Tetapi juga agar desa bisa berjalan sebagaimana aturan yang ditetapkan. Pendamping selayaknya bisa memberi masukan untuk desa dan menjadikan desa lebih mandiri sebagaimana tujuan dari pemberdayaan masyarakat desa itu.

Di Kecamatan Dukuhseti, kami mendapatkan 3 orang pendamping pada awalnya. Tetapi entah kenapa, satu orang pendamping tak pernah hadir untuk kami. Meski begitu kami enjoy dengan 2 orang pendamping desa. Satu orang berlatar belakang pemberdayaan. Seorang lagi seorang teknik sipil. Kami merasa beruntung, karena teman-teman kami di kecamatan lainnya ada yang tak mendapatkan pendamping berlatar belakang teknik sipil.

Kenapa Pendamping Desa seorang teknik sipil menjadi penting? Karena ketika perencanaan pembangunan infrastruktur, kami perlu seseorang yang menguasai ilmunya agar bangunan yang akan kami bangun aman secara mutu dan kekuatan. Dan itu bisa didapat dengan menyusun Rencana Anggaran dan Biaya (RAB) yang tepat.

Karena itu kami berharap untuk tahun-tahun kedepanpun, Pendamping Desa yang ada di wilayah kecamatan selalu ada yang berlatar belakang teknik sipil selain yang berlatar pemberdayaan.

Tentang Siskeudes.
Siskeudes atau Sistem Keuangan Desa adalah sebuah aplikasi yang dikembangkan oleh BPKP sebagai sistem keuangan di tingkat desa. Kadang Siskeudes ini juga disebut SIMDA Desa.

Anjuran penggunakan Siskeudes oleh BPKP ini sudah kami dengar sejak akhir tahun 2015. Dan rupanya Pemerintah Kabupaten Pati juga menyambut baik anjuran tersebut. 

Bulan Februari kami mulai mengikuti pelatihan Siskeudes yang difasilitasi oleh Bagian Pemerintahan Setda Kabupaten Pati. Setelah itu ada surat dari Bupati Pati agar semua desa menyusun penganggaran dan penatausahaan keuangan dengan menggunakan Siskeudes.

Di Kecamatan Dukuhseti, kami saling menyemangati untuk konsisten menggunakan aplikasi ini. Bagaimanapun sesuatu yang baru memang harus dipelajari terlebih dahulu agar dapat menggunakan dengan lancar. Hasilnya, ternyata memang dengan menggunakan aplikasi ini, kami lebih teratur dalam pengelolaan keuangan. Bonusnya adalah, dengan satu kali kerja, kami bisa mendapatkan pembukuan yang lengkap. Dari buku kas umum, buku bantu pajak, buku bantu kegiatan, hingga laporan bulanan, triwulan, dan semesteran. 

Masalah sebagai Pembelajaran.
Tak ada gading yang tak retak, begitu kata pepatah. Meski kami berusaha yang terbaik, masalah dalam pengelolaan kegiatan pasti selalu ada. Tetapi berkali-kali kami saling menyemangati, masalah itu akan mendewasakan dan akan membuat kita lebih baik.

Lakukan semua sesuai perencanaan. Selalu transparan kepada masyarakat. Itu yang selalu kami tekankan. Pengelolaan Dana Desa ke depan harus lebih baik lagi. Dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasannya. 

Semoga dengan Dana Desa, desa akan menjadi mandiri dan sejahtera. Mari Membangun Desa! Dari desa, kita bangun Indonesia.

Wassalamu'alaikum
Ummi

Saturday, 12 November 2016

MANAJEMEN WAKTU IBU RUMAH TANGGA

Assalamu'alaikum,

Manajemen, menurut kbbi adalah penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran. Jadi definisi bebas ala saya, manajemen waktu ibu rumah tangga adalah bagaimana seorang ibu rumah tangga menggunakan waktunya secara efektif demi menyelesaikan tugas-tugasnya. 

Ibu rumah tangga yang saya maksudkan disini adalah ibu rumah tangga secara umum ya... Baik ibu rumah tangga yang kata orang stay at home mom atau working mom. Dua-duanya menurut saya namanya ya ibu rumah tangga, dan yang pasti perlu mengatur waktunya dengan baik.

Semua orang mempunyai waktu yang sama, yaitu 24 jam. Spesialnya ibu rumah tangga ini, tugasnya juga bukan melulu kerumahtanggaan saja. Seperti menyapu, memasak, atau mencuci. Apalagi jika ibu seorang ibu bekerja. Ya kan?

Karena selain pekerjaan rumah tangga dan pekerjaan kantor, ibu juga harus bersosialisasi dengan lingkungan tempat tinggal. Atau istilahnya bermasyarakat. Misalnya saja mengikuti arisan RT atau acara pengajian. Dari acara itu, ibupun akan terlibat dengan acara-acara yang lain. Menjenguk tetangga sakit, takziyah orang meninggal, jadi panitia mantenan tetangga yang mantu, dan lain sebagainya. Pasti ada lah ya, ada hal-hal yang harus kita kerjakan sebagai bagian dari masyarakat.

Atau malah ibu terlibat dalam masyarakat yang lebih besar? Aktif di berbagai organisasi dan komunitas, misalnya. Pasti dengan berbagai kegiatan itu, ibu harus bisa mengefektifkan waktu agar semua tugas bisa tercapai. 

Kalau semua terselesaikan, ibu bahagia dan semuapun ikut bahagia. Karena itulah manajemen waktu sangat dibutuhkan. 

Setidaknya ada 3 manfaat jika ibu bisa mengatur waktu dengan baik, yaitu:

1. Agar hidup lebih teratur.
Ibu sering kelabakan karena belum melakukan pekerjaan yang sebenarnya penting? Atau sama seperti saya, suka sekali mengerjakan pekerjaan menjelang deadline? Hahah... Yuk, kita ubah sama-sama kebiasaan buruk itu. Kita fastabiqul khoirot, Bu. Berlomba-lomba menuju kebaikan. Yang menang, dapat pahala dari Allah saja. :)

2. Agar tidak ada waktu yang terbuang sia-sia.
Ibu suka mainan gagdet setelah subuh, terus kaget karena belum memasak buat sarapan? Padahal anak-anak sudah harus ke sekolah. Haha... Itu sih saya banget. Saya harap waktu-waktu seperti itu tidak ada lagi dalam hidup saya. #Aamiin

3. Agar mendapatkan goal lebih banyak.
Kalau habis subuh ibu tidak perlu main gadget dulu, tetapi langsung buat sarapan, memandikan si bungsu, menyapu, mencuci piring. Wah... Ternyata banyak ya, yang bisa dikerjakan kalau kita menghilangkan satu kebiasaan buruk saja. Sasaran yang tercapaipun lebih banyak lagi.

Kelihatannya asyik ya, kalau ibu bisa mengatur waktu. Tetapi tidak semua ibu bisa mengatur waktu dengan baik. Sering ada yang terlalu asyik main gadget sampai anak diabaikan. Kadang ada yang keenakan ngerumpi, sampai anak "ngowoh" menantikan ibu yang tak kunjung selesai ngobrol.  

Bu, ini ada beberapa cara agar kita bisa mengatur waktu dengan lebih baik. Mungkin bisa nyangkut di hati ibu. Kalau tidak, ya tidak apa-apa juga.

1. Membuat jadwal harian.
Jadwal ini adalah jadwal rutin yang ditulis detail dan harus dipatuhi. Misalnya ibu harus bangun jam berapa. Ibu menyiapkan sarapan jam berapa. Bahkan ibu boleh memegang HP dari jam berapa sampai jam berapa juga harus ditulis detail. Biar apa? Ya biar teratur. Soalnya kalau tidak dijadwal, bisa-bisa waktunya menyiapkan sarapan malah main gadget kan? :D

2. Menentukan prioritas pekerjaan.
Susun list pekerjaan yang harus ibu selesaikan. Lalu buat prioritas, mana yang mendesak dan harus didahulukan. Misalnya, untuk pagi hari membuat sarapan adalah prioritas. Kalau tidak, maka suami dan anak-anak tidak sarapan. Akibatnya mereka lemes saat di kantor dan di sekolah. 

3. Susun pekerjaan yang bisa dilakukan bersamaan.
Ada lho, pekerjaan yang bisa dilakukan bersama-sama. Misalnya di pagi hari kita bisa memasak sambil cuci baju (pakai mesin cuci). Sementara menggoreng ikan, sambil menunggu ikan matang kita bisa sambil mencuci piring yang kotor semalam. Tapi hati-hati, jangan sampai ikannya gosong, Bu.

4. Konsisten dan patuh pada jadwal serta prioritas.
Setelah membuat jadwal dan prioritas, tentunya tetap tidak akan efektif kalau ibu tidak konsisten menjalankannya. Catatan yang sudah ibu buat harus dipatuhi. Kalau perlu ditempel di tempat yang terlihat, dan minta suami untuk ikut mengingatkan.

Kalau kata orang Barat, time is money (waktu adalah uang). Kalau orang Arab mengatakan al-waqtu kash-shoif (waktu laksana pedang). Kalau kita tidak pandai memanfaatkannya, waktulah yang akan memotong kita. 

Kalau bagi ibu, waktu itu apa?

Wassalamu'alaikum
Ummi

Sunday, 6 November 2016

IDEALISME

Assalamu'alaikum,

Definisi idealisme menurut www.kbbi.web.id. Idealisme/ide·al·is·me/ /idéalisme/ n (1) aliran ilmu filsafat yang menganggap pikiran atau cita-cita sebagai satu-satunya hal yang benar yang dapat dicamkan dan dipahami; (2) hidup atau berusaha hidup menurut cita-cita, menurut patokan yang dianggap sempurna; (3) Sas aliran yang mementingkan khayal atau fantasi untuk menunjukkan keindahan dan kesempurnaan meskipun tidak sesuai dengan kenyataan.

Kalau yang mau dibahas disini sih lebih ke definisi nomor 2 ya... Idealisme adalah hidup atau berusaha hidup menurut cita-cita, menurut patokan yang dianggap sempurna. Misalnya begini...

Gadis yang belum menikah, biasanya punya tipe ideal laki-laki yang diinginkan sebagai calon suaminya. Misalnya laki-laki itu harus tampan, mapan, pintar, baik hati, tidak sombong... Biasanya begitu kan? Kemudian iapun mencari suami yang memenuhi kriterianya. Menurut saya, itu adalah idealisme. Idealisme dalam mencari jodoh tentunya.

Setelah menikahpun seseorang ingin punya kehidupan yang ideal dalam pernikahannya. Rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah, suami atau istri setia, anak-anak yang pintar, hidup yang berkecukupan, punya rumah sendiri, mobil pribadi, dan seabreg impian ideal lain. Itu adalah idealisme juga. Idealisme hidup berumah tangga. :D

Termasuk dalam kehidupan bernegara, kita punya tipe pemimpian yang ideal. Berwibawa, jujur, tidak korupsi, tegas, mampu menjaga keutuhan negara, pokoknya yang baik-baik. Hingga ketika kita memilih pemimpin, kitapun memilih yang sesuai idealisme kita.

Intinya adalah sebenarnya setiap kita punya idealisme. Dan saya yakin awalnya kita berusaha menjalani hidup sesuai idealisme itu. Ya, selama kita tidak menemui halangan dalam menjalani idealisme itu. Ketika menemui halangan, sikap kita barangkali berbeda-beda dalam menyikapi idealisme itu. 

Sebagian kita ada yang kekeuh dengan idealisme itu. Karena idealisme adalah harga mati yang harus dipatuhi. Ada juga yang bersikap pertengahan. Sesekali tak apalah menentang idealisme sendiri, asal bisa mencapai tujuan dalam rangka idealisme itu juga. Nah lho... Bingung kan? :D Dan ada juga yang tidak peduli lagi dengan idealisme. Bullshit dengan idealisme itu, yang penting aku hidup dengan nyaman. Begitu pikirnya.

Sekedar contoh... Beberapa pegawai ingin bekerja sesuai idealismenya. Tak ingin ada pungli apalagi korupsi dalam kamus hidupnya. Tetapi di dalam perjalanan ternyata semuanya tak semudah bayangan. Sistem yang tidak mendukung, birokrasi yang payah, mental korupsi yang masih melekat, dan banyak lagi. 

Dan merekapun berguguran. Tak lagi memegang idealisme. Ada yang masih menyimpan idealisme di hati, tapi merasa tak berdaya di tengah sistem yang ada. Namun ada juga yang masih memegang idealisme, meski jumlahnya tak banyak.

Seperti juga seorang gadis yang akhirnya dibatasi oleh umur, hingga ia mengurangi tipe idealnya. Tak apa jika tak mendapatkan yang paling ideal, asal ia bisa membahagiakan keluarganya dengan pernikahan. Kadang begitu

Ternyata memang memegang erat idealisme tak mudah ya...

Namun diantara yang tidak mudah itu, pasti kita punya idealisme yang selalu kita jadikan prinsip hidup. Agar kita tetap bisa mengobarkan semangat saat berjalan menuju tujuan. Agar orang lain juga tak menganggap kita orang yang mencla-mencle, oportunis, hanya mementingkan diri sendiri. Apalagi jika idealisme yang harus kita genggam itu berhubungan dengan tanggung jawab kita sebagai seorang hamba Tuhan. Tentunya ada pertanggungjawaban nanti di pengadilan tertinggi (di hari akhir).

Kalau bagi Anda, apa idealisme yang paling prinsip? Seberapa erat Anda menggenggamnya? Dan seberapa gelisah Anda ketika idealisme itu tak berjalan mulus sebagaimana yang diinginkan? Bisa dijawab di kolom komentar, atau cukup dalam hati saja. :)

Wassalamu'alaikum
Ummi

Monday, 10 October 2016

AGAR SI KECIL TAK REWEL SAAT DITINGGAL BEKERJA

Assalamu'alaikum, Sahabat...

Bagi ibu yang baru selesai cuti melahirkan, meninggalkan si kecil untuk kembali bekerja tentu merupakan hal yang terasa berat. Si kecil yang begitu menggemaskan harus ditinggalkan pada orang lain. Dilema ibu bekerja memang begitu ya... 

Meski ada yang bisik-bisik untuk resign saja, tetapi karena ada berbagai alasan, ibu tetap harus berangkat bekerja. Padahal itu adalah bisikan yang sungguh menggoda. :)

Karena memutuskan tetap bekerja, tentu ibu harus punya strategi (apa sih :D) agar si kecil tak rewel saat ditinggal bekerja. Kalau saya sendiri sudah tiga kali melalui dilema itu. Dan ini yang biasanya saya melakukan ketika memulai kembali aktifitas kerja:

1. Pastikan pengasuh si kecil adalah orang yang bisa dipercaya.

Paling aman memang menitipkan si kecil pada orang tua. Tetapi jika harus mempercayakan si kecil pada orang lain, ada baiknya ibu mencari tahu dulu latar belakang orang tersebut. Agar ibu bisa tenang meninggalkan si kecil. 


Selain itu, meski sudah ada pengasuh, tidak ada salahnya ibu meminta bantuan Saudara agar sesekali menengok si kecil. Tentu ini untuk keamanan si kecil dan juga ketenangan hati ibu.

2.  Selalu berpamitan pada si kecil tiap berangkat kerja.

Saya selalu melakukan ini sejak si kecil berusia 3 bulan (batas cuti saya 3 bulan). Meski si kecil belum paham, tapi karena ikatan batin, si kecil pasti bisa merasakan isi hati ibu. 

Memang awalnya si kecil menangis kalau akan ditinggal ibu bekerja. Tapi membiasakan berpamitan akan bermanfaat ketika si kecil sudah lebih besar. Lama-lama si kecil akan terbiasa. Dan akan mengerti bahwa ibu akan berangkat kerja. Alhamdulillah, anak-anak saya tidak ada yang nangisan kalau saya tinggal kerja. 

Jadi, sejak awal sebaiknya ibu tidak sembunyi-sembunyi saat meninggalkan anak untuk bekerja. Karena kalau terlalu sering sembunyi-sembunyi, si kecil justru akan menangis keras saat ibu ketahuan mau berangkat kerja.

3. Sisihkan sedikit waktu untuk bermain sebelum berangkat.

Jangan mengacuhkan si kecil menjelang ibu berangkat kerja. Manfaatkan waktu untuk mengajak si kecil bermain meski sebentar. Ketika waktunya berangkat, si kecilpun akan sukarela melepaskan ibu berangkat kerja. 

Setelah berusaha, tinggal berdo'a dan tawakkal saja pada Allah. Semoga si kecil selalu dalam lindungan-Nya.

Bagaimana ibu, sudah siap bekerja lagi?

Wassalamu'alaikum
Ummi
  

Sunday, 9 October 2016

BEKERJA SESUAI PASSION

Assalamu'alaikum, Sahabat...
bekerja-sesuai-passion

Bahagia ya kalau kita bisa mempunyai pekerjaan yang sesuai passion kita. Kitapun jadi bersemangat, karena kita sudah suka dengan pekerjaan itu. Seperti beberapa teman saya ini. 

Ada seorang teman yang suka senam aerobik. Diapun membuka sanggar senam di rumahnya. Karena dia memang punya kemampuan, sanggar senamnya jadi ramai peminat. Bahkan dia melebarkan sayap dengan bisnis baju senam dan sepatu senam. 

Seorang teman yang lain adalah seorang crafter. Dari hobi itu, ia bisa membuat berbagai kerajinan tangan yang bisa dibisniskan. Peminatnyapun tidak sedikit. Sudah lintas pulau di seluruh Indonesia.

Teman yang lainnya lagi menyukai batik. Karena cintanya dengan batik, diapun kemudian mulai berbisnis batik. Hingga akhirnya dia bisa memproduksi batik sendiri. Bisnisnya makin berkembang dan semakin maju. 

Pun kalau saya melihat teman-teman penulis. Mereka sudah mulai suka menulis sejak masih kecil. Dan mereka memang tampak mencintai menulis. Karya-karyanya menghiasi berbagai media. Tentu saja tulisan-tulisan itu mendapat bayaran. 

Nah kan, memang paling enak itu jika bekerja sesuai passion. Ada yang mengatakan, hal itu merupakan hobi yang dibayar. Menyukai senam, dan dibayar karena senam. Suka handycraft, dan dibayar karena itu. Suka menulis, dan dibayar karena tulisan. Suka bertualang, dibayar karena bertualang. Senang makan, dan dibayar untuk makan-makan. Dua yang terakhir itu, contohnya presenter acara petualangan atau kuliner. Jalan-jalan dan makan-makan gratis, dibayari lagi. 

Kalau Sahabat suka apa? Bisa jadi, hobi itu mendatangkan rejeki, lho...

Tetapi jikapun saat ini pekerjaan kita belum sesuai passion kita, bukan berarti kita malas-malasan saat bekerja dong... Kita tetap bisa bersyukur dan niatkan bekerja itu untuk ibadah

Bersyukur, karena diluar sana masih banyak orang yang tak mempunyai pekerjaan. Sedangkan kalau menganggur dan meminta pada orang lain, bukankah itu hal yang tidak disukai Allah? Dengan bekerja kita terhindar dari menjadi peminta-minta. 

Kemudian kita juga harus berusaha mengenal seluk-beluk pekerjaan kita. Pasti ada hal-hal asyik dari pekerjaan kita itu. Hal-hal asyik itu kalau dinikmati, lama-lama juga akan cinta. #eh ini ngomong apa sih. :D

Lalu, kita coba membuka mata dan telinga tentang pandangan orang terhadap pekerjaan kita. Mungkin kita menganggap pekerjaan kita sepele, tetapi bisa jadi bermanfaat bagi orang lain. 

Yakinlah bahwa menjadi apapun, selama pekerjaan itu halal, tak ada yang salah. Materi bisa jadi adalah tujuan sebagian orang. Tetapi ada juga sebagian orang hanya ingin menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain. Bukankah begitu yang diajarkan Rasul?

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia (lain)" (HR. Ahmad, At-Thabrani, Ad-Daruquthni)

Bagaimana, apakah sudah mencintai pekerjaan Sahabat saat ini?

Wassalamu'alaikum.
Ummi

Saturday, 8 October 2016

MATERIALISTISKAH KITA?

Assalamu'alaikum, Sahabat...

Bagaimana kabar Sahabat? Samakah seperti di tempat saya yang saat ini sering di guyur hujan? Semoga Sahabat tetap bisa menjaga tubuh agar fit ya...

Sahabat, beberapa waktu ini pasti sudah membaca, melihat atau minimal mendengar obrolan-obrolan tentang Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Ya, beberapa hari ini bahkan berita tentangnya menjadi headline koran langganan saya. Dia yang diceritakan mempunyai karomah bisa menggandakan uang, sekarang malah menjadi pesakitan dengan tuduhan penipuan dan pembunuhan.

Saya tidak ingin menuliskan lebih panjang lagi tentang Dimas Kanjeng itu. Karena sudah terlalu panjang deretan berita tentangnya. Tetapi berita itu mau tidak mau membuat saya berfikir, sedemikian parahkan perilaku materialistis kita?

Menggandakan uang tanpa bekerja keras? Mengharap kaya tanpa usaha? Berharap pada sesama hamba Allah? Entahlah. Saya tidak tahu bagaimana pikiran orang-orang yang percaya dan mengagungkan Dimas Kanjeng itu. Atau memang pikiran saya terlalu lemot. Bahkan ketika sudah mempunyai uang sebesar 200 M-pun kita masih merasa kurang. Kalau bisa, minta digandakan lebih banyak lagi. Agar kita semakin kaya dan kaya.

Lalu setelah semakin kaya, mau apa kita? Mau apa dengan uang bermilyar-milyar itu. Mungkin memang ada kenikmatan tak terhingga ketika bisa mengumpulkan uang sebanyak itu. Entahlah. Karena saya belum pernah tahu. Dan diluar kasus Dimas Kanjeng inipun sebenarnya sudah pernah ada kasus-kasus pengganda uang lainnya kan? Dan semua berakhir buruk. Kenapa setelah itupun kejadian-kejadian yang mirip terulang? 

Jika dipikirkan lagi, sebenarnya seberapa lama kita hidup di dunia ini? Sampai 100 tahunan mungkin sudah paling lama. Dan apa bekal paling bermanfaat ketika menghadap-Nya? Bukankah bekal terbaik itu adalah bekal takwa? Seperti firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 197, "Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-KU, hai orang-orang yang berakal."

Entah. Saya juga masih menghitung-hitung diri saya sendiri. Seberapa materialistiskah saya?

Harta benda mungkin memang membuat kita bahagia. Dan dengan harta pula, kita bisa banyak membantu orang-orang yang membutuhkan. Tetapi, memperbanyak harta dengan cara yang tidak rasional? Satu juta menjadi beratus-ratus juta tanpa usaha? Lebih baik kita bekerja keras saja. Semoga rejeki kita lebih barokah nantinya.

Wednesday, 5 October 2016

PENGENTASAN KEMISKINAN MELALUI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA

Assalamu'alaikum, Sahabat...
ekonomi-kerakyatan-masyarakat-desa

Pepatah China mengatakan, "Jangan memberi ikan jika kita ingin mereka bisa makan untuk besok dan seterusnya, tetapi berilah kail dan ajari mereka cara mendapatkan ikan, supaya mereka bisa menggunakannya untuk keperluan hidup mereka."

Pepatah diatas mengingatkan saya tentang Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MPd) yang telah berakhir pada tahun 2014 lalu.   

Dulu ketika masih ada PNPM-MPd, salah satu kegiatannya adalah pelatihan keterampilan. Sasaran peserta pelatihan ini adalah kaum perempuan. Beberapa pelatihan yang pernah dilaksanakan seperti: pelatihan membatik, membuat tas, bordir, membuat tepung mocaf dan membuat songkok. Jenis pelatihan keterampilan tersebut dipilih setelah dilakukan musyawarah, dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat desa yang bersangkutan. 

Selain itu, kegiatan lain yang dijalankan oleh PNPM-MPd adalah Simpan Pinjam Perempuan (SPP). Jangan salah paham dengan namanya ya... SPP adalah sebuah usaha simpan pinjam yang dilakukan dalam rangka pemberdayaan masyarakat desa, dan peminjamnya hanya boleh dari kalangan perempuan. Modal awal didapatkan dari pemerintah dengan tujuan pengentasan kemiskinan masyarakat desa.

Tentu saja antara pelatihan dan pemberian pinjaman kepada para perempuan ini sifatnya adalah saling melengkapi. Karena tujuan Program ini adalah pengentasan kemiskinan masyarakat desa dengan melibatkan masyarakat marginal dan kaum perempuan. Jadi, dengan memberikan kail (pelatihan keterampilan), lalu memberikan umpannya (pinjaman modal), diharapkan ekonomi masyarakat lebih tertata. Dan pengentasan kemiskinanpun tertuntaskan.

Lalu, apakah semuanya berjalan lancar? SPP PNPM-MPd saat ini masih berjalan. Sedangkan beberapa kelompok yang telah melaksanakan pelatihan, baru sebagian yang masih konsisten berkarya dan mengembangkan usahanya.

Memang untuk pengentasan kemiskinan ini, membutuhkan komitmen berbagai pihak. Peserta berkomitmen dengan konsisten tetap berproduksi setelah pelatihan. Peminjam komitmen membayar pinjamannya tiap bulan. Begitupun pihak-pihak terkait lain yang bertugas memberikan pembinaan.

Selain itu, masalah klasik setelah pelaksanaan produksi adalah pemasaran. Siapa yang akan memasarkan? Dimana barang-barang yang telah diproduksi akan dipasarkan?

Pikiran saya kadang berkelana liar. Kalau saja para perempuan yang telah dibina ini tahu betapa dahsyatnya bisnis online saat ini. Bahkan ada sebuah hari yang dinamakan Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas). Tentu mereka bisa lebih berkembang.

Ya, inovasi bisnis seperti yang dilakukan Zalora bisa dicontoh. Dengan memanfaatkan momen harbolnas untuk membuat promo terbaik. Satu saat semoga merekapun bisa berinovasi. Karena saya melihat mereka ada yang melek internet. Hanya saja belum optimal memanfaatkannya.

Barangkali juga mereka perlu komunitas yang bisa mengembangkan bisnis mereka. Karena semua yang dijalankan bersama biasanya akan lebih ringan daripada ketika dijalankan seorang diri. Dalam komunitas, semua orang dapat saling berbagi pengalaman dan saling memberikan dukungan.

Namun pembinaan itu memang tak bisa sekali jadi. Harus ada pendampingan yang terus-menerus, agar mereka bisa terbuka pikirannya. Agar tak seperti katak dalam tempurung, mereka harus melihat ke dunia yang luas. Ada banyak inspirasi untuk kebangkitan ekonomi mereka.

Sayapun hanya bisa melihat dari kejauhan. Ketika pekerjaan lain menghempaskan saya pada sebuah kesibukan yang seakan tiada akhir. Mungkin yang paling buruk, saya hanya bisa berdo'a. Semoga mereka bisa memanfaatkan ilmunya untuk pengembangan diri mereka. Semoga kail yang telah diberi, bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya. Semoga umpannya juga tepat untuk mendapatkan ikan yang mereka harapkan.

Dan maafkan saya, baru ini yang bisa saya lakukan.

Wassalamu'alaikum
Ummi

Tuesday, 27 September 2016

MENENTUKAN PRIORITAS BERSAMA PASANGAN

Assalamu'alaikum, Sahabat...


Satu ketika saya membeli kompor gas dan magic com, yang menurut saya dua barang itu adalah prioritas pembelian peralatan rumah tangga. Tetapi sepanjang waktu suami saya mengomel. Katanya dua barang itu bukan prioritas. Wong yang lama juga masih bisa dipakai, begitu katanya. Tetapi yang namanya laki-laki ngomel, ya gitu deh... Beda dengan saya yang perempuan, yang akan nyerocos terus kalau ngomel.

Di lain waktu, ganti suami saya beli televisi, padahal di rumah sudah ada televisi. Waktu itu niatnya membeli kulkas saja karena kulkas lama sudah rusak. Karena ternyata uangnya sisa, suami saya membeli televisi dengan sisa uang kulkas. Bisa ditebak, sampai rumah, saya ngomel-ngomel berkepanjangan. Buat apa televisi itu, sedang di rumah ada televisi yang masih bisa nyala. Kata suami, yang satu buat di ruang depan (toko), yang satu di ruang tamu. Ya sudah deh, akhirnya saya terima. Lagipula barangnya juga sudah dibeli.

Begitulah hidup berumah tangga ya... :D

Seringkali kita mempunyai perbedaan dalam menentukan prioritas bersama pasangan. Kalau kasus di atas, karena saya memang menangani bagian dapur. Jadi, ketika saya merasa ada peralatan dapur yang sudah tidak maksimal lagi kerjanya, bagi saya ya itu prioritas untuk segera diganti. Begitupun suami saya. Karena beliau suka barang elektronik, suka otak-atik (bukan televisi saja sebenarnya), baginya alat-alat elektronik ya prioritas. 

Namun, sebagai sebuah tim dalam rumah tangga, tentunya kita punya prioritas bersama dong ya... Prioritas yang menjadi kesepakatan bersama dan kita sama-sama memperjuangkannya sampai titik darah penghabisan. #apasih

Prioritas tersebut biasanya ditentukan oleh Visi Misi Keluarga. Jadi, yang punya visi misi bukan hanya pemimpin negara atau daerah dong ya... Keluarga memang sebuah masyarakat terkecil. Tapi bukan berarti dijalankan sambil lalu tanpa sebuah visi kan?

Dengan visi dan misi, tentu kita akan lebih bisa menentukan arah dalam berkeluarga. Jadi, ketika kita memutuskan untuk berkeluarga, bukan hanya karena berkeluarga adalah hal yang sudah lumrah dilakukan seseorang yang cukup umur. Tetapi apa sih, tujuan berkeluarga. Waduh, ini malah mau bahas fiqih munakahat. #skip karena saya bukan ahli.

Tetapi, kalau kita berkesempatan membaca Al-Qur'an, dalam suroh At-tahrim ayat 6, Allah SWT berfirman (yang artinya), "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."

Ayat tersebut menyiratkan visi keluarga muslim. Sebuah tujuan yang jauh ke depan. Bukan sekedar mengantarkan anak sukses dan mandiri dengan menjadi dokter, pengusaha, atau yang lainnya. Tetapi juga menjaga agar keluarga bahagia sampai akhirat. 

Ya, bahagia sampai akhirat. Tentunya itu bukan perkara sepele ya... 

Maka do'a yang dihafal hampir semua Muslimpun layak direnungkan. 


ربنا اتنا في الدنيا حسنه وفي الاخره حسنه وقنا عذاب النار


"Ya Tuhanku, berilah kami kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat, dan hindarkan kami dari siksa api neraka."

Kadang sayapun menanyakan pada diri saya sendiri. Setiap hari, bahkan minimal lima kali saya membaca do'a itu, lalu apa refleksi do'a itu pada keseharian saya? Apa yang sudah saya amalkan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat? Memang bahagia dunia akhirat sangat mungkin dicapai dengan ridho-Nya. Tetapi, apa yang sudah kita lakukan untuk menggapai ridho-Nya?

Ah, sepertinya pembahasannya bisa lebih panjang lagi. Lebih baik saya cukupkan saja sampai disini.

Wassalamu'alaikum
Ummi


Friday, 23 September 2016

ADA APA DI DESA PUNCEL KECAMATAN DUKUHSETI?

Assalamu'alaikum, Sahabat...

desa-puncel-kecamatan-dukuhseti
Suasana di muara dekat TPI Puncel, banyak kapal ditambatkan

Kali ini saya ingin cerita lagi tentang salah satu desa di wilayah kerja saya. Namanya Desa Puncel. Desa yang mempunyai 4 pedukuhan, 7 RW dan 45 RT ini, ada di ujung utara Kecamatan Dukuhseti, berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Jepara.

Bagi saya setiap desa itu punya keunikan sendiri-sendiri. Baik dari segi orang-orangnya, kondisi alamnya, atau infrastrukturnya. Setiap desa pasti punya keistimewaan.

Kalau tentang Desa Puncel ini, saya jadi ingat ketika di awal tahun 2015 lalu, saya mendampingi Forum Group Discussion (FGD) yang dilakukan oleh STIPARI Semarang bersama BAPPEDA Kabupaten Pati. FGD dilakukan di kampung nelayan dekat TPI Puncel. Pesertanya adalah keluarga nelayan yang ada di sekitar TPI Puncel.

desa-puncel-kecamatan-dukuhseti
Suasana FGD dengan keluarga nelayan, dibelakang sana masih ada keluarga lainnya
Maksud FGD ini yaitu membuka wawasan masyarakat nelayan tersebut atas potensi yang ada di sekitarnya. Misalnya diskusi pada pokok bahasan mata pencaharian. Untuk nelayan kecil, biasanya melaut sesuai musim. Ketika musim angin barat, dimana angin begitu kencang, mereka tidak bisa berangkat melaut. Otomatis sumber pendapatan utama merekapun terputus. Jadi, dengan penyadaran akan potensi yang ada di sekitarnya, diharapkan mereka tidak hanya mengandalkan penghasilan dari melaut. Mereka bisa mengandalkan sumber daya lain yang ada di sekitar mereka sebagai sumber penghasilan. Apalagi jika sumber daya itu bisa jadi potensi wisata. Tentu akan memberikan nilai ekonomi pada masyarakat nelayan.

Dan pertanyaan klasik masyarakat adalah dananya dari mana? Saya sih mengapresiasi yang dilakukan perguruan tinggi itu untuk membuka cakrawala berpikir masyarakat. Tetapi memang, merubah cara pandang yang sudah melekat tidaklah mudah. Perlu ada pendampingan yang berkelanjutan, bukan sekali dua kali diskusi saja.

Dan saya... Tentunya tidak akan membagi tips bagaimana cara merubah mindset masyarakat. Apalah saya ini... Huhu... Saya hanya ingin cerita tentang potensi yang ada di Desa Puncel, yang menurut saya menarik. Tentu saja menarik versi saya ya...

1. Hutan Karet
Hutan karet di Desa Puncel ini milik PTPN IX. Kalau saya lewat hutan itu, saya suka lirik-lirik, ingin selfi disana. Hihi... #dasar emak narsis. Dan akhirnya kesampaian juga narsisnya. :D

desa-puncel-kecamatan-dukuhseti
Narsis di kebun karet
Di hutan karet ini, saya jadi ingat film kartun kesukaan anak saya, Upin dan Ipin. Hehe... Yang waktu Opah kerja menyadap karet itu...

Di kebun karet Puncelpun saya lihat ada wadah-wadah kecil, tempat menampung getah karet. Sayangnya saat itu tidak ada yang sedang panen getah karet. Sebenarnya saya ingin lihat langsung saat penyadapan karet. Semoga suatu saat kesampaian lagi. Aamiin. :)

Dan, kalau diperhatikan, pohon karet ini semua miring ke arah yang sama lho. Tak ada pohon karet yang berdiri tegak, semua miring. Sepertinya ke arah matahari terbit. Mereka jadi miring berjama'ah, deh. :D

2. TPI Puncel
Kalau yang ini pengelolanya Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati. Seperti umumnya Tempat Pelelangan Ikan (TPI), disini tiap jam 1 siang akan mulai lelang. Seru melihat orang-orang memberikan harga pada ikan-ikan yang dilelang.

desa-puncel-kecamatan-dukuhseti
Suasana TPI Puncel unt uk persiapan pelelangan ikan
Selain itu, di dekat TPI Puncel juga ada jembatan yang menghubungkan Desa Puncel dengan desa di wilayah Kabupaten Jepara. Jembatan ini hanya bisa dilewati motor, mobil tidak mungkin bisa melewatinya.

Waktu saya dan teman saya mau foto-foto, pengendara motor mengalah dulu, memberi kesempatan pada kami untuk narsis. Melihat pengertian mereka, tampaknya tempat ini memang sudah sering digunakan narsis oleh para narsiser macam kami. :D

desa-puncel-kecamatan-dukuhseti
Jembatan ini goyang-goyang kalau ada motor lewat

3. Tambak
Kalau tambak tentu milik masyarakat pribadi. Kebanyakan ditebar benih bandeng. Dulu ketika dilaksanakan FGD, dari STIPARI menyampaikan, bagaimana jika nelayan "menjual" makan siang dengan suasana tambak? Ahai... Sepertinya menarik. Dan sudah ada warga desa lain (bukan Desa Puncel) di Kecamatan Dukuhseti yang melakukannya. Jika dilakukan marketing yang lebih mumpuni, tentu akan tambah keren.

desa-puncel-kecamatan-dukuhseti
Hamparan tambak membentang sepanjang mata memandang
Nah, hal-hal seperti itulah yang menurut saya menarik. Barangkali biasa saja bagi orang lain. Haha... Ya sudahlah. Mari kita jalan lagi. Mungkin lain kali saya akan cerita tentang desa lainnya lagi yang ada di wilayah Kecamatan Dukuhseti.

Wassalamu'alaikum
Ummi

Sunday, 11 September 2016

TENTANG KEBERANIAN MENCOBA HAL BARU

Assalamu'alaikum, Sahabat...



Apa kabar Sahabat? Semoga senantiasa sehat dan dalam lindungan Allah SWT. Lama sekali saya tidak menulis di blog. Rasanya kok kangen ya... :) Apalah daya, saya seperti kehabisan energi setelah aktifitas dunia nyata saya (baca: pekerjaan dan keluarga). Dan ternyata memulai menulis lagi setelah berhari-hari tidak menulis kok ya berat. Pikiran seolah buntu, tangan juga seperti terhenti tak mampu mengetikkan kata. #mulailebay. 

Sahabat... Saya jadi kepikiran tentang keberanian memulai hal baru setelah bertemu dengan teman yang tak kunjung berani naik sepeda motor. Kadang ia merasa ingin bisa, agar kemana-mana tak harus menunggu suaminya untuk mengantar. Kadang juga ia merasa takut untuk memulai. Apa ia tak terlalu tua untuk mulai belajar naik motor.

Kemudian saya jadi ingat ibu saya yang baru belajar naik motor di usia 50-an. Pada waktu itu aktifitas ibu memang sedang padat-padatnya. Dalam satu hari ibu harus berada di beberapa tempat yang berbeda. Kalau meminta bapak terus mengantar seperti biasa, kasihan bapak juga. Karena bapak juga punya kegiatan sendiri. Jadi ibu mulai belajar naik motor dan bisa. 

Dan saya jadi ingat diri saya sendiri. Aslinya saya ini sungguh penakut. Apalagi untuk melakukan hal baru. Ada banyak yang saya pikirkan sebelum saya melakukan hal baru itu. Jangan-jangan nanti saya salah. Bagaimana kalau saya ditertawakan orang lain. Apa pandangan orang lain kalau saya melakukan hal itu? Pokoknya ada banyak hal negatif yang menghantui saya setiap akan melakukan hal baru.

Waktu SD saya takut jajan di kantin sekolah, dan meminta teman untuk membelikannya. Saya juga sangat takut ketika harus mengikuti lomba cerdas cermat. Ketika remaja, saya takut sekali ketika mendapatkan tugas membacakan cerita isra' mi'raj di hadapan forum pengajian ibu-ibu. Saat Kerja Praktek (KP) di masa kuliah, saya takut menjadi orang yang inisiatif. Dan akhirnya saya malah tak mendapat ilmu baru selama KP itu.

Yah... Saya sungguh penakut. 

Namun saya juga beruntung. Karena ibu adalah orang yang tak gampang menyerah untuk memberi motivasi. Ibu selalu mendorong saya untuk tidak pesimis dan rendah diri, meski banyak orang yang lebih hebat. Karena tiap orang punya keunggulan masing-masing. Ibu juga selalu ingin saya tak takut mencoba hal baru, agar saya lebih banyak pengalaman.

Proses saya barangkali sangat lama, bahkan hingga hari ini, saya masih berproses dalam mengatasi rasa takut mencoba sesuatu yang baru. Tetapi saya telah belajar, bahwa saya memang harus terus mencoba. Rasa takut itu lama-lama akan menghilang jika saya telah melakukannya berulang kali. Mencoba pertama kali mungkin saya sangat takut. Kedua, saya masih takut. Ketiga dan selanjutnya rasa takut itu akan semakin menipis dan menipis.

Termasuk ketika saya pertama kali menulis di blog. Ketika ada yang membaca, saya takut tulisan saya dicap sebagai tulisan yang buruk. Saya takut tulisan saya diejek orang lain. Saya takut...dan saya takut... Tetapi akhirnya saya tahu bahwa meski tulisan saya tidak bagus, tetapi jika saya tak pernah menulis, saya tak pernah tahu seberapa kemampuan menulis saya. Apresiasi dari Sahabat, baik ataupun buruk, telah membuat saya berkembang. Yah, saya berkembang karena saya telah berani mencoba.

Dan sayapun ingat  motto seorang sahabat saya, "Pantang ngomong ra iso sak durunge nyoba" atau "Pantang mengatakan tidak bisa sebelum mencoba".

Jika Sahabat ingin mencoba hal baru, mulailah dengan sikap optimis.  Kemudian yakini dalam hati bahwa jikapun Sahabat gagal dengan hal baru itu,  setidaknya Sahabat telah menambah pengalaman. Lalu Sahabatpun bisa berjalan lagi tanpa merasa menyesal atau penasaran. 

Jadi, Sahabat ingin mencoba hal baru apa hari ini?

Wassalamu'alaikum
Ummi



Tuesday, 16 August 2016

KETIKA BERKONFLIK DENGAN PASANGAN

Assalamu'alaikum, Sahabat...

Dalam kehidupan rumah tangga, rasanya tak ada yang berjalan tanpa konflik. Meski kecil pasti ada perbedaan pendapat dengan pasangan kita. Yang namanya dua kepala yang berbeda, pasti ada pemikiran yang berbeda pula. 

Dan sesuatu yang berbeda itu, apakah bisa disamakan? Mungkin bisa, mungkin juga sulit menyamakan perbedaan itu. Tetapi seperti kata orang, pelangi indah karena berbeda warna. Kalau satu warna, bukan pelangi namanya. :) Jadi, meski berbeda, tetap bisa indah kan?

Tetapi, bagaimana membuat perbedaan itu menjadi seindah pelangi?

Yang paling mungkin dilakukan adalah mencoba menyikapi perbedaan dengan cara yang bijak. Beberapa hal yang bisa dilakukan adalah:

1. Saat pertengkaran sudah meninggi, ayo diam sejenak. 

Seperti kata Rasulullah SAW dari Ibnu Abbas RA, "Barangsiapa marah, hendaknya diam (dulu)."

2. Saling menjauh sementara.
Menjauh yang saya maksud bukan pergi dari rumah ya... Menjauh tapi tetap dekat, bagaimana ya? Hihi...

Misalnya suami di ruang tamu, istri di dapur saja. Sampai suasana reda. Biasanya kalau sudah diam dan berjauhan beberapa lama, ada rasa kangen dengan pasangan. Hehe...

3. Jangan segan minta maaf.
Siapapun yang salah dalam konflik itu, tak ada salahnya kita berbesar hati meminta maaf lebih dulu. 

4. Komunikasikan pangkal masalahnya.
Setiap konflik pasti ada penyebabnya. Setelah reda kemarahannya, suami dan istri bisa duduk bersama untuk mencari solusi bersama. 

5. Jika konflik membesar, libatkan orang ketiga yang bisa dipercaya.
Kadang diperlukan penengah untuk konflik dengan pasangan. Tentunya kita harus memilih orang yang tepat. Jangan sampai memilih orang yang justru akan memperbesar konflik kita. 

Memang ketika kita hidup bersama dengan orang yang punya latar belakang dan isi kepala yang berbeda, sangat mungkin terjadi ketidakcocokan. Tetapi ya... komunikasi tetap harus berjalan. Kita bisa saling bicara dari hati ke hati. Lalu fokus pada tujuan bersama dari kebersamaan itu. 

Meski berbeda, pasti ketika kita memutuskan hidup bersama, tentu kita sudah punya tujuan bersama. Apapun itu, ayo fokus pada tujuan itu, dan tak perlu memperbesar perbedaan.

Ah, saya juga masih belajar sebenarnya. Dan saya dan suami saling mengeja perbedaan diantara kami. Berusaha saling menemukan titik temu jika ada perbedaan. Dan makin ke sini, apalagi ketika sudah punya anak-anak, tujuan bersama itu makin terlihat jelas. Sejelas saya makin mengenal suami, dan suami mengenal saya. :)

Bagaimana dengan Sahabat?

Wassalamu'alaikum
Ummi.


AGAR IMPIANMU TAK SEKEDAR MIMPI

Assalamu'alaikum, Sahabat...
mengejar-mimpi

Siapa orangnya yang tak punya mimpi? Meski sederhana, selama kita hidup pastilah mempunyai mimpi, impian, atau cita-cita. Lulus kuliah, mempunyai pekerjaan yang bagus, menikah, punya rumah, punya mobil, pergi haji, punya anak-anak yang shalih, dan ada banyak lagi yang mungkin salah satunya adalah impian Sahabat.

Lalu, bagaimana Sahabat memperlakukan impian itu? Apakah impian itu menjadi penyemangat bagi Sahabat? Apa usaha Sahabat untuk mewujudkan impian itu? Tentunya Sahabat tak sekedar tidur lalu bermimpi kan? Pasti ada usaha yang dilakukan.

Misalnya dengan melakukan hal-hal di bawah ini:

1. Menanamkan niat dan membulatkan tekad.
Ya dong... Segala sesuatu harus diniati ketika mengawalinya. Dengan niat yang sebenar-benarnya niat, biasanya akan membuat kita lebih bersungguh-sungguh dalam mengejar impian. 

Kalau tanpa niat, yah... mungkin harus dilihat lagi di kedalaman hati, apa Sahabat benar-benar menginginkan hal itu. Apakah benar yang Sahabat anggap impian itu benar-benar impian Sahabat. Jangan-jangan cuma pengen sama temannya... Hehe...

2. Membuat target dan perencanaan.
Menurut saya membuat target ini penting. Misalnya saat ini Sahabat baru memasuki bangku kuliah. Targetnya 4 tahun lagi harus lulus kuliah. Jadi, kalau Sahabat ingin lulus sesuai target, Sahabat tentu harus membuat perencanaan. Apa saja sih yang harus dilakukan agar lulus kuliah dalam waktu 4 tahun? 

Atau ada Sahabat yang punya target pergi umroh tahun depan. Tentu Sahabat harus mencari informasi berapa biaya untuk pergi umroh. Lalu Sahabat membuat rencana-rencana agar bisa memenuhi biaya tersebut.

Nah, kalau Sahabat tidak membuat target. Misalnya hanya ingin umroh saja, tanpa target kapan berangkat... Ah, tidak seru dong... Kalau ada target pasti ada usaha yang lebih. Iya kan? 

3. Konsisten dengan perencanaan yang dibuat.
Karena ingin pergi umroh tahun depan, Sahabatpun membuat perencanaan harus bisa nabung 1,5 juta tiap bulan. Nah, harus konsisten tiap bulan menabung sebesar itu kalau ingin sesuai target.

Konsisten ini yang kadang sulit ya... Ah, harus memperbarui niat lagi nih... :D

4. Berdo'a dan berserah diri kepada Allah.
Bagaimanapun usaha kita, jika tanpa kehendak-Nya semua tentu tak akan terlaksana. Jadi, jangan lupa untuk berdo'a ya, Sahabat...

Lalu kita harus berhusnudzon pada Allah. Apapun ketentuan Allah, itulah yang terbaik untuk kita. Berhasil atau tidak usaha kita, jika kita telah bersungguh-sungguh, insya Allah tak ada yang sia-sia di sisi Allah.

Nah... Nah... Jadi, apa impian Sahabat? Dan bagaimana Sahabat berusaha mewujudkan impian itu? Bisa sharing di kolom komentar, dong... 

Wassalamu'alaikum.
Ummi

Sunday, 31 July 2016

MENYESAL DENGAN PERLAKUAN TERHADAP ANAK?

Assalamu'alaikum, Sahabat...

Apa harapan kita untuk anak-anak? Mereka menjadi anak yang sholih, kemudian menjadi orang sukses dan tetap berbakti kepada kita orang tuanya? Mungkin begitu. Yang pasti tidak mungkin kita mengharapkan keburukan untuk anak kita.

Untuk tujuan baik itu, pastinya kita berusaha mendidik anak dengan sebaik-baiknya. Kita berusaha melahap semua bacaan-bacaan tentang parenting demi mendidik anak agar menjadi manusia yang bisa dibanggakan. Dan kitapun sampai hafal di luar kepala teori-teori parenting yang telah kita kunyah-kunyah bacaannya itu. Namun seberapa banyak teori yang kita praktekkan?

Kalau saya... Entah. Saya mungkin orang yang kebanyakan teori tapi minim praktek. 

Misalnya begini... Satu saat saya mengajari anak pelajaran matematika. Dia cukup kesulitan dalam pelajaran itu. Satu penjelasan dia tidak paham, saya masih bersabar. Dua kali penjelasan, saya masih mencoba bertahan. Tiga kali, lalu sampai yang kesekian kali, saya mulai tak sabar dan saya marah. Tentu anak yang menjadi obyek kemarahan saya. Meski saya bukan tipe perempuan yang marah dengan meledak-ledak, tapi marah tetaplah marah. Dan anak saya pasti merasakan auranya.

Masalahnya adalah... Secara teori saya tahu bahwa setiap anak mempunyai potensinya masing-masing. Seperti pohon kelapa yang tidak mungkin berbuah mangga, pisang, atau jambu. Anak yang mempunyai minat dan bakat di satu bidang, tak seharusnya dipaksakan untuk menguasai bidang yang lain. Tetapi ketika saya menemui kenyataan bahwa anak saya tak bisa matematika, saya marah. Padahal saya tahu, anak saya bakatnya bukan di pelajaran itu. Buktinya dia punya pelajaran lain yang menjadi favorit dan nilainya bagus di pelajaran itu.

Dan seringnya saya menyesal setelah memarahi anak. Tetapi seringkali pula saya masih mengedepankan ego saya di banyak kejadian lain, atas nama mendidik anak. Anak tak segera sholat, saya marah. Anak menumpahkan air, saya marah. Anak tak merapikan mainan, saya marah. Padahal sebenarnya saya hanya perlu sedikit bersabar. Mengajarinya perlahan sambil menancapkan kesadaran di relung hatinya, bukan memaksanya melakukan sesuatu yang mungkin dia belum mengerti maksudnya.

Di satu sisi, kadang saya tidak cukup telaten terhadap anak. Seperti cerita yang ini...

Kejadiannya waktu ketika saya melahirkan anak ketiga. Dengan kelahiran anak ketiga ini, otomatis waktu saya banyak tersita untuk memperhatikannya. Akibatnya ada si kakak kedua yang menjadi aleman, mendadak tak mau mengaji di TPQ. Dia cari perhatian saya. Dia maunya saya yang mengantar ke TPQ, tidak mau diantar ayahnya atau mbak asisten. Hiks... 

Akhirnya si kakak kedua ini tidak TPQ dalam kurun waktu yang lama. Dan di kelas 1 SD ini, dia baru memulai jilid 1 lagi. Jauh  di bawah pencapaian kakak pertamanya saat kelas yang sama. Sayapun menyesal karena tak cukup telaten saat kelahiran anak ketiga dulu.

Menyesal telah marah pada anak. Menyesal karena tidak telaten. Atau menyesal pada perlakuan-perlakuan yang lain, seperti terlalu membebaskannya main game, dan sebagainya. Yah, bukan sekali dua saya menyesal dengan cara saya mendampingi anak-anak saya. 

Jadi, ini hanyalah penggalan cerita-cerita saya dalam mengasuh anak. Sering ada hal-hal yang saya sesalkan karena ternyata tak seindah teori-teori yang saya baca. Karena ternyata saya belum bisa menjadi orang tua yang baik sepenuhnya.

Saya dan suami tentu selalu mengevaluasi cara-cara kami dalam mengasuh anak. Yang kami sesali, kemudian berusaha kami perbaiki. Kami berharap semakin hari kami bisa semakin baik. Anak-anak berkembang, kamipun berkembang. 

Dan pada akhirnya kamipun menyadari bahwa tak ada manusia yang sempurna, termasuk dalam peran sebagai orang tua. Meski begitu, kami masih punya DIA kan? Jadi meski kami tak sempurna, kami punya Yang Maha Sempurna. 

Berdo'a. Ya, insya Allah kami tak meninggalkan do'a kepada-Nya untuk kebaikan anak-anak kami. Karena itulah yang kami bisa untuk menyempurnakan ketidaksempurnaan kami.

Wallahu a'lam

Wassalamu'alaikum
Ummi


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...