Tuesday, 26 January 2016

TUJUAN

Adakah hidup yang tanpa tujuan?

Ketika berjalan, pasti kamu punya tempat yang dituju. 

"Kamu mau kemana?" tanya temanmu.
"Aku mau ke depan," begitu kamu menjawab.

Dan tujuan memang tempatnya di depan. Karena yang di belakang adalah kenangan. :)

Sesederhana apapun, entah apapun itu, pasti kamu pernah punya keinginan yang menggebu, yang sangat kamu inginkan. Yang bahkan kamu rela untuk melakukan apapun agar keinginanmu terpenuhi.

Ah, barangkali waktu kecil kamu ingin beli mainan impian? Tapi kata ibu, "kamu harus menabung dulu, lalu uangnya bisa kamu belikan mainan."

Dan kamupun rela tidak jajan beberapa waktu demi mainan impianmu.

Karena kamu punya tujuan, sebuah mainan.

Atau... Kamu yang jadi rajin belajar karena dijanjikan sepeda roda dua oleh ayahmu? 

Untuk apa kamu yang biasanya lebih suka nonton televisi, tiba-tiba lebih memilih belajar dengan tekun?

Tentu karena kamu punya tujuan. Sepeda warna merah yang kamu impikan.

Bagaimana rasanya saat itu? 


Antusias?

Bersemangat?

Jadi, jika hidupmu tiba-tiba terasa hambar...
Ketika kamu merasa hidupmu terlalu monoton...
Saat kamu kehilangan gairah hidup... 

Coba, tata ulang tujuanmu.
Susun kembali targetmu.
Buat list impianmu.

Karena mungkin, saat itu... Kamu sedang lupa pada tujuanmu.

#selfreminder

Sunday, 24 January 2016

SORE DI ALUN-ALUN TAYU



Tayu adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Pati. Kurang lebih 27 km kalau dari pusat Kota Pati. Tayu memang "hanya" sebuah kota kecil. Tapi tampaknya geliat perekonomian mulai tampak di setiap sudutnya. Apalagi di sore hari, akan tampak banyak warung berjajar di sepanjang jalan kota, yang semuanya ramai dengan pengunjung. 

Dan tempat paling ramai di sore hari hingga malam hari adalah alun-alun.

Ya, sejak beberapa tahun lalu, tiap sore hari di alun-alun tayu ada banyak berbagai macam permainan anak yang disewakan. Mulai dari mandi bola, kereta mini, mobil-mobilan, otopet, hingga sepatu roda.
Berjajar mainan yang disewakan

Anak-anak yang ingin bermain di alun-alun, biasanya ditemani oleh orangtuanya. Bisa dipastikan hampir tiap sore alun-alun selalu ramai. Hanya pada saat hujan saja, alun-alun menjadi lebih sepi.

Keramaian itu, tentu memicu munculnya pedagang lain disana. Ada pedagang es, gorengan, sosis-sosisan, sate kojek, sampai makanan berat seperti gado-gado, mie godok, nasi goreng dan lainnya.
Pedagang jagung bakar dan kacang kulit yang ikut merasakan berkahnya alun-alun

Hal ini tentu adalah hal yang patut disyukuri. Ada perekonomian masyarakat yang ikut terangkat dengan keramaian yang ada di alun-alun itu.

Untuk menyenangkan anak-anak, kadang kamipun mengajak mereka bermain di alun-alun. Meski kami ini memang agak kurang gaul. :D Karena tidak mesti tiap bulan kami menyempatkan diri ke alun-alun untuk bermain. Kalau sekedar lewat sih tiap hari... :D

Kami biasanya sudah berangkat ke alun-alun sekitar jam setangah 5 sore. Masih agak sepi. Anak-anak paling suka mandi bola. Jadi mereka bisa main sepuasnya. Semakin petang, dan mendekati maghrib, alun-alun akan bertambah ramai. Dan pada saat adzan maghrib, ketika kami beranjak pulang, alun-alun justru semakin ramai. Apalagi jika malam minggu.

Di sinilah kontrasnya. Karena di seberang alun-alun itu ada sebuah masjid jami' berdiri di sudut barat daya alun-alun. Alun-alun yang ramai dan masjid yang sepi. Ah... sebuah fenomena yang barangkali biasa untuk jaman sekarang ini. :(
Masjid di seberang alun-alun Tayu

Saturday, 23 January 2016

SUDAHMANDA, PERMAINAN FAVORIT MASA KECIL

Masa kecil selalu menjadi masa yang indah untuk dikenang. Saat itu kita kan masih lucu, lugu, imut, dan belum banyak permasalahan. :D Pokoknya bahagia... terus. Dan salah satu yang membuat bahagia masa kecil adalah permainannya. Rasanya, tak ada waktu tanpa bermain. Di sekolah ya main. Pulang sekolah, main. Mengaji, main. Bahkan ketika belajar kelompokpun, sambil main.

Ya...ya... Di tahun 80-an hingga awal 90-an, memang banyak permainan tradisional yang bisa dimainkan anak-anak. Kebanyakan permainan itu dimainkan secara berkelompok. Ada bekelan, betengan, dakonan, gobak sodor, dan lain sebagainya. Tetapi, yang menjadi favoritku adalah sudahmanda, atau ada juga yang menyebutnya engklek. Kenapa? Karena aku cukup piawai di permainan itu. :D

Sudahmanda ini permainan yang murah meriah. Kita cukup membuat kotak-kotak dengan bentuk tertentu di atas tanah. Sedang perlengkapan yang dibutuhkan adalah sebuah pecahan genteng yang disebut gacu. Saat bermain kita bermain dengan satu kaki sebagai tumpuan untuk melompat. 

Sebenarnya permainan ini bisa juga dimainkan sendiri. Tapi tidak seru ah kalau bermain sendirian. Kita bisa memanggil seorang atau beberapa orang teman untuk bermain bersama. Kalau bermain bersama, kita harus gantian mainnya. Jadi saat permainan "mati", teman kita yang ganti main. Yang disebut "mati" dalam permainan ini adalah ketika gacu kita melenceng dari arah yang seharusnya. Atau saat kita menginjak garis. Atau melanggar peraturan lain yang telah disepakati.

Ada beberapa model sudahmanda di tempat kami, diantaranya:
1. Montor mabur (pesawat terbang)
Ini adalah model sudahmanda paling sederhana. Bagaimana memainkannya?

Pertama, gacu kita lempar ke kotak nomor 1. Lemparnya harus tepat ya... Karena kalau tidak tepat, kita bisa mati.

Kedua, kita melompat dengan satu kaki berurutan dari nomor 2, 3, 4, 5, 6, brop. Ketika berjalan melewati kotak nomor 2 sampai 6, kita menggunakan satu kaki untuk melompat. Dan ketika sampai pada kotak brop (warna hijau), kita langsung menginjak kotak itu dengan dua kaki, hingga menimbulkan bunyi berdebum, "brop". Mungkin karena itu, kotak tengah itu disebut brop. Mungkin ya... :D 

Ketiga, setelah brop, kita kembali ke kotak 3, 2, kemudian mengambil gacu di kotak 1.

Keempat, melompat di depan kotak nomor 1.

Setelah keluar kotak, kita melempar gacu lagi ke kotak nomor 2. Kita mulai melompat lagi. Tapi kali ini kita melompat dengan satu kaki ke kotak 1, 3, 4, 5, 6, brop. 

Intinya sih, setiap kotak yang ada gacunya, harus kita lewati. 

Nah, kalau kita sukses memainkan permainan ini hingga gacu kita sampai kotak brop tanpa meleset, kita akan punya satu "sawah". Itu hadiah untuk kita. Jadi, satu kotak dalam permainan itu akan jadi "sawah" kita. Barangsiapa sawahnya paling banyak, dia yang memenangkan permainan ini.

2. Ondo (tangga)




Karena bentuknya seperti tangga, makanya model ini disebut sudahmanda ondo. Aku agak lupa cara main dengan model ini. Padahal dulu paling sering main yang ini lho... Ini cerita seingatku saja ya... :D
Kalau tidak salah, cara memainkannya, kita harus punya dua gacu. Satu gacu kita lempar, satu gacu kita pegang dengan cara yang berbeda-beda tiap tingkatan.

Misalnya, saat gacu kita lempar ke kotak nomor 1. Kita memegang gacu lainnya dengan menempatkannya pada tangan yang kita bentuk contong. Sambil memegang gacu dalam contong itu, kita melompat dengan satu kaki dari nomor 2 sampai brop.

Begitu seterusnya. Ada kalanya gacu kita tempatkan di kaki, ada juga gacu diletakkan di atas kepala. Tidak mudah lho, saat gacu diatas kepala, sambil kita melompat sampai brop tanpa menjatuhkan gacu. Perlu kehati-hatian dan keseimbangan.
Seperti montor mabur, kira juga akan dapat sawah kalau sukses sampai akhir.

3. Papan

Yang ini disebut papan karena bentuknya menyerupai papan tulis pada masa kecilku dulu. Papan tulis dulu kan bentuknya kotak hitam, dengan penyangga dibawahnya. Ada yang tahu papan tulis seperti itu? :D

Permainannya hampir mirip dengan model montor mabur, tetapi mulai di kotak nomor 4, kita akan melompat bersilang-silang gitu...

Jadi, kita menginjakkan kaki kanan di nomor 4 dan kaki kiri di brop. Saat kaki kanan kita mau pindah ke nomor 5, kaki kanan harus berjalan menyilang dulu di brop. Begitu seterusnya. Harusnya dipraktekkan nih, biar paham... :D
Seperti biasa, kita akan mendapat sawah jika sukses menyelesaikan permainan ini.

4. Gunung

Lihat kan puncak gunung dalam permainan sudahmanda ini? Jadi, bentuk itulah asal nama sudahmanda model ini.

Pertama kita melempar gacu seperti biasa di kotak 1. Lalu jalan satu kaki di kotak 2, 3. Ketika sampai kotak 4, 5, dua kaki kita meginjak kotak bersamaan. Di kotak 6, kita gunakan satu kaki lagi. Di puncak gunung, kita gunakan dua kaki, lalu berbalik ke awal permainan.

Tapi kita dikatakan menang jika setelah menyelesaikan seluruh permainan, kita melempar gacu lagi di atas puncak gunung. Lalu kita melompat seperti biasa hingga puncak gunung. Saat di puncak, kita berbalik menghadap awal permainan. Dalam keadaan berbalik itu, kita meraba-raba dimana gacu kita berada. Kalau kita mendapatkan gacu itu, kita menang deh... Dan dapat sawah seperti biasa...

Itulah model-model sudahmanda yang biasa aku mainkan dengan teman-temanku saat kecil dulu. 

Menurutku, ini manfaat bermain sudahmanda:
1. Melatih koordinasi anggota tubuh. 
Saat kita melempar gacu, saat kita melompat dengan satu kaki, atau ketika meletakkan gacu di atas kepala, ada banyak anggota tubuh yang kita latih, terutama melatih ketepatan dan keseimbangan.

2. Berlatih sportif.
Bermain dengan teman dalam permainan sudahmanda, pastinya ada yang menang dan yang kalah. Disana kita belajar supportifitas. Menang atau kalah, yang penting sehat ya...

3. Berlatih berjuang untuk mendapatkan sesuatu.
Di permainan ini kan ada "hadiah" berupa sawah jika menyelesaikan permainan. Jadi, ini melatih kita bahwa untuk mencapai sesuatu harus melalui proses, tidak tiba-tiba mendapatkan apa yang kita inginkan. Harus berjuang dulu untuk mencapai yang kita cita-citakan.

Barangkali anak-anak sekarang kalau aku ceritakan tentang sudahmanda akan geleng-geleng kepala, karena tidak tahu dan juga bingung. Permainan macam apa itu? :D

Aku pernah melihat anakku bermain sudahmanda bersama sepupunya, tapi tampaknya ia kurang memahami aturannya. Dan memang tak banyak temannya yang bisa memainkan permainan ini. Tampaknya akan menjadi PR bagiku untuk lebih mengenalkan permainan tradisional ini.

"Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Permainan Masa Kecil yang diselenggarakan oleh Mama Calvin dan Bunda Salfa"

Thursday, 21 January 2016

CATATAN MUSRENBANGDES TAHUN 2016

Perjalanan untuk monev pelaksanaan Musrenbangdes
Yeay! Akhirnya selesai juga Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes) di Kecamatan Dukuhseti. 12 desa telah melaksanakan Musrenbangdes. Lega, karena satu tahap telah terlampaui. Setelah ini masih akan ada tahapan selanjutnya, yaitu Penjaringan Aspirasi Masyarakat (Jaring Asmara), lalu Musrenbang Kecamatan dan Musrenbang Tingkat Kabupaten.


Musrenbangdes yang dilaksanakan oleh desa kali ini, tujuannya adalah untuk menyusun Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKP Desa) Tahun 2016. RKP Desa akan menjadi dasar penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) Tahun 2016 ini. 

Sebenarnya dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dan Permendagri Nomor 114 Tahun 2014 tentang Pedoman Pembangunan Desa, RKP Desa seharusnya sudah mulai disusun bulan Juli Tahun 2015 lalu. Atau selambat-lambatnya akhir bulan September RKP Desa sudah ditetapkan dengan Peraturan Desa (Perdes). Artinya Musrenbangdes untuk penyusunan RKP Desa Tahun 2016, seharusnya sudah dilaksanakan antara bulan Juli sampai September tahun lalu.


Pelaksanaan Musrenbangdes
Tapi yah... semua tak selalu bisa berjalan sempurna. Ada beberapa kendala kenapa Musrenbangdes untuk penyusunan RKP Desa Tahun 2016 baru bisa dilaksanakan awal tahun ini. Beberapa diantaranya adalah:

1. Ketidaktahuan desa.
Kalau ini salahku. Kenapa desa sampai tidak tahu tentang aturan itu? Pasti karena kurangnya sosialisasi. Sedangkan aku yang mengampu bidang pemberdayaan masyarakat desa seharusnya yang memberikan sosialisasi itu.

Tapi ada sebab lainnya kenapa akhirnya aturan itu tidak tersosialisasi dengan baik, yaitu...

2. Kegiatan desa menumpuk pada waktu yang bersamaan.
Jadi, Dana Desa yang bersumber dari APBN dicairkan dalam 3 tahap. Tahun 2015 lalu, Dana Desa Tahap I baru bisa dicairkan bulan Juli. Setelah pencairan, desa tentu harus melaksanakan pembangunan sesuai yang telah direncanakan, lalu membuat Laporan Pertanggungjawaban (LPJ).

Setelah LPJ Dana Desa Tahap I dibuat, baru tahap II bisa dicairkan. Begitupun proses untuk pencairan Dana Desa Tahap III. 


Dana yang baru bisa dicairkan menjelang akhir tahun, tentu menyebabkan desa harus bekerja keras agar semua pekerjaan bisa diselesaikan sebelum tahun anggaran berakhir, termasuk LPJnya. Apalagi kegiatan yang harus dilaksanakan desa bukan hanya yang bersumber dari Dana Desa. Kegiatan jadi menumpuk pada satu waktu. 

Seharusnya dengan perangkat desa yang ada, mereka bisa bekerja sesuai dengan tugas pokok fungsinya (tupoksi) masing-masing. Tetapi...

3. Kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) di desa tidak merata.
Tentu tidak di semua desa mengalami hal ini. Ada juga desa-desa yang mempunyai perangkat desa yang mumpuni. Tetapi untuk kemampuan dasar seperti penguasaan komputer misalnya, tidak semua perangkat desa menguasainya. Kendala sederhana semacam itu, bisa jadi menyebabkan LPJ terlambat dibuat, sehingga pencairan dana tahap berikutnyapun ikut terlambat.

Jadi, ada desa-desa tertentu yang banyak kegiatannya tertumpu pada satu orang perangkat. Itu adalah realita yang ada saat ini. Kegiatan jadi menumpuk pada satu orang. Tentunya hal ini menjadi PR tersendiri.

Tetapi, selain hal diatas, ada juga yang harusnya menjadi bahan evaluasi pemerintahan di atas desa, yaitu...

4. Belum adanya pagu indikatif desa.
Jadi, salah satu hal yang harus dilakukan untuk penyusunan RKP Desa adalah pencermatan pagu indikatif desa dan penyelarasan program/kegiatan masuk desa. 

Bahasa mudahnya, pagu indikatif adalah perkiraan dana yang akan diterima desa. Misalnya pagu indikatif Alokasi Dana Desa (ADD) dan Dana Desa. Biasanya desa baru mengetahui pagu indikatif pada akhir tahun atau bulan Desember. Lalu, bagaimana desa mau melakukan pencermatan di bulan Juli?

Begitupun dengan penyelarasan program/kegiatan masuk desa. Artinya, jika ada program/kegiatan dari pemerintah di atas desa (bisa kabupaten, provinsi atau pusat) yang akan dilaksanakan di desa, maka desa tidak perlu lagi merencanakan kegiatan itu. Jadi, dana yang ada di desa bisa dialokasikan untuk kegiatan lainnya. Dan seringnya kami baru mendapatkan informasi tentang program/kegiatan itu di awal Februari tahun berikutnya. Jadi, bagaimana kami bisa melakukan penyelarasan program/kegiatan yang masuk ke desa di bulan Juli?


Peserta musrenbangdes menyampaikan usulan
Yah, itu hanya catatanku tentang faktor yang menyebabkan Musrenbangdes tidak bisa dilaksanakan di bulan Juli - September sebagaimana amanah Undang-Undang.

Memang harus ada evaluasi agar hal tersebut tidak terjadi lagi. Semoga di tahun ini, Musrenbangdes untuk penyusunan RKP Desa bisa dilaksanakan sesuai jadwal. Lalu APBDes bisa disahkan akhir Desember. Kemudian awal tahun desa sudah bisa melaksanakan pembangunan. Hehehe... Maunya seperti itu. :)

Meski begitu... Meski aku membuat-buat alasan seperti diatas, syukur alhamdulillah Musrenbangdes telah terlaksana dengan lancar. Tiap desa memang sedang dalam prosesnya masing-masing. Ada desa yang struktur pelaksanaan Musrenbangdes telah berjalan dengan rapi. Ada juga yang masih harus dilakukan pembinaan berkelanjutan. 


Penandatanganan Berita Acara Musrenbangdes
Menuju kebaikan memang harus melalui proses. Begitu juga untuk tujuan mulia yang menjadi inti Undang-Undang Desa, yaitu Desa Membangun Indonesia.



Tuesday, 19 January 2016

MENGENANG BAPAK

Bapak bersama anak pertama dan keduaku

Cinta itu apa? Sebuah kata yang diucapkan hingga berbusa-busa? Atau tindakan nyata, meski tanpa kata berbunga?

Lelaki itu memang tak banyak bicara. Ia pendiam sudah dari sananya. Meski begitu, sesekali ia tetap becanda dengan kami, tiga putrinya ini. Bisa dibilang kami dekat dengan bapak, meski tak sedekat ibu, yang selalu menjadi teman curhat kami. Kedekatan kami memang bukan dalam hal curhat-curhatan.

Ini adalah sebagian kisah tentang kedekatanku dengan bapak.

Dulu, pada waktu aku masih kecil, bapak sering mengajakku silaturahim ke rumah Pakdhe (kakak bapak) yang di Semarang. Waktu itu adik keduaku masih kecil. Jadi, ibu bersama adik di rumah dan aku ikut bapak ke Semarang.

Waktu itu mungkin aku kelas 3 SD, ketika aku mengetahui ada boneka cantik yang bernama barbie. Banyak temanku yang membicarakan tentang kecantikan si barbie ini. Selain dari teman-temanku, aku tahu tentang barbie dari sebuah majalah anak yang aku pinjam dari tetangga rumah yang kaya raya. Pada jaman itu, di desa jarang sekali keluarga yang membelikan bacaan untuk anak mereka, kecuali mereka orang kaya.

Pada saat yang hampir sama, seorang teman bercerita bahwa ia baru saja diajak keluarganya jalan-jalan di mall Sri Ratu di Semarang. Wah, aku jadi penasaran seperti apa Sri Ratu itu? Bagi kami yang tinggal di desa pada tahun 80-an, mall itu seperti tempat di kahyangan yang sulit dijangkau. :D

Rupanya bapak tahu tentang keinginanku. Jadi, ketika berkesempatan silaturahim ke Pakdhe, bapak juga mengajakku jalan-jalan ke Sri Ratu. Aku masih ingat saat itu dari rumah Pakdhe ke Sri Ratu kami naik bis tingkat. Subhanallah, bagi wong ndeso, naik bis tingkat itu adalah sesuatu... :)

Kamipun berkeliling di Sri Ratu, sekedar cuci mata melihat barang-barang yang jarang ada di desa . Hingga mataku melihat si boneka cantik, barbie. Rasanya aku ingin memilikinya. Tapi kata bapak, "Itu hanya untuk hiasan, tidak dijual."

Setelah sekian tahun, ketika aku mengingat peristiwa itu, aku jadi berpikir, ah... saat itu pasti bapak tidak punya cukup uang untuk membeli boneka barbie. Seorang PNS pada masa itu, gajinya tidaklah seberapa. Ibaratnya untuk makan sehari-hari saja harus dicukup-cukupkan. Tapi syukur alhamdulillah, Allah itu Maha Kaya, rejeki selalu ada, bukan hanya dari gaji semata.

Bapak adalah orang yang suka memberi kejutan. Ibu saja berkali-kali diberi kejutan dengan dibelikan peralatan rumah tangga yang lebih memudahkan pekerjaan sehari-hari di rumah. Dan akupun pernah diberi kejutan berupa sepeda warna merah ketika aku mendapatkan rangking di sekolah saat masih SD.

Senang sekali rasanya saat itu, sepulang bermain, tiba-tiba ada sepeda merah di teras rumah. Kata bapak, "Itu untukmu." Bahagia tak terkata. Kupandangi sepeda merah itu terus-menerus, seperti tak percaya, akhirnya aku punya sepeda. Setelah sekian lama aku selalu meminjam sepeda temanku kalau ingin bersepeda.

Pun ketika aku setingkat SMA, di sebuah pesantren. Bapak punya jadwal rutin mengantarkan uang bulananku ke pondok. Satu hari di waktu yang telah dijanjikan, aku menantikan bapak mengantarkan sangu seperti biasa. Tapi bapak tak kunjung tiba. Tentu saja aku kecewa. Meski bapak mengganti kunjungannya di waktu yang lain, mengantarkan sanguku dan tak mengatakan apa-apa tentang mengapa ia terlambat mengunjungiku.

Perlu waktu yang lama, ketika aku akhirnya mengetahui, bahwa ketika bapak tidak datang di waktu yang dijanjikan itu, ternyata bapak mengalami kecelakaan dengan motor bututnya dalam perjalanan menuju pondokku.

Sungguh... Jika ditanya tentang cinta, lelaki pendiam itu mungkin tak akan bisa mengungkapkan dengan kata-kata indah nan romantis. Tetapi, semua tindakannya telah membuktikan bahwa dia adalah lelaki yang penuh cinta, terutama pada kami keluarganya.

Banyak kenangan indah yang tersimpan di hati. Biarlah sebagiannya tetap ada di hati. Do'aku...

Allahumma Ya Allah... Mohon, ampuni segala dosa dan khilafnya, terima semua amal ibadahnya, lapangkan kuburnya, dan tempatkan ia bersama orang-orang yang Engkau kasihi. 

Monday, 18 January 2016

APAKAH KAMU BAHAGIA?



"Bahagia itu apa?," tanya temanku suatu hari.

"Entahlah," jawabku.

Satu orang berkata, bahagia itu diperoleh dari kekayaan. Dalam pikirannya, ia akan bahagia jika mempunyai harta berlimpah. Uang banyak, rumah besar, mobil berjajar di garasi, bisnis dimana-mana, adalah standar yang ia terapkan. Hingga ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengumpulkan sumber kebahagiaan dalam pikirannya.

Apakah lalu ia bahagia setelah kekayaan terkumpul?

Seseorang yang lain mengatakan, bahagia adalah kecantikan yang mempesona. Ia yang dikaruniai tubuh tak bercacat, masih merasa kurang dengan bentuk tubuh dan wajahnya. Badan kurang langsing, kulit kurang putih, dagu kurang lancip, rambut kurang lurus, dan kurang-kurang yang lainnya lagi.

Bahkan ketika ia telah memakai berbagai macam pemutih kulit, ia masih merasa kurang juga. Kurang halus, kurang mulus. Ketika tubuhnya sehat, ia merasa badannya belum indah bak lekukan biola.

Ketika ia telah melakukan operasi untuk membuat hidungnya lebih mancung, ternyata ia masih merasa kurang cantik. Hingga ia melakukan prosedur operasi lain untuk membuat dirinya lebih cantik.

Dan, bahagiakah ia setelah mengejar semuanya?

Satu waktu seorang teman bertanya lagi, "Bahagia itu proses atau hasil?"

Lagi-lagi jawabku, "Entah."

Pada satu cerita yang lain. Seorang pengelana kelaparan karena berhari-hari tidak makan. Ketika ia sampai pada puncak laparnya, ia menemukan pohon pisang yang berbuah masak. Ia makan dengan rada syukur yang tak terkira. Ia begitu bahagia karena setandan pisang.

Sesuatu yang berbeda terjadi pada seseorang yang lain. Ia berprofesi sebagai pengusaha, seumur hidupnya ia habiskan untuk mengumpulkan berbagai harta kekayaan. 

Satu kali, puteri yang sangat dicintainya diculik oleh seseorang. Lalu ia melakukan berbagai macam cara untuk menemukan sang putri. Bahkan dengan menghabiskan sebagian besar hartanya. Dan ia bersyukur ketika putrinya ditemukan dalam keadaan sehat wal afiat.

Jadi, ketika sekali lagi ada pertanyaan, "Apakah bahagia itu?"

Lagi-lagi aku harus menjawab, entahlah. Aku tak punya jawaban. 

Tapi aku merasa terpesona ketika melihat anak-anak bermain bersama dengan riang gembira. Kadang juga ada perasaan membuncah saat masakan sederhanaku di nikmati dengan lahap oleh suami dan anak-anakku. 

Jadi, saat seperti itu... Itukah bahagia?

Saturday, 16 January 2016

GANTI TAMPILAN BLOG



Jadi, di awal tahun 2016 ini aku memutuskan untuk mengganti judul dan tampilan blog. Alasannya sih, biar ada suasana baru dan menyesuaikan dengan apa adanya diriku saat ini. Hehe...

Sebelumnya nama blog ini adalah Menulis Mimpi. Itu adalah judul waktu aku masih galau dengan segala hal yang berkaitan dengan tulis menulis. :D Tahun lalu juga entah berapa kali aku berganti-ganti template. Ceritanya, masih dalam masa pencarian jati diri (blog). 

Yah... Karena blog ini adalah blog gado-gado yang semua curhatan ditulis, awal tahun ini aku ganti judul blog dengan nama Catatan Ummi. Karena blog ini memang isinya catatan apa-apa yang ada di kepalaku. Header juga aku ganti yang lebih sederhana. Rasanya sederhana itu lebih mirip dengan keseharianku sih... Hehehe... 

Jadi, sebelum-sebelumnya aku memang super galau kalau melihat tampilan blog yang keren-keren. Tapi apa daya, aku ini emak-emak kudet yang tak biasa otak-atik blog. Ya sudahlah... Apa adanya saja.

Selain dua hal itu, sebenarnya tak ada yang berubah. Blog ini masih akan berisi curhatanku. Masih akan berisi catatan kegelisahan seorang Ummi Nadliroh. Wong bisanya memang nulis curhatan... :D

Dan begitulah curhatku kali ini. Bukan hal penting juga, tapi yang penting membuat lega segala kegalauan di dada. :D

Friday, 15 January 2016

REVIEW: NOVEL AYAT-AYAT CINTA 2

Kenal dong dengan Novel Ayat-Ayat Cinta? Yup, novel yang ditulis oleh Habiburrahman El Shirazy (Kang Abik), yang bercerita tentang perjuangan dan kisah cinta Fahri, mahasiswa Al-Azhar Mesir asal Indonesia. Novel itu juga telah difilmkan. Jadi, tak ada alasan untuk tak kenal novel itu. :D

Nah, di tahun 2015 lalu telah terbit pula sekuel novel tersebut, yaitu Ayat-Ayat Cinta 2. Tepatnya cetakan pertama di bulan November 2015. Dan... buku milikku merupakan cetakan ke-6. Aku belinya di bulan Desember lho...

Ayat-Ayat Cinta 2 masih bercerita tentang Fahri Abdullah dan perjuangannya. Tapi settingnya kali ini di Edinburgh, Inggris. Fahri sudah lebih dewasa. Ia sudah menjadi pria matang dan mapan. 

Bagaimana kisahnya?

Ayat-Ayat-Cinta
Deskripsi Novel:
Judul : Ayat - Ayat Cinta 2
Penulis : Habiburrahman El Shirazy
Penerbit : Republika Penerbit
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman : 697

Cerita diawali dengan aktifitas Fahri mengajar mahasiswa S2 di The University of Edinburgh. Wow, hebatnya Fahri...

Ada lompatan waktu dari novel Ayat-Ayat Cinta pertama. Setelah lulus Al-Azhar, rupanya Fahri mendapatkan doktoralnya di Jerman, lalu postdoctoral di Inggris. Hebatnya lagi ia juga punya usaha butik, kuliner, dan minimarket. Benar-benar muslim ideal. Sholih, pintar, kaya... ^_^ 

Sejak pertama membaca novel ini, aku penasaran dimanakah Aisha, istri Fahri yang super cantik itu? Karena dari awal yang diceritakan selalu Fahri bersama Paman Hulusi, orang kepercayaan Fahri yang sudah seperti keluarga. Kok Aisha sama sekali tidak muncul? Dimana Aisha, dimana? :D

Baru di bagian 8 diceritakan tentang hilangnya Aisha. Aisha ternyata pergi ke Palestina untuk keperluan riset, dan ia hilang disana. Bertahun-tahun Fahri berusaha mencari keberadaan Aisha, tapi ia tak kunjung menemukannya. Meski begitu, ia tetap setia dan mencintai Aisha. Ia tak mau menikah lagi, meski desakan menikah dari kanan kirinya.

Tapi di bab-bab lainnya, ada scene tentang pengemis perempuan berjilbab hitam dan berwajah buruk, bernama Sabina. Dari awal munculnya, aku sudah curiga kalau perempuan itu pasti ada hubungannya dengan Aisha. Hm...

Seperti biasa ada romance di novel-novelnya Kang Abik. Ada perempuan-perempuan di sekitar Fahri, seperti Heba yang dari pertemuan pertama sepertinya tertarik dengan Fahri. Ada Yasmin yang merupakan cucu Syekh Utsman, guru Fahri di Mesir, yang akan dijodohkan dengan Fahri. Juga Hulya, sepupu Aisha, yang dari remaja sudah mengidolakan Fahri dan Aisha. Apakah akhirnya ada yang menikah dengan Fahri? Atau Aisha kembali? ^_^

Ada juga dakwah yang dilakukan Fahri dan kawan-kawannya. Akhlak yang ditunjukkan Fahri terhadap tetangga-tetangganya yang non-muslim, bisa menjadi inspirasi kita. Bagaimana akhlak Fahri kepada Nenek Catarina yang Yahudi, kepada Brenda yang Nasrani, juga kepada Nyonya Janet dan anak-anaknya (Keira dan Jason), layak dijadikan contoh. Kemanusiaan memang tak mengenal agama. Kalau semua Muslim seperti Fahri, pasti dengan sendirinya akan banyak yang tertarik dengan Islam.

Dan tentu saja ada pelajaran fiqih di novelnya Kang Abik. Misalnya, tentang mengucapkan salam pada non-muslim di halaman 55. Juga pandangan Kang Abik tentang khilafah di halaman 143. Dan aku paling tertarik dengan ulasan "Al-Islamu mahjuubun bil muslimin" atau, "Islam tertutup oleh umat Islam" di hal 386 dan tiga halaman setelahnya. Jadi introspeksi diri, jangan-jangan aku termasuk umat Islam yang menutupi kemuliaan Islam itu?

Aku menyelesaikan novel 697 halaman itu selama 2 malam, saat anak-anak sudah tidur. Karena memang novel ini menarik, sehingga aku ingin membaca dan terus membaca karena penasaran dengan endingnya.

Hanya aku agak terganggu dengan bagian yang Fahri minta dokter mengoperasi pita suara Sabina yang rusak agar kembali seperti semula. Apa semudah itu dokter yang semula mau membius lokal waktu mengoperasi Sabina, jadi berubah bius total karena permintaan Fahri? Belum lagi Fahri yang masuk ke ruang operasi hanya untuk melihat tanda lahir di bahu Sabina. Memangnya boleh ya? #tanyabeneran.

Tetapi, bagaimanapun, novel ini tetap menarik dan layak disebut Sebuah Novel Pembangun Jiwa. Karena novel ini memang bukan novel kosong. Ada kesadaran dan ilmu baru setelah membaca novel Ayat-Ayat Cinta 2. Misalnya tentang bagaimana akhlak seorang Muslim terhadap tetangga. Atau bagaimana seharusnya kita bisa memberi manfaat untuk orang-orang di sekitar kita. Tentu saja seorang Muslim seharusnya punya cita-cita yang tinggi, dimana cita-cita itu bukan hanya untuk kebaikannya sendiri, tetapi juga untuk kebaikan agamanya.

Intinya, Subhanallah... jika ada Muslim seideal Fahri di dunia nyata. Dan insya Allah akan selalu ada Muslim ideal yang benar-benar mencontoh Rasulullah SAW dalam berperilaku.


  1. Wallahu a'lam bishowab...

Monday, 11 January 2016

MUNGKINKAH MEMUASKAN SEMUA ORANG?


Kita berharapnya semua orang suka dengan kita. Semua orang senang dengan tingkah laku kita. Semua orang bahagia dengan kehadiran kita.

Tapi kenyatannya, apakah bisa seperti itu?

Terkadang kita bertingkah menyebalkan. Tidak sopan pada orang yang lebih tua. Menyepelekan teman bicara. Tidak menepati janji. Pokoknya, banyak kelakuan menyebalkan kita. Wajar sih, kalau orang tidak suka. Dan untuk hal ini kita memang harus memperbaiki diri. 

Tapi kadang, saat kita berbuat baikpun orang belum tentu suka dengan yang kita lakukan.

Misalnya, pelajar yang tidak mau mencontek ataupun memberi contekan pada temannya. Kata temannya, "belagu amat sih..."

Satu kali seseorang menyumbang cukup besar dalam penggalangan dana untuk membantu korban bencana. Acaranya live di televisi. Ada yang nyeletuk, "shodaqoh kok dipamer-pamerin."

Seorang pegawai tidak mau menerima suap, ketika ada yang ingin mengurus sesuatu dengan jalan cepat. Kata orang lain, "sok suci banget ah..."

Bahkan saat kita bersikap biasa-biasa saja, bukan sikap istimewa menurut pikiran kita, orang lain belum tentu berpikir begitu. 

Memberi senyum tetangga komplek. Ada tetangga lain yang tidak suka. 

Memberi tumpangan pada teman yang kurang akrab di jalan, ada yang bilang kita sok baik.

Mendengarkan curhat teman. Katanya sok perhatian.

Dan yang lainnya lagi.

Lalu, ketika mendengar ketidaksukaan orang lain atas diri kita, apa yang kita pikirkan?

Sedih luar biasa seakan dunia mau hancur? Karena kita maunya semua orang menyukai kita. Jadi, ketika ternyata ada orang yang tidak suka, kita jadi teramat sangat sedih. :(

Atau... balik mencibir orang yang tidak suka? Mau suka atau tidak suka terserah lo, ini hidup gue kok... :D

Atau, hal itu menjadi sebab introspeksi diri kita untuk selalu memperbaiki diri?

Menurutku sih...

Selalu punyai pikiran positif saja... Jika ada yang suka, itu bisa menjadi semangat bagi kita untuk lebih baik lagi. Jika ada yang tidak suka, kita bisa introspeksi. Mungkin kita memang salah dan pantas tidak disukai. Lalu kita bisa memperbaiki diri.

Belajar menjadi orang yang ikhlas. Katanya orang ikhlas itu... tidak menjadi sombong bila dipuji. Dan tidak lantas terpuruk ketika dicaci. Jadi, biasa saja lah...meski dipuji atau dicaci. Kalau mau berbuat baik ya berbuat baik saja. Tetap ikhlas meski ada yang memuja atau mencela.

Yang pasti, kita memang tidak akan bisa memuaskan semua orang. Meski kita sangat ingin. Pasti ada yang suka dan ada yang tidak suka. Tinggal bagaimana kita menyikapinya.



Friday, 8 January 2016

TENTANG DIA DAN KAMI



Dia anak kecil yang dulu bermain dengan teman-temannya. Bersama-sama mengaji di sore hari di rumahku. Berceloteh, tertawa riang, bermain, bertengkar.

Dulu aku punya harapan besar atas dia dan teman-teman kecilnya. Mereka akan jadi gadis sholihah, rajin mengaji hingga dewasa, dan bisa membanggakan orangtuanya.

Tetapi, semakin mereka besar, lalu menjadi remaja, mereka seakan tak terpegang. Mereka punya kesenangan sendiri. Mengaji tak lagi menarik. Atau kami (orang-orang tua ini) yang tak bisa membuatnya menjadi menarik. Dia dan teman-temannya semakin menjauh... dan jauh...

Aku bahkan sudah lupa tentang dia. Jika saja, satu waktu aku tak mendengar cerita tentang dia yang dikeluarkan dari Sekolah Menengah Pertamanya. Karena pergaulan yang kebablasan, hingga menyebabkan dia hamil sebelum menikah. 

Entahlah. Kadang aku pikir, kamilah yang salah. Kami terlalu cuek dengan keadaan di sekitar kami. Kami hanya sibuk mengaji sendiri. Ketika dia perlahan pergi menjauh, kami tak menyadarinya. Lalu ketika dia pergi terlalu jauh dan terjatuh, kami baru gelagapan.

Tapi reaksi kami baru seperti itu. Bisik-bisik diantara kami tentang dia yang tergelincir. Menyalahkan dia yang tidak hati-hati. Padahal bisa jadi kami punya peran atas ketergelincirannya. Kenapa kami tak memegangnya lebih erat waktu itu?

Yang terjadi, telah terjadi. Semoga di masa depan, kami lebih bisa menjaga anak-anak kami.

Friday, 1 January 2016

PERJALANAN NGEBLOG TAHUN 2015


Subhanallah wal hamdulillah, ada 51 postingan di blogku selama tahun 2015. Tidak banyak sebenarnya jika dibandingkan jumlah blogpost para blogger profesional. :) Tetapi...

Tahun ini adalah tahun yang luar biasa dalam perjalanan ngeblogku. Setelah tahun-tahun sebelumnya, blogku tak terurus dengan baik, tahun ini alhamdulillah blogku lebih terurus. Paling tidak, selalu ada postingan setiap bulannya. Meski sebenarnya aku belum bisa memenuhi target yang aku buat sendiri, yaitu minimal satu blogpost dalam satu minggu.

Kendala terbesar kenapa target minimal satu post satu minggu tidak terpenuhi sepertinya adalah kurang disiplin. :( Sedang alasan lain seperti: sibuk, anak-anak yang butuh perhatian, capek, dll, itu hanyalah alasan yang seharusnya bisa diatasi jika aku disiplin. 

Meski begitu aku tetap bersyukur. Aku belajar banyak tahun ini. Bergabung dengan komunitas, ternyata memang berpengaruh besar pada semangat ngeblogku. Kumpulan Emak2 Blogger (KEB), Warung Blogger (WB), Indonesian Hijab Blogger (IHB), Blogger Muslimah, sudah selayaknya aku berterima kasih pada komunitas blogger itu. Meski tidak aktif sebagai anggota, dalam arti hanya sekedar menjadi silent rider, alhamdulillah banyak ilmu yang aku peroleh. Syukron katsiron...

Selain itu, ikut lomba atau giveaway juga cukup efektif memompa semangat ngeblog. Maklum, aku ini blogger amatiran yang sering bingung mencari tema untuk ditulis di blog. Dengan ikut lomba/giveaway, tema kan sudah ditentukan ya... Jadi, kita tinggal mengembangkan saja. ;) Soal menang atau kalah, sudah tak terpikirkan lagi. Yang penting, menulis saja terus...

Blogwalking ternyata juga banyak menginspirasi bagi yang amatir macam aku. Setiap membaca tulisan yang bagus atau melihat tampilan blog yang keren, aku selalu tambah semangat mencari tahu. Dengan begitu, aku jadi tambah ilmu setelah berkunjung ke blog teman-teman.

Di tahun 2016 ini, aku tidak punya target muluk-muluk untuk blogku. Masih sama, semoga aku bisa konsisten menulis minimal satu tulisan dalam satu minggu di blog ini. Menulis apa saja, berbagi apa saja. Semoga target itu bisa terpenuhi tahun 2016 ini. Aamiin...


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...