Friday, 15 January 2016

REVIEW: NOVEL AYAT-AYAT CINTA 2

Kenal dong dengan Novel Ayat-Ayat Cinta? Yup, novel yang ditulis oleh Habiburrahman El Shirazy (Kang Abik), yang bercerita tentang perjuangan dan kisah cinta Fahri, mahasiswa Al-Azhar Mesir asal Indonesia. Novel itu juga telah difilmkan. Jadi, tak ada alasan untuk tak kenal novel itu. :D

Nah, di tahun 2015 lalu telah terbit pula sekuel novel tersebut, yaitu Ayat-Ayat Cinta 2. Tepatnya cetakan pertama di bulan November 2015. Dan... buku milikku merupakan cetakan ke-6. Aku belinya di bulan Desember lho...

Ayat-Ayat Cinta 2 masih bercerita tentang Fahri Abdullah dan perjuangannya. Tapi settingnya kali ini di Edinburgh, Inggris. Fahri sudah lebih dewasa. Ia sudah menjadi pria matang dan mapan. 

Bagaimana kisahnya?

Ayat-Ayat-Cinta
Deskripsi Novel:
Judul : Ayat - Ayat Cinta 2
Penulis : Habiburrahman El Shirazy
Penerbit : Republika Penerbit
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman : 697

Cerita diawali dengan aktifitas Fahri mengajar mahasiswa S2 di The University of Edinburgh. Wow, hebatnya Fahri...

Ada lompatan waktu dari novel Ayat-Ayat Cinta pertama. Setelah lulus Al-Azhar, rupanya Fahri mendapatkan doktoralnya di Jerman, lalu postdoctoral di Inggris. Hebatnya lagi ia juga punya usaha butik, kuliner, dan minimarket. Benar-benar muslim ideal. Sholih, pintar, kaya... ^_^ 

Sejak pertama membaca novel ini, aku penasaran dimanakah Aisha, istri Fahri yang super cantik itu? Karena dari awal yang diceritakan selalu Fahri bersama Paman Hulusi, orang kepercayaan Fahri yang sudah seperti keluarga. Kok Aisha sama sekali tidak muncul? Dimana Aisha, dimana? :D

Baru di bagian 8 diceritakan tentang hilangnya Aisha. Aisha ternyata pergi ke Palestina untuk keperluan riset, dan ia hilang disana. Bertahun-tahun Fahri berusaha mencari keberadaan Aisha, tapi ia tak kunjung menemukannya. Meski begitu, ia tetap setia dan mencintai Aisha. Ia tak mau menikah lagi, meski desakan menikah dari kanan kirinya.

Tapi di bab-bab lainnya, ada scene tentang pengemis perempuan berjilbab hitam dan berwajah buruk, bernama Sabina. Dari awal munculnya, aku sudah curiga kalau perempuan itu pasti ada hubungannya dengan Aisha. Hm...

Seperti biasa ada romance di novel-novelnya Kang Abik. Ada perempuan-perempuan di sekitar Fahri, seperti Heba yang dari pertemuan pertama sepertinya tertarik dengan Fahri. Ada Yasmin yang merupakan cucu Syekh Utsman, guru Fahri di Mesir, yang akan dijodohkan dengan Fahri. Juga Hulya, sepupu Aisha, yang dari remaja sudah mengidolakan Fahri dan Aisha. Apakah akhirnya ada yang menikah dengan Fahri? Atau Aisha kembali? ^_^

Ada juga dakwah yang dilakukan Fahri dan kawan-kawannya. Akhlak yang ditunjukkan Fahri terhadap tetangga-tetangganya yang non-muslim, bisa menjadi inspirasi kita. Bagaimana akhlak Fahri kepada Nenek Catarina yang Yahudi, kepada Brenda yang Nasrani, juga kepada Nyonya Janet dan anak-anaknya (Keira dan Jason), layak dijadikan contoh. Kemanusiaan memang tak mengenal agama. Kalau semua Muslim seperti Fahri, pasti dengan sendirinya akan banyak yang tertarik dengan Islam.

Dan tentu saja ada pelajaran fiqih di novelnya Kang Abik. Misalnya, tentang mengucapkan salam pada non-muslim di halaman 55. Juga pandangan Kang Abik tentang khilafah di halaman 143. Dan aku paling tertarik dengan ulasan "Al-Islamu mahjuubun bil muslimin" atau, "Islam tertutup oleh umat Islam" di hal 386 dan tiga halaman setelahnya. Jadi introspeksi diri, jangan-jangan aku termasuk umat Islam yang menutupi kemuliaan Islam itu?

Aku menyelesaikan novel 697 halaman itu selama 2 malam, saat anak-anak sudah tidur. Karena memang novel ini menarik, sehingga aku ingin membaca dan terus membaca karena penasaran dengan endingnya.

Hanya aku agak terganggu dengan bagian yang Fahri minta dokter mengoperasi pita suara Sabina yang rusak agar kembali seperti semula. Apa semudah itu dokter yang semula mau membius lokal waktu mengoperasi Sabina, jadi berubah bius total karena permintaan Fahri? Belum lagi Fahri yang masuk ke ruang operasi hanya untuk melihat tanda lahir di bahu Sabina. Memangnya boleh ya? #tanyabeneran.

Tetapi, bagaimanapun, novel ini tetap menarik dan layak disebut Sebuah Novel Pembangun Jiwa. Karena novel ini memang bukan novel kosong. Ada kesadaran dan ilmu baru setelah membaca novel Ayat-Ayat Cinta 2. Misalnya tentang bagaimana akhlak seorang Muslim terhadap tetangga. Atau bagaimana seharusnya kita bisa memberi manfaat untuk orang-orang di sekitar kita. Tentu saja seorang Muslim seharusnya punya cita-cita yang tinggi, dimana cita-cita itu bukan hanya untuk kebaikannya sendiri, tetapi juga untuk kebaikan agamanya.

Intinya, Subhanallah... jika ada Muslim seideal Fahri di dunia nyata. Dan insya Allah akan selalu ada Muslim ideal yang benar-benar mencontoh Rasulullah SAW dalam berperilaku.


  1. Wallahu a'lam bishowab...

6 comments:

  1. Sejak awal, sosok Fahri itu memang sangat ideal sehingga Ayat-Ayat Cinta dinilai sangat hitam putih. Yg hitam, hitam banget. Yang putih, putih banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, Mbak. Waktu Kang Abik ditanya ttg hal itu, kurang lebih jawabannya, karena beliau memang sengaja ingin menampilkan sosok Muslim ideal sebagai model pemuda masa kini.

      Delete
  2. Penasaran Aisha nyaa kemanaaa.. hiikss.. mau baca bukunya kalau gitu, thanks for the review ya ka :)

    Love,
    www.helloolaayu.com

    ReplyDelete
  3. aku penggemar dr filmnya. namun karena aku termasuk readholic jdi tetep baca novelnya. dan hari ini aku denger2 ayat2 cinta 2 bakal dibuat dan akan tayang desember nanti. hmmm blm baca sih aac2 nya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Monggo dibaca novelnya sebelum nonton filmnya. :)

      Delete

Terima kasih telah memberikan komentar di blog saya. Mohon untuk memberi komentar dengan kata yang santun. Terima kasih. :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...