Friday, 8 January 2016

TENTANG DIA DAN KAMI



Dia anak kecil yang dulu bermain dengan teman-temannya. Bersama-sama mengaji di sore hari di rumahku. Berceloteh, tertawa riang, bermain, bertengkar.

Dulu aku punya harapan besar atas dia dan teman-teman kecilnya. Mereka akan jadi gadis sholihah, rajin mengaji hingga dewasa, dan bisa membanggakan orangtuanya.

Tetapi, semakin mereka besar, lalu menjadi remaja, mereka seakan tak terpegang. Mereka punya kesenangan sendiri. Mengaji tak lagi menarik. Atau kami (orang-orang tua ini) yang tak bisa membuatnya menjadi menarik. Dia dan teman-temannya semakin menjauh... dan jauh...

Aku bahkan sudah lupa tentang dia. Jika saja, satu waktu aku tak mendengar cerita tentang dia yang dikeluarkan dari Sekolah Menengah Pertamanya. Karena pergaulan yang kebablasan, hingga menyebabkan dia hamil sebelum menikah. 

Entahlah. Kadang aku pikir, kamilah yang salah. Kami terlalu cuek dengan keadaan di sekitar kami. Kami hanya sibuk mengaji sendiri. Ketika dia perlahan pergi menjauh, kami tak menyadarinya. Lalu ketika dia pergi terlalu jauh dan terjatuh, kami baru gelagapan.

Tapi reaksi kami baru seperti itu. Bisik-bisik diantara kami tentang dia yang tergelincir. Menyalahkan dia yang tidak hati-hati. Padahal bisa jadi kami punya peran atas ketergelincirannya. Kenapa kami tak memegangnya lebih erat waktu itu?

Yang terjadi, telah terjadi. Semoga di masa depan, kami lebih bisa menjaga anak-anak kami.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah memberikan komentar di blog saya. Mohon untuk memberi komentar dengan kata yang santun. Terima kasih. :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...