Thursday, 31 March 2016

MENIKAH, BERMASYARAKAT, DAN MENJADI DEWASA

Menyusuri jalan kedewasaan :)
Ketika belum menikah, biasanya banyak jomblo yang memimpikan tentang indahnya pernikahan. Memang kan, biasanya yang dibayangkan para jomblo adalah yang indah-indah. Masak berdua, makan berdua, jama'ah ke masjid berdua, ada yang mengantar ke tempat pengajian, pokoknya kemana-mana tidak sendiri lagi. Ehm...

Tidak salah sih, jika jomblo yang biasanya sendirian membayangkan keindahan ketika sudah berduaan. Tetapi... Harus diingat juga bahwa pernikahan itu bukan hanya tentang "kita berdua". Tetapi juga tentang "kita dan keluarga", bahkan "kita dan masyarakat".

Ya, tentang kita dan masyarakat. Tidak bermaksud mendramatisir lho ya...

Biasanya sebelum menikah, masyarakat seringkali belum menganggap kita sebagai seseorang. Ini secara umum ya... Ketika masih sendiri, kita masih dinisbatkan pada kebesaran orang tua kita.

Ketika berbuat sesuatu yang hebat misalnya, orang masih mengatakan, "Ooo pantes, anaknya Pak A sih."

Sebaliknya, perbuatan buruk yang kita lakukan, "Anaknya siapa sih..."

Ketika kita sudah menikah, apalagi sudah tidak berkumpul dengan orangtua, apalagi punya anak, kita akan semakin dilihat sebagai diri kita sendiri. Orang semakin jarang menyangkutpautkan kita dengan orang tua. Dan mulailah pelajaran kehidupan dimulai lagi.

Kita akan mulai menghadapi berbagai macam seluk beluk kehidupan bermasyarakat. Kita akan belajar banyak hal dalam hubungan bermasyarakat, yang tidak semuanya manis. Kadang ada asin, pahit, asam, bahkan pedas. 

Ada kalanya kita merasa bahagia ketika ada tetangga yang mengantar makanan untuk kita. Meski makanan itu tak seberapa, tapi pemberian yang penuh keikhlasan biasanya mendatangkan rasa syukur dan kegembiraan.

Kadang juga kita menjadi muram karena ada tetangga yang mengatai kita dengan kalimat tak mengenakkan. Hanya sebuah kalimat, tapi bisa membuat kita galau seharian. Bahkan berkepanjangan?

Dan permasalahan ketika berhubungan dengan banyak orangpun tak terhindarkan. Baik permasalahan itu melibatkan kita secara langsung atau tidak, kita kadang tidak bisa membiarkannya begitu saja. Karena mungkin saja kita juga akan ikut dimintai pendapat untuk menyelesaikan permasalahan. 

Saya masih ingat, dulu saat saya belum menikah, suatu malam rumah keluarga kami tiba-tiba didatangi oleh beberapa orang yang ingin menyelesaikan sebuah permasalahan. Saat itu ada sebuah rumah kontrakan di RT kami yang penghuninya sering mabuk dan membawa perempuan yang bukan mahromnya, hingga membuat warga merasa resah. Karena sudah terlalu sering, akhirnya ada warga yang menegur, sampai kemudian terjadi keributan. Setelah keributan itulah beberapa warga menemui orang tua kami.

Sebenarnya orang tua kami bukan perangkat desa atau pengurus RT atau jabatan lain di desa, tapi beliau berdua termasuk orang yang dituakan di lingkungan kami, sehingga sering dimintai pendapat. 

Alhamdulillah, setelah melalui berbagai proses, masalah itu akhirnya terselesaikan dengan relatif damai. 

Dari peristiwa itu, pelajaran yang saya ambil adalah, kadang kita memang harus mengambil tanggung jawab di masyarakat. Kita tidak bisa selamanya cuek dengan keadaan di sekitar kita, karena merasa itu bukan urusan kita. Apalagi jika masyarakat mempercayai kita. 

Dan ternyata setelah saya berkeluarga, saya semakin menyadari bahwa semakin lama kita menjadi bagian dari masyarakat, permasalahan itu bukannya semakin sedikit. Justru akan lebih banyak permasalahan yang kita hadapi. Tetapi kita sudah tertempa di permasalahan sebelumnya, sehingga kita menghadapi masalah baru dengan lebih matang.

Dan percayalah... Bertetangga, bermasyarakat, menjadi bagian dari komunitas sosial yang besar, kita akan menjadi semakin kaya pengalaman, kita akan semakin dewasa, dan akhirnya kita semakin arif dalam memandang sebuah persoalan. 

Memang ketika masih sendirianpun kita tidak luput dari permasalahan. Tetapi ketika sudah menikah dan menjadi bagian dari masyarakat (sebagai diri sendiri yang sudah terpisah dari kebesaran nama orang tua), permasalahan itu akan semakin kompleks. Nikmatilah prosesnya. Nikmati setiap pengalaman yang kita dapat. Meski pahit, meski getir, akan terasa indah dihadapi bersama pasangan sejati kita. 

Jadi, intinya... Menikah itu memang indah ya? Hihi...

Jadi, untuk para jomblo... Siapkah kamu menikah? :D

Wednesday, 23 March 2016

TENTANG SUDUT PANDANG


Masih ingat cerita tentang tiga orang buta yang mendiskripsikan gajah? Mereka ribut berdebat, dan masing-masing merasa benar. Cerita tersebut ada berbagai versi. Ini salah satu versinya.

Ada tiga orang buta yang bersahabat. Suatu hari mereka mendengar cerita tentang hewan yang bernama gajah. Merekapun penasaran. Yang mereka dengar, gajah itu hewan yang gagah perkasa. Karena begitu ingin tahunya, mereka meminta bantuan teman mereka yang tidak buta untuk mengantarkan mereka melihat gajah.

Singkat cerita, sampailah mereka ke tempat sang gajah berada. Ketiga orang tersebutpun menyentuh sang gajah pada bagian tubuh yang berbeda. Mereka tersenyum setelah menyentuh gajah, karena merasa sudah tahu seperti apa yang namanya gajah itu.

Orang buta pertama menyentuh belalai gajah dan mengatakan, "Gajah itu bulat panjang dan mirip dengan ular". 

Orang buta kedua menyentuh telinga gajah dan menyatakan, "Gajah itu tipis dan lebar seperti kipas."

Lalu, orang buta ketiga menyentuh kaki gajah dan mengatakan, "Gajah itu tegak dan kuat, seperti tiang."

Setelah itu mereka saling bercerita tentang pendapat mereka. Karena yang mereka sentuh adalah bagian tubuh yang berbeda, tentu saja cara mendeskripsikan bentuk gajahpun berbeda.

Dengan perbedaan itu, apakah yang mereka katakan salah? Tentu saja tidak. Tetapi mereka hanya mendeskripsikan berdasarkan bagian-bagian tubuh gajah yang mereka sentuh. Bukan keseluruhan tubuh gajah.

Dalam kondisi seperti itu, seringkali dibutuhkan orang keempat yang bisa obyektif dan menjadi penengah untuk menyelesaikan persoalan. Kalau dalam cerita diatas, tentunya orang tersebut adalah orang yang tidak buta, yang bisa melihat keseluruhan tubuh gajah. Sehingga ia bisa meluruskan pendapat ketiga orang buta tadi.

Dalam kehidupan sehari-haripun, seringkali kita menemukan permasalahan serupa. Misalnya...

Satu saat saya mengikuti acara sosialisasi Dana Desa. Yang diundang adalah dari dinas/instansi yang terkait, kami yang di kecamatan, dan tentu saja desa yang akan mendapatkan kucuran dana tersebut. Kami semua serius mendengarkan paparan yang disampaikan narasumber.

Namun ketika satu waktu saya dan teman-teman yang sama-sama mengikuti acara tersebut bertemu dan berdiskusi tentang sosialisasi itu, ternyata kami punya pendapat yang berbeda lho... Padahal kami mendengarkan acara yang sama, pada waktu dan tempat yang sama, juga narasumber yang sama. Lalu kenapa kami bisa mempunyai pendapat yang berbeda?

Contoh perbedaan itu seperti... Saya yang melihat Dana Desa dari perspektif infrastruktur karena saya berlatar pendidikan teknik sipil. Teman saya melihat dari sudut pandang hukum, karena dia lama berkecimpung di bidang hukum. Teman yang lain melihat dari sudut pandang pemerintahan desa. Dan ada sudut pandang lain juga.  

Sudut pandang. Saya kira, kami semua melihat sosialisasi Dana Desa itu dari sudut pandang yang berbeda. Dan itu bisa saja dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan kami, pengalaman kami, pengetahun dan bahan bacaan kami, dinas/instansi asal kami, atau hal lain. Dan mungkin ketika acara sosialisasi itu, kami hanya fokus pada minat kami sendiri-sendiri. Sehingga yang nyantol di kepalapun hal yang kami minati itu.

Ada juga cerita di masyarakat...

Di sebuah desa, ibu-ibunya aktif mengadakan perkumpulan pengajian. Ada yang seminggu sekali, selapan (36) hari sekali, ada juga yang berdasarkan berdasarkan pasaran (pon, kliwon, pahing, wage). Dan pengajian tersebut dilaksanakan dengan anjangsana dari satu rumah ke rumah lain.  

Bagaimana pandangan orang-orang terhadap pengajian tersebut?

Dari sudut pandang pemuka agama, hal tersebut tentu bagus karena syiar agama bisa lebih berkembang. Sedangkan orang yang berkecukupan menanggapinya baik adanya pengajian itu, karena ia bisa mengaji sekaligus menghormati tamu dengan berbagai hidangan yang ia siapkan dalam rangka pengajian itu.

Tetapi ada juga yang mengeluh, karena dengan adanya pengajian-pengajian itu ada biaya yang harus ia keluarkan.  Padahal ia bukan orang yang berkelebihan harta. Dan untuk menolak ditempati pengajian, iapun tak bisa. Karena ia takut pandangan masyarakat terhadap dirinya. Sedangkan kebiasaan orang-orang di desa itu, akan merasa malu jika hidangan yang ia sajikan tidak lebih baik atau minimal sama dengan orang-orang yang rumahnya ditempati sebelumnya. Karena itulah kadang seseorang bisa mengeluarkan biaya hidangan diluar batas kemampuannya.

Untuk hal seperti ini, pastilah dibutuhkan solusi bagaimana sebuah pengajian yang merupakan kegiatan baik itu bisa tetap dilaksanakan, sekaligus tidak memberatkan jamaahnya. Misalnya membuat batas maksimal makanan yang dihidangkan. Atau solusi yang lain?

Dan begitulah. Setiap orang bisa saja mempunyai sudut pandang yang berbeda atas persoalan yang sama. Apakah kemudian pendapat saya benar dan pendapatmu salah? Atau sebaliknya. Belum tentu seperti itu adanya. Saling bicara, saling diskusi, saling membuka hati, bisa jadi membuat kita bisa melihat dalam perspektif yang lebih luas. Banyak hal yang bisa dikompromikan, banyak juga yang bisa dicarikan solusi bersama. 

Kalau sudah ada saling pengertian... Ah, damailah dunia. :D 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...