Thursday, 17 March 2016

JALINAN SEJARAH HIDUPKU




Seperti apa kita sekarang pasti tidak lepas dari keseluruhan sejarah hidup kita. Aku meyakini sepenuhnya hal itu. Masa kecil, masa remaja, teman-teman yang kita jumpai, keadaan yang kita hadapi, orang tua yang mengasuh kita, guru-guru yang pernah mendidik kita, dan semua pengalaman hidup kita, pasti membentuk diri kita. Lalu jadilah diri kita yang ada saat ini.

Karena itulah aku bersyukur atas keseluruhan hidup yang aku lalui. Pahit dan manis, sedih dan bahagia, gagal dan sukses, semua yang aku lalui, insya Allah aku mensyukurinya. Hidupku memang relatif "biasa", hampir tidak ada "drama" yang membuatnya terkesan "wah". Tapi itulah hidupku. Hidup yang diberikan Tuhan untukku.

Aku, Saudara dan Tempat Asalku
Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Kami tiga bersaudara semuanya perempuan. Jarak umurku dengan adik kedua adalah 3 tahun. Dan jarak adik kedua dengan adik ketigaku adalah 7 tahun.

Mungkin karena sama-sama perempuan, kami sangat dekat satu sama lain. Kami biasa curhat tentang apa saja. Walaupun sekarang agak berkurang, karena kami semua sudah menikah. Sudah punya tempat curhat sendiri-sendiri. :D 

Kami lahir dan dibesarkan di sebuah desa di Tayu, sebuah tempat yang ada di Kabupaten Pati Jawa Tengah. Desa kami termasuk di wilayah pesisir. Tidak heran kalau dulu, tempat bermain kami selain di sawah adalah di tambak. 

Pantai berpasir di Jepara. Sayangnya di tempat kami pantainya berlumpur.


Kami dan teman-teman sepermainan biasa bermain di pematang tambak sambil mencari kerang-kerang kecil yang kami sebut besusul. Besusul-besusul yang kami ambil adalah yang tinggal cangkangnya. Maksud hati, besusul itu akan kami rangkai menjadi hiasan. Tapi kenyataannya lebih sering terserak menumpuk di dalam rumah kami. Dan akhirnya, akan dibuang oleh ibu kami.

Kadang kami juga bermain sampai ke tepi laut atau pantai. Tapi pantai di tempat kami bukan pantai berpasir, tetapi berlumpur. Diantara lumpur-lumpur itu sering ada yuyu (sebangsa kepiting) yang berjalan lalu sembunyi kembali didalam lubang rumahnya. Jadi, kalau kami mendekati ombak, bisa dipastikan kami akan kotor oleh lumpur hitam itu. Tapi kami bermain dengan tawa bahagia.

Ketika bulan puasa, setelah sholat subuh kami akan segera berjalan beramai-ramai menuju laut. Kami harus bergegas, kalau tidak kami tidak akan bisa melihat matahari terbit dari ufuk timur. Matahari itu seakan muncul dari dalam lautan, berwarna merah-jingga-keemasan. Munculnya sedikit demi sedikit, hingga akhirnya bulat sempurna. Indah sekali.
 
Aku, Orangtua dan Pendidikan
Untuk urusan pendidikan anak, keluarga pastilah memiliki peran penting. Qodarullah, bapak dan ibuku adalah guru agama. Latar belakang keluarga kedua orangtuaku juga cukup kental dengan ke-santri-annya. Tidak heran jika bapak dan ibupun menempatkan pendidikan agama pada posisi yang penting dalam mendidik kami, anak-anaknya.

Waktu kecil, orangtuaku sudah mengajariku huruf-huruf Al-Qur'an, sebelum akhirnya aku diserahkan pada guru ngaji, tentunya untuk mengaji. Saat itu tahun 80-an memang belum ada Taman Pendidikan Qur'an (TPQ) macam sekarang. Jadi, kami mendatangi guru ngaji untuk belajar membaca Al-Qur'an. Setiap kali khatam, kami akan berpindah guru ngaji hingga khatam lagi. 

Ketika kelas 3 SD, orangtuaku juga menyekolahkan aku di Madrasah Diniyah. Jadi, pada waktu itu, di pagi hari aku sekolah SD, siang di Diniyah, sore hari mengaji Al-Qur'an. Di Madrasah Diniyyah kami belajar tauhid, fiqih, aqidah akhlak, sejarah Islam, bahasa arab, dan beberapa ilmu lain. Meski aku bukan murid yang sangat pintar saat belajar agama, tapi pada akhirnya aku bersyukur, orangtuaku sudah memberi bekal agama padaku

Lulus SD, aku sekolah di Madrasah Tsanawiyah (MTs, setingkat SMP). Kedua orangtuaku memang mengarahkan aku sekolah disana. Alasannya adalah agar pondasi agamaku lebih kuat. Pondasi itu penting untuk bangunan. Tentu harapannya ketika aku memiliki pondasi agama yang kuat, bangunan agamakupun tidak mudah goyah nantinya.  

Namun ketika lulus MTs, bapak dan ibu memberikan kebebasan padaku, ingin melanjutkan sekolah dimana. Di SMA atau di Madrasah Aliyah (MA), bapak dan ibu mempersilahkan aku memilih sendiri. Entah kenapa ketika aku dan adik-adikku mulai masuk SMA, bapak dan ibu mulai membebaskan kami untuk memilih. Mungkin, bapak dan ibu menganggap sudah cukup membangun pondasi agama. Dan usia SMA dianggap sudah cukup besar untuk tahu konsekuensi sebuah pilihan. Dan waktu itu, aku memilih sekolah di MA sembari nyantri di Ponpes Raudlatul Ulum Guyangan

Seperti ini kalau anak pesantren mau berangkat sekolah
 Apa alasanku memilih nyantri di pondok? Jawabannya di bawah ya... :D

Aku dan Sifat Pemalu
Dari kecil aku adalah seorang yang pendiam dan pemalu. Dan aku sungguh dikenal dengan karakter seperti itu. Teman, tetangga, orang-orang yang mengenalku di masa kecil, pasti mengenal aku dengan dua sifat itu. :)

Meski begitu aku suka bermain dengan banyak teman. Tetapi meski bermain dengan banyak teman, aku hanya akrab dengan satu dua orang saja. Dan silaturahim dengan teman akrab di masa kecil itu masih terjalin hingga sekarang. 
Dulu, aku juga suka bersepeda seperti anak-anakku

Memasuki MTs, sifat itu masih ada. Sampai ibu membantuku mengatasi sifat itu dengan mendorongku untuk aktif di kegiatan-kegiatan luar sekolah, menjadi pembawa acara di kegiatan musholla, belajar kelompok dengan teman, dan lain sebagainya. Yang intinya, agar aku berlatih bersosialisasi dengan banyak orang. 

Tapi mengubah sifat yang sudah mendarah daging memang tak mudah. :) Jadi, sifat inilah yang menjadi salah satu alasan aku memilih sekolah dan nyantri di pondok pesantren. Kenapa? Karena di pesantren itu santri putra dan putri di pisah. Sedangkan aku kalau bertemu teman laki-laki itu luar biasa malunya. :D

Apakah aku masih pemalu sekarang? Aku rasa sifat itu masih ada. Hanya kadarnya saja yang berkurang. :D Mungkin, masa kuliah juga membantuku mengurangi kadar pemalu itu.

Aku dan Masa Kuliah
Setelah lulus Madrasah Aliyah, seperti yang lainnya, akupun mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Aku memilih mendaftar di UGM. Ah, tapi ternyata rejekiku bukan disana. 

Sebenarnya, aku diterima di IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga, Fakultas Ushuluddin. Tetapi rasanya aku kok ingin pengalaman yang lain. Maksudnya apa? :D Dalam bayanganku, di IAIN aku pasti akan belajar agama terus. Apalagi banyak temanku satu almamater di MA juga kuliah di IAIN. Kamu lagi, kamu lagi... Biar tidak seperti itu, aku cari tempat kuliah lain saja. :D

Jadilah aku mendaftar di Teknik Sipil UMY. Sebuah jurusan, yang sejujurnya aku masih buta tentang apa yang nanti dipelajari disana. Meski begitu, ternyata... Alhamdulillah, aku diterima.

Disana dulu kuliahku. Credit

Hidup barupun kumulai. Haha... Kuliah, adalah sebuah kehidupan yang berbeda dari sebelumnya. Apa yang paling beda? Kalau di pesantren santri putra dan putri belajarnya terpisah. Dan masa kuliahku, tentu saja semua bercampur, dan yang namanya teknik, pasti mahasiswanya lebih banyak daripada mahasiswi. Karena itu tadi kutuliskan, "Mungkin, masa kuliah juga membantuku mengurangi kadar pemalu itu." :)

Dan karena aku memang tidak banyak tahu tentang jurusan teknik sipil, di semester pertama nilaiku benar-benar hancur. IPK-ku hanya 1,90. :D Kalau mengingat itu, aku sungguh bersyukur bisa lulus dari sana dengan IPK diatas 3. Hihi...

Hal paling menyenangkan saat kuliah adalah ternyata aku bisa berbagi ilmu. Ketika teman satu kosku tahu aku dari pesantren, teman kos ini memintaku mengajarinya mengaji. Alhamdulillah, ilmuku bisa memberi manfaat untuk orang lain. 

Hal paling berat di masa kuliah adalah ketika di tahun kedua, seorang teman sejurusan (putri) yang sudah bergabung dengan sebuah aliran sempalan agama, mengajakku untuk bergabung juga. Alirannya memang suka mendekati orang yang punya komitmen pada agama, tetapi orangnya introvert. Mungkin dia menganggap aku orang yang cocok untuk didekati. :( 

Tetapi yang selalu aku syukuri, meski kata orang aku pendiam, aku punya cukup banyak teman di rohis kampus. Jadi, aku banyak mendapat masukan dari teman-teman disana.

Orang itu biasanya mengajakku diskusi agama di tempat yang jauh dari keramaian. Hanya berdua, dengan membuka Al-Qur'an yang ditafsirkan menurut ajarannya. Lagi-lagi aku bersyukur, telah dibekali ilmu agama oleh orangtuaku, sehingga dalam diskusi itu aku bisa menyampaikan pendapatku berdasarkan apa yang telah aku pelajari dahulu.

Tetapi waktu itu, diskusi-diskusi itu sungguh menguras fikiran. Karena meski aku sudah menolak pemikirannya, orang itu masih saja ingin mengajakku untuk bertemu seniornya. Aku menolak. Karena sejujurnya, aku tidak bisa dan tidak suka berdebat, jadi aku khawatir ketika berhadapan dengan orang yang pintar bicara, aku tidak akan bisa menjawab.

Entah bagaimana, akhirnya orang itu lelah mengajakku. Tetapi yang membuatku sedih, ternyata dia berhasil mengajak temanku yang lain bergabung di alirannya.

Aku dan Pekerjaan
Setelah lulus kuliah di tahun 2003, aku pernah berwirausaha, pernah menjadi guru, pernah kerja di kantor swasta. Hingga akhirnya aku diterima sebagai PNS di tahun 2006.

Meski awalnya menjadi PNS bukanlah pekerjaan impianku, tetapi ketika aku tahu bahwa aku bisa memberi manfaat kepada orang lain melalui pekerjaanku, akupun menjalaninya dengan senang hati. Meski aku masih menyimpan harapan untuk sebuah profesi lain, yaitu penulis.
Monitoring pembangunan rabat beton di salah satu desa di Kecamatan Dukuhseti
 
Monitoring pelatihan pembuatan batik.

Aku dan Jodoh
Aku memilih cara menikah tanpa pacaran. Aku percaya bahwa jodoh adalah Dia yang mengatur. Dan aku percaya bahwa sekecil apapun setiap peristiwa yang ada di hidup kita, pasti ada artinya.


Adalah dia, seorang teman SD, yang pernah satu bangku di kelas 5, hingga akhirnya dijodoh-jodohkan denganku gara-gara sebangku itu. Ya, waktu kelas 5 SD guru kelas kami memilihkan teman sebangku putra-putri. Dan yang duduk sebangku itu biasanya suka dijodoh-jodohkan oleh sesama kami. Entah bagaimana, kok yang paling heboh adalah aku dan teman sebangkuku. Mungkin karena dulu aku suka menangis kalau diledek teman-teman. Hihi... Cengeng ya.

Sungkem Bapak Ibu di hari pernikahan
Lalu setelah lulus SD, kami sama sekali tidak pernah bertemu lagi. Hingga suatu hari bapak ibunya menengok simbahku yang sakit. Orangtuanya dan orangtuaku memang berteman. Entah bagaimana asalnya, orangtuanya dan orangtuaku bercanda, "Bagaimana kalau kita menjadi besan?"

Kemudian orangtuanya menyampaikan maksud itu kepada dia. Begitu juga orangtuaku, menyampaikan hal itu kepadaku. Masing-masing orangtua tidak memaksa. Kami bisa saling bertemu dulu dan sholat istikhoroh. Karena sudah jodoh, semua proses dimudahkan Allah. 

Sebelum menikah kami hanya pernah bertemu dua kali. Yang pertama bertemu di rumah guru ngajiku, disana kami banyak bertanya dan berdiskusi tentang komitmen kami masing-masing pada pernikahan. Pertemuan kedua adalah ketika ibu menyuruhku mengantar makanan ke rumahnya. Sepertinya itu modusnya ibu biar aku bisa lebih kenal keluarganya deh... :D

Tidak pakai ribet, tidak pakai lama, kamipun menikah di tahun 2007. Sudah 9 tahun hingga saat ini. Dan tiga orang putri cantik sekarang telah menemani hari-hari kami.


Dua diantara tiga anak itu adalah anakku. :)

Mbak Ika Puspita Yang Kukenal
Aku belum pernah kenalan dengan Mbak Ika, jadi memang belum kenal. Hehe... Tapi aku tahu nama Mbak Ika dari KEB. Meski aku lebih sering jadi silent rider di grup FB KEB, tapi cukup sering lihat komentar-komentarnya Mbak Ika. Saat blogwalking, aku juga sering menjumpai komentar-komentarnya Mbak Ika. Dari sanalah akhirnya aku terdampar di blognya Mbak Ika.

Blognya Mbak Ika keren, tidak seperti blogku yang apa adanya. :D Kontennya juga menarik, banyak artikel yang bermanfaat. Ada yang lucu juga seperti di "Hampir Kepincut Bule Kanada". Sukses selalu ya, Mbak... :)


Akhirnya...
Ini sepertinya jadi blogpostku terpanjang. Terima kasih Mbak Ika, karena telah membuatku mengingat sejarah hidupku sendiri. Akhirnya membuatku berkontemplasi akan perjalanan hidupku. Semoga yang membaca tidak lelah ya... :)


"Tulisan ini diikutkan dalam Bundafinaufara 1st Giveaway"
 

10 comments:

  1. Wah ternyata sudah punya tiga putri ya. Kebalikan dgn saya :-)

    ReplyDelete
  2. Wahhh ceritanya panjang dan lengkap. :D Anaknya lucu-lucu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi... Tulisan terpanjang yg pernah saya buat.

      Delete
  3. Wah asyik juga ya mbak menikah tanpa pacaran, tinggal dibali aja, pacarannya setelah menikah :)

    Sebuah perjalanan yang tak terlupakan ya mbak Ummi, semoga sukses dan selalu bahagia bersama keluarga, aamiin :)

    ReplyDelete
  4. Asyiknya Mba.. masa kecil main di pantai ;)

    btw sama banget kita,, dari SD sekolahnya di madrasah kata Bapak biar ngerti agama dulu, kalo kelak bs kuliah baru di umum boleh ;) bedanya aku blm pernah di pesantren

    Barakallah Mba.. dimudahkan sekali jodohnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masa kecil anak pesisir, Mbak. :)

      Terima kasih kunjungannya. :)

      Delete
  5. Wah mbaknya pemalu ternyata, ya. Sama dong kita (sembunyiin palu). Jodoh mah emang sesuatu yang tidak bisa diprediksi ya, mbak. Nice post :)

    ReplyDelete

Terima kasih telah memberikan komentar di blog saya. Mohon untuk memberi komentar dengan kata yang santun. Terima kasih. :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...