Saturday, 30 April 2016

TIGA SEBAB KEGALAUAN IBU BEKERJA DAN CARA MENGATASINYA

Assalamu'alaikum, Sahabat...


Sebenarnya saya agak ragu menulis ini. Takutnya ada yang nyinyir. "Tuh kan, harusnya jadi ibu rumah tangga saja," begitu mungkin yang dikatakan. Hihi... Tapi mungkin itu hanya perasaan saya saja.

Setiap pilihan pasti ada konsekuensinya. Termasuk ketika saya memilih tetap bekerja kantoran setelah menikah dulu. Tentunya saya sudah mendapat restu suami dong, ketika memutuskan bekerja di luar rumah. Tetapi sebagai ibu, tetap saja ada saatnya saya galau dengan keadaan yang saya hadapi.

Ini adalah 3 hal yang paling membuat saya galau:

1. Pekerjaan yang menumpuk di satu waktu
Tidak bisa dipungkiri, kadang pekerjaan kantor itu menumpuk di satu waktu. Ada waktu-waktu dimana pekerjaan yang satu belum selesai, saya sudah ketiban pekerjaan lainnya lagi. Bahkan ketika di rumah, saya masih kepikiran pekerjaan itu. Bisa dipastikan kalau saya sudah kepikiran pekerjaan kantor, konsentrasi saya ketika membersamai anak-anak juga buyar. Kacau kan?

Untuk mengatasi yang seperti ini, saya belajar dari senior saya di kantor lama. Manajemen pekerjaan dengan memilah-milah pekerjaan dan menandainya adalah solusinya. Pekerjaan pertama adalah penting dan mendesak. Pekerjaan kedua penting, tetapi tidak mendesak. Pekerjaan ketiga segera, tetapi bisa diwakilkan, dan seterusnya. Menandai pekerjaan seperti ini, saya rasakan sangat membantu dalam menyelesaikan pekerjaan.

2. Anak sakit
Ibu mana yang tak gelisah kalau anaknya sakit. Apalagi kalau anak itu berada di usia batita (bawah tiga tahun). Biasanya kalau sakit, mereka lebih rewel kan? Huhu... Saya sering tidak tega kalau meninggalkan mereka bekerja.

Menghadapi yang seperti ini, saya menerapkan dua solusi. Yang pertama, jika pekerjaan di kantor sedang longgar, saya akan minta ijin ke atasan. Biasanya atasan mengerti, kok...

Namun jika banyak pekerjaan menanti, biasanya saya akan mempercayakan 100% perawatan anak kepada orang rumah. Entah itu asisten, suami, atau saudara yang lain. Kemudian saya akan berusaha menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat agar bisa segera pulang. Kalaupun ternyata tidak bisa, saya tetap akan menghubungi orang rumah dan menceritakan kondisi kantor, serta memantau keadaan anak di rumah. Dan tidak lupa berdo'a. 

3. Asisten rumah tangga ijin tidak masuk kerja
Wah, ini masalah serius untuk ibu bekerja dan punya anak batita seperti saya. Karena kami (saya dan suami) inginnya tidak merepotkan orang tua dengan urusan anak. Tapi kenyataannya berulang kali kami merepotkan mereka, terutama kalau asisten tidak datang ke rumah. Mau tidak mau kami harus menitipkan anak kepada orang yang kami percaya. Siapa lagi yang paling bisa dipercaya kalau tidak orang tua? 

Dan beruntungnya kami punya orang tua yang rumahnya berdekatan dengan dua orang ipar yang kebetulan adalah ibu rumah tangga. Jadi, kalau orang tua kami tidak bisa menangani anak kami, dua ipar kami yang baik hati selalu bisa membantu.

Nah, 3 hal itulah yang sering membuat saya galau. Ada yang pernah mengalami seperti saya? Atau malah ada hal lain lagi yang membuat galau? :)

Monday, 18 April 2016

TPI BANYUTOWO, TEMPAT ASYIK MENIKMATI PAGI

Assalamu'alaikum, Sahabat...

Kami dua keluarga datang bersama, biar bapak-bapaknya yang narsis
Ditengah keterbatasan, biasanya orang menjadi kreatif. Betul tidak ya? Seperti Macgyver (film jadul nih...) yang selalu menemukan ide-ide diantara keterbatasan alat. Begitupun bagi kami yang ada di desa. Tak ada tempat wisata, bukan berarti tak bisa rekreasi bersama keluarga. Seperti cerita saya minggu lalu tentang Wisata Murah Meriah di Pantai Mina Margomulyo Tayu, hari ahad kemarin (17 April), kamipun kembali jalan-jalan di tempat yang murah meriah. #sukayangmurah-murah. :D

Kali ini kami jalan-jalan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Banyutowo yang ada di Desa Banyutowo Kecamatan Dukuhseti. Seperti namanya tempat ini memang digunakan untuk lelang ikan. Tapi karena kami datang di pagi hari, belum ada aktifitas lelang disana. Biasanya lelang dimulai sekitar jam 1 siang. 

Di bangunan itu biasanya aktifitas lelang ikan dilakukan
Seperti biasa, jika ke laut di pagi hari, paling ingin dilihat adalah matahari terbit. Tapi lagi-lagi kami kesiangan. Maklum ya, kalau pergi dengan anak-anak pasti ada saja ribetnya. :)
Terlambat datang, matahari sudah meninggi
Ada banyak kapal di dermaga Laut Banyutowo yang menepi. Ada banyak keluarga yang menikmati udara laut pagi hari. Ada banyak penjual makanan yang mencari rejeki. Termasuk ada banyak anjing liar yang berkeliaran disana. Seperti itulah suasana pagi itu di TPI Banyutowo.
Kalau hari libur, pasti banyak yang datang
Dan kamipun menikmati pagi kami di hari ahad itu. Rekreasi yang tak menghabiskan banyak biaya dan anak-anakpun merasa senang. Dan lagi, kata orang tua udara laut di pagi hari bisa menyembuhkan batuk. Alhamdulillah, setelah malam hari tak bisa tidur karena batuk, anak bungsuku setelah ke laut batuknya jauh berkurang. 
Anak bungsuku suka melihat ke laut lepas
Kebersamaan bersama keluarga memang selalu menjadi momen yang menyenangkan. Apapun keadaannya, jika dinikmati dengan hati penuh syukur, hal sederhanapun membuat kita bahagia. Seperti itulah kami menikmati ahad pagi kami. Bagaimana dengan sahabat?

Monday, 11 April 2016

WISATA MURAH MERIAH DI PANTAI MINA MARGOMULYO TAYU

Rasanya begitu bersyukur kalau Abi libur di hari ahad. Jadi, beliau mengajar di madrasah yang hari liburnya adalah jum'at. Sedang hari liburku dan anak-anak di hari ahad. Jarang nyambung kan? Jadi, waktu yang berharga itupun kami habiskan bersama.

Dan inilah liburan pilihan kami kali ini... Kami jalan-jalan pagi di Pantai Mina yang ada di Desa Margomulyo, Tayu.
Gapura ini kira-kira 8 km-an dari pusat Kota Tayu, ada di timur Jalan Tayu-Juwana
Tadinya kami merencanakan pergi setelah subuhan. Inginnya melihat sunrise di tepi pantai. Tapi ternyata kami kesiangan, jadi jam 05.15 baru berangkat dari rumah. Nah, jam segitu sudah terlalu siang kalau ingin menikmati keindahan sunrise. 

Jajaran tambak akan menyambut kehadiranmu

Dan pohon-pohon bakau berdiri di sepanjang jalan menuju pantai
Benar saja, sampai Pantai Mina, matahari sudah mulai meninggi. Menyisakan awan kemerahan diatas ufuk timur. Sudahlah. Tidak apa-apa. Toh, kami tetap bisa bersenang-senang. 
Kami bersenang-senang disini
Anak terbesarku mencari-cari yuyu kecil diantara lumpur pantai. Anak keduaku malah berlarian diatas lumpur yang mulai mengering, namun tak sepenuhnya kering. Hingga kakinya terperosok kedalam lumpur yang hitam. Anak ketigaku bermain lempar batu di muara pantai. Ia kesenangan tiap lemparannya menimbulkan bunyi kecipak di air muara itu. 
Banyak keluarga lain juga
Kami tidak sendiri, lho... Ada banyak keluarga lain yang menghabiskan pagi di Pantai Mina. Pantai ini memang cukup favorit untuk wisata murah meriah, menghabiskan waktu bersama keluarga. Sayangnya memang tempat ini belum dikelola dengan baik. Kalau saja dikelola dengan baik, mungkin bisa jadi tambahan PADes (Pendapatan Asli Desa). Hihihi... 

Hal-hal yang bisa diperbaiki, misalnya:

1. Akses jalan menuju Pantai Mina.
Memang akses jalan menuju pantai sudah diaspal sejak beberapa tahun lalu. Tapi banyak yang sudah rusak. Sangat bagus jika bisa diperbaiki dengan dana desa. Dengan rabat beton mungkin bagus ya... Hehe, maunya... Jalan itu kan juga menuju tambak, jadi akan lebih memberikan akses ekonomi untuk masyarakat juga.

Aspal mulai mengelupas
2. Fasilitas untuk pengunjung Pantai Mina.
Pantai Mina hanya ramai di pagi hari. Mungkin karena di siang hari matahari akan sangat menyengat. Coba kalau ada tempat berteduh. Dibuat gubuk-gubuk gitu... Lalu ada yang jualan es juga. Meningkatkan perekonomian warga sekitar juga kan? #ngayaltingkattinggi. 
Yang dibelakang sana jualan kopi panas dan wedang-wedang lain
3. Pengelolaan profesional melalui Bumdes.
Jadi, percuma kan kalau fasilitasnya sudah dipenuhi, tapi tidak ada yang mengelola. Misalnya, selain warga desa, ada biaya untuk memasuki wilayah Pantai Mina. Kalau dikelola melalui unit usaha di Bumdes (Badan Usaha Milik Desa), sepertinya keren ya... #ngayallagi. Kan bisa jadi PADes tuh... 
Dengan pengelolaan yang baik, pantai akan lebih indah, pengunjungpun lebih banyak
Saya ini kalau lihat potensi desa, memang suka ngayal-ngayal gitu. Maklumlah, tiap hari berjibaku dengan pemberdayaan masyarakat desa. Jadi, suka gemes kalau hal-hal potensial itu belum dikelola dengan maksimal. 


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...