Wednesday, 22 June 2016

MODERASI

Assalamu'alaikum, Sahabat...


Beberapa hari ini saya akhirnya pakai moderasi komentar di blog saya. Sebelumnya saya merasa memoderasi komentar itu tidak perlu. Apalah saya ini... Komentar di blog saya juga tidak banyak. Jadi, semua komentar saya terima, bahkan yang "jualan jamu" sekalipun. 

Sampai beberapa hari lalu ada komentar masuk yang kalimatnya tidak sopan menurut saya. Kalimat itu terlalu tidak sopan diucapkan kepada seorang wanita. Pokoknya kalau di dunia nyata, saya belum pernah mendengar kalimat yang seperti itu. Dan saya langsung menghapus komentar tersebut sesaat setelah membacanya. 

Ah, dan saya jadi tahu manfaat moderasi komentar. Kenapa beberapa blog menggunakannya. Hihi, lemotnya saya...

Menurut saya moderasi komentar di blog salah satunya berguna untuk menyaring komentar apakah layak ditampilkan atau tidak. Pemilik blog bisa memilih komentar yang menurutnya layak ditampilkan di blognya. Dan setiap pemilik blog pasti punya standar kelayakannya masing-masing. Alasan memakai moderasipun pasti beragam. Seperti saya yang tidak ingin ada kata tidak sopan di blog saya, pemilik blog lain mungkin juga punya alasan yang berbeda.

Dan bercerita tentang moderasi dan saring-menyaring, kok saya ingat dengan "saringan" yang lain. Saya jadi ingat hadis di bawah ini:

Dari Wabishah bin Ma'bad RA, beliau berkata, "Aku datang kepada Rasulullah SAW, kemudian beliau berkata, 'Kamu datang untuk bertanya tentang kebaikan?' Aku menjawab, 'Benar', kemudian beliau bersabda, 'Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan adalah apa saja yang menenangkan hati dan jiwamu. Sedangkan dosa adalah apa yang menyebabkan hati bimbang dan cemas meski banyak orang mengatakan bahwa hal tersebut adalah kebaikan'." (HR. Ahmad, Ath-Thabrani, dan Al-Baihaqi).

Jadi, yang saya maksud "saringan" itu adalah hati. Hehe... Saya suka begitu. Ngomong apa, yang diingat apa. Kadang tidak nyambung. Tapi tetap lah, ayo disambung lagi...

Di dunia nyata kita pasti melakukan banyak aktifitas yang berhubungan dengan orang lain. Dalam aktifitas itu, mungkin ada masukan positif dan negatif. Masukan-masukan itu, pastilah mempengaruhi sikap kita. Masukan positif tentunya melahirkan sikap yang positif. Masukan negatif, jika kita tidak menyaringnya barangkali juga akan melahirkan sikap yang negatif.

Pertanyaannya, seberapa efektif saringan dalam diri kita? Jika saringan itu adalah "hati", seberapa mampu ia membedakan kebaikan dan dosa?

Jika seorang mempunyai hati yang sehat, biasanya akan terluka jika dirinya melakukan kemaksiatan, sehingga dengan segera ia akan bertaubat, sebagaimana firman Allah, "Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya." (QS. Al-A'raaf: 201).

Sebaliknya, hati yang sakit tidak akan merasa terluka jika melakukan kemaksiatan. Biasa saja dengan dosa. Na'udzubillahi min dzalik. Semoga kita dijauhkan dari hati yang sakit, apalagi hati yang mati. 

Kalau menurut Ustad Muhammad Arifin Ilham, tanda-tanda hati yang mati adalah:
  1. Meninggalkan sholat tanda uzur syar'i.
  2. Melakukan kemaksiatan atau dosa dengan bangga.
  3. Membenci Al-Qur'an.
  4. Gemar bermaksiat dan mencintai kemaksiatan.
  5. Sibuk hanya mempergunjing dan buruk sangka serta merasa dirinya lebih suci.
  6. Sangat benci dengan nasehat baik dan fatwa-fatwa ulama.
  7. Tidak ada rasa takut akan peringatan kematian, alam kubur dan akhirat.
  8. Gila dunia bahkan tidak peduli halal haram yang penting kaya.
  9. Masa bodoh terhadap keadaan dan urusan orang lain.
  10. Pendendam hebat.
  11. Sangat pelit.
  12. Cepat marah, angkuh dan pendengki.
Ngeri ya, kalau hati kita sudah mati. Nah, kalau begitu, apakah hatimu siap melakukan moderasi? :)

Bahan Bacaan:
https://muslimah.or.id/3281-tanyakan-pada-hatimu.html 
https://muslim.or.id/8082-tanda-hati-yang-sakit.html
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/04/21/m2td83-inilah-tandatanda-matinya-hati


Friday, 10 June 2016

MENEMUKAN KESALAHAN SENDIRI

Assalamu'alaikum, Sahabat...
Menemukan kesalahan sendiri itu seringkali tak semudah menemukan kesalahan orang lain. Tapi sepertinya saya harus belajar muhasabah diri. Meneliti kembali hal yang sudah terlewat, mengevaluasi dan memperbaikinya. 

Dari tulisan Tentang Wanita yang merupakan tugas dari Kelas Menulis Online (KMO) yang saya ikuti, saya harus menemukan 10 kesalahan. Jadi, dari kacamata minus saya, inilah 10 kesalahan yang saya lakukan:
  1. Entah kenapa di paragraf kedua, saya merasa terlalu banyak kata "itu". Tapi saya belum tahu "itu" mana yang harus saya hilangkan.
  2. Tanda baca belum tepat penempatannya.
  3. Kata sambung sering belum tepat penempatannya. 
  4. Ada kata yang tidak konsisten. Misal, antara Habibi dan Habibie.
  5. Pemenggalan paragraf belum sesuai.
  6. Ada typo, beberapa sudah diperbaiki.
  7. Alur kurang mengalir.
  8. Penggalian gagasan kurang mendalam.
  9. Data yang harus dihadirkan kurang digali.
  10. EYD harus diperbaiki lagi.
Aduh...susah sekali. Saya harap ada seseorang yang bisa mengingatkan saya.

TENTANG WANITA


Assalamu'alaikum, Sahabat...

Tulisan saya ini adalah tugas 4 Kelas KMO.
Pemateri : Ernawatililys.
__________________________________________________________________________________

“Saya pamit ke keluarga saya. Kalau saya mati menangani ini, tolong diikhlaskan. Tidak boleh ada keluarga saya nuntut atas kematian saya.”[1]
Itu adalah satu penggalan episode sejarah seorang wanita. Siapa yang tak kenal wanita pemberani itu? Berjuta orang pasti menyaksikan saat ia mengucapkan kalimat itu ketika diwawancara Najwa Shihab di Mata Najwa. Ia tahu benar resiko yang dihadapinya sebagai pembuat kebijakan. Resiko yang bisa berarti nyawa.
Saat wawancara, ia bercerita tentang pertemuannya dengan Pekerja Seks Komersial (PSK) berusia 60 tahun yang mempunyai pelanggan anak-anak usia SD dan SMP. Ia yang begitu gagah saat marah kepada rekanan yang tak membuat bangunan pasar seperti perencanaan. Ia yang tak segan mengatur lalu lintas sendiri saat ada kemacetan. Ia, wanita kuat itu, menangis. Pasti hatinya begitu teriris ketika tahu ada nenek-nenek yang dalam keadaan normal seharusnya mulai memperbanyak ibadah sebagai bekal menghadap-Nya, tetapi masih menjual jasa seks dengan bayaran beberapa ribu saja. Lebih menyedihkannya, anak SD dan SMP yang menjadi pelanggannya. Usia yang tak seharusnya sudah mengenal hubungan seks.
Satu peristiwa itu dan disusul peristiwa lainnya juga, ia membulatkan tekad untuk menuntaskan permasalahan seks komersial di Kota Surabaya. Ia akan menutup semua lokalisasi prostitusi di Kota Surabaya, termasuk Dolly yang terkenal itu. Ia ingin memuliakan wanita, ia ingin menyelamatkan anak-anak. Karena ia tahu jabatannya adalah amanah, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban kelak di hari akhir.
Insya Allah kita semua mengenal wanita kuat dan pemberani itu, yang sekaligus juga tak kehilangan sifat lembut seorang wanita. Wanita itu adalah Tri Rismaharini, Walikota Surabaya periode 2010 – 2015. Yang kemudian terpilih lagi untuk periode 2016 – 2021. Lebih dari 80% warga Kota Surabaya memilihnya lagi. Ia menang telak, menandakan masyarakat mencintainya dan percaya padanya.
Dalam gambaran yang lain, kita pernah mengenal sosok Ibu Negara Ainun Habibi. Seorang wanita anggun lulusan kedokteran Universitas Indonesia (UI). Setelah lulus sebagai dokter di tahun 1961, ia sempat bekerja di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, di bagian perawatan anak-anak.
Satu tahun setelahnya, yaitu di bulan Mei 1962, ia menikah dengan B.J. Habibie. Saat itulah ia meninggalkan pekerjaannya dan mengikuti suaminya ke Jerman. Ia memilih menjadi ibu rumah tangga setelah menikah. Mungkin sebagian kita tak rela setelah sekolah tinggi dan mendapat gelar, kemudian menjadi “ibu rumah tangga saja”.
Tetapi Ainun Habibie menyatakan, “Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang. Dan sangat mungkin saya bekerja waktu itu. Namun saya pikir, buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan resiko kami sendiri kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya ketambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang sendiri, saya bentuk sendiri pribadinya? Anak saya akan tidak mempunyai ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak, seimbangkah orangtua kehilangan anak, dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Tiga setengah tahun kami bertiga hidup begitu.”[2]
Meski memilih menjadi ibu rumah tangga, tak berarti Ainun hanya berdiam diri. Ia aktif dalam bidang sosial. Ia pernah menjadi Ketua Balai Bina Kerta Raharja/BBKR yang merupakan wadah pendidikan dan pelatihan untuk menampung gelandangan dan pengemis. Ia juga pernah menjadi Ketua Umum Perkumpulan Penyantun Mata Tunanetra Indonesia (PPMTI-Bank Mata). Juga pernah menjadi Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat ORBIT atau Yayasan Amal Abadi Beasiswa Orbit.
Dan ia tak melupakan tugasnya sebagai ibu dan istri. Mempunyai suami yang seorang enginer pesawat terbang, ia tetap aktif mendampingi dan memberi dukungan untuk suami. B.J. Habibie menceritakan bagaimana Ainun berhemat mengatur keuangan selama berada di Jerman karena kondisi keuangan yang tipis saat itu. Ia membuat menu yang murah sekaligus sehat, ia juga menjahit sendiri baju untuk anaknya, ia juga selalu memeriksa kondisi kesehatan B.J. Habibie sendiri. Pun ketika B.J. Habibie telah menjadi pejabat negara, Ainun selalu mendukung dan menjadi teman diskusi bagi suaminya. Berbagai dukungan yang diberikan itulah, maka tak heran Habibie merasa sangat kehilangan ketika Ainun pergi untuk selamanya.
Seperti itulah gambaran wanita masa kini yang eksistensinya sama-sama diakui, meski keduanya memilih jalan yang berbeda. Mereka ada dan mereka diakui dengan kapasitasnya masing-masing.
Tentu saja, ada bermilyar wanita lain di dunia ini. Dan banyak juga yang menginspirasi dengan prestasi-prestasinya. Wanita patut bersyukur hidup di masa sekarang ini, dimana wanita bisa memilih apa yang ingin dilakukan. Karena jika kita menengok kembali ke belakang, kita akan menjumpai wanita masih harus berjuang untuk sebuah pengakuan.
Di masa keemasan Yunani Kuno, perlakuan terhadap wanita sangat memprihatinkan. Wanita-wanita dari kaum elite dikurung di dalam istana, tak ada kesempatan keluar istana. Sedangkan wanita dari kalangan bawah diperjualbelikan seperti barang. Para wanita itu tak mempunyai hak sipil dan hak waris sama sekali. Sekalinya mereka diberikan kebebasan, mereka justru terjebak dalam prostitusi yang dilegalkan. Prostitusi masa itu bukanlah hal buruk dan dilakukan secara terbuka.
Pada abad ke-4 Sebelum Masehi, Pseudo-Demosthenes pernah menyatakan di depan majelis warga negara, “Kita harus memiliki pelacur untuk kesenangan, selir untuk memenuhi kebutuhan kita sehari-hari, dan pasangan kita untuk memberi kita anak-anak yang sah dan menjadi penjaga setia rumah kita.”[3]
Begitupun masa peradaban Romawi. Wanita yang masih gadis berada dalam kekuasaan ayahnya. Sedangkan yang telah menikah berada dalam kekuasaan suaminya. Dan yang dimaksud kekuasaan itu mencakup kewenangan untuk menjual, mengusir, menganiaya dan membunuh. Menyedihkan sekali.
Di Tanah Arab masa sebelum datangnya Islam atau masa jahiliyyah, mereka menganggap aib jika mempunyai anak berjenis kelamin wanita. Mereka bahkan tak segan mengubur hidup-hidup anak itu. Sebagaimana yang disebutkan dalam Surah An-Nahl ayat 58 – 59, “Dan bila salah seorang dari mereka diberitakan dengan kelahiran anak wanita, berubah kecewalah wajahnya dan dia dalam keadaan marah. Dia berusaha menyembunyikan dari masyarakatnya apa yang diberitakan kepadanya. Apakah dibiarkan hidup dalam keadaan hina atau dia kubur. Alangkah jahatnya apa yang mereka hukumi.”
Di Inggris hingga tahun 1800-an pemerintahnya masih mengakui hak suami untuk menjual istrinya. Wanita juga belum mempunyai hak kepemilikan dan hak menuntut di pangadilan. Seperti itulah terkungkungnya wanita saat itu.
Bagaimana di Indonesia?
Bersambung....

[1] Petikan wawancara Tri Rismaharini di Mata Najwa pada tanggal 12 Pebruari 2014. Sampai saat ini wawancara tersebut masih bisa dilihat di Youtube.
[2] Bacharuddin Jusuf Habibie, Habibie dan Ainun, PT. THC Mandiri, 2010, 39.
[3] https:/id.m.wikipedia.org/wiki/Prostitusi_di_Yunani_kuno.

PETA PIKIRAN: MENULIS MIMPI

Assalamu'alaikum, Sahabat...

Karena saya adalah seorang wanita, hal yang paling dekat dengan pikiran saya juga tentang wanita. Ada kejadian-kejadian di sekitar saya, yang kadang sederhana, tetapi menggungah rasa. Jalinan peristiwa yang melibatkan wanita, jalinan pertanyaan yang dilontarkan diantara sesama wanita, semua tentang wanita.

Dan tulisan ini sebenarnya adalah proses belajar saya atas peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar saya. Sekaligus juga proses belajar dalam dunia tulis-menulis yang ingin saya selami. Sekali lagi, menguatkan tekad. Bismillahirrohmanirrohim...






Ide              : Wanita

Tema          : Wanita dan Permasalahannya

Judul          : Wanita, Peluk Cinta Untukmu



Bab 1          : Siapakah kamu, Wahai Wanita?

1.1              : Sejarah Panjang Wanita

1.2              : Keistimewaan

1.3              : Kelemahan

Dalam Bab ini akan disampaikan tentang wanita secara umum. Apa yang pernah terjadi dengan wanita di segala zaman, juga tentang keistimewaan dan kelemahan wanita.



Bab 2          : Saat Wanita Belum Menikah

2.1              : Perasaan Wanita dalam Penantian

2.2              : Bekali Diri dengan Ilmu

2.2              : Menjaga Iffah

2.3              :    Do’a

Bercerita tentang wanita yang belum menikah. Bagaimana perasaan yang dipendamnya dan apa sebaiknya yang dilakukan selama dalam penantian.



Bab 3          : Setelah Wanita Menikah

3.1              : Hubungan dengan suami

3.2              : Harmonis dengan Keluarga dan Lingkungan

3.3              : Memilih Menjadi Ibu Rumah Tangga

3.4              : Memilih Menjadi Ibu Bekerja

Setelah menikah, wanita bukan seorang yang “bebas” lagi. Ada suami, ada keluarga, ada lingkungan di sekitarnya yang harus diperhatikan. Pun ketika memilih menjadi ibu rumah tangga ataupun ibu bekerja, semua adalah pilihan yang ada tanggung jawabnya.



Bab 4          : Peluk Cinta Untukmu, Wanita

4.1              : Selalu  Bersama Allah

4.2              : Komunitas Pendukung

4.3              : Tersenyum

Bab ini akan mengajak wanita untuk selalu optimis. Ada banyak dukungan di sekitar mereka.

Semoga peta pikiran dia atas, bisa segera diwujudkan. Aamiin.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...