Friday, 10 June 2016

TENTANG WANITA


Assalamu'alaikum, Sahabat...

Tulisan saya ini adalah tugas 4 Kelas KMO.
Pemateri : Ernawatililys.
__________________________________________________________________________________

“Saya pamit ke keluarga saya. Kalau saya mati menangani ini, tolong diikhlaskan. Tidak boleh ada keluarga saya nuntut atas kematian saya.”[1]
Itu adalah satu penggalan episode sejarah seorang wanita. Siapa yang tak kenal wanita pemberani itu? Berjuta orang pasti menyaksikan saat ia mengucapkan kalimat itu ketika diwawancara Najwa Shihab di Mata Najwa. Ia tahu benar resiko yang dihadapinya sebagai pembuat kebijakan. Resiko yang bisa berarti nyawa.
Saat wawancara, ia bercerita tentang pertemuannya dengan Pekerja Seks Komersial (PSK) berusia 60 tahun yang mempunyai pelanggan anak-anak usia SD dan SMP. Ia yang begitu gagah saat marah kepada rekanan yang tak membuat bangunan pasar seperti perencanaan. Ia yang tak segan mengatur lalu lintas sendiri saat ada kemacetan. Ia, wanita kuat itu, menangis. Pasti hatinya begitu teriris ketika tahu ada nenek-nenek yang dalam keadaan normal seharusnya mulai memperbanyak ibadah sebagai bekal menghadap-Nya, tetapi masih menjual jasa seks dengan bayaran beberapa ribu saja. Lebih menyedihkannya, anak SD dan SMP yang menjadi pelanggannya. Usia yang tak seharusnya sudah mengenal hubungan seks.
Satu peristiwa itu dan disusul peristiwa lainnya juga, ia membulatkan tekad untuk menuntaskan permasalahan seks komersial di Kota Surabaya. Ia akan menutup semua lokalisasi prostitusi di Kota Surabaya, termasuk Dolly yang terkenal itu. Ia ingin memuliakan wanita, ia ingin menyelamatkan anak-anak. Karena ia tahu jabatannya adalah amanah, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban kelak di hari akhir.
Insya Allah kita semua mengenal wanita kuat dan pemberani itu, yang sekaligus juga tak kehilangan sifat lembut seorang wanita. Wanita itu adalah Tri Rismaharini, Walikota Surabaya periode 2010 – 2015. Yang kemudian terpilih lagi untuk periode 2016 – 2021. Lebih dari 80% warga Kota Surabaya memilihnya lagi. Ia menang telak, menandakan masyarakat mencintainya dan percaya padanya.
Dalam gambaran yang lain, kita pernah mengenal sosok Ibu Negara Ainun Habibi. Seorang wanita anggun lulusan kedokteran Universitas Indonesia (UI). Setelah lulus sebagai dokter di tahun 1961, ia sempat bekerja di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, di bagian perawatan anak-anak.
Satu tahun setelahnya, yaitu di bulan Mei 1962, ia menikah dengan B.J. Habibie. Saat itulah ia meninggalkan pekerjaannya dan mengikuti suaminya ke Jerman. Ia memilih menjadi ibu rumah tangga setelah menikah. Mungkin sebagian kita tak rela setelah sekolah tinggi dan mendapat gelar, kemudian menjadi “ibu rumah tangga saja”.
Tetapi Ainun Habibie menyatakan, “Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang. Dan sangat mungkin saya bekerja waktu itu. Namun saya pikir, buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan resiko kami sendiri kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya ketambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang sendiri, saya bentuk sendiri pribadinya? Anak saya akan tidak mempunyai ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak, seimbangkah orangtua kehilangan anak, dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Tiga setengah tahun kami bertiga hidup begitu.”[2]
Meski memilih menjadi ibu rumah tangga, tak berarti Ainun hanya berdiam diri. Ia aktif dalam bidang sosial. Ia pernah menjadi Ketua Balai Bina Kerta Raharja/BBKR yang merupakan wadah pendidikan dan pelatihan untuk menampung gelandangan dan pengemis. Ia juga pernah menjadi Ketua Umum Perkumpulan Penyantun Mata Tunanetra Indonesia (PPMTI-Bank Mata). Juga pernah menjadi Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat ORBIT atau Yayasan Amal Abadi Beasiswa Orbit.
Dan ia tak melupakan tugasnya sebagai ibu dan istri. Mempunyai suami yang seorang enginer pesawat terbang, ia tetap aktif mendampingi dan memberi dukungan untuk suami. B.J. Habibie menceritakan bagaimana Ainun berhemat mengatur keuangan selama berada di Jerman karena kondisi keuangan yang tipis saat itu. Ia membuat menu yang murah sekaligus sehat, ia juga menjahit sendiri baju untuk anaknya, ia juga selalu memeriksa kondisi kesehatan B.J. Habibie sendiri. Pun ketika B.J. Habibie telah menjadi pejabat negara, Ainun selalu mendukung dan menjadi teman diskusi bagi suaminya. Berbagai dukungan yang diberikan itulah, maka tak heran Habibie merasa sangat kehilangan ketika Ainun pergi untuk selamanya.
Seperti itulah gambaran wanita masa kini yang eksistensinya sama-sama diakui, meski keduanya memilih jalan yang berbeda. Mereka ada dan mereka diakui dengan kapasitasnya masing-masing.
Tentu saja, ada bermilyar wanita lain di dunia ini. Dan banyak juga yang menginspirasi dengan prestasi-prestasinya. Wanita patut bersyukur hidup di masa sekarang ini, dimana wanita bisa memilih apa yang ingin dilakukan. Karena jika kita menengok kembali ke belakang, kita akan menjumpai wanita masih harus berjuang untuk sebuah pengakuan.
Di masa keemasan Yunani Kuno, perlakuan terhadap wanita sangat memprihatinkan. Wanita-wanita dari kaum elite dikurung di dalam istana, tak ada kesempatan keluar istana. Sedangkan wanita dari kalangan bawah diperjualbelikan seperti barang. Para wanita itu tak mempunyai hak sipil dan hak waris sama sekali. Sekalinya mereka diberikan kebebasan, mereka justru terjebak dalam prostitusi yang dilegalkan. Prostitusi masa itu bukanlah hal buruk dan dilakukan secara terbuka.
Pada abad ke-4 Sebelum Masehi, Pseudo-Demosthenes pernah menyatakan di depan majelis warga negara, “Kita harus memiliki pelacur untuk kesenangan, selir untuk memenuhi kebutuhan kita sehari-hari, dan pasangan kita untuk memberi kita anak-anak yang sah dan menjadi penjaga setia rumah kita.”[3]
Begitupun masa peradaban Romawi. Wanita yang masih gadis berada dalam kekuasaan ayahnya. Sedangkan yang telah menikah berada dalam kekuasaan suaminya. Dan yang dimaksud kekuasaan itu mencakup kewenangan untuk menjual, mengusir, menganiaya dan membunuh. Menyedihkan sekali.
Di Tanah Arab masa sebelum datangnya Islam atau masa jahiliyyah, mereka menganggap aib jika mempunyai anak berjenis kelamin wanita. Mereka bahkan tak segan mengubur hidup-hidup anak itu. Sebagaimana yang disebutkan dalam Surah An-Nahl ayat 58 – 59, “Dan bila salah seorang dari mereka diberitakan dengan kelahiran anak wanita, berubah kecewalah wajahnya dan dia dalam keadaan marah. Dia berusaha menyembunyikan dari masyarakatnya apa yang diberitakan kepadanya. Apakah dibiarkan hidup dalam keadaan hina atau dia kubur. Alangkah jahatnya apa yang mereka hukumi.”
Di Inggris hingga tahun 1800-an pemerintahnya masih mengakui hak suami untuk menjual istrinya. Wanita juga belum mempunyai hak kepemilikan dan hak menuntut di pangadilan. Seperti itulah terkungkungnya wanita saat itu.
Bagaimana di Indonesia?
Bersambung....

[1] Petikan wawancara Tri Rismaharini di Mata Najwa pada tanggal 12 Pebruari 2014. Sampai saat ini wawancara tersebut masih bisa dilihat di Youtube.
[2] Bacharuddin Jusuf Habibie, Habibie dan Ainun, PT. THC Mandiri, 2010, 39.
[3] https:/id.m.wikipedia.org/wiki/Prostitusi_di_Yunani_kuno.

6 comments:

  1. Zaman dulu wanita kaya serasa burung dalm sangkar emas
    Tapi yang kaum papa dijadikan budak ya mb sungguh menyedihkan ketika tahu sejarahnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bersyukur ya Mbak, kita yg hidup di masa sekarang.

      Aih, terima kasih lho kunjungannya...

      Delete
  2. Ada beberapa pandangan berbeda tentang wanita tergantung siapa yang melihatnya ya, mbak Ummi. Ada yang mengganggap hina, tidak berguna namun ada juga yang memuliakannya.

    Kita sebagai wanita harus berjuang mengangkat harkat dan martabat tanpa melanggar norma-norma agama ya mbak :)

    ReplyDelete
  3. Yang di Romawi bikin bulu kuduk merinding

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan kita jadi bersyukur hidup di jaman ini...

      Delete

Terima kasih telah memberikan komentar di blog saya. Mohon untuk memberi komentar dengan kata yang santun. Terima kasih. :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...