Sunday, 31 July 2016

MENYESAL DENGAN PERLAKUAN TERHADAP ANAK?

Assalamu'alaikum, Sahabat...

Apa harapan kita untuk anak-anak? Mereka menjadi anak yang sholih, kemudian menjadi orang sukses dan tetap berbakti kepada kita orang tuanya? Mungkin begitu. Yang pasti tidak mungkin kita mengharapkan keburukan untuk anak kita.

Untuk tujuan baik itu, pastinya kita berusaha mendidik anak dengan sebaik-baiknya. Kita berusaha melahap semua bacaan-bacaan tentang parenting demi mendidik anak agar menjadi manusia yang bisa dibanggakan. Dan kitapun sampai hafal di luar kepala teori-teori parenting yang telah kita kunyah-kunyah bacaannya itu. Namun seberapa banyak teori yang kita praktekkan?

Kalau saya... Entah. Saya mungkin orang yang kebanyakan teori tapi minim praktek. 

Misalnya begini... Satu saat saya mengajari anak pelajaran matematika. Dia cukup kesulitan dalam pelajaran itu. Satu penjelasan dia tidak paham, saya masih bersabar. Dua kali penjelasan, saya masih mencoba bertahan. Tiga kali, lalu sampai yang kesekian kali, saya mulai tak sabar dan saya marah. Tentu anak yang menjadi obyek kemarahan saya. Meski saya bukan tipe perempuan yang marah dengan meledak-ledak, tapi marah tetaplah marah. Dan anak saya pasti merasakan auranya.

Masalahnya adalah... Secara teori saya tahu bahwa setiap anak mempunyai potensinya masing-masing. Seperti pohon kelapa yang tidak mungkin berbuah mangga, pisang, atau jambu. Anak yang mempunyai minat dan bakat di satu bidang, tak seharusnya dipaksakan untuk menguasai bidang yang lain. Tetapi ketika saya menemui kenyataan bahwa anak saya tak bisa matematika, saya marah. Padahal saya tahu, anak saya bakatnya bukan di pelajaran itu. Buktinya dia punya pelajaran lain yang menjadi favorit dan nilainya bagus di pelajaran itu.

Dan seringnya saya menyesal setelah memarahi anak. Tetapi seringkali pula saya masih mengedepankan ego saya di banyak kejadian lain, atas nama mendidik anak. Anak tak segera sholat, saya marah. Anak menumpahkan air, saya marah. Anak tak merapikan mainan, saya marah. Padahal sebenarnya saya hanya perlu sedikit bersabar. Mengajarinya perlahan sambil menancapkan kesadaran di relung hatinya, bukan memaksanya melakukan sesuatu yang mungkin dia belum mengerti maksudnya.

Di satu sisi, kadang saya tidak cukup telaten terhadap anak. Seperti cerita yang ini...

Kejadiannya waktu ketika saya melahirkan anak ketiga. Dengan kelahiran anak ketiga ini, otomatis waktu saya banyak tersita untuk memperhatikannya. Akibatnya ada si kakak kedua yang menjadi aleman, mendadak tak mau mengaji di TPQ. Dia cari perhatian saya. Dia maunya saya yang mengantar ke TPQ, tidak mau diantar ayahnya atau mbak asisten. Hiks... 

Akhirnya si kakak kedua ini tidak TPQ dalam kurun waktu yang lama. Dan di kelas 1 SD ini, dia baru memulai jilid 1 lagi. Jauh  di bawah pencapaian kakak pertamanya saat kelas yang sama. Sayapun menyesal karena tak cukup telaten saat kelahiran anak ketiga dulu.

Menyesal telah marah pada anak. Menyesal karena tidak telaten. Atau menyesal pada perlakuan-perlakuan yang lain, seperti terlalu membebaskannya main game, dan sebagainya. Yah, bukan sekali dua saya menyesal dengan cara saya mendampingi anak-anak saya. 

Jadi, ini hanyalah penggalan cerita-cerita saya dalam mengasuh anak. Sering ada hal-hal yang saya sesalkan karena ternyata tak seindah teori-teori yang saya baca. Karena ternyata saya belum bisa menjadi orang tua yang baik sepenuhnya.

Saya dan suami tentu selalu mengevaluasi cara-cara kami dalam mengasuh anak. Yang kami sesali, kemudian berusaha kami perbaiki. Kami berharap semakin hari kami bisa semakin baik. Anak-anak berkembang, kamipun berkembang. 

Dan pada akhirnya kamipun menyadari bahwa tak ada manusia yang sempurna, termasuk dalam peran sebagai orang tua. Meski begitu, kami masih punya DIA kan? Jadi meski kami tak sempurna, kami punya Yang Maha Sempurna. 

Berdo'a. Ya, insya Allah kami tak meninggalkan do'a kepada-Nya untuk kebaikan anak-anak kami. Karena itulah yang kami bisa untuk menyempurnakan ketidaksempurnaan kami.

Wallahu a'lam

Wassalamu'alaikum
Ummi


Monday, 25 July 2016

KETIKA SI KECIL SUKA MENGULANG KATA

Assalamu'alaikum, Sahabat...

Pernah merasa gemas dengan pertanyaan si kecil yang diulang-ulang? Saya sih begitu. Seperti penggalan percakapan saya dengan putri saya yang berusia 21 bulan ini.

Putri: Abi ndi? (Abi pundi? = Abi mana?)
Saya: Sekolah
Putri: Ana? (Menanyakan kakak kedua)
Saya: Sekolah
Putri: Ia? (Menanyakan kakak pertama)
Saya: Sekolah

Pertanyaanpun diulang.
Putri: Abi ndi?
Saya: Sekolah
Putri: Ana?
Saya: Sekolah
Putri: Ia?
Saya: Sekolah

Itu adalah pertanyaan rutin putri kecilku setiap pagi hari ketika mengantar kepergian ayah dan kakak-kakaknya berangkat ke sekolah. Dan tahukah Sahabat, berapa kali ia mengulang pertanyaan itu? Bisa sampai 10 kali! :D

Kadang ketika ia menemukan sesuatu yang ia belum pernah tahupun begitu. Misalnya seperti ini,

"Apa itu?", begitu pertanyaannya dalam bahasa yang belum jelas. 

"Kereta," jawab saya.

Iapun bertanya lagi. Kemudian lagi dan lagi. Sampai ia hafal jawabannya.

Kadang saya gemas dengan pertanyaan yang diulang-ulang itu. Namun menurut artikel yang pernah saya baca, dengan pengulangan kata  itu berarti si kecil sedang belajar menguasai kosakata dan keterampilan berbicara. Jadi saya memilih menanggapi pertanyaannya. Meski sebenarnya saya ini orang yang tidak sabaran, saya tetap berusaha. :)

Hal itu adalah fase yang memang biasa dilalui seorang anak dalam rangka belajar. Kalau saat ini saya sebagai bundanya lelah memberi jawaban, bagaimana saat mereka besar nanti? Barangkali anak akan mempunyai lebih banyak pertanyaan. Jaman internet seperti ini, jangan sampai mereka lebih nyaman bertanya ke google daripada orangtuanya. Lalu... Di google mereka dapat jawaban apa? Ngeri kalau dapat jawaban yang aneh-aneh kan? Huhu...

Berharapnya, jangan sampai saya menjadi orang tua yang mengabaikan pertanyaan anak. Ketika anak bertanya, saya melakukan kegiatan lain dan tak menjawab pertanyaan anak. Jangan sampai juga saya menjadi orang tua yang suka marah ketika anak memberi pertanyaan yang diulang-ulang. Karena mungkin itu akan melukai perasaan anak. Dan perlakuan sederhana semacam itu mungkin saja berdampak pada karakter mereka saat dewasa nanti. Ah, entahlah.

Karena sebenarnya mendampingi setiap fase tumbuh kembang anak juga proses belajar saya sebagai orang tua. Mencoba melakukan yang terbaik sebagai orang tua. Berharapnya saya dan suami bisa mengantarkan anak menjadi anak yang baik (sholih/sholihah) dan sukses dunia akhirat. Semoga bisa.

Bagaimana dengan Sahabat yang sudah menjadi orang tua? Pernah mengalami juga?

Wassalamu'alaikum.
Ummi


Sunday, 17 July 2016

ANAK DAN GADGET

Assalamu'alaikum, Sahabat...
Pengertian gadget kurang lebih adalah perangkat elektronik yang mempunyai fungsi khusus dan dirancang dengan adanya pembaharuan dari teknologi yang telah ada sebelumnya.

Contohnya saja, komputer (teknologi lama) dan laptop (gadget) atau radio (teknologi lama) dan mp3 (gadget). Atau yang paling kekinian adalah smartphone yang menggantikan telepon rumah.

Harus diakui bahwa kehidupan masa kini seakan tak bisa dipisahkan dari gadget, utamanya smartphone atau ponsel pintar. Ya, seperti namanya ponsel ini memang benar-benar pintar. Selain bisa digunakan untuk menelpon, ia juga bisa untuk berselancar di internet, untuk mendengarkan lagu, bahkan mencari alamat. Intinya sebenarnya ada banyak manfaat dari smartphone ini. Apalagi bagi yang bisa memanfaatkan sebaik-baiknya.

Namun, bagaimana jika yang memegang smartphone ini anak-anak?

Anak-anak adalah makhluk yang cerdas. Sebentar saja mengutak-atik si smartphone, ia sudah menguasai banyak hal, lebih banyak dari kita, para orang tua ini. Masalahnya, kadang mereka juga makhluk yang suka penasaran. Ada apa sih di youtube? Apa sih enaknya main pokemon go? Yah... Yang semacam itulah. 

Sedang kita yang lebih lama hidup ini, tahu benar ada banyak masalah di internet dan game-game itu. Meskipun kita juga tahu ada banyak manfaat yang bisa diambil juga. Sedangkan anak kan rasa ingin tahunya sangat besar.

Jadi, bagaimana ya? Apakah sebaiknya anak-anak kita biarkan saja. Kan biar mereka tidak ketinggalan jaman. Atau kita larang, sama sekali tidak boleh menyentuh gadget. Biar mereka tidak terpengaruh hal buruk dari internet. Atau pertengahan saja? Tidak dilarang tetapi juga tidak dibiarkan begitu saja. Main gadget silahkan, tetapi harus dalam pengawasan.

Tentang hal ini rasanya para orang tua masih berbeda pandangan ya. Kalau saya dan suami sih memilih yang pertengahan saja. Karena mereka hidup di masa kini, dan saat ini paling tidak mereka tahu tentang gadget, meski ada batasan yang kami tetapkan.

Kalau kata Umar bin Khattab RA, "Didiklah anakmu, karena mereka akan hidup di zaman yang berbeda dengan zamanmu."

Jadi kami memilih mendidik mereka sesuai kebutuhan zaman mereka.

Tetapi setiap orang tua pasti punya pertimbangannya sendiri. Dan setiap keluarga pasti punya aturannya sendiri. Jadi, apapun pilihannya, semoga kita bijak untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anak kita.

Wassalamu'alaikum
Ummi


Wednesday, 13 July 2016

AGAR ANAK SEMANGAT LAGI SETELAH LIBURAN SEKOLAH

Assalamu'alaikum, Sahabat...
Ayo, Sekolah...
Liburan sekolah kali ini benar-benar menjadi liburan panjang bagi anak-anak. Selain libur sekolah juga ada libur lebaran. Di tempat kami kebanyakan sekolah mulai masuk hari Senin, tanggal 18 Juli 2016 nanti.

Dan begitulah anak-anak kalau liburan. Ritme hidup mereka berubah. Kalau biasanya maksimal jam 9 malam sudah tidur, sekarang mereka bisa tidur di atas jam itu. Seperti anak saya yang kalau disuruh tidur selalu beralasan, "Besok kan libur, Bunda." Akibatnya paginya mereka bangun lebih siang.

Dan nanti ketika waktunya masuk sekolah, mereka harus menyesuaikan lagi dengan jadwal sebelum liburan. Nah, mengembalikan ritme selama liburan ke ritme sebelum liburan lagi, ini yang kadang sulit. Karena itulah hari pertama sekolah sering menjadi hari yang penuh drama bagi orang tua. :)

Kami juga pernah mengalami yang seperti itu. Pagi hari anak-anak susah dibangunkan. Disuruh mandi, inginnya main dulu. Disuruh sarapan, maunya nanti saja. Belum lagi ada anak yang rewel. Lalu tiba-tiba ada yang mogok sekolah. Pokoknya heboh, deh...

Tapi paling tidak sebagai orang tua, kita bisa meminimalkan kehebohan di pagi hari pertama masuk sekolah dengan menerapkan beberapa trik untuk membuat anak-anak bersemangat. 

Beberapa trik yang biasa saya gunakan adalah:

1. Informasikan hari masuk sekolah kepada anak jauh-jauh hari.
Biasanya beberapa hari sebelum masuk sekolah, saya sudah sampaikan ke anak-anak, bahwa sebentar lagi mereka sudah masuk sekolah. Jadi, anak-anak harus bangun pagi. Tidak boleh ada yang rewel kalau dibangunkan, harus semangat sekolah, begitu yang saya katakan pada anak-anak.

2. Malam hari sebelum masuk sekolah, anak-anak harus mulai tidur awal lagi.
Hal ini sebaiknya sudah dimulai sejak beberapa malam sebelum mereka masuk sekolah. Kalau dadakan, mereka yang terbiasa bangun siang, akan sangat susah dibangunkan. Kalau dari membangunkan mereka saja sudah penuh drama, seharian bisa-bisa mereka akan jadi rewel. Terutama untuk anak yang masih PAUD.

3. Jangan biarkan mereka tidur lagi setelah subuh.
Sejak puasa, sampai liburan, anak-anak jadi terbiasa tidur lagi setelah subuh. Kebiasaan ini harus dihilangkan lagi. Karena biasanya tidur setelah subuh itu membuat anak-anak jadi malas. 

Kalau Sahabat, bagaimana putra-putrinya? Biasanya tiap keluarga punya trik-trik tersendiri untuk menangani putra-putrinya kan?

Wassalamu'alaikum
Ummi

Saturday, 9 July 2016

ANGPAU LEBARAN ANAK, BUAT APA YA?

Assalamu'alaikum, Sahabat...

Kalau lebaran seperti ini, biasanya yang paling senang anak-anak. Sambil silaturahmi bertemu banyak teman dan keluarga, mereka juga senang karena ada banyak makanan selama berkunjung dari rumah ke rumah. Dan satu lagi yang paling membuat mereka bahagia, yaitu angpau.

Rasanya tradisi memberi angpau untuk anak-anak sudah umum dimana-mana ya... Di kota ataupun yang di desa seperti kami. Bahkan para orang tua sudah menukarkan uang besar dengan nominal uang yang lebih kecil jauh-jauh hari sebelum lebaran. Biasanya bank juga sudah sedia pecahan uang dua ribu, lima ribu, sepuluh ribu atau dua puluh ribuan bagi mereka yang ingin tukar uang.

Dan ketika waktunya bagi-bagi angpau, bahagialah anak-anak mendapat uang yang biasanya masih baru itu. Tapi setelah itu, angpaunya buat apa ya? Tidak bagus juga kalau angpau itu habis cuma buat jajan.

Mungkin sebagai orang tua, kita bisa mengarahkan mereka untuk apa angpau yang mereka dapat biar ada manfaatnya. Misalnya:

1. Dibelikan barang yang bermanfaat untuk anak.
Kalau memang ada kebutuhan anak yang ingin dibeli dan dirasa itu bermanfaat, angpau lebaran bisa dibelanjakan untuk itu. Jadi mereka juga belajar menggunakan uang untuk hal yang bermanfaat.

Seperti saat ini, lebaran kebetulan jatuh menjelang masuk sekolah setelah libur panjang. Kalau biasanya orang tua yang membelikan kebutuhan sekolah, kali ini anak-anak bisa belajar membelanjakan uangnya sendiri.

2. Ditabung.
Jika tidak ada kebutuhan yang mendesak, bisa juga melatih anak tidak boros dengan menabung. Bisa dengan membuka rekening sendiri, ditabung di sekolah, atau kalau jumlahnya tidak terlalu banyak bisa ditabung di celengan ayam. 

3. Infak.
Melatih anak peduli orang lain juga bisa dilakukan dengan uang angpau itu. Sebelum dibelanjakan atau ditabung bolehlah disisihkan dahulu untuk infak. 

Infak tersebut bisa dititipkan di masjid, sambil kita terangkan infak di masjid biasanya bisa digunakan untuk apa saja. Atau diberikan langsung kepada orang yang membutuhkan.

Kalau Sahabat, bagaimana mengarahkan anak-anak mengelola angpau lebarannya? Bisa sharing dong...

Wassalamu'alaikum
Ummi


YANG PENTING DALAM PENGASUHAN ANAK

Assalamu'alaikum, Sahabat...

Anak sebagai amanah yang dititipkan Allah kepada orang tua, tentu sudah seharusnya dididik atau diasuh dengan sebaik-baiknya. Meski antara satu keluarga dengan keluarga lain seringkali punya pola asuh yang berbeda-beda. 

Faktor pembeda itu bisa jadi karena pola asuh orang tua waktu kecil, tingkat pendidikan, pengetahuan yang didapat lewat bacaan atau pengalaman, juga faktor lingkungan tempat tinggal. 

Memang menjadi orang tua itu tidak ada sekolahnya. Sekolahnya ya kehidupan itu sendiri. Tetapi dewasa ini, para orang tua lebih mudah menemukan cara-cara pengasuhan atau teori parenting yang dishare lewat buku-buku ataupun internet. Sehingga sebagai orang tua, kita bisa berkaca dari pengalaman orang lain. 

Meski begitu, sulit menyatakan bahwa teori yang satu lebih baik dari teori yang lain. Satu hal bisa cocok diterapkan pada pengasuhan seorang anak, bisa jadi tidak cocok ketika diterapkan pada anak yang lain. Orang tua tetap harus membuat pilihannya sendiri.

Tetapi jika memperhatikan dan mengamati pola asuh beberapa orang tua, saya pikir hal-hal di bawah ini penting untuk diperhatikan dalam pengasuhan anak, yaitu:

1. Kompak antara ayah dan bunda.
Bagaimanapun kekompakan orang tua penting dalam pengasuhan anak. Misalnya saja dalam hal sederhana, yaitu tata cara makan. Bunda ingin anak harus makan di meja makan, sedang ayah ingin membebaskan anak. Boleh makan di meja makan, ruang tamu, atau di kamar. Jika tak ada kesepakatan ayah dan bunda, bisa-bisa anak malah menjadi bingung. Siapa yang mau diikuti?

Jadi, harus ada komunikasi antara ayah dan bunda untuk menentukan satu kata pola pengasuhan.

2. Keteladanan.
Setelah ada kesepakatan orang tua, maka memberikan contoh tentu akan lebih membuat pengasuhan anak menjadi lebih efektif.

3. Melibatkan anak dalam diskusi.
Anak-anakpun perlu diajak diskusi tentang aturan yang ditetapkan di rumah. Dengan diajak diskusi, harapannya anak akan merasa dilibatkan hingga menjadi lebih mudah menaati peraturan rumah.

4. Konsisten.
Orang tua harus konsisten menerapkan aturan. Jangan sampai hari ini membuat aturan A dan di hari lain membuat aturan B untuk sebuah kasus yang sama. 

Contohnya tentang aturan menyalakan televisi. Hari ini menyatakan televisi harus mati setelah maghrib dan anak-anak harus belajar, esok hari ternyata orang tua tidak konsisten dengan aturan tersebut. Yang terjadi, anak malah menyepelekan aturan.

5. Tak pernah berhenti belajar.
Ya, dengan mendidik anak sesungguhnya orang tua sedang mendidik dirinya sendiri. Akan ada hal baru yang ditemui dalam pendidikan dan pengasuhan anak. Misalnya ketika anak-anak semakin besar, kita jadi sadar, eh ternyata cara mendidik remaja beda ya dengan saat mereka masih kanak-kanak. Atau, ternyata anak pertama dan kedua tidak bisa diterapkan pola asuh yang sama ya... Hal seperti itu akan membuat orang tua harus terus belajar.

Lima hal diatas adalah hal yang menurut saya penting diperhatikan dalam pengasuhan anak. 

Oh ya, jangan lupa selalu mengiringi usaha dengan do'a kepada Allah SWT agar anak-anak tumbuh menjadi anak yang baik sebagaimana yang diharapkan orang tua.

Wassalamu'alaikum.
Ummi

Tuesday, 5 July 2016

SELAMAT IDUL FITRI

Assalamu'alaikum, Sahabat...

Semoga Allah menerima semua amal ibadah Sahabat selama bulan Ramadhan.
Dan di bulan Syawal waktunya meningkatkan amal kita. Semoga kita bisa.

Ah ya, mohon maaf lahir batin ya, Sahabat semua. Atas semua khilaf yang saya lakukan baik sengaja maupun tidak.

الله اكبر... الله اكبر... الله اكبر...
الله اكبر ولله الحمد



Saturday, 2 July 2016

ADA APA DI AKHIR RAMADHAN?

Assalamu'alaikum, Sahabat...
Meme ini beredar di berbagai sosmed. Entah siapa yang pertama kali membuat.
Meme di atas wira-wiri di WA dan beranda facebook saya beberapa hari ini. Pasti sahabat-sahabat juga sudah lihat kan?

Eh, tapi benar juga, sih. Kemarin saya cari jilbab untuk anak saya. Tapi toko baju langganan saya penuhnya luar biasa. Saya balik deh, tidak jadi beli. Toh, anak-anak sudah punya jilbab yang lain. Soalnya saya paling malas kalau harus berdesak-desakan.

Di sisi lain, musholla di tempat saya biasa tarawih, tidak sepenuh biasanya. Orang-orangnya entah kemana. Husnudzonnya mungkin banyak ibu-ibu yang sedang "halangan". Tapi ternyata bapak-bapaknya banyak juga yang halangan. Hehe...

Lalu, saya beli baju lebaran tidak? Hihi...

Jadi, saya sudah menjahitkan baju seragam lebaran untuk anak-anak saya sebelum Ramadhan. Nah, yang seragam itu sudah jadi di awal Ramadhan. Saya juga membelikan anak-anak baju jadi untuk lebaran di pertengahan Ramadhan. Jadi saat itu toko-toko belum terlalu ramai. 

Belanja baju lebaran untuk anak serasa wajib ya... Bukan apa-apa. Mereka kan sering saling bertanya dengan teman-temannya. Kasihan saja kalau teman-temannya sudah dibelikan, tapi mereka tidak. 

Kalau kami? Abi dan Bunda tak perlu lah baju baru. Baju lama masih bisa dipakai. Lagipula tidak lebaranpun kadang beli baju juga kan? 

Kalau kue lebaran?

Biasanya kami beli seperlunya saja. Kalau memang habis, baru kami beli lagi. Toh kami ini keluarga muda. Jadi, tamu kami tidak banyak. Kalaupun ada, biasanya tetangga dan murid-murid Abi di MTs saja.

Mall, toko baju, dan toko kue yang ramai menjelang lebaran rasanya sudah menjadi tradisi. Kan rejeki tiap orang ada masanya tersendiri ya... Dan merekalah yang ketiban rejeki tiap Ramadhan datang.

Eh tapi, sebenarnya tidak semua orang sibuk dengan baju lebaran, kue lebaran, dan hal-hal lain seputar lebaran di akhir Ramadhan ini. Saya tahu ada beberapa gelintir orang yang menghabiskan sepuluh malam terakhir Ramadhan untuk beri'tikaf. Mendekatkan diri pada Allah, banyak berdzikir, membaca Al-Qur'an dan amal ibadah lainnya.

Nah, mumpung Ramadhan insya Allah masih tiga hari lagi, saya mengingatkan diri saya sendiri untuk lebih kuat beribadah lagi. Karena biasanya begitu ditinggalkan Ramadhan saya suka sedih saat melihat ke belakang. Ternyata belum banyak amal sholih yang saya kerjakan. Begitu banyak saya melewatkan hari-hari Ramadhan tanpa kebaikan. Rabbighfirli dzunubi...

Ayo kejar keutamaan Ramadhan. Selagi ia belum pergi meninggalkan kita.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...