Tuesday, 27 September 2016

MENENTUKAN PRIORITAS BERSAMA PASANGAN

Assalamu'alaikum, Sahabat...


Satu ketika saya membeli kompor gas dan magic com, yang menurut saya dua barang itu adalah prioritas pembelian peralatan rumah tangga. Tetapi sepanjang waktu suami saya mengomel. Katanya dua barang itu bukan prioritas. Wong yang lama juga masih bisa dipakai, begitu katanya. Tetapi yang namanya laki-laki ngomel, ya gitu deh... Beda dengan saya yang perempuan, yang akan nyerocos terus kalau ngomel.

Di lain waktu, ganti suami saya beli televisi, padahal di rumah sudah ada televisi. Waktu itu niatnya membeli kulkas saja karena kulkas lama sudah rusak. Karena ternyata uangnya sisa, suami saya membeli televisi dengan sisa uang kulkas. Bisa ditebak, sampai rumah, saya ngomel-ngomel berkepanjangan. Buat apa televisi itu, sedang di rumah ada televisi yang masih bisa nyala. Kata suami, yang satu buat di ruang depan (toko), yang satu di ruang tamu. Ya sudah deh, akhirnya saya terima. Lagipula barangnya juga sudah dibeli.

Begitulah hidup berumah tangga ya... :D

Seringkali kita mempunyai perbedaan dalam menentukan prioritas bersama pasangan. Kalau kasus di atas, karena saya memang menangani bagian dapur. Jadi, ketika saya merasa ada peralatan dapur yang sudah tidak maksimal lagi kerjanya, bagi saya ya itu prioritas untuk segera diganti. Begitupun suami saya. Karena beliau suka barang elektronik, suka otak-atik (bukan televisi saja sebenarnya), baginya alat-alat elektronik ya prioritas. 

Namun, sebagai sebuah tim dalam rumah tangga, tentunya kita punya prioritas bersama dong ya... Prioritas yang menjadi kesepakatan bersama dan kita sama-sama memperjuangkannya sampai titik darah penghabisan. #apasih

Prioritas tersebut biasanya ditentukan oleh Visi Misi Keluarga. Jadi, yang punya visi misi bukan hanya pemimpin negara atau daerah dong ya... Keluarga memang sebuah masyarakat terkecil. Tapi bukan berarti dijalankan sambil lalu tanpa sebuah visi kan?

Dengan visi dan misi, tentu kita akan lebih bisa menentukan arah dalam berkeluarga. Jadi, ketika kita memutuskan untuk berkeluarga, bukan hanya karena berkeluarga adalah hal yang sudah lumrah dilakukan seseorang yang cukup umur. Tetapi apa sih, tujuan berkeluarga. Waduh, ini malah mau bahas fiqih munakahat. #skip karena saya bukan ahli.

Tetapi, kalau kita berkesempatan membaca Al-Qur'an, dalam suroh At-tahrim ayat 6, Allah SWT berfirman (yang artinya), "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."

Ayat tersebut menyiratkan visi keluarga muslim. Sebuah tujuan yang jauh ke depan. Bukan sekedar mengantarkan anak sukses dan mandiri dengan menjadi dokter, pengusaha, atau yang lainnya. Tetapi juga menjaga agar keluarga bahagia sampai akhirat. 

Ya, bahagia sampai akhirat. Tentunya itu bukan perkara sepele ya... 

Maka do'a yang dihafal hampir semua Muslimpun layak direnungkan. 


ربنا اتنا في الدنيا حسنه وفي الاخره حسنه وقنا عذاب النار


"Ya Tuhanku, berilah kami kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat, dan hindarkan kami dari siksa api neraka."

Kadang sayapun menanyakan pada diri saya sendiri. Setiap hari, bahkan minimal lima kali saya membaca do'a itu, lalu apa refleksi do'a itu pada keseharian saya? Apa yang sudah saya amalkan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat? Memang bahagia dunia akhirat sangat mungkin dicapai dengan ridho-Nya. Tetapi, apa yang sudah kita lakukan untuk menggapai ridho-Nya?

Ah, sepertinya pembahasannya bisa lebih panjang lagi. Lebih baik saya cukupkan saja sampai disini.

Wassalamu'alaikum
Ummi


Friday, 23 September 2016

ADA APA DI DESA PUNCEL KECAMATAN DUKUHSETI?

Assalamu'alaikum, Sahabat...

desa-puncel-kecamatan-dukuhseti
Suasana di muara dekat TPI Puncel, banyak kapal ditambatkan

Kali ini saya ingin cerita lagi tentang salah satu desa di wilayah kerja saya. Namanya Desa Puncel. Desa yang mempunyai 4 pedukuhan, 7 RW dan 45 RT ini, ada di ujung utara Kecamatan Dukuhseti, berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Jepara.

Bagi saya setiap desa itu punya keunikan sendiri-sendiri. Baik dari segi orang-orangnya, kondisi alamnya, atau infrastrukturnya. Setiap desa pasti punya keistimewaan.

Kalau tentang Desa Puncel ini, saya jadi ingat ketika di awal tahun 2015 lalu, saya mendampingi Forum Group Discussion (FGD) yang dilakukan oleh STIPARI Semarang bersama BAPPEDA Kabupaten Pati. FGD dilakukan di kampung nelayan dekat TPI Puncel. Pesertanya adalah keluarga nelayan yang ada di sekitar TPI Puncel.

desa-puncel-kecamatan-dukuhseti
Suasana FGD dengan keluarga nelayan, dibelakang sana masih ada keluarga lainnya
Maksud FGD ini yaitu membuka wawasan masyarakat nelayan tersebut atas potensi yang ada di sekitarnya. Misalnya diskusi pada pokok bahasan mata pencaharian. Untuk nelayan kecil, biasanya melaut sesuai musim. Ketika musim angin barat, dimana angin begitu kencang, mereka tidak bisa berangkat melaut. Otomatis sumber pendapatan utama merekapun terputus. Jadi, dengan penyadaran akan potensi yang ada di sekitarnya, diharapkan mereka tidak hanya mengandalkan penghasilan dari melaut. Mereka bisa mengandalkan sumber daya lain yang ada di sekitar mereka sebagai sumber penghasilan. Apalagi jika sumber daya itu bisa jadi potensi wisata. Tentu akan memberikan nilai ekonomi pada masyarakat nelayan.

Dan pertanyaan klasik masyarakat adalah dananya dari mana? Saya sih mengapresiasi yang dilakukan perguruan tinggi itu untuk membuka cakrawala berpikir masyarakat. Tetapi memang, merubah cara pandang yang sudah melekat tidaklah mudah. Perlu ada pendampingan yang berkelanjutan, bukan sekali dua kali diskusi saja.

Dan saya... Tentunya tidak akan membagi tips bagaimana cara merubah mindset masyarakat. Apalah saya ini... Huhu... Saya hanya ingin cerita tentang potensi yang ada di Desa Puncel, yang menurut saya menarik. Tentu saja menarik versi saya ya...

1. Hutan Karet
Hutan karet di Desa Puncel ini milik PTPN IX. Kalau saya lewat hutan itu, saya suka lirik-lirik, ingin selfi disana. Hihi... #dasar emak narsis. Dan akhirnya kesampaian juga narsisnya. :D

desa-puncel-kecamatan-dukuhseti
Narsis di kebun karet
Di hutan karet ini, saya jadi ingat film kartun kesukaan anak saya, Upin dan Ipin. Hehe... Yang waktu Opah kerja menyadap karet itu...

Di kebun karet Puncelpun saya lihat ada wadah-wadah kecil, tempat menampung getah karet. Sayangnya saat itu tidak ada yang sedang panen getah karet. Sebenarnya saya ingin lihat langsung saat penyadapan karet. Semoga suatu saat kesampaian lagi. Aamiin. :)

Dan, kalau diperhatikan, pohon karet ini semua miring ke arah yang sama lho. Tak ada pohon karet yang berdiri tegak, semua miring. Sepertinya ke arah matahari terbit. Mereka jadi miring berjama'ah, deh. :D

2. TPI Puncel
Kalau yang ini pengelolanya Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati. Seperti umumnya Tempat Pelelangan Ikan (TPI), disini tiap jam 1 siang akan mulai lelang. Seru melihat orang-orang memberikan harga pada ikan-ikan yang dilelang.

desa-puncel-kecamatan-dukuhseti
Suasana TPI Puncel unt uk persiapan pelelangan ikan
Selain itu, di dekat TPI Puncel juga ada jembatan yang menghubungkan Desa Puncel dengan desa di wilayah Kabupaten Jepara. Jembatan ini hanya bisa dilewati motor, mobil tidak mungkin bisa melewatinya.

Waktu saya dan teman saya mau foto-foto, pengendara motor mengalah dulu, memberi kesempatan pada kami untuk narsis. Melihat pengertian mereka, tampaknya tempat ini memang sudah sering digunakan narsis oleh para narsiser macam kami. :D

desa-puncel-kecamatan-dukuhseti
Jembatan ini goyang-goyang kalau ada motor lewat

3. Tambak
Kalau tambak tentu milik masyarakat pribadi. Kebanyakan ditebar benih bandeng. Dulu ketika dilaksanakan FGD, dari STIPARI menyampaikan, bagaimana jika nelayan "menjual" makan siang dengan suasana tambak? Ahai... Sepertinya menarik. Dan sudah ada warga desa lain (bukan Desa Puncel) di Kecamatan Dukuhseti yang melakukannya. Jika dilakukan marketing yang lebih mumpuni, tentu akan tambah keren.

desa-puncel-kecamatan-dukuhseti
Hamparan tambak membentang sepanjang mata memandang
Nah, hal-hal seperti itulah yang menurut saya menarik. Barangkali biasa saja bagi orang lain. Haha... Ya sudahlah. Mari kita jalan lagi. Mungkin lain kali saya akan cerita tentang desa lainnya lagi yang ada di wilayah Kecamatan Dukuhseti.

Wassalamu'alaikum
Ummi

Sunday, 11 September 2016

TENTANG KEBERANIAN MENCOBA HAL BARU

Assalamu'alaikum, Sahabat...



Apa kabar Sahabat? Semoga senantiasa sehat dan dalam lindungan Allah SWT. Lama sekali saya tidak menulis di blog. Rasanya kok kangen ya... :) Apalah daya, saya seperti kehabisan energi setelah aktifitas dunia nyata saya (baca: pekerjaan dan keluarga). Dan ternyata memulai menulis lagi setelah berhari-hari tidak menulis kok ya berat. Pikiran seolah buntu, tangan juga seperti terhenti tak mampu mengetikkan kata. #mulailebay. 

Sahabat... Saya jadi kepikiran tentang keberanian memulai hal baru setelah bertemu dengan teman yang tak kunjung berani naik sepeda motor. Kadang ia merasa ingin bisa, agar kemana-mana tak harus menunggu suaminya untuk mengantar. Kadang juga ia merasa takut untuk memulai. Apa ia tak terlalu tua untuk mulai belajar naik motor.

Kemudian saya jadi ingat ibu saya yang baru belajar naik motor di usia 50-an. Pada waktu itu aktifitas ibu memang sedang padat-padatnya. Dalam satu hari ibu harus berada di beberapa tempat yang berbeda. Kalau meminta bapak terus mengantar seperti biasa, kasihan bapak juga. Karena bapak juga punya kegiatan sendiri. Jadi ibu mulai belajar naik motor dan bisa. 

Dan saya jadi ingat diri saya sendiri. Aslinya saya ini sungguh penakut. Apalagi untuk melakukan hal baru. Ada banyak yang saya pikirkan sebelum saya melakukan hal baru itu. Jangan-jangan nanti saya salah. Bagaimana kalau saya ditertawakan orang lain. Apa pandangan orang lain kalau saya melakukan hal itu? Pokoknya ada banyak hal negatif yang menghantui saya setiap akan melakukan hal baru.

Waktu SD saya takut jajan di kantin sekolah, dan meminta teman untuk membelikannya. Saya juga sangat takut ketika harus mengikuti lomba cerdas cermat. Ketika remaja, saya takut sekali ketika mendapatkan tugas membacakan cerita isra' mi'raj di hadapan forum pengajian ibu-ibu. Saat Kerja Praktek (KP) di masa kuliah, saya takut menjadi orang yang inisiatif. Dan akhirnya saya malah tak mendapat ilmu baru selama KP itu.

Yah... Saya sungguh penakut. 

Namun saya juga beruntung. Karena ibu adalah orang yang tak gampang menyerah untuk memberi motivasi. Ibu selalu mendorong saya untuk tidak pesimis dan rendah diri, meski banyak orang yang lebih hebat. Karena tiap orang punya keunggulan masing-masing. Ibu juga selalu ingin saya tak takut mencoba hal baru, agar saya lebih banyak pengalaman.

Proses saya barangkali sangat lama, bahkan hingga hari ini, saya masih berproses dalam mengatasi rasa takut mencoba sesuatu yang baru. Tetapi saya telah belajar, bahwa saya memang harus terus mencoba. Rasa takut itu lama-lama akan menghilang jika saya telah melakukannya berulang kali. Mencoba pertama kali mungkin saya sangat takut. Kedua, saya masih takut. Ketiga dan selanjutnya rasa takut itu akan semakin menipis dan menipis.

Termasuk ketika saya pertama kali menulis di blog. Ketika ada yang membaca, saya takut tulisan saya dicap sebagai tulisan yang buruk. Saya takut tulisan saya diejek orang lain. Saya takut...dan saya takut... Tetapi akhirnya saya tahu bahwa meski tulisan saya tidak bagus, tetapi jika saya tak pernah menulis, saya tak pernah tahu seberapa kemampuan menulis saya. Apresiasi dari Sahabat, baik ataupun buruk, telah membuat saya berkembang. Yah, saya berkembang karena saya telah berani mencoba.

Dan sayapun ingat  motto seorang sahabat saya, "Pantang ngomong ra iso sak durunge nyoba" atau "Pantang mengatakan tidak bisa sebelum mencoba".

Jika Sahabat ingin mencoba hal baru, mulailah dengan sikap optimis.  Kemudian yakini dalam hati bahwa jikapun Sahabat gagal dengan hal baru itu,  setidaknya Sahabat telah menambah pengalaman. Lalu Sahabatpun bisa berjalan lagi tanpa merasa menyesal atau penasaran. 

Jadi, Sahabat ingin mencoba hal baru apa hari ini?

Wassalamu'alaikum
Ummi



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...