Monday, 10 October 2016

AGAR SI KECIL TAK REWEL SAAT DITINGGAL BEKERJA

Assalamu'alaikum, Sahabat...

Bagi ibu yang baru selesai cuti melahirkan, meninggalkan si kecil untuk kembali bekerja tentu merupakan hal yang terasa berat. Si kecil yang begitu menggemaskan harus ditinggalkan pada orang lain. Dilema ibu bekerja memang begitu ya... 

Meski ada yang bisik-bisik untuk resign saja, tetapi karena ada berbagai alasan, ibu tetap harus berangkat bekerja. Padahal itu adalah bisikan yang sungguh menggoda. :)

Karena memutuskan tetap bekerja, tentu ibu harus punya strategi (apa sih :D) agar si kecil tak rewel saat ditinggal bekerja. Kalau saya sendiri sudah tiga kali melalui dilema itu. Dan ini yang biasanya saya melakukan ketika memulai kembali aktifitas kerja:

1. Pastikan pengasuh si kecil adalah orang yang bisa dipercaya.

Paling aman memang menitipkan si kecil pada orang tua. Tetapi jika harus mempercayakan si kecil pada orang lain, ada baiknya ibu mencari tahu dulu latar belakang orang tersebut. Agar ibu bisa tenang meninggalkan si kecil. 


Selain itu, meski sudah ada pengasuh, tidak ada salahnya ibu meminta bantuan Saudara agar sesekali menengok si kecil. Tentu ini untuk keamanan si kecil dan juga ketenangan hati ibu.

2.  Selalu berpamitan pada si kecil tiap berangkat kerja.

Saya selalu melakukan ini sejak si kecil berusia 3 bulan (batas cuti saya 3 bulan). Meski si kecil belum paham, tapi karena ikatan batin, si kecil pasti bisa merasakan isi hati ibu. 

Memang awalnya si kecil menangis kalau akan ditinggal ibu bekerja. Tapi membiasakan berpamitan akan bermanfaat ketika si kecil sudah lebih besar. Lama-lama si kecil akan terbiasa. Dan akan mengerti bahwa ibu akan berangkat kerja. Alhamdulillah, anak-anak saya tidak ada yang nangisan kalau saya tinggal kerja. 

Jadi, sejak awal sebaiknya ibu tidak sembunyi-sembunyi saat meninggalkan anak untuk bekerja. Karena kalau terlalu sering sembunyi-sembunyi, si kecil justru akan menangis keras saat ibu ketahuan mau berangkat kerja.

3. Sisihkan sedikit waktu untuk bermain sebelum berangkat.

Jangan mengacuhkan si kecil menjelang ibu berangkat kerja. Manfaatkan waktu untuk mengajak si kecil bermain meski sebentar. Ketika waktunya berangkat, si kecilpun akan sukarela melepaskan ibu berangkat kerja. 

Setelah berusaha, tinggal berdo'a dan tawakkal saja pada Allah. Semoga si kecil selalu dalam lindungan-Nya.

Bagaimana ibu, sudah siap bekerja lagi?

Wassalamu'alaikum
Ummi
  

Sunday, 9 October 2016

BEKERJA SESUAI PASSION

Assalamu'alaikum, Sahabat...
bekerja-sesuai-passion

Bahagia ya kalau kita bisa mempunyai pekerjaan yang sesuai passion kita. Kitapun jadi bersemangat, karena kita sudah suka dengan pekerjaan itu. Seperti beberapa teman saya ini. 

Ada seorang teman yang suka senam aerobik. Diapun membuka sanggar senam di rumahnya. Karena dia memang punya kemampuan, sanggar senamnya jadi ramai peminat. Bahkan dia melebarkan sayap dengan bisnis baju senam dan sepatu senam. 

Seorang teman yang lain adalah seorang crafter. Dari hobi itu, ia bisa membuat berbagai kerajinan tangan yang bisa dibisniskan. Peminatnyapun tidak sedikit. Sudah lintas pulau di seluruh Indonesia.

Teman yang lainnya lagi menyukai batik. Karena cintanya dengan batik, diapun kemudian mulai berbisnis batik. Hingga akhirnya dia bisa memproduksi batik sendiri. Bisnisnya makin berkembang dan semakin maju. 

Pun kalau saya melihat teman-teman penulis. Mereka sudah mulai suka menulis sejak masih kecil. Dan mereka memang tampak mencintai menulis. Karya-karyanya menghiasi berbagai media. Tentu saja tulisan-tulisan itu mendapat bayaran. 

Nah kan, memang paling enak itu jika bekerja sesuai passion. Ada yang mengatakan, hal itu merupakan hobi yang dibayar. Menyukai senam, dan dibayar karena senam. Suka handycraft, dan dibayar karena itu. Suka menulis, dan dibayar karena tulisan. Suka bertualang, dibayar karena bertualang. Senang makan, dan dibayar untuk makan-makan. Dua yang terakhir itu, contohnya presenter acara petualangan atau kuliner. Jalan-jalan dan makan-makan gratis, dibayari lagi. 

Kalau Sahabat suka apa? Bisa jadi, hobi itu mendatangkan rejeki, lho...

Tetapi jikapun saat ini pekerjaan kita belum sesuai passion kita, bukan berarti kita malas-malasan saat bekerja dong... Kita tetap bisa bersyukur dan niatkan bekerja itu untuk ibadah

Bersyukur, karena diluar sana masih banyak orang yang tak mempunyai pekerjaan. Sedangkan kalau menganggur dan meminta pada orang lain, bukankah itu hal yang tidak disukai Allah? Dengan bekerja kita terhindar dari menjadi peminta-minta. 

Kemudian kita juga harus berusaha mengenal seluk-beluk pekerjaan kita. Pasti ada hal-hal asyik dari pekerjaan kita itu. Hal-hal asyik itu kalau dinikmati, lama-lama juga akan cinta. #eh ini ngomong apa sih. :D

Lalu, kita coba membuka mata dan telinga tentang pandangan orang terhadap pekerjaan kita. Mungkin kita menganggap pekerjaan kita sepele, tetapi bisa jadi bermanfaat bagi orang lain. 

Yakinlah bahwa menjadi apapun, selama pekerjaan itu halal, tak ada yang salah. Materi bisa jadi adalah tujuan sebagian orang. Tetapi ada juga sebagian orang hanya ingin menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain. Bukankah begitu yang diajarkan Rasul?

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia (lain)" (HR. Ahmad, At-Thabrani, Ad-Daruquthni)

Bagaimana, apakah sudah mencintai pekerjaan Sahabat saat ini?

Wassalamu'alaikum.
Ummi

Saturday, 8 October 2016

MATERIALISTISKAH KITA?

Assalamu'alaikum, Sahabat...

Bagaimana kabar Sahabat? Samakah seperti di tempat saya yang saat ini sering di guyur hujan? Semoga Sahabat tetap bisa menjaga tubuh agar fit ya...

Sahabat, beberapa waktu ini pasti sudah membaca, melihat atau minimal mendengar obrolan-obrolan tentang Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Ya, beberapa hari ini bahkan berita tentangnya menjadi headline koran langganan saya. Dia yang diceritakan mempunyai karomah bisa menggandakan uang, sekarang malah menjadi pesakitan dengan tuduhan penipuan dan pembunuhan.

Saya tidak ingin menuliskan lebih panjang lagi tentang Dimas Kanjeng itu. Karena sudah terlalu panjang deretan berita tentangnya. Tetapi berita itu mau tidak mau membuat saya berfikir, sedemikian parahkan perilaku materialistis kita?

Menggandakan uang tanpa bekerja keras? Mengharap kaya tanpa usaha? Berharap pada sesama hamba Allah? Entahlah. Saya tidak tahu bagaimana pikiran orang-orang yang percaya dan mengagungkan Dimas Kanjeng itu. Atau memang pikiran saya terlalu lemot. Bahkan ketika sudah mempunyai uang sebesar 200 M-pun kita masih merasa kurang. Kalau bisa, minta digandakan lebih banyak lagi. Agar kita semakin kaya dan kaya.

Lalu setelah semakin kaya, mau apa kita? Mau apa dengan uang bermilyar-milyar itu. Mungkin memang ada kenikmatan tak terhingga ketika bisa mengumpulkan uang sebanyak itu. Entahlah. Karena saya belum pernah tahu. Dan diluar kasus Dimas Kanjeng inipun sebenarnya sudah pernah ada kasus-kasus pengganda uang lainnya kan? Dan semua berakhir buruk. Kenapa setelah itupun kejadian-kejadian yang mirip terulang? 

Jika dipikirkan lagi, sebenarnya seberapa lama kita hidup di dunia ini? Sampai 100 tahunan mungkin sudah paling lama. Dan apa bekal paling bermanfaat ketika menghadap-Nya? Bukankah bekal terbaik itu adalah bekal takwa? Seperti firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 197, "Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-KU, hai orang-orang yang berakal."

Entah. Saya juga masih menghitung-hitung diri saya sendiri. Seberapa materialistiskah saya?

Harta benda mungkin memang membuat kita bahagia. Dan dengan harta pula, kita bisa banyak membantu orang-orang yang membutuhkan. Tetapi, memperbanyak harta dengan cara yang tidak rasional? Satu juta menjadi beratus-ratus juta tanpa usaha? Lebih baik kita bekerja keras saja. Semoga rejeki kita lebih barokah nantinya.

Wednesday, 5 October 2016

PENGENTASAN KEMISKINAN MELALUI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA

Assalamu'alaikum, Sahabat...
ekonomi-kerakyatan-masyarakat-desa

Pepatah China mengatakan, "Jangan memberi ikan jika kita ingin mereka bisa makan untuk besok dan seterusnya, tetapi berilah kail dan ajari mereka cara mendapatkan ikan, supaya mereka bisa menggunakannya untuk keperluan hidup mereka."

Pepatah diatas mengingatkan saya tentang Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MPd) yang telah berakhir pada tahun 2014 lalu.   

Dulu ketika masih ada PNPM-MPd, salah satu kegiatannya adalah pelatihan keterampilan. Sasaran peserta pelatihan ini adalah kaum perempuan. Beberapa pelatihan yang pernah dilaksanakan seperti: pelatihan membatik, membuat tas, bordir, membuat tepung mocaf dan membuat songkok. Jenis pelatihan keterampilan tersebut dipilih setelah dilakukan musyawarah, dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat desa yang bersangkutan. 

Selain itu, kegiatan lain yang dijalankan oleh PNPM-MPd adalah Simpan Pinjam Perempuan (SPP). Jangan salah paham dengan namanya ya... SPP adalah sebuah usaha simpan pinjam yang dilakukan dalam rangka pemberdayaan masyarakat desa, dan peminjamnya hanya boleh dari kalangan perempuan. Modal awal didapatkan dari pemerintah dengan tujuan pengentasan kemiskinan masyarakat desa.

Tentu saja antara pelatihan dan pemberian pinjaman kepada para perempuan ini sifatnya adalah saling melengkapi. Karena tujuan Program ini adalah pengentasan kemiskinan masyarakat desa dengan melibatkan masyarakat marginal dan kaum perempuan. Jadi, dengan memberikan kail (pelatihan keterampilan), lalu memberikan umpannya (pinjaman modal), diharapkan ekonomi masyarakat lebih tertata. Dan pengentasan kemiskinanpun tertuntaskan.

Lalu, apakah semuanya berjalan lancar? SPP PNPM-MPd saat ini masih berjalan. Sedangkan beberapa kelompok yang telah melaksanakan pelatihan, baru sebagian yang masih konsisten berkarya dan mengembangkan usahanya.

Memang untuk pengentasan kemiskinan ini, membutuhkan komitmen berbagai pihak. Peserta berkomitmen dengan konsisten tetap berproduksi setelah pelatihan. Peminjam komitmen membayar pinjamannya tiap bulan. Begitupun pihak-pihak terkait lain yang bertugas memberikan pembinaan.

Selain itu, masalah klasik setelah pelaksanaan produksi adalah pemasaran. Siapa yang akan memasarkan? Dimana barang-barang yang telah diproduksi akan dipasarkan?

Pikiran saya kadang berkelana liar. Kalau saja para perempuan yang telah dibina ini tahu betapa dahsyatnya bisnis online saat ini. Bahkan ada sebuah hari yang dinamakan Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas). Tentu mereka bisa lebih berkembang.

Ya, inovasi bisnis seperti yang dilakukan Zalora bisa dicontoh. Dengan memanfaatkan momen harbolnas untuk membuat promo terbaik. Satu saat semoga merekapun bisa berinovasi. Karena saya melihat mereka ada yang melek internet. Hanya saja belum optimal memanfaatkannya.

Barangkali juga mereka perlu komunitas yang bisa mengembangkan bisnis mereka. Karena semua yang dijalankan bersama biasanya akan lebih ringan daripada ketika dijalankan seorang diri. Dalam komunitas, semua orang dapat saling berbagi pengalaman dan saling memberikan dukungan.

Namun pembinaan itu memang tak bisa sekali jadi. Harus ada pendampingan yang terus-menerus, agar mereka bisa terbuka pikirannya. Agar tak seperti katak dalam tempurung, mereka harus melihat ke dunia yang luas. Ada banyak inspirasi untuk kebangkitan ekonomi mereka.

Sayapun hanya bisa melihat dari kejauhan. Ketika pekerjaan lain menghempaskan saya pada sebuah kesibukan yang seakan tiada akhir. Mungkin yang paling buruk, saya hanya bisa berdo'a. Semoga mereka bisa memanfaatkan ilmunya untuk pengembangan diri mereka. Semoga kail yang telah diberi, bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya. Semoga umpannya juga tepat untuk mendapatkan ikan yang mereka harapkan.

Dan maafkan saya, baru ini yang bisa saya lakukan.

Wassalamu'alaikum
Ummi
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...