Saturday, 8 October 2016

MATERIALISTISKAH KITA?

Assalamu'alaikum, Sahabat...

Bagaimana kabar Sahabat? Samakah seperti di tempat saya yang saat ini sering di guyur hujan? Semoga Sahabat tetap bisa menjaga tubuh agar fit ya...

Sahabat, beberapa waktu ini pasti sudah membaca, melihat atau minimal mendengar obrolan-obrolan tentang Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Ya, beberapa hari ini bahkan berita tentangnya menjadi headline koran langganan saya. Dia yang diceritakan mempunyai karomah bisa menggandakan uang, sekarang malah menjadi pesakitan dengan tuduhan penipuan dan pembunuhan.

Saya tidak ingin menuliskan lebih panjang lagi tentang Dimas Kanjeng itu. Karena sudah terlalu panjang deretan berita tentangnya. Tetapi berita itu mau tidak mau membuat saya berfikir, sedemikian parahkan perilaku materialistis kita?

Menggandakan uang tanpa bekerja keras? Mengharap kaya tanpa usaha? Berharap pada sesama hamba Allah? Entahlah. Saya tidak tahu bagaimana pikiran orang-orang yang percaya dan mengagungkan Dimas Kanjeng itu. Atau memang pikiran saya terlalu lemot. Bahkan ketika sudah mempunyai uang sebesar 200 M-pun kita masih merasa kurang. Kalau bisa, minta digandakan lebih banyak lagi. Agar kita semakin kaya dan kaya.

Lalu setelah semakin kaya, mau apa kita? Mau apa dengan uang bermilyar-milyar itu. Mungkin memang ada kenikmatan tak terhingga ketika bisa mengumpulkan uang sebanyak itu. Entahlah. Karena saya belum pernah tahu. Dan diluar kasus Dimas Kanjeng inipun sebenarnya sudah pernah ada kasus-kasus pengganda uang lainnya kan? Dan semua berakhir buruk. Kenapa setelah itupun kejadian-kejadian yang mirip terulang? 

Jika dipikirkan lagi, sebenarnya seberapa lama kita hidup di dunia ini? Sampai 100 tahunan mungkin sudah paling lama. Dan apa bekal paling bermanfaat ketika menghadap-Nya? Bukankah bekal terbaik itu adalah bekal takwa? Seperti firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 197, "Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-KU, hai orang-orang yang berakal."

Entah. Saya juga masih menghitung-hitung diri saya sendiri. Seberapa materialistiskah saya?

Harta benda mungkin memang membuat kita bahagia. Dan dengan harta pula, kita bisa banyak membantu orang-orang yang membutuhkan. Tetapi, memperbanyak harta dengan cara yang tidak rasional? Satu juta menjadi beratus-ratus juta tanpa usaha? Lebih baik kita bekerja keras saja. Semoga rejeki kita lebih barokah nantinya.

12 comments:

  1. Sekarang semua diukur dari seberapa banyak orang punya duit. Makanya tidak mengherankan semua orang beradu untuk mendapatkan duit. Segala cara ditempuh. Budaya telah menggeser, budaya materialistis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener sekali, Mas. Banyak orang yg tiba2 jadi materialistis sekarang ini.

      Delete
  2. Terkadang saya suka merasa gemes, apa-apa uang dan uang. Padahal rezeki sudah diatur ya.

    ReplyDelete
  3. Iya ya, lihat kasus penggandaan uang ini bikin miris. Kok bisa ya nyari dunia segitu gelapnya. Jadi srlf reminder juga. Semoga kita semua bisa ngejar dunia proporsional aja...

    ReplyDelete
  4. Beberapa waktu lalu saya sempat menulis prihal kasus dimas kanjeng hehe. Saya coba hubungkan dengan wajah sosiak masyarakat kita sekarabg mba.

    ReplyDelete
  5. Yg penting kalau dunia liat ke bawah, kalau rohani liat ke atas :)

    ReplyDelete
  6. Bersyukur adalah jalan terbaik ya mbak Ummi. Jangan lantas memanfaatkan orang yang ingin kaya mendadak terus semua cara dihalalkan padahal jelas-jelas itu menipu dan merugikan orang lain :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, Mbak. Tidak habis pikir saya mah... :(

      Delete

Terima kasih telah memberikan komentar di blog saya. Mohon untuk memberi komentar dengan kata yang santun. Terima kasih. :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...