Saturday, 12 November 2016

MANAJEMEN WAKTU IBU RUMAH TANGGA

Assalamu'alaikum,

Manajemen, menurut kbbi adalah penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran. Jadi definisi bebas ala saya, manajemen waktu ibu rumah tangga adalah bagaimana seorang ibu rumah tangga menggunakan waktunya secara efektif demi menyelesaikan tugas-tugasnya. 

Ibu rumah tangga yang saya maksudkan disini adalah ibu rumah tangga secara umum ya... Baik ibu rumah tangga yang kata orang stay at home mom atau working mom. Dua-duanya menurut saya namanya ya ibu rumah tangga, dan yang pasti perlu mengatur waktunya dengan baik.

Semua orang mempunyai waktu yang sama, yaitu 24 jam. Spesialnya ibu rumah tangga ini, tugasnya juga bukan melulu kerumahtanggaan saja. Seperti menyapu, memasak, atau mencuci. Apalagi jika ibu seorang ibu bekerja. Ya kan?

Karena selain pekerjaan rumah tangga dan pekerjaan kantor, ibu juga harus bersosialisasi dengan lingkungan tempat tinggal. Atau istilahnya bermasyarakat. Misalnya saja mengikuti arisan RT atau acara pengajian. Dari acara itu, ibupun akan terlibat dengan acara-acara yang lain. Menjenguk tetangga sakit, takziyah orang meninggal, jadi panitia mantenan tetangga yang mantu, dan lain sebagainya. Pasti ada lah ya, ada hal-hal yang harus kita kerjakan sebagai bagian dari masyarakat.

Atau malah ibu terlibat dalam masyarakat yang lebih besar? Aktif di berbagai organisasi dan komunitas, misalnya. Pasti dengan berbagai kegiatan itu, ibu harus bisa mengefektifkan waktu agar semua tugas bisa tercapai. 

Kalau semua terselesaikan, ibu bahagia dan semuapun ikut bahagia. Karena itulah manajemen waktu sangat dibutuhkan. 

Setidaknya ada 3 manfaat jika ibu bisa mengatur waktu dengan baik, yaitu:

1. Agar hidup lebih teratur.
Ibu sering kelabakan karena belum melakukan pekerjaan yang sebenarnya penting? Atau sama seperti saya, suka sekali mengerjakan pekerjaan menjelang deadline? Hahah... Yuk, kita ubah sama-sama kebiasaan buruk itu. Kita fastabiqul khoirot, Bu. Berlomba-lomba menuju kebaikan. Yang menang, dapat pahala dari Allah saja. :)

2. Agar tidak ada waktu yang terbuang sia-sia.
Ibu suka mainan gagdet setelah subuh, terus kaget karena belum memasak buat sarapan? Padahal anak-anak sudah harus ke sekolah. Haha... Itu sih saya banget. Saya harap waktu-waktu seperti itu tidak ada lagi dalam hidup saya. #Aamiin

3. Agar mendapatkan goal lebih banyak.
Kalau habis subuh ibu tidak perlu main gadget dulu, tetapi langsung buat sarapan, memandikan si bungsu, menyapu, mencuci piring. Wah... Ternyata banyak ya, yang bisa dikerjakan kalau kita menghilangkan satu kebiasaan buruk saja. Sasaran yang tercapaipun lebih banyak lagi.

Kelihatannya asyik ya, kalau ibu bisa mengatur waktu. Tetapi tidak semua ibu bisa mengatur waktu dengan baik. Sering ada yang terlalu asyik main gadget sampai anak diabaikan. Kadang ada yang keenakan ngerumpi, sampai anak "ngowoh" menantikan ibu yang tak kunjung selesai ngobrol.  

Bu, ini ada beberapa cara agar kita bisa mengatur waktu dengan lebih baik. Mungkin bisa nyangkut di hati ibu. Kalau tidak, ya tidak apa-apa juga.

1. Membuat jadwal harian.
Jadwal ini adalah jadwal rutin yang ditulis detail dan harus dipatuhi. Misalnya ibu harus bangun jam berapa. Ibu menyiapkan sarapan jam berapa. Bahkan ibu boleh memegang HP dari jam berapa sampai jam berapa juga harus ditulis detail. Biar apa? Ya biar teratur. Soalnya kalau tidak dijadwal, bisa-bisa waktunya menyiapkan sarapan malah main gadget kan? :D

2. Menentukan prioritas pekerjaan.
Susun list pekerjaan yang harus ibu selesaikan. Lalu buat prioritas, mana yang mendesak dan harus didahulukan. Misalnya, untuk pagi hari membuat sarapan adalah prioritas. Kalau tidak, maka suami dan anak-anak tidak sarapan. Akibatnya mereka lemes saat di kantor dan di sekolah. 

3. Susun pekerjaan yang bisa dilakukan bersamaan.
Ada lho, pekerjaan yang bisa dilakukan bersama-sama. Misalnya di pagi hari kita bisa memasak sambil cuci baju (pakai mesin cuci). Sementara menggoreng ikan, sambil menunggu ikan matang kita bisa sambil mencuci piring yang kotor semalam. Tapi hati-hati, jangan sampai ikannya gosong, Bu.

4. Konsisten dan patuh pada jadwal serta prioritas.
Setelah membuat jadwal dan prioritas, tentunya tetap tidak akan efektif kalau ibu tidak konsisten menjalankannya. Catatan yang sudah ibu buat harus dipatuhi. Kalau perlu ditempel di tempat yang terlihat, dan minta suami untuk ikut mengingatkan.

Kalau kata orang Barat, time is money (waktu adalah uang). Kalau orang Arab mengatakan al-waqtu kash-shoif (waktu laksana pedang). Kalau kita tidak pandai memanfaatkannya, waktulah yang akan memotong kita. 

Kalau bagi ibu, waktu itu apa?

Wassalamu'alaikum
Ummi

Sunday, 6 November 2016

IDEALISME

Assalamu'alaikum,

Definisi idealisme menurut www.kbbi.web.id. Idealisme/ide·al·is·me/ /idéalisme/ n (1) aliran ilmu filsafat yang menganggap pikiran atau cita-cita sebagai satu-satunya hal yang benar yang dapat dicamkan dan dipahami; (2) hidup atau berusaha hidup menurut cita-cita, menurut patokan yang dianggap sempurna; (3) Sas aliran yang mementingkan khayal atau fantasi untuk menunjukkan keindahan dan kesempurnaan meskipun tidak sesuai dengan kenyataan.

Kalau yang mau dibahas disini sih lebih ke definisi nomor 2 ya... Idealisme adalah hidup atau berusaha hidup menurut cita-cita, menurut patokan yang dianggap sempurna. Misalnya begini...

Gadis yang belum menikah, biasanya punya tipe ideal laki-laki yang diinginkan sebagai calon suaminya. Misalnya laki-laki itu harus tampan, mapan, pintar, baik hati, tidak sombong... Biasanya begitu kan? Kemudian iapun mencari suami yang memenuhi kriterianya. Menurut saya, itu adalah idealisme. Idealisme dalam mencari jodoh tentunya.

Setelah menikahpun seseorang ingin punya kehidupan yang ideal dalam pernikahannya. Rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah, suami atau istri setia, anak-anak yang pintar, hidup yang berkecukupan, punya rumah sendiri, mobil pribadi, dan seabreg impian ideal lain. Itu adalah idealisme juga. Idealisme hidup berumah tangga. :D

Termasuk dalam kehidupan bernegara, kita punya tipe pemimpian yang ideal. Berwibawa, jujur, tidak korupsi, tegas, mampu menjaga keutuhan negara, pokoknya yang baik-baik. Hingga ketika kita memilih pemimpin, kitapun memilih yang sesuai idealisme kita.

Intinya adalah sebenarnya setiap kita punya idealisme. Dan saya yakin awalnya kita berusaha menjalani hidup sesuai idealisme itu. Ya, selama kita tidak menemui halangan dalam menjalani idealisme itu. Ketika menemui halangan, sikap kita barangkali berbeda-beda dalam menyikapi idealisme itu. 

Sebagian kita ada yang kekeuh dengan idealisme itu. Karena idealisme adalah harga mati yang harus dipatuhi. Ada juga yang bersikap pertengahan. Sesekali tak apalah menentang idealisme sendiri, asal bisa mencapai tujuan dalam rangka idealisme itu juga. Nah lho... Bingung kan? :D Dan ada juga yang tidak peduli lagi dengan idealisme. Bullshit dengan idealisme itu, yang penting aku hidup dengan nyaman. Begitu pikirnya.

Sekedar contoh... Beberapa pegawai ingin bekerja sesuai idealismenya. Tak ingin ada pungli apalagi korupsi dalam kamus hidupnya. Tetapi di dalam perjalanan ternyata semuanya tak semudah bayangan. Sistem yang tidak mendukung, birokrasi yang payah, mental korupsi yang masih melekat, dan banyak lagi. 

Dan merekapun berguguran. Tak lagi memegang idealisme. Ada yang masih menyimpan idealisme di hati, tapi merasa tak berdaya di tengah sistem yang ada. Namun ada juga yang masih memegang idealisme, meski jumlahnya tak banyak.

Seperti juga seorang gadis yang akhirnya dibatasi oleh umur, hingga ia mengurangi tipe idealnya. Tak apa jika tak mendapatkan yang paling ideal, asal ia bisa membahagiakan keluarganya dengan pernikahan. Kadang begitu

Ternyata memang memegang erat idealisme tak mudah ya...

Namun diantara yang tidak mudah itu, pasti kita punya idealisme yang selalu kita jadikan prinsip hidup. Agar kita tetap bisa mengobarkan semangat saat berjalan menuju tujuan. Agar orang lain juga tak menganggap kita orang yang mencla-mencle, oportunis, hanya mementingkan diri sendiri. Apalagi jika idealisme yang harus kita genggam itu berhubungan dengan tanggung jawab kita sebagai seorang hamba Tuhan. Tentunya ada pertanggungjawaban nanti di pengadilan tertinggi (di hari akhir).

Kalau bagi Anda, apa idealisme yang paling prinsip? Seberapa erat Anda menggenggamnya? Dan seberapa gelisah Anda ketika idealisme itu tak berjalan mulus sebagaimana yang diinginkan? Bisa dijawab di kolom komentar, atau cukup dalam hati saja. :)

Wassalamu'alaikum
Ummi
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...