Sunday, 11 December 2016

CATATAN DANA DESA DI KECAMATAN DUKUHSETI TAHUN 2016: DARI PENDAMPING DESA HINGGA SISKEUDES

Assalamu'alaikum,

Kami berada di Kecamatan Dukuhseti. Sebuah kecamatan di bagian utara Kabupaten Pati yang berada di wilayah Provinsi Jawa Tengah. Ada 12 desa di Kecamatan Dukuhsetti, yaitu: Desa Wedusan, Puncel, Tegalombo, Kembang, Dukuhseti, Banyutowo, Alasdowo, Ngagel, Kenanti, Grogolan, Dumpil, dan Bakalan. 8 dari 12 desa itu berada di wilayah pesisir Laut Jawa. 

Dana Desa tahun 2016, sebagaimana janji Pemerintah mengalami kenaikan dari tahun 2015 yang lalu. Jika tahun 2015 kisaran dana yang diterima desa di tempat kami adalah 300-an juta, pada tahun 2016 dana berkisar pada angka 600-an juta. Jumlah yang banyak? Bisa jadi. 

Tetapi bisa dipastikan, dana sebesar itu belum tentu menyelesaikan infrastruktur yang merupakan kebutuhan dasar yang ada di desa. Seperti jalan, jembatan, prasarana kesehatan, prasarana pendidikan, dan lain sebagainya. Desa-desa tertentu yang memiliki luas wilayah kecil, barangkali bisa. Tetapi untuk desa-desa yang wilayahnya lebih luas apalagi dengan kondisi wilayah sulit, akan diperlukan beberapa tahun lagi untuk menyelesaikan infrastrukturnya.

Memang fokus penggunaan dana desa di tahun 2016 ini masih di infrastruktur. Sebagian dialokasikan untuk pembiayaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa). Namun untuk BUMDesa masih cikal, yang masih harus dipupuk dan dirawat agar bisa berkembang. Kami masih lagi berusaha menemukenali potensi yang dapat kami kembangkan dan dapat dikelola melalui BUMDesa. 

Kami kadang memperhatikan desa-desa yang memiliki potensi wisata di wilayah kabupaten lain. Mereka yang sudah berkembang BUMDesa-nya lewat pariwisatanya, seperti di Desa Ponggok Klaten. Kami berharap suatu saat kami juga dapat mengembangkan potensi yang dimiliki di desa-desa yang ada di wilayah Kecamatan Dukuhseti.

Tentang Pendamping Desa.
Ketika pertama kali Pendamping Desa diturunkan ke desa-desa pada awal tahun 2016 ini, kami tentu berharap banyak. Tahun 2015, kami cukup keteteran ketika tak ada pendamping. Karena memang banyak yang harus disiapkan oleh desa untuk dapat mencairkan Dana Desa itu.

Pembangunan itu, bukankah harus dimulai dari perencanaan? Melaksanakan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes) yang menghasilkan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDesa). Lalu menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes). Juga penyusunan Rencana Anggaran dan Biaya (RAB). Apalah kami ini tanpa didampingi? 

Desa butuh pendampingan, bukan saja agar program-programnya berjalan lancar. Tetapi juga agar desa bisa berjalan sebagaimana aturan yang ditetapkan. Pendamping selayaknya bisa memberi masukan untuk desa dan menjadikan desa lebih mandiri sebagaimana tujuan dari pemberdayaan masyarakat desa itu.

Di Kecamatan Dukuhseti, kami mendapatkan 3 orang pendamping pada awalnya. Tetapi entah kenapa, satu orang pendamping tak pernah hadir untuk kami. Meski begitu kami enjoy dengan 2 orang pendamping desa. Satu orang berlatar belakang pemberdayaan. Seorang lagi seorang teknik sipil. Kami merasa beruntung, karena teman-teman kami di kecamatan lainnya ada yang tak mendapatkan pendamping berlatar belakang teknik sipil.

Kenapa Pendamping Desa seorang teknik sipil menjadi penting? Karena ketika perencanaan pembangunan infrastruktur, kami perlu seseorang yang menguasai ilmunya agar bangunan yang akan kami bangun aman secara mutu dan kekuatan. Dan itu bisa didapat dengan menyusun Rencana Anggaran dan Biaya (RAB) yang tepat.

Karena itu kami berharap untuk tahun-tahun kedepanpun, Pendamping Desa yang ada di wilayah kecamatan selalu ada yang berlatar belakang teknik sipil selain yang berlatar pemberdayaan.

Tentang Siskeudes.
Siskeudes atau Sistem Keuangan Desa adalah sebuah aplikasi yang dikembangkan oleh BPKP sebagai sistem keuangan di tingkat desa. Kadang Siskeudes ini juga disebut SIMDA Desa.

Anjuran penggunakan Siskeudes oleh BPKP ini sudah kami dengar sejak akhir tahun 2015. Dan rupanya Pemerintah Kabupaten Pati juga menyambut baik anjuran tersebut. 

Bulan Februari kami mulai mengikuti pelatihan Siskeudes yang difasilitasi oleh Bagian Pemerintahan Setda Kabupaten Pati. Setelah itu ada surat dari Bupati Pati agar semua desa menyusun penganggaran dan penatausahaan keuangan dengan menggunakan Siskeudes.

Di Kecamatan Dukuhseti, kami saling menyemangati untuk konsisten menggunakan aplikasi ini. Bagaimanapun sesuatu yang baru memang harus dipelajari terlebih dahulu agar dapat menggunakan dengan lancar. Hasilnya, ternyata memang dengan menggunakan aplikasi ini, kami lebih teratur dalam pengelolaan keuangan. Bonusnya adalah, dengan satu kali kerja, kami bisa mendapatkan pembukuan yang lengkap. Dari buku kas umum, buku bantu pajak, buku bantu kegiatan, hingga laporan bulanan, triwulan, dan semesteran. 

Masalah sebagai Pembelajaran.
Tak ada gading yang tak retak, begitu kata pepatah. Meski kami berusaha yang terbaik, masalah dalam pengelolaan kegiatan pasti selalu ada. Tetapi berkali-kali kami saling menyemangati, masalah itu akan mendewasakan dan akan membuat kita lebih baik.

Lakukan semua sesuai perencanaan. Selalu transparan kepada masyarakat. Itu yang selalu kami tekankan. Pengelolaan Dana Desa ke depan harus lebih baik lagi. Dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasannya. 

Semoga dengan Dana Desa, desa akan menjadi mandiri dan sejahtera. Mari Membangun Desa! Dari desa, kita bangun Indonesia.

Wassalamu'alaikum
Ummi

2 comments:

  1. Wah catatannya lengkap mba. Kalau dicatat kayak gini bisa jadi bahan evaluasi ke depan ya mba

    ReplyDelete

Terima kasih telah memberikan komentar di blog saya. Mohon untuk memberi komentar dengan kata yang santun. Terima kasih. :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...