Wednesday, 2 August 2017

PEMUDA SHOLIH DAN GADIS BUTA, ANDAKAH ITU?


Kadang saya bertanya-tanya, sebenarnya bagaimana standar kesiapan menikah bagi seorang pemuda masa kini? Saya pernah bertemu pemuda yang sudah bekerja dan saya anggap cukup mampu untuk menikah. Dalam arti dia sudah cukup umur menikah dan bisa memberi nafkah untuk istri. Tetapi ketika ditanya kesiapan menikah, katanya ia belum siap menikah. Ia ingin menikah ketika sudah punya rumah pribadi dan mobil pribadi. Yah... Kasihan gadis yang menunggu dong. Bagaimana kalau ternyata kemampuan untuk rumah dan rumah pribadi itu masih lama? Padahal si gadis siap berjuang bersama, memulai dari bawah sama-sama.

Kadang ada juga yang siap menikah, tetapi ketika dikenalkan dengan seorang gadis, jawabannya, "maaf, tapi dia kurang cantik." Tapi ketika ditawari gadis yang cantik, katanya kurang sholihah. Dan alasan-alasan lain. Hadeuh... Jadi bingung kan yang mau mengenalkan. 

Sebenarnya tidak salah, sih. Kalau seorang pemuda punya standar ideal. Karena hadis Nabipun menyatakan seperti ini, "Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya; maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung."

Jadi memang tidak salah ketika impiannya adalah menikah dengan seorang gadis yang kaya, nasabnya baik, cantik, dan sholihah. Tetapi seringkali pula, pemuda lupa dengan kalimat akhir dari sabda Nabi itu, "Pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung." Hm...

Saya jadi teringat kisah Tsabit bin Zutho. Seorang pemuda sholih yang bersedia menikahi seorang gadis yang katanya buta, bisu, tuli dan lumpuh, demi meraih ridho pemilik apel yang ia makan. Anda pasti sudah pernah mendengar ceritanya kan? Meski begitu, saya tetap akan menuliskannya kembali. 😁

Suatu hari seorang pemuda dari Kufah bernama Tsabit bin Zutho sedang melakukan perjalanan. Ketika dalam keadaan lapar, ia menemukan buah apel di aliran sungai. Karena sudah sangat lapar, langsung dimakanlah apel tersebut. Namun setelah memakannya, ia berfikir. Apel itu pasti ada pemiliknya. Bagaimana jika pemiliknya tidak ridho ia memakan apelnya? Berarti ia makan makanan haram?

Karena kekhawatiran tersebut, Tsabit kemudian menyusuri sungai. Hingga akhirnya ia menemukan kebun apel yang cukup luas. Ada bagian pohon apel yang menjulur ke sungai. Iapun memastikan apel yang ia makan berasal dari kebun tersebut. Kemudian ia mencari pemilik kebun untuk meminta keridhoan atas apel yang telah ia makan. 

Setelah bertemu pemilik kebun, untuk menghalalkan apel yang telah dimakan Tsabit, pemilik kebun apel memberikan syarat yang cukup berat. Tsabit harus menikahi putri pemilik kebun yang buta, bisu, tuli dan lumpuh. Hah? 

Tsabit adalah seorang pemuda normal yang gagah. Seperti umumnya pemuda, ia pasti juga mengharapkan gadis yang cantik dan sehat. Tetapi, Tsabit lebih menginginkan kehalalan makanan yang sudah masuk dalam perutnya. Jadi, iapun bersedia menikah dengan putri pemilik kebun tersebut.

Hingga ketika selesai mengucapkan akad nikah, Tsabit masuk ke dalam kamar pengantinnya. Ada seorang gadis cantik menyambutnya, yang sama sekali tidak lumpuh, tidak buta, bahkan bersuara merdu ketika menyapanya. Tsabit berpikir, ia salah masuk kamar. Tapi ternyata gadis itu memang putri pemilik kebun yang dinikahinya.

"Apa yang dikatakan ayahku tentang aku, hingga dirimu merasa salah masuk disini?" tanya sang istri.

"Kata ayahmu, aku harus menikahi gadis yang buta, bisu, tuli, dan lumpuh," jawab Tsabit. 

Sang istri tersenyum manis, dan berkata, "Ayahku mengatakan aku buta karena aku tidak pernah melihat hal yang dimurkai Allah. Ayahku mengatakan aku bisu dan tuli karena aku tak pernah berbicara dan mendengar tentang hal buruk yang dimurkai Allah. Ayahku mengatakan bahwa aku lumpuh, karena aku tak pernah melangkahkan kakiku ke tempat yang dimurkai Allah."

Masya Allah!

Maka tak heran jika dari Tsabit bin Zutho, seorang yang sangat menjaga kehalalan makanan yang masuk ke perutnya itu. Dan istrinya yang sholihah, yang menjaga pandangan, ucapan, pendengaran dan tingkah lakunya. Dari orang-orang seperti itulah, lahir seorang ulama besar yang bernama Nu'man bin Tsabit atau kita mengenalnya sebagai Imam Abu Hanifah, pendiri madzhab Hanafi.

Jadi, Anda para pemuda dan pemudi... Jika saat ini belum menemukan tambatan hati yang sesuai kriteria, mungkin Anda harus terus meningkatkan kualitas diri. Agar Anda mendapatkan pasangan sekufu'. Seperti Tsabit bin Zutho yang sholih, akhirnya mendapatkan istri yang sholihah pula.

Atau mungkin Anda harus menilik kembali niat Anda. Niat menikah untuk apa? Nah, setelah niat Anda sudah lurus, kualitas Anda sudah mumpuni, maka do'a Anda yang harus dikuatkan. Karena Dia Pemilik Alam Semesta, maka meminta kepada-Nya tak akan rugi kan? 

Wassalamu'alaikum
Ummi

#ODOP
#BloggerMuslimahIndonesia


No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah memberikan komentar di blog saya. Mohon untuk memberi komentar dengan kata yang santun. Terima kasih. :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...